Home / Fantasi / Sang Dewa Iblis Pembantai / bab 2: mendarat di lembah

Share

bab 2: mendarat di lembah

Author: Mr. Xenon
last update Last Updated: 2025-12-22 20:06:59

Tubuh Tian Hei membelah angkasa seperti meteor jatuh. Angin menghantam wajahnya dengan ganas, mencoba merobek kulitnya, namun ia bahkan tidak berkedip.

Rambut hitamnya berkibar liar, dan jubahnya mengeluarkan suara kepakan keras tertiup badai yang diciptakan oleh kecepatannya sendiri. Di sekelilingnya, debu dan reruntuhan batu tersedot ke dalam pusaran udara yang mengikutinya.

Di tengah kejatuhan itu, jantung Tian Hei berdebar, bukan karena takut, melainkan karena sensasi aneh yang mulai membakar dari dalam sel-sel tubuhnya—sebuah energi asing yang baru saja merasuk, menuntut untuk dilepaskan.

BOOM!

Tian Hei mendarat dengan dentuman yang menggetarkan lembah terpencil itu. Tanah yang keras retak seketika, membentuk kawah kecil di bawah kakinya. Debu membumbung tinggi, menelan sosoknya dalam kabut cokelat yang pekat. Saat debu perlahan menipis, Tian Hei berdiri tegak di tengah reruntuhan. Ia sedikit terhuyung, mencoba menjinakkan aliran energi spiritual yang mengalir liar di dalam nadinya—terasa panas, mendidih, dan penuh dengan aura kehancuran.

Ia menatap ufuk barat di mana langit mulai memerah sepekat darah. Angin sore membawa aroma tanah basah dan daun lembap yang menusuk hidung. Dunia di depannya terasa sangat luas, namun juga terasa seperti penjara raksasa yang menunggu untuk ditaklukkan.

“Di mana ini…?” gumamnya pelan. Suaranya datar, tanpa emosi, hampir tertelan oleh desiran angin lembah. Matanya yang tajam menyapu sekeliling, memetakan hutan lebat di depannya yang memancarkan aura berbahaya.

"Jadi, di sinilah awal perjalananku..."

Sebuah senyum tipis yang dingin tersungging di sudut bibirnya. Tidak ada keraguan, hanya ada tekad yang membara di balik tatapan matanya yang kelam. Baginya, setiap langkah di dunia ini bukan hanya ujian kekuatan, melainkan pembuktian bahwa dirinya adalah puncak dari segala rantai makanan.

Tian Hei segera duduk bersila di atas tanah yang dingin. Ia bisa merasakan energi spiritual di atmosfer mulai merespons keberadaannya. Tanpa membuang waktu, ia menutup mata, memulai meditasi tingkat tinggi yang diajarkan gurunya. Aliran energi di dalam tubuhnya seperti sungai deras yang meluap, menghantam setiap saraf dan ototnya dengan rasa sakit yang menyengat. Namun, Tian Hei hanya mengerutkan kening sedikit. Rasa sakit baginya adalah teman lama.

Ia teringat kata-kata terakhir kakek misterius itu sebelum ia pergi: “Jalan kultivator adalah jalan yang kejam. Hanya ada dua pilihan: menguasai atau hancur menjadi debu.”

Sepanjang malam itu, lembah tersebut menjadi saksi bisu perjuangan Tian Hei. Tubuhnya berkali-kali terguncang hebat. Keringat dingin bercampur darah merembes dari pori-porinya saat ia memaksa energi liar itu untuk tunduk di bawah kehendaknya. Ia mengatur ritme napasnya, perlahan namun pasti, mengubah kekacauan di dalam dirinya menjadi sebuah pusaran Qi yang teratur.

Memasuki hari kedua, suasana di sekitar Tian Hei berubah. Tekanan udara di sekelilingnya menjadi berat. Titik-titik cahaya samar mulai berkumpul di telapak tangannya. Dengan satu tarikan napas panjang, sebuah dentuman internal terdengar dari dalam dadanya.

Ranah Nafas Awal—Berhasil ditembus.

