Partager

Bab 2

Auteur: Feli
Ciuman yang Emma berikan atas inisiatifnya sendiri terasa seperti duri yang menusuk hatiku. Padahal dulu dia sudah bersumpah kepadaku bahwa dia akan sebisa mungkin menjaga jarak dari Robbie.

Di depanku, dia juga selalu menghindari Robbie sebisa mungkin.

Namun entah sejak kapan, kemesraannya saat bersama Robbie justru menjadi begitu luwes dan mengalir.

"Aku tahu kamu mengkhawatirkanku. Kita bicarakan lagi nanti. Sekarang nggak gampang mencari apartemen yang cocok."

Robbie rupanya sudah menyiapkan semuanya dan langsung berkata, "Beberapa hari lalu, aku sudah minta bantuan teman untuk mencarikan. Keduanya cukup dekat dari rumah kita dan kantor tempat dia bekerja."

Emma terpaksa menyetujuinya. "Kalau begitu, nanti setelah Meryl pulang, aku akan bicarakan dengannya."

Mataku terasa perih. Aku menahan air mata sambil memandang ke sekeliling.

Aku mengamati rumah ini dengan saksama. Rumah yang dulu kutata sendiri sedikit demi sedikit sebagai rumah untuk kami setelah menikah.

Setelah Robbie kehilangan ingatannya, statusku di rumah ini berubah dari pemilik menjadi tamu. Semua barang milikku dipindahkan ke kamar tidur kecil di sebelah.

Hanya dalam waktu enam bulan, Emma sudah sepenuhnya menutupi jejak kehidupanku yang dulu tertinggal di rumah ini.

Sekarang, Robbie bahkan ingin aku membereskan barang-barang dan langsung pindah.

Suara tawa yang terus terdengar dari dapur membuat telingaku terasa sakit. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik dan keluar dari rumah dengan langkah pelan agar tidak menimbulkan suara.

Aku tidak pergi ke kantor. Dengan sedikit harapan terakhir yang tersisa, aku berbalik dan pergi ke rumah sakit.

Bagaimana kalau postingan itu bukan dibuat oleh Robbie? Bagaimana kalau sebenarnya ingatannya belum pulih? Bagaimana kalau semua kebaikannya kepada Emma hanya karena dia mengingat Emma sebagai diriku?

"Robbie?" Dokter akhirnya menemukan namanya di antara setumpuk rekam medis yang tebal. "Tiga bulan lalu, aku meneleponnya dan memintanya datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan. Dia bilang ingatannya sudah pulih."

"Aku ingat waktu itu adalah Festival Pertengahan Musim Gugur. Waktu itu aku bahkan mengucapkan selamat padanya karena berhasil pulih di hari yang baik untuk berkumpul bersama keluarga."

Aku tertegun. Pada hari Festival Pertengahan Musim Gugur itu, orang tua Emma datang untuk mengantarkan kue bulan buatan sendiri kepadanya.

Robbie bahkan mengemudi ke stasiun kereta cepat untuk menjemput orang tua Emma dan mengantarkannya kembali ke sana saat mereka pulang.

Pada hari yang sama, orang tuaku juga datang ke Kota Jirana dengan membawa banyak barang. Namun, Robbie mengatakan tidak mengenal mereka, lalu langsung menyuruh petugas keamanan mengusir orang tuaku dari kompleks.

Waktu itu, aku benar-benar tidak bisa menyembunyikannya lagi. Aku terpaksa memberi tahu mereka bahwa Robbie mengalami amnesia akibat kecelakaan mobil.

Ibuku menghela napas dan menghiburku dengan lembut, "Yang penting dia baik-baik saja. Dokter juga sudah bilang, dia hanya butuh waktu untuk pulih."

Ternyata saat itu Robbie sudah mendapatkan kembali ingatannya. Dia sudah ingat bahwa dirinya bukan pacar Emma. Dia juga tahu bahwa akulah wanita yang sudah menjalin cinta dengannya selama empat tahun dan akan menikah dengannya.

Namun, dia tetap memilih menjemput orang tua Emma. Dia tetap menyuruh orang mengusir orang tuaku. Bahkan, dia sudah bersiap untuk terus berpura-pura kehilangan ingatan seumur hidupnya.

Melihatku melamun, dokter bertanya dengan bingung, "Kenapa? Apa sekarang ada masalah lagi dengan ingatannya?"

Aku menggeleng. Suaraku terasa getir. "Aku cuma ingin memastikan, Dok. Aku takut gumpalan darah di otaknya belum benar-benar hilang."

