Share

Dua Sisi Dylan

Penulis: Ayaya Malila
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-19 08:14:30

Sudah dua jam sejak Dylan keluar dari penthouse bersama Rosie. Sejak itu pula Vivianne tak bisa berkonsentrasi. Padahal ada banyak file dan dokumen yang harus dipelajari. Dia juga harus menyusun jadwal baru untuk mantan kekasih sekaligus atasannya itu.

"Astaga, bagaimana ini?" Vivianne mengacak-acak rambut saat otaknya tak bisa diajak berpikir. Meskipun demikian, dia tetap memaksakan diri untuk bekerja.

Vivianne dikenal dengan sosok pekerja keras serta ulet. Dia tak mau gangguan emosi membuat profesionalismenya berkurang.

"Aku akan mulai dari mengatur jadwal," ucap Vivianne pada diri sendiri, berniat untuk membuka laptop pribadinya. Akan tetapi, baru dia ingat kalau dirinya tidak membawa apapun saat datang ke apartemen mewah ini. "Ah, laptopku ketinggalan di rumah," keluh Vivianne.

Hampir saja dia berniat untuk keluar dari ruang kerja. Vivianne bermaksud hendak pulang sebentar ke apartemennya sendiri, untuk mengambil barang-barangnya yang dianggap penting.

Namun, baru beberapa langkah, terdengar ponselnya berbunyi. Vivianne merogoh tas selempang yang sedari dia datang ke penthouse, tak terlepas sama sekali dari pundaknya.

Alisnya bertaut saat mengeluarkan ponsel dan mendapati sebuah pesan yang datang dari nomor tak dikenal. Setelah dibuka, barulah Vivianne tahu bahwa itu adalah nomor Dylan.

[Selama aku keluar, jangan pergi ke mana-mana. Semua kebutuhanmu sudah kupenuhi, termasuk laptop dan ponsel baru.]

Demikian isi pesan itu.

Vivianne sontak menegang. "Darimana Dylan tahu kalau aku hendak keluar dan mengambil laptop?" desisnya merinding sambil menyapu pandangan ke sekeliling. Perasaan Vivianne mengatakan bahwa dirinya kini sedang diawasi.

"Kurang ajar! Apa kau memata-mataiku, Dylan!" seru Vivianne seraya menyisir setiap sudut ruang kerja, bermaksud mencari kamera tersembunyi. Akan tetapi, dia tak menemukan apapun.

Vivianne malah menemukan kardus berukuran sedang yang tergeletak di depan rak buku. Awalnya, dia tak ingin membukanya, tapi tulisan pada kardus itu membuatnya penasaran. Deretan huruf yang ditulis menggunakan spidol, terangkai jelas di sana.

[Untuk Vivianne.]

Buru-buru Vivianne membuka kardus cokelat itu lalu mengeluarkan isinya, sebuah laptop dan ponsel mahal keluaran terbaru. "Astaga!" gumamnya tak percaya.

Untuk sementara, datangnya dua benda elektronik bernilai mahal itu membuat Vivianne lupa akan kegundahannya. Dia asyik mengoperasikan laptop dan ponsel baru, sambil mempelajari dokumen dan menyusun jadwal.

Vivianne sampai tak sadar jika waktu terus berjalan. Dia menyadari ketika hari berubah malam saat dinding ruang kerja yang terbuat dari kaca tebal itu meneruskan cahaya senja dari matahari yang hampir terbenam.

"Ini sudah jam setengah tujuh malam?" ucap Vivianne. Buru-buru dirinya merapikan meja kerja, membereskan pekerjaan, lalu keluar dari ruangan itu sambil membawa laptop dan ponsel barunya.

Vivianne berniat untuk pulang ke apartemennya sendiri dan kembali ke penthouse megah ini besok pagi. Dia tak menghiraukan paksaan Dylan tadi yang menyuruhnya tinggal di kamar utama malam ini.

Namun, saat Vivianne memencet tombol di samping lift pribadi, pintu lift itu tak kunjung terbuka. Berkali-kali Vivianne mencoba, tetap saja gagal.

Sampai terdengar suara panggilan dari interkom yang berada di sisi lain lift. "Selamat malam, penghuni penthouse 6001?"

Vivianne bergegas mendekatkan bibirnya di interkom. "Iya, tolong aku. Aku terjebak di sini! Lift-nya tak berfungsi!" lapornya panik.

"Maaf, Nona. Berdasarkan laporan, Tuan Woods mengaktifkan penuh panel keamanannya sampai besok pagi," ujar suara di balik interkom, yang merupakan pegawai pengelola gedung.

"Apa maksudnya itu?" Vivianne menggeleng tak mengerti.

"Tuan Woods berkuasa penuh atas akses keluar masuk penthouse, dalam hal ini lift pribadi, Nona. Sebaiknya anda menghubungi Tuan Woods lebih dulu supaya beliau bisa membukakan akses itu untuk anda," jelas pegawai itu.

