Se connecter"Benar-benar bawa sial." Ibuku langsung memasang wajah masam dan mengulurkan tangan untuk menutup pintu.Robbie segera mengganjal kusen pintu dengan kakinya dan memaksa menahan gerakan ibuku."Aku tahu hari itu Tante juga datang ke pernikahan. Meryl yang minta Tante datang, 'kan? Sekarang dia ada di mana? Aku ingin bertemu dengannya."Ibuku mencibir sambil berkacak pinggang. "Kamu mengantarkan undangan sampai ke rumah, tentu saja aku harus datang untuk melihat tontonan di pernikahanmu.""Putriku bukan binatang peliharaan yang bisa kamu panggil dan usir sesukamu. Daripada buang-buang waktu di sini, lebih baik kamu pergi dan rawat anak haram yang dikandung Emma untukmu.""Toh kamu cuma bisa berharap pada anak itu untuk mengurusmu sampai tua dan mengantar jenazahmu ke liang kubur nanti."Selama ini, ibuku selalu bersikap lembut dan penuh toleransi kepadanya. Kapan pernah dia berbicara dengan nada seperti itu kepada Robbie?Robbie berdiri terpaku di tempat selama beberapa saat, seolah tida
Demi melihat tontonan gratis, ibuku benar-benar naik kereta cepat ke sana. Dia bahkan merekam videonya dan mengirimkannya kepadaku.Saat upacara pernikahan berlangsung setengah jalan, seorang pria asing tiba-tiba naik ke panggung dan merebut mikrofon dari tangan pembawa acara."Aku nggak menyetujui pernikahan ini."Tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Semua orang tampak kebingungan.Hanya Emma yang wajahnya pucat. Dia menutupi wajahnya dan diam-diam bersembunyi di belakang Robbie.Robbie tampak tidak senang. Dia mengira pria itu diutus olehku untuk membuat kekacauan. Dia hendak menyuruh petugas keamanan menyeret pria itu pergi.Siapa sangka, ucapan pria itu berikutnya jauh lebih mengejutkan. "Emma, jangan kira setelah kamu menemukan pria yang bersedia menerima anak haram di perutmu dan menikahimu, aku nggak bisa berbuat apa-apa lagi padamu.""Aku ayah kandung anak itu. Bahkan setelah dia dewasa, dia tetap harus memanggilku Ayah.""Apa katamu?" Robbie begitu marah sampai pupil matany
"Kalian sudah menguasai rumahku selama ini. Aku nggak minta uang sewa selama ini saja sudah merupakan bentuk kemurahan hatiku.""Kamu juga boleh memilih untuk nggak pindah. Aku akan langsung menyuruh orang membuang semua barang kalian seperti sampah.""Untuk rumah yang kamu sewa itu, lebih baik kalian saja yang pindah ke sana."Robbie seketika terdiam. Suaranya agak serak. "Kapan kamu tahu ingatanku sudah pulih?""Itu nggak penting. Sejak kamu pura-pura kehilangan ingatan dan memilih Emma, hubungan kita sudah berakhir." Selesai mengatakan itu, aku langsung menutup telepon dan memasukkan nomornya ke daftar blokir.Robbie berdiri lama di balkon. Ketika kembali ke ruang tamu, punggungnya sudah membungkuk dengan lesu.Pilihan untuk mundur yang tadinya terbuka lebar kini sirna tanpa sisa. Dia tak lagi punya alternatif selain berjalan bersama Emma sampai akhir.Emma tahu Robbie pasti sudah menelepon Meryl. Dengan bersemangat, dia berjalan cepat menghampiri. "Gimana? Meryl tetap mau menjual r
Karena siang hari terlalu panas, pembeli meminta untuk melihat rumahnya pada pagi hari. Tentu saja agen properti melayani permintaan itu.Alhasil, pagi-pagi sekali, saat Robbie dan Emma masih tidur, beberapa orang sudah membuka pintu rumah dengan kunci utama yang diberikan kepada agen.Mereka mulai melihat-lihat seluruh rumah.Suara pintu kamar utama yang dibuka membangunkan Robbie. Dia membuka mata dan melihat situasi di hadapannya, lalu langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh Emma rapat-rapat."Pagi-pagi begini kalian menerobos masuk ke rumah orang? Aku akan telepon polisi biar kalian ditangkap."Agen properti yang sudah menerima instruksiku sama sekali tidak mau mengalah. "Bu Meryl meminta perusahaan kami membantu menjualkan rumah ini. Pembeli sudah tertarik dengan rumah ini."Robbie mencibir, lalu mengambil ponsel di meja samping ranjang dan langsung menelepon polisi. "Sekarang juga, keluar dari sini! Tunanganku mau ganti pakaian!"Agen properti mendengus, sama sekali tidak g
Saat aku hendak memblokir akun Emma juga, dia tiba-tiba mengirimiku pesan.[ Robbie yang memaksaku memakai cincin itu dan mengunggahnya. ][ Tapi aku janji, setelah ingatan Robbie pulih, aku akan langsung pergi. ][ Nantinya, aku nggak akan pernah muncul lagi dan mengganggu kehidupan kalian. ][ Aku hanya memohon agar kamu nggak menyakiti anak ini. Dia nggak bersalah. ]Aku terdiam. Luka sudah terlanjur ditorehkan. Apa yang hilang tidak mungkin dikembalikan.Aku benar-benar tidak mengerti apa gunanya dia mengatakan semua ini kepadaku. Kalau dia tidak mengulurkan tangannya, cincin itu juga tidak akan tiba-tiba terpasang di jarinya. Kalau dia tidak melepas celananya, mana mungkin dia tiba-tiba hamil?[ Urusan kalian berdua nggak ada hubungannya denganku. ][ Mulai hari ini, kita bukan teman lagi. ][ Hapus kontak masing-masing saja. ][ Biar Robbie nggak terus-terusan mengirimiku pesan dan menuduhku menindasmu. ]Setelah pesan terkirim dan tanpa menunggu balasannya, aku langsung menghapu
Robbie sepertinya tidak menyangka aku akan pergi begitu saja. Dia berdiri terpaku selama beberapa menit sambil memandangi punggungku yang menjauh. Tanpa sadar, dia melangkah hendak mengejarku.Namun, Emma yang duduk di sofa tiba-tiba berkata, "Memang nggak baik membiarkan Meryl pergi selarut ini. Dia paling takut gelap. Di luar sekarang juga gelap gulita.""Bujuk saja dia agar kembali atau antar dia ke rumah sewaan yang kamu cari itu juga nggak apa-apa.""Oh ya, sebelum pergi, tolong ambilkan salep. Lututku agak sakit, mungkin perlu diolesi sedikit."Emma menarik celananya ke atas. Terlihat lututnya yang memar akibat terbentur.Robbie langsung berhenti melangkah dan berjalan cepat menghampirinya. "Lututmu sampai bengkak begini, tapi kamu malah diam saja dan menahannya sendiri. Dia memperlakukanmu seperti itu, tapi kamu masih saja memikirkannya."Dengan kesal, dia menyentil kening Emma dengan jarinya, seolah orang yang tadi hendak mengejar itu bukan dirinya.Emma menjelaskan dengan suar







