Share

Bab 7

Penulis: QQ
Sammy dirawat di rumah sakit.

Louisa tidak menjenguknya.

Dia sendirian di rumah, sibuk dengan urusannya sendiri. Membaca buku, menonton film, dan mengemas barang-barangnya.

Hingga malam harinya, Pak Adi, kepala pelayan rumah mereka, tiba-tiba menelepon.

"Nyonya, bisa datang ke rumah sakit menjenguk Tuan? Penyakit lambungnya kambuh lagi, dia kesakitan. Obat yang diresepkan dokter nggak terlalu efektif. Dia panas dingin karena sakit, dan nggak mau didekati perawat. Dulu, cuma pijatan dari Nyonya yang bisa membuatnya merasa mendingan. Kami benar-benar nggak tahu harus berbuat apa. Nyonya, kalau bisa ...."

Louisa berjalan ke tepi jendela, memandang kota yang tertutup tirai hujan. Butiran hujan menghantam kaca dengan keras, seolah ingin menenggelamkan seluruh dunia.

Setelah mendengarkan seluruh penjelasan Pak Adi, barulah dia berbicara dengan tenang, "Hujannya terlalu deras, aku nggak akan pergi."

Di ujung sana, Pak Adi jelas terdiam. Beberapa detik tidak ada suara, seolah dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"N-Nyonya ... maksudmu ...." Kepala pelayan bertanya dengan terbata-bata.

"Aku bilang, di luar hujan deras, aku nggak ingin keluar. Aku nggak akan pergi malam ini."

"Tapi, Tuan ...."

"Aku mau tidur dulu," potong Louisa. "Selamat malam."

Dia menutup telepon, mematikan ponsel, lalu naik ke tempat tidur, tidak peduli lagi dengan segala keributan.

...

Keesokan harinya, Sammy pulang lebih awal dari rumah sakit.

Wajahnya masih pucat. Melihat Louisa sedang duduk di sofa ruang tamu membaca buku, langkahnya terhenti sejenak, lalu dia mendekat dan berhenti di hadapannya.

"Tadi malam ...." Dia membuka mulut, suaranya agak berat. Matanya menatap dengan dalam. "Kamu terima telepon dari Pak Adi?"

"Ya." Louisa membalik halaman buku, tanpa menengadah.

"Kenapa kamu nggak datang?" tanya Sammy, nada suaranya menyembunyikan suatu emosi. "Dulu ... entah hujan atau angin, setiap aku nggak enak badan sedikit pun, kamu pasti langsung datang."

Gerakan Louisa membalik halaman buku terhenti. Dia akhirnya mengangkat kepala, menatap Sammy. Matanya tenang tanpa ekspresi.

"Kamu sendiri yang bilang, itu dulu." Louisa menatapnya, suaranya sangat lembut, tapi seperti palu yang mengetuk pelan di hati Sammy. "Sammy, manusia bisa berubah."

Sammy membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu, tapi mendapati dirinya tidak bisa berkata-kata.

Ya, manusia memang bisa berubah.

Louisa telah berubah.

Tapi, dia tidak tahu mengapa Louisa berubah, dan kapan tepatnya itu terjadi.

Menyadari hal itu membuatnya cemas, sebuah kecemasan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Dia mengira Louisa marah karena dia menyelamatkan Valerie hingga terluka, karena itulah wanita itu bersikap dingin padanya.

Dia mencoba meredakan suasana, seolah ingin membuktikan sesuatu. "Beberapa hari lagi hari jadi pernikahan kita. Kamu sejak dulu ingin merayakannya dengan meriah, 'kan? Tahun ini, aku akan mengadakan pesta untukmu, mengundang semua orang, merayakannya dengan meriah, oke?"

Dia bicara sambil mengamati reaksi Louisa.

Louisa hanya menatapnya datar. "Terserah."

Lagi-lagi kata terserah.

Rasa frustrasi di hati Sammy kembali memuncak.

Tapi, dia tetap mulai mempersiapkan pesta.

Dia memesan hotel termahal, menyewa perencana acara terbaik, memesan gaun termahal untuk Louisa, dan membeli perhiasan termahal.

Pada hari pesta, Louisa mengenakan gaun yang dipilihnya, mengenakan set perhiasan berlian yang tak ternilai harganya, dan menggandeng tangannya saat memasuki ruang pesta.

Semua orang memandangnya dengan iri.

"Wanita yang sangat beruntung."

"Pak Sammy sangat baik padanya."

"Perhiasan itu katanya dibeli dari lelang, harganya puluhan miliar."