Tian Hei membuka mata. Pupil matanya sejenak berkilat dengan cahaya ungu kehitaman. Ia merasa tubuhnya menjadi seringan bulu, namun memiliki kekuatan ledak yang mampu menghancurkan batu besar. "Tiga tahun untuk menembus Ranah Jiwa Mula?" gumamnya sambil menatap tangannya sendiri. "Hm, sepertinya Guru terlalu meremehkanku."

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari balik lebatnya pepohonan, sebuah raungan memecah kesunyian. Tanah bergetar hebat saat sesosok makhluk raksasa muncul.

Itu adalah Kera Baja, binatang buas tingkat 3 yang memiliki tubuh sebesar rumah kecil. Bulunya kasar dan keras seperti logam, matanya merah menyala penuh haus darah, dan taringnya menonjol keluar dari rahang yang mampu meremukkan tulang dalam sekali gigit. Setiap langkah kera itu meninggalkan jejak kaki yang dalam di tanah.

Kera Baja itu menganggap Tian Hei sebagai mangsa kecil. Dengan raungan yang memekakkan telinga, ia melompat ke arah Tian Hei secepat kilat.

Tian Hei tidak menghindar. Ia berdiri diam, memusatkan Qi ke telapak tangannya. Namun, karena ini adalah pertarungan pertamanya dengan energi spiritual yang nyata, kendalinya sedikit goyah. Saat tinju raksasa kera itu menghantam, Tian Hei mencoba menangkis, namun ia terlempar ke belakang, menabrak pohon besar hingga tumbang.

Cuih.

Tian Hei meludah darah, namun matanya justru bersinar dengan kegilaan yang dingin. "Hanya segini?"

Tian Hei merasakan energi mengalir di tubuhnya, panas dan penuh tenaga. Ini ujian pertamanya di dunia luar—bukan sekadar latihan, tetapi pertarungan hidup atau mati.

Ia segera bangkit. Kali ini, ia membiarkan Qi mengalir ke kakinya. Saat Kera Baja itu menyerang lagi dengan intensitas yang lebih tinggi, Tian Hei menghilang dari posisinya, meninggalkan bayangan kabur. Ia bergerak dengan presisi seorang pembunuh. Ia berputar di udara, menyalurkan seluruh energi Ranah Nafas Awal ke kepalan tangannya.

"Hancur!"

BOOM!

Sebuah ledakan Qi menghantam dada Kera Baja itu. Makhluk itu meraung kesakitan, terhuyung mundur saat kulit bajanya retak. Tian Hei tidak memberinya kesempatan untuk bernapas. Ia melompat ke punggung makhluk itu, menyalurkan energi yang tajam ke jari-jarinya, dan menghujamkan serangan bertubi-tubi ke titik saraf di leher sang kera.

Lembah itu dipenuhi dengan suara hantaman dan raungan putus asa. Hingga akhirnya, dengan satu ledakan energi terakhir, Kera Baja itu tumbang, menghantam tanah dengan suara keras yang memicu debu beterbangan.

Hening.

Tian Hei berdiri di atas bangkai makhluk itu menginjak kepala kera baja. Tubuhnya basah oleh keringat. Napasnya terengah, namun tidak ada rasa kasihan di matanya. Ia merasakan sebuah sensasi kepuasan—bukan karena menyelamatkan diri, tapi karena rasa dominasi yang ia rasakan.

Ia menatap ke arah Hutan yang membentang luas di depannya. Dengan langkah tegas dan mata yang berkilat penuh ancaman, Tian Hei melangkah masuk ke dalam kegelapan hutan, siap membantai apa pun yang berani menghalangi jalannya.

