LOGINHutan tetap sunyi, kabut tipis merayap di atas tanah, menyelimuti pepohonan raksasa yang menjulang seperti menara gelap yang angkuh. Di tengah keheningan itu, Tian Hei berdiri tegak. Besi hitam di tangannya terasa seperti perpanjangan lengannya sendiri. Mata tajamnya menembus keremangan, menilai setiap gerak samar. Ia tidak terburu-buru; setiap langkah diperhitungkan, setiap napasnya selaras dengan detak jantung alam di sekelilingnya.
Hari-hari di hutan ini adalah neraka yang nyata. Tian Hei telah membantai banyak binatang buas—mulai dari serigala hingga beruang ganas. Namun, baginya, pertarungan bukan sekadar adu otot. Ia membaca medan, memanfaatkan kabut sebagai sekutu, dan menjadikan pepohonan sebagai perisai. Sore itu, suasana berubah mencekam. Dari balik semak, muncul seekor Serigala darah Mata Emas, binatang buas tingkat 5. Tubuhnya jauh melampaui ukuran beruang dewasa, dan aura kematian yang terpancar darinya membuat udara terasa berat. Mata emasnya menatap tajam, seolah mampu menembus isi kepala Tian Hei. Auuu! Serigala itu melesat secepat kilat. Tian Hei mundur, merasakan tekanan udara yang dilepaskan serangan itu. Besi hitamnya berputar, memotong angin, namun getaran hantamannya terasa jauh lebih berat dari biasanya. "Lebih kuat..." batin Tian Hei datar. Tidak ada rasa panik, hanya evaluasi dingin. "Ini binatang buas tingkat 5. Tidak ada peluang untuk menang." Pertarungan pecah dengan sengit. Setiap terjang serigala itu membuat tanah retak. Satu hantaman telak mengenai lengan Tian Hei, mengoyak jubah dan kulitnya hingga darah segar merembes. Rasa sakit itu justru menjadi pengingat: satu kelengahan berarti maut. Tian Hei tidak menyerang membabi buta. Ia memancing makhluk itu ke arah batu besar yang menjorok. Saat serigala itu melompat dengan keyakinan penuh, Tian Hei secara tiba-tiba mengubah ritme gerakannya—sebuah trik kecil yang membuat lawan salah menilai arah. Dengan satu gerakan presisi, besi hitamnya menghantam titik lemah di bawah leher serigala tersebut. Meskipun serigala itu tidak langsung mati, momentumnya hancur. Tian Hei memanfaatkan celah itu untuk mendorongnya ke tepi jurang kecil di dekat sana. Makhluk itu mengaum satu kali sebelum akhirnya hilang tertelan kegelapan dasar jurang. Tian Hei tersandar pada batu besar, napasnya berat dan tubuhnya penuh luka. Namun, matanya tetap sedingin es. Pertarungan ini bukan tentang siapa yang lebih kuat, tapi siapa yang lebih cerdas dan sabar. Berusaha membersihkan diri, Tian Hei melangkah menuju sungai jernih di tepi hutan. Ia berlutut, membasuh darah dari wajahnya. Namun, rasa lelah membuatnya kehilangan sedikit kewaspadaan. Saat ia membenamkan tubuhnya ke dalam air yang sejuk, sebuah benturan tiba-tiba terjadi. Bruk! Wajah Tian Hei menempel pada sesuatu yang luar biasa lembut dan hangat—sebuah sensasi asing yang belum pernah ia rasakan selama 18 tahun hidup dalam isolasi. Ia tertegun sejenak, lalu mengangkat pandangannya. Seorang wanita. Dunia seolah membeku. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa menghirup aroma samar seperti resin dan embun pagi—aroma yang entah mengapa menusuk indranya. Mata tajam wanita itu menatapnya, bukan dengan kehangatan, melainkan dengan niat membunuh yang murni. "Apa yang kau lakukan?! Bajingan! Mesum! Brengsek tak tahu malu!" Teriakan itu membelah kesunyian sungai. Wanita itu mundur dengan wajah memerah padam. Air memercik tinggi saat ia melambaikan tangan, memutar tubuhnya dengan anggun. Dalam sekejap mata, sebuah hanfu berwarna hitam-putih yang elegan sudah membalut tubuhnya yang indah, serta cadar yang menutupi kecantikan itu. Tian Hei berdiri tegak di tengah arus, rambut hitamnya yang basah menutupi sebagian wajah datarnya. Pikirannya sempat linglung—ini adalah manusia kedua yang pernah ia lihat selain gurunya. "Apakah ini... Wanita? Lawan jenis yang guru katakan?" gumam Tian Hei pelan, suaranya polos namun terdengar sangat datar di telinga wanita itu. "Berani-beraninya kau pria brengsek!" bentak wanita itu. Tangannya terangkat, energi spiritual di sekelilingnya bergejolak hebat, membuat air sungai berputar liar. "Ini tidak disengaja," balas Tian Hei, suaranya rendah namun tegas. "Jika aku berniat jahat, aku sudah melakukannya sedari tadi." "Kurang ajar!" Wanita itu melesat maju. Telapak tangannya menghantam udara, menciptakan gelombang energi yang membelah permukaan sungai. Tian Hei menyipitkan mata. Ia bisa merasakan bahwa wanita ini jauh lebih kuat darinya, namun ada sesuatu yang aneh—gerakannya seolah tertahan, seperti ada beban berat yang menghambat kekuatannya. BOOM! Tian Hei menepis serangan itu dengan lengan yang diperkuat Qi. Ledakan teredam mengguncang tepi sungai. "Kau... menahan seranganku?" Wanita itu terkejut. Meskipun ia tidak dalam kondisi puncaknya, serangan tadi seharusnya cukup untuk menghancurkan seseorang di Ranah Nafas Awal. "Masih di Nafas Awal, tapi teknik pertahananmu..." Ia menyerang lagi, kali ini dengan niat yang lebih serius. Tian Hei menggunakan seluruh pengalamannya bertahan hidup. Ia tidak melawan kekuatan dengan kekuatan, melainkan menepis dan mengalihkan arah serangan. Boom! Satu hantaman lolos dan mengenai bahu Tian Hei, membuatnya terdorong mundur dengan darah mengalir tipis. Namun, di saat yang sama, Tian Hei memutar tubuh dan membalas dengan telapak tangan yang dipenuhi energi terkompresi. Serangan itu mengenai sisi tubuh wanita tersebut. Wanita itu terbatuk, darah merembes di sudut bibirnya. Ia tampak lebih lemah dari yang seharusnya. "Kau... bukan lawan biasa," ucap wanita itu pelan. Amarah di matanya kini bercampur dengan sedikit rasa ketertarikan yang asing. Tian Hei menghapus darah di bahunya tanpa ekspresi. "Kau juga." Setelah benturan terakhir yang membuat keduanya terpental, keheningan kembali jatuh. Tian Hei menyadari bahwa jika wanita ini benar-benar tidak terluka atau menggunakan kekuatan penuhnya, ia mungkin sudah menjadi mayat. "Aku tak ingin bertarung lagi," ucap Tian Hei tenang. "Pertemuan ini murni kecelakaan." Wanita itu menatapnya lama, menimbang-nimbang. Ia bisa merasakan aura unik dari pemuda di hadapannya—dingin, kejam, namun sangat murni. "Kebetulan atau tidak," ucapnya dingin sambil menyeka darah di bibirnya, "jika kita bertemu lagi... aku tidak akan menahan diri." Tanpa menunggu jawaban, wanita itu berbalik dan menghilang ke dalam rimbunnya hutan dengan kecepatan yang luar biasa, meninggalkan Tian Hei yang masih berdiri di tengah sungai yang bergejolak. Tian Hei masih berdiri di tengah sungai yang bergejolak. Ia menyentuh bahunya yang terluka, menatap