Share

Bab 3

Penulis: Feli
Saat turun menggunakan lift, aku masih terus memikirkan perilaku Robbie selama tiga bulan terakhir.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, aktingnya benar-benar buruk. Hanya saja, selama ini aku selalu menggunakan alasan amnesia untuk membelanya.

Karena terlalu larut dalam pikiranku sendiri, tanpa sengaja aku mengikuti orang di sebelahku dan turun dari lift lebih awal di lantai departemen kebidanan dan kandungan.

Saat tersadar, aku sudah berjalan cukup jauh meninggalkan lift. Aku baru saja hendak kembali, tetapi tiba-tiba aku melihat sosok yang seharusnya tidak berada di tempat ini.

Robbie. Bukankah saat ini seharusnya dia sedang memasak bersama Emma di rumah?

Tanpa sadar, aku berhenti di depan pintu. Kebetulan, aku mendengar dokter di dalam berbicara.

"Anda hamil, usia kandungannya delapan minggu. Anda mau mempertahankan anak ini?"

Emma belum sempat menjawab, tetapi Robbie yang berdiri di belakangnya sudah buru-buru menjawab untuknya, "Mau. Kami mau."

Robbie memegang lembar hasil pemeriksaan USG itu. Dia mengulurkan tangan dengan tidak sabar dan memeluk Emma erat-erat.

"Kamu dengar apa yang dokter bilang? Kita punya anak!"

Bahkan dia sudah mulai membuat rencana.

"Selagi perutmu belum terlihat besar, kita segera urus akta nikah dan adakan pernikahan. Besok aku akan telepon orang tuaku untuk membicarakannya. Tapi waktunya agak terburu-buru, jadi mungkin acaranya nggak akan terlalu mewah."

"Tenang saja, apa pun yang seharusnya kamu dapatkan, aku pasti akan memberikannya."

Robbie membelakangi pintu. Namun, Emma justru bertatapan langsung denganku yang berdiri di ambang pintu. Wajahnya langsung pucat karena ketakutan melihat ekspresiku yang tanpa emosi. Dia tiba-tiba mendorong Robbie dengan keras.

Robbie mengikuti arah pandang Emma dan menoleh. Begitu melihatku, ada kepanikan yang nyaris tak terlihat melintas di matanya.

"Meryl, bukannya kamu pergi kerja? Kenapa tiba-tiba ada di bagian kandungan?"

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku menatap Emma tajam dan pura-pura bodoh. "Kamu hamil?"

Emma menundukkan kepala dengan sedih, tidak berani menatapku.

Robbie mengernyit dan berdiri di depannya untuk melindunginya. "Kami pasangan yang sudah bertunangan. Karena terbawa suasana, kami lupa menggunakan pengaman dan nggak sengaja hamil. Itu wajar."

Aku tertawa mencemooh diri sendiri. Aku tidak tahu apakah sedang menjawabnya atau mengatakannya untuk diriku sendiri. "Ya, sekarang kalianlah pasangan yang sudah bertunangan."

Dalam perjalanan pulang, Emma duduk di sampingku dengan kepala tertunduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Sebaliknya, Robbie yang duduk di kursi pengemudi di depan tampak sangat waspada. Dia berkali-kali melirikku melalui kaca spion, seolah takut aku akan melakukan sesuatu kepada Emma kesayangannya.

Aku hanya menunduk dan membalas pesan dari bagian personalia perusahaan.

[ Aku bersedia menerima penugasan perusahaan ke Italia. ]

Pimpinan kantor pusat berencana membuka pasar luar negeri dalam rapat evaluasi tengah tahun. Perusahaan akan memilih sejumlah insinyur dari berbagai cabang untuk dikirim memberikan dukungan.

Kebetulan, di perusahaan hanya aku yang saat kuliah pernah mengambil bahasa Italia sebagai program studi kedua.

Sebelumnya, karena Robbie kehilangan ingatan, aku tidak mempertimbangkan tawaran itu. Bahkan jika dia baik-baik saja, aku tetap merasa tidak sanggup seandainya harus menjalani hubungan jarak jauh dengannya.

Dulu, ketika harus memilih antara masa depan dan Robbie, aku akan memilih Robbie. Namun, untuk keputusan-keputusanku setelah ini, aku hanya akan memikirkan diriku sendiri.

