Share

bab 3: Petemuan Awal

Penulis: Mr. Xenon
last update Tanggal publikasi: 2025-12-23 20:06:56

Hutan tetap sunyi, kabut tipis merayap di atas tanah, menyelimuti pepohonan raksasa yang menjulang seperti menara gelap yang angkuh. Di tengah keheningan itu, Tian Hei berdiri tegak. Besi hitam di tangannya terasa seperti perpanjangan lengannya sendiri. Mata tajamnya menembus keremangan, menilai setiap gerak samar. Ia tidak terburu-buru; setiap langkah diperhitungkan, setiap napasnya selaras dengan detak jantung alam di sekelilingnya.

Hari-hari di hutan ini adalah neraka yang nyata. Tian Hei telah membantai banyak binatang buas—mulai dari serigala hingga beruang ganas. Namun, baginya, pertarungan bukan sekadar adu otot. Ia membaca medan, memanfaatkan kabut sebagai sekutu, dan menjadikan pepohonan sebagai perisai.

Sore itu, suasana berubah mencekam. Dari balik semak, muncul seekor Serigala darah Mata Emas, binatang buas tingkat 5. Tubuhnya jauh melampaui ukuran beruang dewasa, dan aura kematian yang terpancar darinya membuat udara terasa berat. Mata emasnya menatap tajam, seolah mampu menembus isi kepala Tian Hei.

Auuu!

Serigala itu melesat secepat kilat. Tian Hei mundur, merasakan tekanan udara yang dilepaskan serangan itu. Besi hitamnya berputar, memotong angin, namun getaran hantamannya terasa jauh lebih berat dari biasanya.

"Lebih kuat..." batin Tian Hei datar. Tidak ada rasa panik, hanya evaluasi dingin. "Ini binatang buas tingkat 5. Tidak ada peluang untuk menang."

Pertarungan pecah dengan sengit. Setiap terjang serigala itu membuat tanah retak. Satu hantaman telak mengenai lengan Tian Hei, mengoyak jubah dan kulitnya hingga darah segar merembes. Rasa sakit itu justru menjadi pengingat: satu kelengahan berarti maut.

Tian Hei tidak menyerang membabi buta. Ia memancing makhluk itu ke arah batu besar yang menjorok. Saat serigala itu melompat dengan keyakinan penuh, Tian Hei secara tiba-tiba mengubah ritme gerakannya—sebuah trik kecil yang membuat lawan salah menilai arah. Dengan satu gerakan presisi, besi hitamnya menghantam titik lemah di bawah leher serigala tersebut.

Meskipun serigala itu tidak langsung mati, momentumnya hancur. Tian Hei memanfaatkan celah itu untuk mendorongnya ke tepi jurang kecil di dekat sana. Makhluk itu mengaum satu kali sebelum akhirnya hilang tertelan kegelapan dasar jurang.

Tian Hei tersandar pada batu besar, napasnya berat dan tubuhnya penuh luka. Namun, matanya tetap sedingin es. Pertarungan ini bukan tentang siapa yang lebih kuat, tapi siapa yang lebih cerdas dan sabar.

Berusaha membersihkan diri, Tian Hei melangkah menuju sungai jernih di tepi hutan. Ia berlutut, membasuh darah dari wajahnya. Namun, rasa lelah membuatnya kehilangan sedikit kewaspadaan. Saat ia membenamkan tubuhnya ke dalam air yang sejuk, sebuah benturan tiba-tiba terjadi.

Bruk!

Wajah Tian Hei menempel pada sesuatu yang luar biasa lembut dan hangat—sebuah sensasi asing yang belum pernah ia rasakan selama 18 tahun hidup dalam isolasi. Ia tertegun sejenak, lalu mengangkat pandangannya.

Seorang wanita.

Dunia seolah membeku. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa menghirup aroma samar seperti resin dan embun pagi—aroma yang entah mengapa menusuk indranya. Mata tajam wanita itu menatapnya, bukan dengan kehangatan, melainkan dengan niat membunuh yang murni.

"Apa yang kau lakukan?! Bajingan! Mesum! Brengsek tak tahu malu!"

Teriakan itu membelah kesunyian sungai. Wanita itu mundur dengan wajah memerah padam. Air memercik tinggi saat ia melambaikan tangan, memutar tubuhnya dengan anggun. Dalam sekejap mata, sebuah hanfu berwarna hitam-putih yang elegan sudah membalut tubuhnya yang indah, serta cadar yang menutupi kecantikan itu.

