Masuk"Ck! Kau selalu saja curiga." Dylan memperlihatkan dengan jelas raut tak sukanya.
"Siapa yang tak curiga melihat posisi kalian yang sangat dekat seperti itu?" sahut Rosie ketus. Bukannya khawatir mendengar protes keras sang tunangan, Dylan malah tersenyum miring. "Namanya Vivianne. Dia yang akan menjadi asisten pribadiku mulai hari ini," ungkapnya seraya mengulurkan tangan pada Vivianne. Sebagai sesama wanita, Vivianne tentu dilema. Jika dia menerima uluran tangan Dylan, tentu hal itu pasti akan menyakiti Rosie. Apalagi Rosie tampak begitu terkejut. Namun, rupanya Dylan tak suka menunggu. Dia langsung menarik telapak tangan Vivianne dan menggenggamnya erat tanpa permisi. "Hei!" Vivianne panik, berusaha melepaskan tangannya. Akan tetapi, genggaman Dylan jauh lebih kuat."Aa-apaan kau, Dylan!" seru Rosie.
"Tidak apa-apa, Vi. Rosie harus tahu siapa dirimu," ujar Dylan enteng. Dia tetap fokus pada Vivianne, meskipun Rosie sudah melayangkan protes keras. "Permainan apa lagi ini!" seru Rosie lagi. "Sudah kubilang. Dia asisten baruku," jawab Dylan. Nadanya terlalu santai, seolah sengaja membuat Rosie emosi. "Kenapa kau memutuskan untuk mengganti asisten? Lalu, bagaimana dengan Liam?" protes Rosie. "Liam tetap bekerja padaku. Posisinya kuganti menjadi bodyguard. Tapi jadwal bekerjanya tak setiap hari. Dia hanya kupanggil saat kubutuhkan," jelas Dylan. "Kau ...." "Tenang saja, Rosie. Aku tak mengurangi gaji kekasih gelapmu satu sen pun, walau jam kerjanya jauh berkurang," potong Dylan. "Li-liam bukan kekasihku!" elak Rosie gugup dengan pipi memerah. Sementara Vivianne, dia bukanlah perempuan bodoh. Dari percakapan Dylan dan Rosie itu, Vivianne langsung dapat memahami dan menyimpulkan sesuatu. Sepertinya Dylan hanya memanfaatkan dirinya sebagai alat untuk membuat Rosie cemburu. Atau mungkin sekadar membalas perbuatan Rosie yang dicurigai selingkuh dengan Liam. "Ya, Tuhan. Betapa bodohnya aku," batin Vivianne. Dia meraup wajahnya kasar, menyesali keputusannya untuk menerima tawaran Dylan.Hampir saja Vivianne terlena dengan sikap dan kata-kata manis pria itu. Ternyata, semua itu hanya kebohongan Dylan saja. Di saat Vivianne tak mengira akan mengalami patah hati yang lebih parah, ternyata Dylan sanggup menghancurkan dirinya lagi dan lagi.
"Maaf, Nona Duvall. Saya tidak bermaksud membuat anda resah. Saya berada di sini hanya sebagai asisten pribadi Tuan Woods," terang Vivianne setelah beberapa saat terdiam. "Hubungan kami murni profesional. Saya akan pastikan tak ada yang lebih dari itu. Jika suatu saat saya mengingkari kalimat ini, Anda berhak memecat saya," lanjutnya. Sontak Dylan menoleh. Tatapannya tajam ke arah Vivianne, menunjukkan sorot keberatan. Namun, pria bermata biru itu tak mengucapkan apapun. "Baiklah. Akan kupegang kata-katamu," timpal Rosie tegas dan penuh penekanan. "Apa kau puas sekarang, Rose?" Dylan mengalihkan fokusnya pada sang tunangan. "Belum, tapi itu cukup untuk sementara," balas Rosie. "Jangan bersikap seolah-olah kau tak punya kesalahan. Kau sendiri juga bermain gila di belakangku," sindir Dylan. "Aku tidak pernah bermain gila, Dylan! Jangan asal menuduh. Kau tak punya bukti!" Rosie membela diri. "Oh, tenang saja, Sayang. Aku pasti akan menemukan buktinya," sahut Dylan. Mendengar hal itu, hati Vivianne semakin remuk. Prasangkanya tak meleset. Sudah jelas Dylan memanfaatkannya untuk membuat cemburu Rosie, sekaligus membalas perselingkuhan model ternama itu. Air mata sudah menggenang di pelupuk, tapi Vivianne tahan sekuat tenaga. Dia tak boleh terlihat lemah di depan Dylan. Jangan sampai Vivianne terlihat kalau dia terbawa perasaan dengan sikap manis pria itu. "Jadi, jadwal mana yang harus saya susun, Tuan?" Vivianne menguatkan diri, mencoba mengalihkan arah percakapan agar perdebatan dua sejoli itu berhenti. "Ayo, kita ke ruang kerja, Vi. Akan kujelaskan semuanya padamu," ajak Dylan sambil melingkarkan tangan di pinggang ramping Vivianne, tanpa memedulikan keberadaan Rosie. Vivianne dengan harga diri yang tersisa, refleks menghindar. Dia menggeser tubuh beberapa langkah, menjauh dari Dylan. Dari tempatnya berdiri, Rosie tersenyum puas melihat penolakan kecil yang dilakukan oleh Vivianne. "Gadis pintar. Jangan sampai kau terjerat tipuan Dylan," gumamnya. Sementara itu, di dalam ruang kerja, Dylan langsung menyalakan komputer. Menunjukkan beberapa file pada Vivianne. "Kemarilah, Vi. Kau punya waktu seharian untuk membaca dokumen-dokumen kontrak yang masih aktif. Juga jadwal harian sampai bulanan yang sudah diatur oleh asistenku terdahulu," papar Dylan."Baik, Tuan Woods," sahut Vivianne dengan gaya bicara formal.
