MasukMenerima pinangan seorang pria yang sudah memiliki tunangan adalah kesalahan terbesar Vivianne. Namun, iming-iming materi yang Dylan tawarkan sudah membutakan matanya. Vivianne rela menjadi perusak hubungan orang demi uang dan sebuah pernikahan impian. Akan tetapi, pada kenyataannya pernikahan tak seindah yang dibayangkan. Dylan membuang Vivianne dan mengakhiri pernikahan tatkala semua tujuan sudah dia dapatkan.
Lihat lebih banyakPernikahan kilat itu berlangsung tak sampai satu jam. Para saksi yang terdiri dari penata rias dan kostum kenalan Dylan juga sudah membubarkan diri sesaat setelah memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai. Kini, Vivianne dan Dylan sudah berada di dalam Bentley kesayangan sang aktor tampan itu. Sesekali, Vivianne melirik diam-diam ke arah pria yang kini sudah sah menjadi suaminya. Dylan tampak ceria. Dia tak hentinya bersiul seraya kedua tangannya sibuk memegang kemudi. Demikian pula dengan Vivianne. Padahal ini hanyalah pernikahan kontrak, tapi entah kenapa bibirnya tak henti-henti menyunggingkan senyum. Seolah khayalan masa remajanya terwujud sekarang. Dylan sang idola sekolah, bintang yang pernah menyinari hari-harinya, kini menjadi milik Vivianne seutuhnya. "Apa ada yang kau inginkan, Sayang?" tanya Dylan, memecah lamunan. "Gaun pengantin," jawab Vivianne tanpa sadar. "Apa?" Dylan menoleh seraya mengerutkan kening. "M-maksudku ... aku ingin suatu saat bisa memil
Liam tak bisa berkata-kata. Baginya, tingkah Dylan sudah di luar nalar. "Kenapa jadi begini? Bukan seperti ini rencana awal kita," protesnya. "Hidup ini dinamis, Liam. Perubahan itu perlu selama dibutuhkan," kilah Dylan enteng. "Ah, alasanmu basi!" geram Liam. "Aku yakin, kau mulai goyah dengan tujuanmu gara-gara Vivianne, kan? Sebesar itukah rasa cintamu padanya?" cibirnya tak suka. "Itu bukan urusanmu! Berhentilah bersikap cerewet, Liam. Kau hanya kutugaskan untuk menjadi mata-mata dan informan, bukan komentator hidupku. Jangan lupakan itu!" tegas Dylan. Tanpa menunggu tanggapan dari Liam, Dylan langsung masuk ke dalam trailer lalu mengunci pintunya. Dylan menarik napas panjang dan membuangnya perlahan, demi menghilangkan emosi yang hampir membuatnya hilang kendali. Sungguh dia tak suka jika ada yang mengomentari Vivianne. Dylan menyandarkan kepala sejenak di daun pintu. Bicara tentang Vivianne, gadis itu sudah tertidur pulas di ranjangnya. Sambil mengendap-endap, Dylan
VIvianne membongkar isi ransel dan tas selempangnya. Memeriksa satu persatu barang bawaannya, lalu bernapas lega saat menemukan semuanya masih lengkap seperti semula. Di saat Vivianne sibuk dengan barang-barangnya, Dylan juga sibuk berkirim pesan dengan Liam. [Apa kau tahu siapa yang dibayar oleh Rosie untuk mencelakai Vivianne?] Demikian isi pesan yang Dylan kirimkan untuk mantan asisten pribadinya itu. Tak berselang lama, Liam membalasnya. [Empat orang penjaga keamanan yang bekerja di pos depan.] Dylan mengeratkan rahang saat membaca isi pesan Liam. Beberapa saat kemudian, dia mengetik sesuatu lagi, lalu menekan tombol kirim. Setelahnya, Dylan langsung berdiri sambil menyimpan ponselnya di saku celana, kemudian melangkah keluar trailer. "Kau mau kemana lagi, Dylan?" tanya Vivianne. "Aku hendak menemui Liam sebentar, Vi. Tidurlah dulu. Pakai saja ranjangku," tutur Dylan. "Ta-tapi ...." Vivianne tak sempat menyelesaikan kata-katanya, sebab Dylan lebih dulu menutup
Keterkejutan Dylan hanya berlangsung sesaat. Setelahnya, pria itu malah tersenyum lebar."Kau sepertinya senang melihatku hampir celaka," sindir Vivianne ketus."Tidak, bukan itu, Sayang. Aku senang karena akhirnya bisa mengumpulkan banyak bukti untuk mengancam Rosie," jelas Dylan."Setelah berhasil mengancamnya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Vivianne."Tentu saja menyingkirkannya," jawab Dylan enteng.Vivianne tertegun sejenak. Entah perasaannya saja, atau Dylan memang tampak menakutkan. "Kau berubah sekarang," gumam Vivianne tanpa sadar.Kalimat tersebut terdengar jelas di telinga Dylan. Namun, pria itu tak menanggapinya. Dia hanya menyunggingkan senyum lalu membelai pipi Vivianne. "Setiap orang pasti berubah, Vi," timpal Dylan."Sekarang berhentilah berpikir terlalu keras. Istirahatkan dirimu setelah melalui hari yang keras ini." Dylan mengecup sekilas dahi Vivianne, lalu menuntunnya masuk ke dalam trailer. "Tidurlah di ranjangku," suruhnya."Tapi, ranselku tertinggal di tenda


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.