Tian Hei berdiri tegak di tengah arus, rambut hitamnya yang basah menutupi sebagian wajah datarnya. Pikirannya sempat linglung—ini adalah manusia kedua yang pernah ia lihat selain gurunya.

"Apakah ini... Wanita? Lawan jenis yang guru katakan?" gumam Tian Hei pelan, suaranya polos namun terdengar sangat datar di telinga wanita itu.

"Berani-beraninya kau pria brengsek!" bentak wanita itu. Tangannya terangkat, energi spiritual di sekelilingnya bergejolak hebat, membuat air sungai berputar liar.

"Ini tidak disengaja," balas Tian Hei, suaranya rendah namun tegas. "Jika aku berniat jahat, aku sudah melakukannya sedari tadi."

"Kurang ajar!"

Wanita itu melesat maju. Telapak tangannya menghantam udara, menciptakan gelombang energi yang membelah permukaan sungai. Tian Hei menyipitkan mata. Ia bisa merasakan bahwa wanita ini jauh lebih kuat darinya, namun ada sesuatu yang aneh—gerakannya seolah tertahan, seperti ada beban berat yang menghambat kekuatannya.

BOOM!

Tian Hei menepis serangan itu dengan lengan yang diperkuat Qi. Ledakan teredam mengguncang tepi sungai.

"Kau... menahan seranganku?" Wanita itu terkejut. Meskipun ia tidak dalam kondisi puncaknya, serangan tadi seharusnya cukup untuk menghancurkan seseorang di Ranah Nafas Awal. "Masih di Nafas Awal, tapi teknik pertahananmu..."

Ia menyerang lagi, kali ini dengan niat yang lebih serius. Tian Hei menggunakan seluruh pengalamannya bertahan hidup. Ia tidak melawan kekuatan dengan kekuatan, melainkan menepis dan mengalihkan arah serangan.

Boom!

Satu hantaman lolos dan mengenai bahu Tian Hei, membuatnya terdorong mundur dengan darah mengalir tipis. Namun, di saat yang sama, Tian Hei memutar tubuh dan membalas dengan telapak tangan yang dipenuhi energi terkompresi. Serangan itu mengenai sisi tubuh wanita tersebut.

Wanita itu terbatuk, darah merembes di sudut bibirnya. Ia tampak lebih lemah dari yang seharusnya.

"Kau... bukan lawan biasa," ucap wanita itu pelan. Amarah di matanya kini bercampur dengan sedikit rasa ketertarikan yang asing.

Tian Hei menghapus darah di bahunya tanpa ekspresi. "Kau juga."

Setelah benturan terakhir yang membuat keduanya terpental, keheningan kembali jatuh. Tian Hei menyadari bahwa jika wanita ini benar-benar tidak terluka atau menggunakan kekuatan penuhnya, ia mungkin sudah menjadi mayat.

"Aku tak ingin bertarung lagi," ucap Tian Hei tenang. "Pertemuan ini murni kecelakaan."

Wanita itu menatapnya lama, menimbang-nimbang. Ia bisa merasakan aura unik dari pemuda di hadapannya—dingin, kejam, namun sangat murni.

"Kebetulan atau tidak," ucapnya dingin sambil menyeka darah di bibirnya, "jika kita bertemu lagi... aku tidak akan menahan diri."

Tanpa menunggu jawaban, wanita itu berbalik dan menghilang ke dalam rimbunnya hutan dengan kecepatan yang luar biasa, meninggalkan Tian Hei yang masih berdiri di tengah sungai yang bergejolak.

Tian Hei masih berdiri di tengah sungai yang bergejolak. Ia menyentuh bahunya yang terluka, menatap noda darah yang mulai luntur oleh air. Ia tidak marah, tidak juga merasa terhina. Matanya yang datar hanya menatap ke arah tempat wanita itu menghilang.

"Wanita..." gumamnya pelan.