Sesampainya di rumah, aku baru tahu bahwa saat sedang memasak makan malam tadi, Emma tiba-tiba muntah parah. Robbie khawatir ada masalah dengan lambungnya, karena itu dia buru-buru membawanya ke rumah sakit.

Sekarang, karena takut Emma akan kembali merasa mual ketika mencium bau-bauan di dapur, Robbie memintaku menggantikan Emma membantu di dapur.

Emma menatapku dengan ragu. "Tapi Meryl belum pernah masak."

Robbie membantunya duduk di sofa. "Kalau nggak bisa, dia bisa belajar. Masa semuanya harus kamu yang kerjakan? Kamu lagi hamil lho."

Kata hamil itu membuat telingaku terasa sakit. Aku berbalik dan masuk ke dapur untuk mencuci sayuran.

Robbie mengikutiku dari belakang. Setelah masuk, dia langsung mengunci pintu dapur dari dalam.

"Kalau Emma dan anak ini kenapa-napa, aku nggak akan mengampunimu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sandiwaramu Nyata, Cintaku Berakhir   Bab 10

    "Benar-benar bawa sial." Ibuku langsung memasang wajah masam dan mengulurkan tangan untuk menutup pintu.Robbie segera mengganjal kusen pintu dengan kakinya dan memaksa menahan gerakan ibuku."Aku tahu hari itu Tante juga datang ke pernikahan. Meryl yang minta Tante datang, 'kan? Sekarang dia ada di mana? Aku ingin bertemu dengannya."Ibuku mencibir sambil berkacak pinggang. "Kamu mengantarkan undangan sampai ke rumah, tentu saja aku harus datang untuk melihat tontonan di pernikahanmu.""Putriku bukan binatang peliharaan yang bisa kamu panggil dan usir sesukamu. Daripada buang-buang waktu di sini, lebih baik kamu pergi dan rawat anak haram yang dikandung Emma untukmu.""Toh kamu cuma bisa berharap pada anak itu untuk mengurusmu sampai tua dan mengantar jenazahmu ke liang kubur nanti."Selama ini, ibuku selalu bersikap lembut dan penuh toleransi kepadanya. Kapan pernah dia berbicara dengan nada seperti itu kepada Robbie?Robbie berdiri terpaku di tempat selama beberapa saat, seolah tida

  • Sandiwaramu Nyata, Cintaku Berakhir   Bab 9

    Demi melihat tontonan gratis, ibuku benar-benar naik kereta cepat ke sana. Dia bahkan merekam videonya dan mengirimkannya kepadaku.Saat upacara pernikahan berlangsung setengah jalan, seorang pria asing tiba-tiba naik ke panggung dan merebut mikrofon dari tangan pembawa acara."Aku nggak menyetujui pernikahan ini."Tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Semua orang tampak kebingungan.Hanya Emma yang wajahnya pucat. Dia menutupi wajahnya dan diam-diam bersembunyi di belakang Robbie.Robbie tampak tidak senang. Dia mengira pria itu diutus olehku untuk membuat kekacauan. Dia hendak menyuruh petugas keamanan menyeret pria itu pergi.Siapa sangka, ucapan pria itu berikutnya jauh lebih mengejutkan. "Emma, jangan kira setelah kamu menemukan pria yang bersedia menerima anak haram di perutmu dan menikahimu, aku nggak bisa berbuat apa-apa lagi padamu.""Aku ayah kandung anak itu. Bahkan setelah dia dewasa, dia tetap harus memanggilku Ayah.""Apa katamu?" Robbie begitu marah sampai pupil matany

  • Sandiwaramu Nyata, Cintaku Berakhir   Bab 8

    "Kalian sudah menguasai rumahku selama ini. Aku nggak minta uang sewa selama ini saja sudah merupakan bentuk kemurahan hatiku.""Kamu juga boleh memilih untuk nggak pindah. Aku akan langsung menyuruh orang membuang semua barang kalian seperti sampah.""Untuk rumah yang kamu sewa itu, lebih baik kalian saja yang pindah ke sana."Robbie seketika terdiam. Suaranya agak serak. "Kapan kamu tahu ingatanku sudah pulih?""Itu nggak penting. Sejak kamu pura-pura kehilangan ingatan dan memilih Emma, hubungan kita sudah berakhir." Selesai mengatakan itu, aku langsung menutup telepon dan memasukkan nomornya ke daftar blokir.Robbie berdiri lama di balkon. Ketika kembali ke ruang tamu, punggungnya sudah membungkuk dengan lesu.Pilihan untuk mundur yang tadinya terbuka lebar kini sirna tanpa sisa. Dia tak lagi punya alternatif selain berjalan bersama Emma sampai akhir.Emma tahu Robbie pasti sudah menelepon Meryl. Dengan bersemangat, dia berjalan cepat menghampiri. "Gimana? Meryl tetap mau menjual r