"Sialan!" umpat Vivianne yang tak dapat menahan kekesalan. Ternyata Dylan sudah mengantisipasi hal ini sejak awal, dan itu membuatnya sebal setengah mati. "Aku tidak akan menyerah dan tunduk pada keinginanmu, Dylan!" pekiknya nyaring.

"Aku tidak akan masuk ke kamar utama. Aku tidak sudi kau sentuh, apalagi harus melayani kebejatanmu!" maki Vivianne, seolah tak puas mengungkapkan kekesalan.

Dengan penuh emosi, Vivianne duduk bersila di depan lift pribadi. Dia bertekad untuk berdiam di sana sampai Dylan datang.

Sayangnya, tubuh memiliki batasannya sendiri. Vivianne yang seharian sibuk berkutat dengan dokumen, belum lagi perut kosong sejak pagi, membuatnya kelelahan.

Lelah berujung pada kantuk yang tak bisa ditahan. Susah payah Vivianne tetap membuka mata, meski pada akhirnya terlelap jua.

Vivianne tertidur. Tanpa sadar, punggungnya bersandar pada pintu lift dengan kepala menunduk.

Hingga pukul sebelas malam, pintu lift tiba-tiba terbuka, sehingga Vivianne terguling ke belakang. Punggungnya menabrak ujung sepatu Dylan.

Anehnya, Vivianne tak terbangun. Dia malah melanjutkan tidurnya, meringkuk di lantai lift.

“Hilang akal, kau ini,” gerutu Dylan setengah kesal, setengah tak percaya.

Dia berjongkok, memperhatikan wajah yang kini tampak begitu rapuh—berbeda jauh dari Vivianne yang selalu keras kepala di hadapannya. Perlahan, tangannya terulur, menyingkirkan helaian rambut dari wajah Vivianne dengan gerakan lembut.

Sentuhan ringan itu membuat Vivianne menggeliat kecil, menggumamkan sesuatu yang nyaris tak terdengar. Dylan menarik napas panjang, lalu tanpa banyak pikir, dia mengangkat tubuh Vivianne ke dalam pelukannya.

Langkah Dylan mantap meniti anak tangga menuju lantai dua. Dia lalu membuka pintu kamar utama dan membaringkan Vivianne hati-hati di ranjangnya.

"Akhirnya, tercapai juga keinginanku, Sayang." Dylan tersenyum samar, sembari membuka kancing kemeja Vivianne satu persatu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sandiwara Liar Sang Aktor   Malam Pertama

    Pernikahan kilat itu berlangsung tak sampai satu jam. Para saksi yang terdiri dari penata rias dan kostum kenalan Dylan juga sudah membubarkan diri sesaat setelah memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai. Kini, Vivianne dan Dylan sudah berada di dalam Bentley kesayangan sang aktor tampan itu. Sesekali, Vivianne melirik diam-diam ke arah pria yang kini sudah sah menjadi suaminya. Dylan tampak ceria. Dia tak hentinya bersiul seraya kedua tangannya sibuk memegang kemudi. Demikian pula dengan Vivianne. Padahal ini hanyalah pernikahan kontrak, tapi entah kenapa bibirnya tak henti-henti menyunggingkan senyum. Seolah khayalan masa remajanya terwujud sekarang. Dylan sang idola sekolah, bintang yang pernah menyinari hari-harinya, kini menjadi milik Vivianne seutuhnya. "Apa ada yang kau inginkan, Sayang?" tanya Dylan, memecah lamunan. "Gaun pengantin," jawab Vivianne tanpa sadar. "Apa?" Dylan menoleh seraya mengerutkan kening. "M-maksudku ... aku ingin suatu saat bisa memil

  • Sandiwara Liar Sang Aktor   Mr. and Mrs. Woods

    Liam tak bisa berkata-kata. Baginya, tingkah Dylan sudah di luar nalar. "Kenapa jadi begini? Bukan seperti ini rencana awal kita," protesnya. "Hidup ini dinamis, Liam. Perubahan itu perlu selama dibutuhkan," kilah Dylan enteng. "Ah, alasanmu basi!" geram Liam. "Aku yakin, kau mulai goyah dengan tujuanmu gara-gara Vivianne, kan? Sebesar itukah rasa cintamu padanya?" cibirnya tak suka. "Itu bukan urusanmu! Berhentilah bersikap cerewet, Liam. Kau hanya kutugaskan untuk menjadi mata-mata dan informan, bukan komentator hidupku. Jangan lupakan itu!" tegas Dylan. Tanpa menunggu tanggapan dari Liam, Dylan langsung masuk ke dalam trailer lalu mengunci pintunya. Dylan menarik napas panjang dan membuangnya perlahan, demi menghilangkan emosi yang hampir membuatnya hilang kendali. Sungguh dia tak suka jika ada yang mengomentari Vivianne. Dylan menyandarkan kepala sejenak di daun pintu. Bicara tentang Vivianne, gadis itu sudah tertidur pulas di ranjangnya. Sambil mengendap-endap, Dylan