Ada sesuatu yang tertinggal di indra penciumannya—aroma samar resin dan embun pagi yang tidak berasal dari hutan maupun air sungai. Ia menyadari aroma ini berasal dari tubuh wanita itu. Tian Hei tidak tahu siapa dia, dan ia tidak peduli untuk mencari tahu saat ini. Baginya, wanita itu hanyalah satu lagi variabel tak terduga dalam dunia ini. Namun, satu hal yang ia ketahui pasti; wanita itu sedang terluka parah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 27

    Kabut Lembah Kematian tidak menipis setelah kematian Ular Rawa Bersayap Empat—ia justru menjadi lebih berat, lebih pekat, seolah alam menelan kembali darah penguasanya yang tumbang. Danau hitam itu kembali tenang, namun ketenangan tersebut bukan kedamaian, melainkan keheningan sebelum kelaparan berikutnya. Tian Hei duduk bersila di atas tulang-belulang di tepi danau. Tubuhnya nyaris tak lagi dapat disebut manusia. Bahu kirinya hancur, lengan kirinya tak merespons, dan setiap napas terasa seperti pisau yang menggores paru-parunya dari dalam. Namun auranya—auranya justru semakin mengerikan. Energi gelap berdenyut di sekelilingnya, berputar liar seperti badai yang kehilangan pusat. Xi Qianyue berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya pucat. Ia ingin mendekat, namun naluri spiritualnya menjerit agar berhenti. Energi dalam tubuh Tian Hei saat ini terlalu tidak stabil. Satu kesalahan kecil bisa membuatnya meledak dari dalam. Tian Hei membuka mata perlahan. Pandangannya buram, namun k

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 26

    Waktu seolah kehilangan maknanya di bawah kanopi ungu kehitaman Lembah Kematian. Satu bulan telah berlalu sejak Tian Hei melahap rombongan Sekte Angin Hijau, dan selama tiga puluh hari itu, ia bersama Xi Qianyue tidak pernah benar-benar memejamkan mata dengan tenang. Lembah ini adalah neraka yang terus memberi makan. Sepanjang perjalanan mereka dari pinggiran menuju pedalaman, keduanya telah dihadang oleh barisan binatang buas yang haus darah. Mulai dari Kera Lengan Besi tingkat 5 hingga Ular Sanca Bayangan tingkat 6 yang bisa menyatu dengan kegelapan. Tian Hei menghadapi mereka semua dengan keganasan yang sama. Pakaian hitamnya kini bukan lagi hitam karena pewarna, melainkan karena lapisan darah kering yang bertumpuk-tumpuk. Xi Qianyue, meski awalnya merasa ngeri, kini telah terbiasa dengan metode brutal Tian Hei. Namun, semua pertarungan sebulan terakhir hanyalah pemanasan bagi apa yang menanti mereka di bagian dalam lembah. Kehadiran Sang Penguasa Udara di bagian dalam Lemb

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 25

    Di tengah kabut pagi yang masih tebal, dua sosok berpakaian hitam melangkah keluar dari bayang-bayang tembok kota. Tian Hei berjalan dengan langkah mantap, palu Pemusnah Surga di punggungnya tampak lebih gelap di bawah cahaya temaram. Di sampingnya, Xi Qianyue bergerak dengan keanggunan yang sunyi, cadarnya berkibar lembut mengikuti embusan angin dingin. "Kau yakin ingin melewati jalur itu?" tanya Xi Qianyue pelan, matanya menatap ke arah jajaran pegunungan hitam yang menjulang di cakrawala utara. "Lembah kematian merupakan salah satu area terlarang yang jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan Hutan Abadi." Tian Hei tidak berhenti melangkah. Pandangannya lurus ke depan, menembus kabut. "hmm, kata bahaya hanyalah kedok untuk pelung besar bagi kultivator." Mereka meninggalkan jalan setapak utama dan mulai memasuki wilayah hutan tua yang semakin rapat. Semakin jauh mereka melangkah, suara kehidupan kota di belakang mereka perlahan memudar, digantikan oleh suara dahan yang berderi

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 24

    Matahari mulai tenggelam di cakrawala Kota Qing Yun, menyisakan semburat merah darah yang seolah meramalkan masa depan yang akan ditempuh Tian Hei. Alun-alun yang tadinya penuh dengan hiruk-pikuk perekrutan murid kini sunyi, hanya menyisakan bisikan-bisikan ketakutan dari orang-orang yang menyaksikan jatuhnya harga diri Sekte Gang Quan. Tian Hei tidak mempedulikan tatapan mata yang tertuju padanya. Di tangannya, ia menggenggam plakat hitam kemerahan pemberian Lie Cang. Logam itu terasa dingin di permukaan, namun ada denyut energi yang sangat panas di dalamnya—seperti petir yang terperangkap dalam botol kaca. "Ayo pergi," ucap Tian Hei datar kepada Xi Qianyue. Keduanya berjalan menjauh dari alun-alun, meninggalkan sisa-sisa reruntuhan batu dan harga diri sekte yang telah hancur. Mereka kembali ke penginapan, tempat yang kini terasa lebih seperti tempat pengintaian daripada tempat beristirahat. Setelah sampai di kamar mereka, Xi Qianyue segera mengunci pintu dan memasang segel iso