Dokter tersenyum dan menggoda, "Tenang saja, dia sudah datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan. Sudah sembuh sepenuhnya. Sama sekali nggak akan memengaruhi pernikahan kalian, juga nggak akan memengaruhi kehidupan seksual kalian."

Dulu, Robbie tak sadarkan diri selama seminggu di rumah sakit. Aku mengambil cuti dan berjaga di samping ranjangnya selama seminggu penuh tanpa beristirahat.

Ketika aku turun untuk membayar biaya rumah sakit dan meminta Emma menjaganya sebentar, Robbie terbangun.

Tidak peduli bagaimana aku menjelaskan, dia tetap bersikeras bahwa Emma adalah pacarnya. Dokter mengatakan bahwa dia baru saja mengalami kecelakaan besar dan otaknya tidak boleh menerima tekanan emosi yang terlalu berat.

Waktu itu, Emma juga mengatakan hal yang sama kepadaku, "Aku tahu kamu mencintainya. Aku juga tahu kalian sebentar lagi akan menikah."

"Tenang saja, paling lambat tiga bulan dia pasti akan pulih. Pernikahan kalian pasti nggak akan tertunda."

Siapa sangka, takdir justru mempermainkan kami. Pernikahan kami mungkin tidak akan pernah terjadi.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Sandiwaramu Nyata, Cintaku Berakhir   Bab 10

    "Benar-benar bawa sial." Ibuku langsung memasang wajah masam dan mengulurkan tangan untuk menutup pintu.Robbie segera mengganjal kusen pintu dengan kakinya dan memaksa menahan gerakan ibuku."Aku tahu hari itu Tante juga datang ke pernikahan. Meryl yang minta Tante datang, 'kan? Sekarang dia ada di mana? Aku ingin bertemu dengannya."Ibuku mencibir sambil berkacak pinggang. "Kamu mengantarkan undangan sampai ke rumah, tentu saja aku harus datang untuk melihat tontonan di pernikahanmu.""Putriku bukan binatang peliharaan yang bisa kamu panggil dan usir sesukamu. Daripada buang-buang waktu di sini, lebih baik kamu pergi dan rawat anak haram yang dikandung Emma untukmu.""Toh kamu cuma bisa berharap pada anak itu untuk mengurusmu sampai tua dan mengantar jenazahmu ke liang kubur nanti."Selama ini, ibuku selalu bersikap lembut dan penuh toleransi kepadanya. Kapan pernah dia berbicara dengan nada seperti itu kepada Robbie?Robbie berdiri terpaku di tempat selama beberapa saat, seolah tida

  • Sandiwaramu Nyata, Cintaku Berakhir   Bab 9

    Demi melihat tontonan gratis, ibuku benar-benar naik kereta cepat ke sana. Dia bahkan merekam videonya dan mengirimkannya kepadaku.Saat upacara pernikahan berlangsung setengah jalan, seorang pria asing tiba-tiba naik ke panggung dan merebut mikrofon dari tangan pembawa acara."Aku nggak menyetujui pernikahan ini."Tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Semua orang tampak kebingungan.Hanya Emma yang wajahnya pucat. Dia menutupi wajahnya dan diam-diam bersembunyi di belakang Robbie.Robbie tampak tidak senang. Dia mengira pria itu diutus olehku untuk membuat kekacauan. Dia hendak menyuruh petugas keamanan menyeret pria itu pergi.Siapa sangka, ucapan pria itu berikutnya jauh lebih mengejutkan. "Emma, jangan kira setelah kamu menemukan pria yang bersedia menerima anak haram di perutmu dan menikahimu, aku nggak bisa berbuat apa-apa lagi padamu.""Aku ayah kandung anak itu. Bahkan setelah dia dewasa, dia tetap harus memanggilku Ayah.""Apa katamu?" Robbie begitu marah sampai pupil matany

  • Sandiwaramu Nyata, Cintaku Berakhir   Bab 8

    "Kalian sudah menguasai rumahku selama ini. Aku nggak minta uang sewa selama ini saja sudah merupakan bentuk kemurahan hatiku.""Kamu juga boleh memilih untuk nggak pindah. Aku akan langsung menyuruh orang membuang semua barang kalian seperti sampah.""Untuk rumah yang kamu sewa itu, lebih baik kalian saja yang pindah ke sana."Robbie seketika terdiam. Suaranya agak serak. "Kapan kamu tahu ingatanku sudah pulih?""Itu nggak penting. Sejak kamu pura-pura kehilangan ingatan dan memilih Emma, hubungan kita sudah berakhir." Selesai mengatakan itu, aku langsung menutup telepon dan memasukkan nomornya ke daftar blokir.Robbie berdiri lama di balkon. Ketika kembali ke ruang tamu, punggungnya sudah membungkuk dengan lesu.Pilihan untuk mundur yang tadinya terbuka lebar kini sirna tanpa sisa. Dia tak lagi punya alternatif selain berjalan bersama Emma sampai akhir.Emma tahu Robbie pasti sudah menelepon Meryl. Dengan bersemangat, dia berjalan cepat menghampiri. "Gimana? Meryl tetap mau menjual r