Louisa mendengarkan obrolan itu, wajahnya tersenyum sopan, tapi hatinya sama sekali tidak tergerak.

Di tengah acara, dia pergi ke balkon untuk menghirup udara segar.

Baru berdiri sebentar, terdengar langkah kaki dari belakang.

Valerie.

"Kenapa kamu di sini?" Louisa berbalik menatapnya.

"Kak Sammy mengundangku." Valerie mendekati, bersandar pada pagar. "Dia bilang, hari ini hari jadi pernikahan kalian. Dia ingin aku menyaksikan kebahagiaan kalian."

Dia tersenyum sambil berkata, "Louisa, apa kamu bahagia?"

Louisa tidak menjawab.

Valerie mencondongkan kepala padanya. "Aku tahu kamu nggak bahagia. Kak Sammy cuma mencintaiku. Kamu hidup menyedihkan dalam bayang-bayangku. Konyol sekali! Tadi malam saja, cuma karena aku ...."

"Valerie." Louisa akhirnya bersuara, memotong kalimatnya. Suaranya begitu tenang hingga terkesan menakutkan. "Tahu nggak, kamu itu berisik dan menyedihkan. Seperti anak kecil yang merengek dan guling-guling di lantai karena nggak dapat permen. Hubungan aku dan Sammy itu urusan kami. Sedangkan kamu ...."

"Cuma pecundang yang selamanya hidup di masa lalu. Yang harus cari gara-gara dengan orang lain demi membuktikan dirimu penting. Nggak layak aku buang-buang emosi kepadamu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sandaran di Ujung Penyesalan   Bab 24

    Rekaman suara berakhir di sini, lalu diputar ulang secara otomatis."Sammy, hari ini ulang tahunmu. Aku sudah membuat kue, menunggumu pulang.""Sepanjang malam pun, aku akan selalu menunggumu."Berulang kali, tanpa henti.Di hari-hari ulang tahun yang tak terhitung jumlahnya yang terlupakan olehnya, Louisa sendirian bersama kue itu, menunggu hingga larut malam, menunggu hingga fajar menyingsing. Pada akhirnya dia hanya bisa memakan krim yang sudah meleleh dan roti yang sudah mengeras itu dalam diam dan sendirian.Sammy mendengarkan, air mata terus mengalir dari sudut matanya yang kering.Dia menatap langit-langit, pandangannya perlahan melamun, tapi bibirnya tetap tersenyum tipis.Seolah teringat sesuatu yang sangat indah.Dengan sisa tenaga terakhirnya, dia diam-diam mengucapkan beberapa kata ke udara, kepada bingkai foto dingin di tangannya, juga kepada pesan suara yang terus diputar berulang-ulang dan tidak akan pernah mendapat balasan."... Lulu ....""... Selamat ulang tahun ...."

  • Sandaran di Ujung Penyesalan   Bab 23

    Beberapa tahun kemudian.Di sebuah pulau pribadi.Sinar matahari, pantai, laut biru jernih, dan bangunan-bangunan putih.Semuanya tampak seperti pemandangan di kartu pos.Pernikahan Louisa diadakan di sini.Acara yang sederhana dan hangat, hanya mengundang keluarga dan teman-teman terdekat.Dia mengenakan gaun pengantin putih bersih, dengan model yang sederhana dan anggun, tanpa ekor yang panjang, tapi menonjolkan pinggang rampingnya dengan sempurna dan garis leher serta bahunya yang indah.Kerudungnya berwarna putih gading, memancarkan kilau lembut di bawah sinar matahari.Dia berdiri di bawah gerbang bunga, memegang buket bunga lili putih, tersenyum cerah.Matanya memancarkan kebahagiaan dan ketenangan, tanpa keraguan ataupun beban.Mempelai pria mengenakan setelan jas putih, berdiri di sampingnya dengan tatapan lembut dan penuh cinta.Pendeta perlahan membacakan janji pernikahan."Louisa Ditya, bersediakah kamu menikah dengan Julian Tanubrata, selalu mencintai, merawat, dan menghorm