"menjadikan binatang buas sebagai batu locatan, tidak buruk...." bisik Tian Hei pada kegelapan hutan yang mulai menyelimuti. "semogo di dalam sana, ada binatang buas yang lebih kuat dari ini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Mr. Xenon
Diatas merupakan nama-nama ranah dan tahapan kultivasi di novel Sang Dewa Iblis Pembantai. Terima kasih buat para readers karena telah mampir ke novel pertama saya, jadi mohon saran dan kritikan para readers. .........
goodnovel comment avatar
Mr. Xenon
Ranah Nirwana Kelam (bintang 1-8) Ranah Jejak langit (bintang 1-10) Ranah Singgasana Kosong (bintang 1-15) Ranah Penentang Langit (Ranah Mitos) *setiap kenaikan ranah membutuhkan pehaman mendalam bukan sebesar apa energi yang diserap, satiap tahap juga memiliki kesulitan tersendiri*
goodnovel comment avatar
Mr. Xenon
Ranah Nafas Awal (rendah dan punjak) Ranah Penempaan Raga (rendah dan puncak) Ranah Simpul Nadi (rendah, mengah, puncak) Ranah Inti Sunyi (bintang 1-4) Ranah Jiwa Mula (bintang 1-5) Ranah Jiwa Menyatu (bintang 1-5) Ranah Retakan Takdir (bintang 1-8)
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 14: Kelahiran Iblis Pembantai

    Keheningan di depan Paviliun Awan Tenang terasa begitu berat hingga suara tetesan darah Tian Hei yang jatuh ke lantai batu terdengar jelas. Xi Qianyue menopang tubuh Tian Hei yang terasa panas membara akibat aliran Qi yang mengamuk siap meledakkan tubuh Tian Hei. "Dasar gila," bisik Xi Qianyue, meskipun ada kilas kekaguman di matanya. "Untung saja kau memiliki tubuh yang kuat, kalau tidak kau pasti telah meledak sekarang." "Ambil semua harta mereka," bisik Tian Hei parau. Ia tidak menanggapi perkataan Xi Qianyue malah, ia malah menyuruh gadis itu memanen hasil pertarungan. Setelah itu perlahan-lahan pandangannya mengabur. Xi Qianyue tidak membantah, lagi pula tanpa Tian Hei perintah, ia tidak akan meloloskan semua harta-harta itu. Dengan lambaian tangan, ia mengambil cincin ruang Gu Tianhong dan tas penyimpanan dari sisa-sisa anggota Klan Gu yang tewas. Setelah itu, ia membawa Tian Hei masuk ke dalam paviliun, mengabaikan tatapan ngeri dari para saksi mata. “Gu Tianhong… benar

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    bab 13: Tian Hei vs Gu Tianhong

    "Bocah iblis! Kau benar-benar mencari mati!" Gu Tianhong mengaum marah. Auranya sebagai kultivator Ranah Inti Sunyi Bintang Satu meledak sepenuhnya, membentuk tekanan berat yang menghantam area di depan Paviliun Awan Tenang. Batu-batu lantai retak, debu beterbangan, dan udara seolah membeku di bawah tekanan itu. “Bocah iblis!” teriak Gu Tianhong. “Hari ini aku akan mematahkan tulangmu satu per satu, lalu menguliti jiwamu!” Udara di sekitar Paviliun Awan Tenang kini terasa jauh lebih pekat. Bau amis darah yang menguap dari puluhan tubuh anggota Klan Gu bercampur dengan aroma hangus akibat gesekan Qi yang luar biasa. Tian Hei berdiri di tengah puing-puing, palu hitam di tangannya bergetar pelan. Bukan karena takut—melainkan karena Qi di dalam tubuhnya mulai bergejolak hebat, ditekan oleh perbedaan ranah yang begitu jauh. Ia tahu. Jika Gu Tianhong menyerang dengan kekuatan penuh, satu kesalahan saja cukup untuk membunuhnya. "Kau memiliki bakat, Bocah. Tapi bakat tanpa umur panjan

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 12: Hanya ini kualitas Klan mu?

    BOOM! "Siapa yang begitu berani menindas anakku di gerbang kota?!" Tekanan aura berat menghantam Paviliun Awan Tenang dari luar, membuat tirai jendela bergetar hebat. Xi Qianyue membuka matanya, sorotnya berubah tajam dan kejam. “Sudah datang,” gumamnya. Tian Hei yang berdiri di samping ranjang menoleh. "Siapa?" “Ayah Tuan Muda itu,” jawab Xi Qianyue dingin. "Itulah mengapa kukatakan padamu untuk memangkas musuh secepatnya. Melepaskan mereka hanya membuang-buang waktu kita." Bagi Xi Qianyue, musuh yang sudah menunjukkan taring seharusnya dipangkas saat itu juga. Langkah kaki terdengar di luar—banyak, teratur, dan penuh intimidasi. Aura puluhan kultivator mengunci area paviliun seperti jaring raksasa. Suara berat dan berwibawa menggema ke dalam bangunan. "Siapa orang yang begitu berani mencari masalah di depan Paviliun Awan Tenang-ku?!" Suara itu milik sang Manajer Paviliun yang langsung keluar menghadapi kerumunan. Di depan pintu, berdiri seorang pria paruh baya