Namun respon itu justru membuat rahang Dylan mengencang. Dia menatap Vivianne tajam, sorot matanya memancarkan ketidaksenangan yang jelas. “Jangan memanggilku seperti itu, Vi. Kita bukan orang asing.”
"Kau terima atau tidak. Beginilah kenyataannya. Kita sudah menjadi asing, sejak kau memutuskan untuk meninggalkanku," balas Vivianne kalem. "Atau saat kau memutuskan untuk menggunakan aku sebagai ajang untuk membuat cemburu tunanganmu," imbuhnya.
Dylan terdiam. Untuk sesaat, hanya suara napas mereka yang terdengar di antara keheningan itu. “Jadi begini caramu melihatku sekarang?” tanyanya perlahan.
Vivianne mengangguk, senyum tipis tersungging di bibirnya yang gemetar. “Aku hanya belajar melihatmu tanpa harapan, Dylan. Itu jauh lebih mudah." tegasnya.
Dylan semakin mengeratkan rahang. Dia maju dua langkah, hingga jaraknya dengan Vivianne hanya beberapa senti saja. "Nanti malam, masuklah ke kamar utama di lantai dua. Tunggu di sana, sampai aku datang," titah Dylan dengan nada datar.
Vivianne sudah hendak membuka mulut, tapi Dylan lebih dulu menempelkan telunjuknya di bibir gadis itu. "Jangan membantah! Anggap saja itu caramu untuk membayar cicilan utang padaku," ujarnya memaksa.
Pernikahan kilat itu berlangsung tak sampai satu jam. Para saksi yang terdiri dari penata rias dan kostum kenalan Dylan juga sudah membubarkan diri sesaat setelah memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai. Kini, Vivianne dan Dylan sudah berada di dalam Bentley kesayangan sang aktor tampan itu. Sesekali, Vivianne melirik diam-diam ke arah pria yang kini sudah sah menjadi suaminya. Dylan tampak ceria. Dia tak hentinya bersiul seraya kedua tangannya sibuk memegang kemudi. Demikian pula dengan Vivianne. Padahal ini hanyalah pernikahan kontrak, tapi entah kenapa bibirnya tak henti-henti menyunggingkan senyum. Seolah khayalan masa remajanya terwujud sekarang. Dylan sang idola sekolah, bintang yang pernah menyinari hari-harinya, kini menjadi milik Vivianne seutuhnya. "Apa ada yang kau inginkan, Sayang?" tanya Dylan, memecah lamunan. "Gaun pengantin," jawab Vivianne tanpa sadar. "Apa?" Dylan menoleh seraya mengerutkan kening. "M-maksudku ... aku ingin suatu saat bisa memil
Liam tak bisa berkata-kata. Baginya, tingkah Dylan sudah di luar nalar. "Kenapa jadi begini? Bukan seperti ini rencana awal kita," protesnya. "Hidup ini dinamis, Liam. Perubahan itu perlu selama dibutuhkan," kilah Dylan enteng. "Ah, alasanmu basi!" geram Liam. "Aku yakin, kau mulai goyah dengan tujuanmu gara-gara Vivianne, kan? Sebesar itukah rasa cintamu padanya?" cibirnya tak suka. "Itu bukan urusanmu! Berhentilah bersikap cerewet, Liam. Kau hanya kutugaskan untuk menjadi mata-mata dan informan, bukan komentator hidupku. Jangan lupakan itu!" tegas Dylan. Tanpa menunggu tanggapan dari Liam, Dylan langsung masuk ke dalam trailer lalu mengunci pintunya. Dylan menarik napas panjang dan membuangnya perlahan, demi menghilangkan emosi yang hampir membuatnya hilang kendali. Sungguh dia tak suka jika ada yang mengomentari Vivianne. Dylan menyandarkan kepala sejenak di daun pintu. Bicara tentang Vivianne, gadis itu sudah tertidur pulas di ranjangnya. Sambil mengendap-endap, Dylan