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 23: Benturan Dua Kehendak

    Tekanan dingin yang menyelimuti alun-alun belum sepenuhnya menghilang ketika Gang Zhen melangkah maju satu langkah. Langkah itu berat. Bukan karena luka fisik—melainkan karena tekanan eksistensi yang berdiri di hadapannya. Pria tua berjubah gelap itu melayang setengah inci di atas tanah, seolah hukum dunia tak sepenuhnya berlaku padanya. Rambut peraknya terurai bebas, wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam dan dingin seperti pedang tua yang telah meminum darah lebih banyak dari yang bisa dihitung waktu. Gang Zhen menggenggam tangannya perlahan. Qi di tubuhnya berputar, berat dan padat. Sebagai Tetua Agung Sekte Gang Quan, ia telah melewati puluhan tahun pertarungan hidup dan mati. Ia tidak asing dengan tekanan dari kultivator tingkat tinggi. Namun tekanan ini— Berbeda. Ini bukan sekadar perbedaan kekuatan. Ini adalah perbedaan tingkatan eksistensi. “Senior,” ucap Gang Zhen akhirnya, suaranya rendah namun stabil, “ini adalah wilayah Sekte Gang Quan. Perekrutan m

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 22

    Tekanan Qi brutal yang menyapu alun-alun perlahan mereda, namun suasana justru semakin mencekam. Tanah batu yang retak masih menghembuskan debu tipis, sementara tubuh-tubuh peserta yang tumbang tergeletak tanpa daya. Beberapa merintih kesakitan, yang lain pingsan dengan wajah pucat keabu-abuan. Pria bertubuh besar di atas panggung menurunkan kakinya perlahan. Sorot matanya menyapu mereka yang masih berdiri—jumlahnya kini tak sampai separuh dari semula. “Bagus,” ucapnya dingin, seolah apa yang terjadi barusan hanyalah pemanasan. “Setidaknya kalian belum sepenuhnya rapuh.” Beberapa peserta yang masih bertahan menggertakkan gigi. Keringat bercampur debu mengalir di wajah mereka. Tubuh gemetar, napas tersengal, namun tak seorang pun berani mundur. Tian Hei berdiri tenang di antara mereka. Napasnya telah kembali stabil, seolah tekanan barusan tak lebih dari angin kencang yang lewat. Di balik ketenangan itu, Pelahap Semesta bekerja dengan sangat halus, melahap sisa tekanan Qi yang

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    bab 7: Benda terkutut dan hadia para penguasa

    Tatapan Tian Hei tetap tertuju ke arah cekungan itu. Baru sekarang ia menyadari bahwa sejak awal, tanah di sekeliling bangkai naga hitam tidak sepenuhnya datar. Permukaannya membentuk kemiringan halus, nyaris tak terasa saat dilalui dengan berjalan kaki—namun cukup untuk menciptakan perbedaan keti

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    bab 6: Energi yang tidak seharusnya dimiliki

    Tian Hei melangkah keluar dari tempat peristirahatan sementaranya tanpa membawa arah yang pasti. Hutan ini terlalu luas, terlalu asing, dan terlalu sunyi untuk mengandalkan logika semata. Ia tidak tahu di mana pintu keluar berada, maka ia memilih mempercayakan langkahnya pada satu-satunya hal yang

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    bab 5: Tanpa jalan pulang

    “Apa yang terjadi…?” gumam Tian Hei pelan. Kejadian barusan jelas mengejutkannya. Namun hanya sesaat. Tak lama kemudian, ketenangannya kembali. Sebuah kemungkinan terlintas di benaknya—dan itu cukup untuk membuat pikirannya kembali stabil. Untungnya, ia telah membaca isi kitab itu berulang kali

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    bab 4: Teknik melawan hukum langit

    Hutan kembali tenggelam dalam kesunyian setelah kepergian wanita misterius itu. Sungai yang sebelumnya bergolak perlahan kembali tenang. Riak-riak air memudar, seolah menelan seluruh jejak benturan dahsyat yang baru saja terjadi. Permukaannya kembali jernih, memantulkan cahaya senja yang memer

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status