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 11: Konsekuensi melihat wajahnya

    “Apakah ada salah satu dari tanaman ini yang bisa menekan aura itu…?” Wanita itu membelalakkan mata saat melihat tumpukan tanaman spiritual yang dikeluarkan Tian Hei memenuhi lantai kamar. Aroma obat yang pekat menyebar ke segala arah, membuat udara terasa berat untuk dihirup. “Ini…” napasnya tercekat. “Bunga Salju Abadi? Rumput Pengikat Jiwa?” Ia menatap Tian Hei dengan sorot tak percaya. “Tanaman tingkat tinggi seperti ini… dari mana kau mendapatkannya?” Tian Hei tidak menjawab. Wajahnya tetap datar saat tangannya menyisir tumpukan herbal satu per satu, seolah yang ada di hadapannya hanyalah rumput liar biasa. “Jawab saja pertanyaanku,” ucapnya singkat. “Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya.” “Ukhuk—ukhuk!” Sebelum wanita itu sempat berkata lebih jauh, batuk keras mengguncang tubuhnya. Dadanya bergetar hebat, dan seteguk darah gelap memercik dari bibirnya, membasahi cadar tipis yang dikenakannya. Tubuhnya menegang, lalu melemas di atas ranjang. Aura hitam di

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    bab 10: Paviliun Awan Tenang dan Penyakit yang semakin parah

    Keheningan itu mencekik. Sang kusir, yang tadinya berteriak pongah, kini membeku dengan cambuk yang masih melayang di udara. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Sebagai kultivator Penempaan Raga puncak, ia memiliki insting yang lebih tajam dari majikannya, dan insting itu menjeritkan satu kata: lari. Tuan Muda di dalam kereta menelan ludah. Wajahnya yang tadi memerah karena marah kini pucat pasi. Ia ingin membalas cacian gadis misterius itu, namun lidahnya terasa kelu. Tatapan Tian Hei seolah sedang menelanjangi jiwanya, menimbang bagian tubuh mana yang akan dipatahkan lebih dulu. “Ja… jangan berlagak!” Tuan Muda itu akhirnya terbata, mencoba menyelamatkan harga dirinya di depan kerumunan yang menonton. “Paman Lin! Kenapa diam saja? Bereskan mereka!” Namun sebelum kusir itu sempat bergerak—atau bahkan memohon maaf—kaki Tian Hei bergerak sedikit, menghentak bumi dengan tekanan yang halus namun presisi. KRAK! Roda depan kereta kayu mewah itu hancur berkeping-keping

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    bab 9: Gerbang kota dan Kereta Mewah

    Ia melangkah menyusuri jalur sempit di antara pepohonan, langkahnya mantap dan nyaris tanpa suara meski membawa beban tambahan. Gadis itu terkejut bukan karena cara ia diangkat—melainkan karena keseimbangan Tian Hei sama sekali tak berubah, seolah tubuhnya memang tak terpengaruh oleh berat manusia lain. Beberapa saat berlalu dalam diam. “Turunkan aku,” ucap gadis itu akhirnya, suaranya rendah namun tegas. “Tidak,” jawab Tian Hei singkat. “Kondisimu tidak memungkinkan.” Gadis itu mengerutkan kening. Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun rasa nyeri segera menjalar, memaksanya berhenti. Napasnya sedikit tersengal. “Kau tidak tahu apa-apa tentangku,” katanya dingin. “Cukup tahu kau tidak bisa berjalan,” balas Tian Hei tanpa menoleh. Langkah Tian Hei tiba-tiba melambat. Bukan karena kelelahan—melainkan karena sesuatu yang lain. Alisnya sedikit mengerut saat indra spiritualnya menangkap getaran asing di udara. Tipis, namun jelas. Satu… dua… lalu lebih banyak lagi. Aura-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status