VIvianne membongkar isi ransel dan tas selempangnya. Memeriksa satu persatu barang bawaannya, lalu bernapas lega saat menemukan semuanya masih lengkap seperti semula. Di saat Vivianne sibuk dengan barang-barangnya, Dylan juga sibuk berkirim pesan dengan Liam. [Apa kau tahu siapa yang dibayar oleh Rosie untuk mencelakai Vivianne?] Demikian isi pesan yang Dylan kirimkan untuk mantan asisten pribadinya itu. Tak berselang lama, Liam membalasnya. [Empat orang penjaga keamanan yang bekerja di pos depan.] Dylan mengeratkan rahang saat membaca isi pesan Liam. Beberapa saat kemudian, dia mengetik sesuatu lagi, lalu menekan tombol kirim. Setelahnya, Dylan langsung berdiri sambil menyimpan ponselnya di saku celana, kemudian melangkah keluar trailer. "Kau mau kemana lagi, Dylan?" tanya Vivianne. "Aku hendak menemui Liam sebentar, Vi. Tidurlah dulu. Pakai saja ranjangku," tutur Dylan. "Ta-tapi ...." Vivianne tak sempat menyelesaikan kata-katanya, sebab Dylan lebih dulu menutup
Keterkejutan Dylan hanya berlangsung sesaat. Setelahnya, pria itu malah tersenyum lebar."Kau sepertinya senang melihatku hampir celaka," sindir Vivianne ketus."Tidak, bukan itu, Sayang. Aku senang karena akhirnya bisa mengumpulkan banyak bukti untuk mengancam Rosie," jelas Dylan."Setelah berhasil mengancamnya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Vivianne."Tentu saja menyingkirkannya," jawab Dylan enteng.Vivianne tertegun sejenak. Entah perasaannya saja, atau Dylan memang tampak menakutkan. "Kau berubah sekarang," gumam Vivianne tanpa sadar.Kalimat tersebut terdengar jelas di telinga Dylan. Namun, pria itu tak menanggapinya. Dia hanya menyunggingkan senyum lalu membelai pipi Vivianne. "Setiap orang pasti berubah, Vi," timpal Dylan."Sekarang berhentilah berpikir terlalu keras. Istirahatkan dirimu setelah melalui hari yang keras ini." Dylan mengecup sekilas dahi Vivianne, lalu menuntunnya masuk ke dalam trailer. "Tidurlah di ranjangku," suruhnya."Tapi, ranselku tertinggal di tenda
Tak hanya sang sutradara yang terkejut. Beberapa kru dan artis yang duduk di sekitar meja mereka pun demikian. Semua mata tertuju pada Rosie. Namun, hal itu tak membuat Rosie terganggu. Dia malah melanjutkan amarahnya. "Kukira kau wanita baik-baik. Ternyata kau tak berbeda dengan penggemar-penggemar gila Dylan di luar sana!" bentak Rosie. "Hentikan, Rose! Kau membuatku malu!" hardik Dylan. Aktor tampan itu berdiri, lalu menarik Vivianne agar berada di belakangnya. Satu tangannya terus menggenggam pergelangan Vivianne. Betapa sakitnya hati Rosie melihat Dylan pasang badan, menjadi tameng demi melindungi Vivianne. "Kau serius melakukan ini padaku, Dylan?" desis Rosie. Bibirnya bergetar menahan emosi yang semakin tak terbendung. "Aku melakukan yang seharusnya! Vivianne adalah teman masa kecilku. Saat kecil dulu, kami bertetangga dan ayah kami saling berteman!" beber Dylan. Dia sedikit menambahkan bumbu kebohongan, tentang kedua ayah mereka yang berteman. Pada kenyataannya, ayah Vivi
Aroma menyengat memasuki indra penciuman Vivianne. Pusing mulai melanda akibat bau menusuk itu. Dalam posisi panik, dia berusaha melepaskan diri, menjauhkan wajahnya dari orang-orang misterius itu. Namun, rasa pening yang menyergap, membuat kekuatan Vivianne menghilang. Tenaganya seperti habis tersedot. Vivianne tak mempunyai pilihan selain pasrah. Beruntung, saat dirinya hendak menyerah, terdengar teriakan nyaring yang entah darimana asalnya. "Lepaskan dia, atau akan kutelepon polisi!" sentak suara yang Vivianne mengenalinya sebagai milik Liam. Beberapa pria tadi langsung membeku. Satu pria yang masih membungkam Vivianne dengan saputangan, segera melepaskan tangannya dan menjauh. Hampir saja Vivianne terjatuh jika saja Liam tidak sigap menangkapnya. "Vi, apa kau baik-baik saja?" tanya pria itu khawatir. Vivianne menggeleng lemah. Sesaat kemudian, dia mengalihkan tatapannya ke arah pria-pria asing itu. "Apa mau kalian?" desisnya pelan. Pria-pria tersebut tak menjawab. Mereka ma