  • Sandiwaramu Nyata, Cintaku Berakhir   Bab 7

    Karena siang hari terlalu panas, pembeli meminta untuk melihat rumahnya pada pagi hari. Tentu saja agen properti melayani permintaan itu.Alhasil, pagi-pagi sekali, saat Robbie dan Emma masih tidur, beberapa orang sudah membuka pintu rumah dengan kunci utama yang diberikan kepada agen.Mereka mulai melihat-lihat seluruh rumah.Suara pintu kamar utama yang dibuka membangunkan Robbie. Dia membuka mata dan melihat situasi di hadapannya, lalu langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh Emma rapat-rapat."Pagi-pagi begini kalian menerobos masuk ke rumah orang? Aku akan telepon polisi biar kalian ditangkap."Agen properti yang sudah menerima instruksiku sama sekali tidak mau mengalah. "Bu Meryl meminta perusahaan kami membantu menjualkan rumah ini. Pembeli sudah tertarik dengan rumah ini."Robbie mencibir, lalu mengambil ponsel di meja samping ranjang dan langsung menelepon polisi. "Sekarang juga, keluar dari sini! Tunanganku mau ganti pakaian!"Agen properti mendengus, sama sekali tidak g

  • Sandiwaramu Nyata, Cintaku Berakhir   Bab 6

    Saat aku hendak memblokir akun Emma juga, dia tiba-tiba mengirimiku pesan.[ Robbie yang memaksaku memakai cincin itu dan mengunggahnya. ][ Tapi aku janji, setelah ingatan Robbie pulih, aku akan langsung pergi. ][ Nantinya, aku nggak akan pernah muncul lagi dan mengganggu kehidupan kalian. ][ Aku hanya memohon agar kamu nggak menyakiti anak ini. Dia nggak bersalah. ]Aku terdiam. Luka sudah terlanjur ditorehkan. Apa yang hilang tidak mungkin dikembalikan.Aku benar-benar tidak mengerti apa gunanya dia mengatakan semua ini kepadaku. Kalau dia tidak mengulurkan tangannya, cincin itu juga tidak akan tiba-tiba terpasang di jarinya. Kalau dia tidak melepas celananya, mana mungkin dia tiba-tiba hamil?[ Urusan kalian berdua nggak ada hubungannya denganku. ][ Mulai hari ini, kita bukan teman lagi. ][ Hapus kontak masing-masing saja. ][ Biar Robbie nggak terus-terusan mengirimiku pesan dan menuduhku menindasmu. ]Setelah pesan terkirim dan tanpa menunggu balasannya, aku langsung menghapu

  • Sandiwaramu Nyata, Cintaku Berakhir   Bab 5

    Robbie sepertinya tidak menyangka aku akan pergi begitu saja. Dia berdiri terpaku selama beberapa menit sambil memandangi punggungku yang menjauh. Tanpa sadar, dia melangkah hendak mengejarku.Namun, Emma yang duduk di sofa tiba-tiba berkata, "Memang nggak baik membiarkan Meryl pergi selarut ini. Dia paling takut gelap. Di luar sekarang juga gelap gulita.""Bujuk saja dia agar kembali atau antar dia ke rumah sewaan yang kamu cari itu juga nggak apa-apa.""Oh ya, sebelum pergi, tolong ambilkan salep. Lututku agak sakit, mungkin perlu diolesi sedikit."Emma menarik celananya ke atas. Terlihat lututnya yang memar akibat terbentur.Robbie langsung berhenti melangkah dan berjalan cepat menghampirinya. "Lututmu sampai bengkak begini, tapi kamu malah diam saja dan menahannya sendiri. Dia memperlakukanmu seperti itu, tapi kamu masih saja memikirkannya."Dengan kesal, dia menyentil kening Emma dengan jarinya, seolah orang yang tadi hendak mengejar itu bukan dirinya.Emma menjelaskan dengan suar

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status