noda darah yang mulai luntur oleh air. Ia tidak marah, tidak juga merasa terhina. Matanya yang datar hanya menatap ke arah tempat wanita itu menghilang. "Wanita..." gumamnya pelan. Ada sesuatu yang tertinggal di indra penciumannya—aroma samar resin dan embun pagi yang tidak berasal dari hutan maupun air sungai. Ia menyadari aroma ini berasal dari tubuh wanita itu. Tian Hei tidak tahu siapa dia, dan ia tidak peduli untuk mencari tahu saat ini. Baginya, wanita itu hanyalah satu lagi variabel tak terduga dalam dunia ini. Namun, satu hal yang ia ketahui pasti; wanita itu sedang terluka parah.Setelah mendapatkan informasi dari manajer rumah makan, terkait dunia luar. Tian Hei dan Xi Qianyue kembali ke Paviliun Awan Tenang. Kota ini mulai terasa seperti sarang lebah yang terusik, setiap pasang mata seolah mengikuti gerak-gerik "Si Iblis Pembantai" dengan ketakutan yang tertahan. Saat keduanya sampai di paviliun, keduanya langsung memasuki kamar mereka, Begitu pintu kamar VVIP tertutup rapat, Tian Hei tidak membuang waktu. Ia segera duduk bersila dan membentangkan gulungan kusam pemberian Lie Sha di atas meja kayu gaharu. "Seni Meramu Pil..." gumam Tian Hei, matanya menyapu baris demi baris aksara kuno itu. Xi Qianyue, yang duduk di tepi ranjang sambil mengatur napasnya yang masih berat, mengamati dengan saksama. "Alkimia bukan sekadar mencampur tanaman. Kau butuh dua hal dasar: Api Spiritual di dalam tubuh dan sebuah tungku yang mampu menahan tekanan energi. Tanpa itu, kau hanya akan gagal." Tian Hei terhenti pada satu bagian di gulungan tersebut. Benar kata Xi Qia
Kepergian Lie Sha meninggalkan keheningan aneh di Ruang VVIP. Tian Hei berdiri sejenak, menimbang perkataan pria itu, lalu menyimpan token giok dan gulungan kuno ke dalam cincin ruangnya. Palu Pemusnah Surga tetap berada di punggungnya, diselimuti kain hitam tebal. Meski tertutup rapat, auranya masih terasa—liar, berat, dan menekan. “Dunia ini sangat luas,” ucap Xi Qianyue pelan saat mereka melangkah keluar dari ruangan. “Sebaiknya kita mencari beberapa informasi di dalam kota.” Tian Hei tidak menyangkal. Ia juga merasakan hal yang sama. Mereka berjalan keluar dari Paviliun Awan Tenang. Sang manajer paviliun langsung membungkuk hormat saat berpapasan dengan Tian Hei, tubuhnya sedikit gemetar. Tian Hei dan Xi Qianyue melangkah memasuki distrik perdagangan utama kota. Jalanan batu yang lebar dipenuhi kios-kios, paviliun kecil, serta bangunan bertingkat tempat para kultivator dan pedagang berkumpul. Namun, suasana yang biasanya riuh kini terasa sedikit kaku. Beberapa orang berh
Keheningan di depan Paviliun Awan Tenang terasa begitu berat hingga suara tetesan darah Tian Hei yang jatuh ke lantai batu terdengar jelas. Xi Qianyue menopang tubuh Tian Hei yang terasa panas membara akibat aliran Qi yang mengamuk siap meledakkan tubuh Tian Hei. "Dasar gila," bisik Xi Qianyue, meskipun ada kilas kekaguman di matanya. "Untung saja kau memiliki tubuh yang kuat, kalau tidak kau pasti telah meledak sekarang." "Ambil semua harta mereka," bisik Tian Hei parau. Ia tidak menanggapi perkataan Xi Qianyue malah, ia malah menyuruh gadis itu memanen hasil pertarungan. Setelah itu perlahan-lahan pandangannya mengabur. Xi Qianyue tidak membantah, lagi pula tanpa Tian Hei perintah, ia tidak akan meloloskan semua harta-harta itu. Dengan lambaian tangan, ia mengambil cincin ruang Gu Tianhong dan tas penyimpanan dari sisa-sisa anggota Klan Gu yang tewas. Setelah itu, ia membawa Tian Hei masuk ke dalam paviliun, mengabaikan tatapan ngeri dari para saksi mata. “Gu Tianhong… benar