  • Sandiwaramu Nyata, Cintaku Berakhir   Bab 7

    Karena siang hari terlalu panas, pembeli meminta untuk melihat rumahnya pada pagi hari. Tentu saja agen properti melayani permintaan itu.Alhasil, pagi-pagi sekali, saat Robbie dan Emma masih tidur, beberapa orang sudah membuka pintu rumah dengan kunci utama yang diberikan kepada agen.Mereka mulai melihat-lihat seluruh rumah.Suara pintu kamar utama yang dibuka membangunkan Robbie. Dia membuka mata dan melihat situasi di hadapannya, lalu langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh Emma rapat-rapat."Pagi-pagi begini kalian menerobos masuk ke rumah orang? Aku akan telepon polisi biar kalian ditangkap."Agen properti yang sudah menerima instruksiku sama sekali tidak mau mengalah. "Bu Meryl meminta perusahaan kami membantu menjualkan rumah ini. Pembeli sudah tertarik dengan rumah ini."Robbie mencibir, lalu mengambil ponsel di meja samping ranjang dan langsung menelepon polisi. "Sekarang juga, keluar dari sini! Tunanganku mau ganti pakaian!"Agen properti mendengus, sama sekali tidak g

  • Sandiwaramu Nyata, Cintaku Berakhir   Bab 6

    Saat aku hendak memblokir akun Emma juga, dia tiba-tiba mengirimiku pesan.[ Robbie yang memaksaku memakai cincin itu dan mengunggahnya. ][ Tapi aku janji, setelah ingatan Robbie pulih, aku akan langsung pergi. ][ Nantinya, aku nggak akan pernah muncul lagi dan mengganggu kehidupan kalian. ][ Aku hanya memohon agar kamu nggak menyakiti anak ini. Dia nggak bersalah. ]Aku terdiam. Luka sudah terlanjur ditorehkan. Apa yang hilang tidak mungkin dikembalikan.Aku benar-benar tidak mengerti apa gunanya dia mengatakan semua ini kepadaku. Kalau dia tidak mengulurkan tangannya, cincin itu juga tidak akan tiba-tiba terpasang di jarinya. Kalau dia tidak melepas celananya, mana mungkin dia tiba-tiba hamil?[ Urusan kalian berdua nggak ada hubungannya denganku. ][ Mulai hari ini, kita bukan teman lagi. ][ Hapus kontak masing-masing saja. ][ Biar Robbie nggak terus-terusan mengirimiku pesan dan menuduhku menindasmu. ]Setelah pesan terkirim dan tanpa menunggu balasannya, aku langsung menghapu

  • Sandiwaramu Nyata, Cintaku Berakhir   Bab 5

    Robbie sepertinya tidak menyangka aku akan pergi begitu saja. Dia berdiri terpaku selama beberapa menit sambil memandangi punggungku yang menjauh. Tanpa sadar, dia melangkah hendak mengejarku.Namun, Emma yang duduk di sofa tiba-tiba berkata, "Memang nggak baik membiarkan Meryl pergi selarut ini. Dia paling takut gelap. Di luar sekarang juga gelap gulita.""Bujuk saja dia agar kembali atau antar dia ke rumah sewaan yang kamu cari itu juga nggak apa-apa.""Oh ya, sebelum pergi, tolong ambilkan salep. Lututku agak sakit, mungkin perlu diolesi sedikit."Emma menarik celananya ke atas. Terlihat lututnya yang memar akibat terbentur.Robbie langsung berhenti melangkah dan berjalan cepat menghampirinya. "Lututmu sampai bengkak begini, tapi kamu malah diam saja dan menahannya sendiri. Dia memperlakukanmu seperti itu, tapi kamu masih saja memikirkannya."Dengan kesal, dia menyentil kening Emma dengan jarinya, seolah orang yang tadi hendak mengejar itu bukan dirinya.Emma menjelaskan dengan suar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status