  • Sandaran di Ujung Penyesalan   Bab 22

    Tahun kembali mendekati penghujungnya.Sebuah acara amal besar diadakan di ruang pesta hotel termewah di pusat kota.Louisa hadir sebagai tamu undangan istimewa dan penasihat kehormatan."Yayasan Louisa" milik Sammy adalah salah satu penyelenggara acara malam ini.Sebelum acara dimulai, lorong di belakang panggung dipenuhi staf, tamu, dan wartawan media yang berlalu-lalang.Louisa sedang berbisik-bisik dengan pimpinan yayasan mengenai detail pidato yang akan dia sampaikan nanti, sambil berjalan menuju ruang istirahat.Setelah berbelok, seorang pria berjalan ke arahnya.Tubuhnya kurus, mengenakan setelan jas hitam karya desainer, tapi tampak sedikit usang. Rambutnya disisir rapi. Dia memegang sebuah dokumen dan menunduk membacanya.Keduanya secara tak terduga bertabrakan di koridor sempit itu.Pria itu mendongak.Mata mereka bertemu.Waktu seolah berhenti.Sammy membeku seperti patung.Dokumen di tangannya terjatuh ke lantai.Matanya menatap lekat pada orang di depannya, seolah ingin me

  • Sandaran di Ujung Penyesalan   Bab 21

    Beberapa tahun kemudian.Forum tingkat tinggi dunia penerjemahan internasional diselenggarakan di Suiss.Para penerjemah, akademisi, dan tokoh politik terkemuka dari seluruh dunia berkumpul di sana.Louisa, sebagai anggota dewan kehormatan termuda dan juru bahasa utama, diundang untuk menyampaikan pidato pembuka.Di bawah sorot lampu panggung, dia mengenakan setelan jas putih mutiara dengan rambut panjangnya yang disanggul dengan anggun, memperlihatkan dahi yang mulus dan leher yang ramping.Berdiri di podium, menghadap lautan manusia dan kilatan kamera yang tak terhitung jumlahnya, dia berbicara dengan tenang dan fasih.Dia fasih menggunakan tiga bahasa dengan lancar, menyampaikan pandangan yang tajam, wawasan yang unik, serta mengutip referensi dengan mudah.Percaya diri, elegan, dan profesional.Tak diragukan lagi, dia menjadi pusat perhatian seluruh acara.Setelah pidato usai, tepuk tangan meriah bergema dari bawah panggung. Suaranya tidak kunjung reda.Seorang akademisi muda yang

  • Sandaran di Ujung Penyesalan   Bab 20

    Di dalam ambulans, petugas medis menangani lukanya dengan sigap dan memantau tanda-tanda vital.Louisa duduk di samping, tangan dan jasnya berlumuran darah Sammy. Lengket, hangat, dan berbau karat yang menyengat.Dia menatap pria pucat dengan mata tertutup rapat di atas tandu itu. Wajahnya tanpa ekspresi, hanya garis bibir yang terkatup rapat yang menunjukkan sedikit ketegangan.Sammy dalam keadaan tidak sadarkan diri terus bergumam tanpa sadar."Lulu ... maaf ....""Anakku ... maaf ....""Jangan pergi ... jangan tinggalkan aku ...."Suaranya terputus-putus, keputusasaan seseorang yang berada di ambang kematian.Louisa memalingkan muka, melihat pemandangan malam yang melintas dengan cepat di luar jendela mobil. Cahaya lampu jalan yang silih berganti membuat wajahnya tampak dingin dan keras.Setibanya di rumah sakit, Sammy langsung dibawa ke ruang operasi.Lampu operasi menyala.Louisa duduk di bangku koridor. Darah di tangan dan jasnya sudah mengering, berubah menjadi merah gelap.Dia

  • Sandaran di Ujung Penyesalan   Bab 19

    Asisten itu memegang ponselnya. Menoleh melihat pria di dalam kamar rawat yang hanya bertumpu pada kenangan dan cairan infus, dengan tubuh kurus kering dan mata kosong. Dia merasa tenggorokannya tercekat, tidak mampu berkata-kata....Setahun kemudian.Berkat kinerjanya yang luar biasa, Louisa dipindahkan kembali ke tanah air oleh kantor pusat untuk bertugas sebagai juru bahasa dalam sebuah konferensi internasional penting.Lokasi konferensi berada di pusat pertemuan dengan standar tertinggi di pusat kota.Sammy sedang di dalam rapat ketika mendengar berita itu.Saat dibisiki asistennya, tangannya yang memegang pena terhenti sejenak. Ujung pena menggores panjang di atas dokumen.Dia terdiam cukup lama sebelum melambaikan tangan, memberi isyarat agar rapat dilanjutkan.Tapi, dia tampak tidak fokus, matanya sering melayang ke arah jendela.Setelah rapat selesai, dia mengurung diri di kantor dan menghabiskan sebungkus rokok.Kemudian, dia memerintahkan anak buahnya untuk menyuap petugas d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status