"Bocah iblis! Kau benar-benar mencari mati!" Gu Tianhong mengaum marah. Auranya sebagai kultivator Ranah Inti Sunyi Bintang Satu meledak sepenuhnya, membentuk tekanan berat yang menghantam area di depan Paviliun Awan Tenang. Batu-batu lantai retak, debu beterbangan, dan udara seolah membeku di bawah tekanan itu. “Bocah iblis!” teriak Gu Tianhong. “Hari ini aku akan mematahkan tulangmu satu per satu, lalu menguliti jiwamu!” Udara di sekitar Paviliun Awan Tenang kini terasa jauh lebih pekat. Bau amis darah yang menguap dari puluhan tubuh anggota Klan Gu bercampur dengan aroma hangus akibat gesekan Qi yang luar biasa. Tian Hei berdiri di tengah puing-puing, palu hitam di tangannya bergetar pelan. Bukan karena takut—melainkan karena Qi di dalam tubuhnya mulai bergejolak hebat, ditekan oleh perbedaan ranah yang begitu jauh. Ia tahu. Jika Gu Tianhong menyerang dengan kekuatan penuh, satu kesalahan saja cukup untuk membunuhnya. "Kau memiliki bakat, Bocah. Tapi bakat tanpa umur panjan
BOOM! "Siapa yang begitu berani menindas anakku di gerbang kota?!" Tekanan aura berat menghantam Paviliun Awan Tenang dari luar, membuat tirai jendela bergetar hebat. Xi Qianyue membuka matanya, sorotnya berubah tajam dan kejam. “Sudah datang,” gumamnya. Tian Hei yang berdiri di samping ranjang menoleh. "Siapa?" “Ayah Tuan Muda itu,” jawab Xi Qianyue dingin. "Itulah mengapa kukatakan padamu untuk memangkas musuh secepatnya. Melepaskan mereka hanya membuang-buang waktu kita." Bagi Xi Qianyue, musuh yang sudah menunjukkan taring seharusnya dipangkas saat itu juga. Langkah kaki terdengar di luar—banyak, teratur, dan penuh intimidasi. Aura puluhan kultivator mengunci area paviliun seperti jaring raksasa. Suara berat dan berwibawa menggema ke dalam bangunan. "Siapa orang yang begitu berani mencari masalah di depan Paviliun Awan Tenang-ku?!" Suara itu milik sang Manajer Paviliun yang langsung keluar menghadapi kerumunan. Di depan pintu, berdiri seorang pria paruh baya d
“Apakah ada salah satu dari tanaman ini yang bisa menekan aura itu…?” Wanita itu membelalakkan mata saat melihat tumpukan tanaman spiritual yang dikeluarkan Tian Hei memenuhi lantai kamar. Aroma obat yang pekat menyebar ke segala arah, membuat udara terasa berat untuk dihirup. “Ini…” napasnya tercekat. “Bunga Salju Abadi? Rumput Pengikat Jiwa?” Ia menatap Tian Hei dengan sorot tak percaya. “Tanaman tingkat tinggi seperti ini… dari mana kau mendapatkannya?” Tian Hei tidak menjawab. Wajahnya tetap datar saat tangannya menyisir tumpukan herbal satu per satu, seolah yang ada di hadapannya hanyalah rumput liar biasa. “Jawab saja pertanyaanku,” ucapnya singkat. “Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya.” “Ukhuk—ukhuk!” Sebelum wanita itu sempat berkata lebih jauh, batuk keras mengguncang tubuhnya. Dadanya bergetar hebat, dan seteguk darah gelap memercik dari bibirnya, membasahi cadar tipis yang dikenakannya. Tubuhnya menegang, lalu melemas di atas ranjang. Aura hitam di