  • Sandiwara Liar Sang Aktor   Gereja Putih

    VIvianne membongkar isi ransel dan tas selempangnya. Memeriksa satu persatu barang bawaannya, lalu bernapas lega saat menemukan semuanya masih lengkap seperti semula. Di saat Vivianne sibuk dengan barang-barangnya, Dylan juga sibuk berkirim pesan dengan Liam. [Apa kau tahu siapa yang dibayar oleh Rosie untuk mencelakai Vivianne?] Demikian isi pesan yang Dylan kirimkan untuk mantan asisten pribadinya itu. Tak berselang lama, Liam membalasnya. [Empat orang penjaga keamanan yang bekerja di pos depan.] Dylan mengeratkan rahang saat membaca isi pesan Liam. Beberapa saat kemudian, dia mengetik sesuatu lagi, lalu menekan tombol kirim. Setelahnya, Dylan langsung berdiri sambil menyimpan ponselnya di saku celana, kemudian melangkah keluar trailer. "Kau mau kemana lagi, Dylan?" tanya Vivianne. "Aku hendak menemui Liam sebentar, Vi. Tidurlah dulu. Pakai saja ranjangku," tutur Dylan. "Ta-tapi ...." Vivianne tak sempat menyelesaikan kata-katanya, sebab Dylan lebih dulu menutup

  • Sandiwara Liar Sang Aktor   Selangkah Lagi

    Keterkejutan Dylan hanya berlangsung sesaat. Setelahnya, pria itu malah tersenyum lebar."Kau sepertinya senang melihatku hampir celaka," sindir Vivianne ketus."Tidak, bukan itu, Sayang. Aku senang karena akhirnya bisa mengumpulkan banyak bukti untuk mengancam Rosie," jelas Dylan."Setelah berhasil mengancamnya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Vivianne."Tentu saja menyingkirkannya," jawab Dylan enteng.Vivianne tertegun sejenak. Entah perasaannya saja, atau Dylan memang tampak menakutkan. "Kau berubah sekarang," gumam Vivianne tanpa sadar.Kalimat tersebut terdengar jelas di telinga Dylan. Namun, pria itu tak menanggapinya. Dia hanya menyunggingkan senyum lalu membelai pipi Vivianne. "Setiap orang pasti berubah, Vi," timpal Dylan."Sekarang berhentilah berpikir terlalu keras. Istirahatkan dirimu setelah melalui hari yang keras ini." Dylan mengecup sekilas dahi Vivianne, lalu menuntunnya masuk ke dalam trailer. "Tidurlah di ranjangku," suruhnya."Tapi, ranselku tertinggal di tenda

  • Sandiwara Liar Sang Aktor   Menyetujui Semua

    Tak hanya sang sutradara yang terkejut. Beberapa kru dan artis yang duduk di sekitar meja mereka pun demikian. Semua mata tertuju pada Rosie. Namun, hal itu tak membuat Rosie terganggu. Dia malah melanjutkan amarahnya. "Kukira kau wanita baik-baik. Ternyata kau tak berbeda dengan penggemar-penggemar gila Dylan di luar sana!" bentak Rosie. "Hentikan, Rose! Kau membuatku malu!" hardik Dylan. Aktor tampan itu berdiri, lalu menarik Vivianne agar berada di belakangnya. Satu tangannya terus menggenggam pergelangan Vivianne. Betapa sakitnya hati Rosie melihat Dylan pasang badan, menjadi tameng demi melindungi Vivianne. "Kau serius melakukan ini padaku, Dylan?" desis Rosie. Bibirnya bergetar menahan emosi yang semakin tak terbendung. "Aku melakukan yang seharusnya! Vivianne adalah teman masa kecilku. Saat kecil dulu, kami bertetangga dan ayah kami saling berteman!" beber Dylan. Dia sedikit menambahkan bumbu kebohongan, tentang kedua ayah mereka yang berteman. Pada kenyataannya, ayah Vivi

  • Sandiwara Liar Sang Aktor   Memancing Emosi

    Aroma menyengat memasuki indra penciuman Vivianne. Pusing mulai melanda akibat bau menusuk itu. Dalam posisi panik, dia berusaha melepaskan diri, menjauhkan wajahnya dari orang-orang misterius itu. Namun, rasa pening yang menyergap, membuat kekuatan Vivianne menghilang. Tenaganya seperti habis tersedot. Vivianne tak mempunyai pilihan selain pasrah. Beruntung, saat dirinya hendak menyerah, terdengar teriakan nyaring yang entah darimana asalnya. "Lepaskan dia, atau akan kutelepon polisi!" sentak suara yang Vivianne mengenalinya sebagai milik Liam. Beberapa pria tadi langsung membeku. Satu pria yang masih membungkam Vivianne dengan saputangan, segera melepaskan tangannya dan menjauh. Hampir saja Vivianne terjatuh jika saja Liam tidak sigap menangkapnya. "Vi, apa kau baik-baik saja?" tanya pria itu khawatir. Vivianne menggeleng lemah. Sesaat kemudian, dia mengalihkan tatapannya ke arah pria-pria asing itu. "Apa mau kalian?" desisnya pelan. Pria-pria tersebut tak menjawab. Mereka ma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status