เข้าสู่ระบบTubuh Tian Hei membelah angkasa seperti meteor jatuh. Angin menghantam wajahnya dengan ganas, mencoba merobek kulitnya, namun ia bahkan tidak berkedip.
Rambut hitamnya berkibar liar, dan jubahnya mengeluarkan suara kepakan keras tertiup badai yang diciptakan oleh kecepatannya sendiri. Di sekelilingnya, debu dan reruntuhan batu tersedot ke dalam pusaran udara yang mengikutinya. Di tengah kejatuhan itu, jantung Tian Hei berdebar, bukan karena takut, melainkan karena sensasi aneh yang mulai membakar dari dalam sel-sel tubuhnya—sebuah energi asing yang baru saja merasuk, menuntut untuk dilepaskan. BOOM! Tian Hei mendarat dengan dentuman yang menggetarkan lembah terpencil itu. Tanah yang keras retak seketika, membentuk kawah kecil di bawah kakinya. Debu membumbung tinggi, menelan sosoknya dalam kabut cokelat yang pekat. Saat debu perlahan menipis, Tian Hei berdiri tegak di tengah reruntuhan. Ia sedikit terhuyung, mencoba menjinakkan aliran energi spiritual yang mengalir liar di dalam nadinya—terasa panas, mendidih, dan penuh dengan aura kehancuran. Ia menatap ufuk barat di mana langit mulai memerah sepekat darah. Angin sore membawa aroma tanah basah dan daun lembap yang menusuk hidung. Dunia di depannya terasa sangat luas, namun juga terasa seperti penjara raksasa yang menunggu untuk ditaklukkan. “Di mana ini…?” gumamnya pelan. Suaranya datar, tanpa emosi, hampir tertelan oleh desiran angin lembah. Matanya yang tajam menyapu sekeliling, memetakan hutan lebat di depannya yang memancarkan aura berbahaya. "Jadi, di sinilah awal perjalananku..." Sebuah senyum tipis yang dingin tersungging di sudut bibirnya. Tidak ada keraguan, hanya ada tekad yang membara di balik tatapan matanya yang kelam. Baginya, setiap langkah di dunia ini bukan hanya ujian kekuatan, melainkan pembuktian bahwa dirinya adalah puncak dari segala rantai makanan. Tian Hei segera duduk bersila di atas tanah yang dingin. Ia bisa merasakan energi spiritual di atmosfer mulai merespons keberadaannya. Tanpa membuang waktu, ia menutup mata, memulai meditasi tingkat tinggi yang diajarkan gurunya. Aliran energi di dalam tubuhnya seperti sungai deras yang meluap, menghantam setiap saraf dan ototnya dengan rasa sakit yang menyengat. Namun, Tian Hei hanya mengerutkan kening sedikit. Rasa sakit baginya adalah teman lama. Ia teringat kata-kata terakhir kakek misterius itu sebelum ia pergi: “Jalan kultivator adalah jalan yang kejam. Hanya ada dua pilihan: menguasai atau hancur menjadi debu.” Sepanjang malam itu, lembah tersebut menjadi saksi bisu perjuangan Tian Hei. Tubuhnya berkali-kali terguncang hebat. Keringat dingin bercampur darah merembes dari pori-porinya saat ia memaksa energi liar itu untuk tunduk di bawah kehendaknya. Ia mengatur ritme napasnya, perlahan namun pasti, mengubah kekacauan di dalam dirinya menjadi sebuah pusaran Qi yang teratur. Memasuki hari kedua, suasana di sekitar Tian Hei berubah. Tekanan udara di sekelilingnya menjadi berat. Titik-titik cahaya samar mulai berkumpul di telapak tangannya. Dengan satu tarikan napas panjang, sebuah dentuman internal terdengar dari dalam dadanya. Ranah Nafas Awal—Berhasil ditembus. Tian Hei membuka mata. Pupil matanya sejenak berkilat dengan cahaya ungu kehitaman. Ia merasa tubuhnya menjadi seringan bulu, namun memiliki kekuatan ledak yang mampu menghancurkan batu besar. "Tiga tahun untuk menembus Ranah Jiwa Mula?" gumamnya sambil menatap tangannya sendiri. "Hm, sepertinya Guru terlalu meremehkanku." Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari balik lebatnya pepohonan, sebuah raungan memecah kesunyian. Tanah bergetar hebat saat sesosok makhluk raksasa muncul. Itu adalah Kera Baja, binatang buas tingkat 3 yang memiliki tubuh sebesar rumah kecil. Bulunya kasar dan keras seperti logam, matanya merah menyala penuh haus darah, dan taringnya menonjol keluar dari rahang yang mampu meremukkan tulang dalam sekali gigit. Setiap langkah kera itu meninggalkan jejak kaki yang dalam di tanah. Kera Baja itu menganggap Tian Hei sebagai mangsa kecil. Dengan raungan yang memekakkan telinga, ia melompat ke arah Tian Hei secepat kilat. Tian Hei tidak menghindar. Ia berdiri diam, memusatkan Qi ke telapak tangannya. Namun, karena ini adalah pertarungan pertamanya dengan energi spiritual yang nyata, kendalinya sedikit goyah. Saat tinju raksasa kera itu menghantam, Tian Hei mencoba menangkis, namun ia terlempar ke belakang, menabrak pohon besar hingga tumbang. Cuih. Tian Hei meludah darah, namun matanya justru bersinar dengan kegilaan yang dingin. "Hanya segini?" Tian Hei merasakan energi mengalir di tubuhnya, panas dan penuh tenaga. Ini ujian pertamanya di dunia luar—bukan sekadar latihan, tetapi pertarungan hidup atau mati. Ia segera bangkit. Kali ini, ia membiarkan Qi mengalir ke kakinya. Saat Kera Baja itu menyerang lagi dengan intensitas yang lebih tinggi, Tian Hei menghilang dari posisinya, meninggalkan bayangan kabur. Ia bergerak dengan presisi seorang pembunuh. Ia berputar di udara, menyalurkan seluruh energi Ranah Nafas Awal ke kepalan tangannya. "Hancur!" BOOM! Sebuah ledakan Qi menghantam dada Kera Baja itu. Makhluk itu meraung kesakitan, terhuyung mundur saat kulit bajanya retak. Tian Hei tidak memberinya kesempatan untuk bernapas. Ia melompat ke punggung makhluk itu, menyalurkan energi yang tajam ke jari-jarinya, dan menghujamkan serangan bertubi-tubi ke titik saraf di leher sang kera. Lembah itu dipenuhi dengan suara hantaman dan raungan putus asa. Hingga akhirnya, dengan satu ledakan energi terakhir, Kera Baja itu tumbang, menghantam tanah dengan suara keras yang memicu debu beterbangan. Hening. Tian Hei berdiri di atas bangkai makhluk itu menginjak kepala kera baja. Tubuhnya basah oleh keringat. Napasnya terengah, namun tidak ada rasa kasihan di matanya. Ia merasakan sebuah sensasi kepuasan—bukan karena menyelamatkan diri, tapi karena rasa dominasi yang ia rasakan. Ia menatap ke arah Hutan yang membentang luas di depannya. Dengan langkah tegas dan mata yang berkilat penuh ancaman, Tian Hei melangkah masuk ke dalam kegelapan hutan, siap membantai apa pun yang berani menghalangi jalannya. "menjadikan binatang buas sebagai batu locatan, tidak buruk...." bisik Tian Hei pada kegelapan hutan yang mulai menyelimuti. "semogo di dalam sana, ada binatang buas yang lebih kuat dari ini."Kabut Lembah Kematian tidak menipis setelah kematian Ular Rawa Bersayap Empat—ia justru menjadi lebih berat, lebih pekat, seolah alam menelan kembali darah penguasanya yang tumbang. Danau hitam itu kembali tenang, namun ketenangan tersebut bukan kedamaian, melainkan keheningan sebelum kelaparan berikutnya. Tian Hei duduk bersila di atas tulang-belulang di tepi danau. Tubuhnya nyaris tak lagi dapat disebut manusia. Bahu kirinya hancur, lengan kirinya tak merespons, dan setiap napas terasa seperti pisau yang menggores paru-parunya dari dalam. Namun auranya—auranya justru semakin mengerikan. Energi gelap berdenyut di sekelilingnya, berputar liar seperti badai yang kehilangan pusat. Xi Qianyue berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya pucat. Ia ingin mendekat, namun naluri spiritualnya menjerit agar berhenti. Energi dalam tubuh Tian Hei saat ini terlalu tidak stabil. Satu kesalahan kecil bisa membuatnya meledak dari dalam. Tian Hei membuka mata perlahan. Pandangannya buram, namun k
Waktu seolah kehilangan maknanya di bawah kanopi ungu kehitaman Lembah Kematian. Satu bulan telah berlalu sejak Tian Hei melahap rombongan Sekte Angin Hijau, dan selama tiga puluh hari itu, ia bersama Xi Qianyue tidak pernah benar-benar memejamkan mata dengan tenang. Lembah ini adalah neraka yang terus memberi makan. Sepanjang perjalanan mereka dari pinggiran menuju pedalaman, keduanya telah dihadang oleh barisan binatang buas yang haus darah. Mulai dari Kera Lengan Besi tingkat 5 hingga Ular Sanca Bayangan tingkat 6 yang bisa menyatu dengan kegelapan. Tian Hei menghadapi mereka semua dengan keganasan yang sama. Pakaian hitamnya kini bukan lagi hitam karena pewarna, melainkan karena lapisan darah kering yang bertumpuk-tumpuk. Xi Qianyue, meski awalnya merasa ngeri, kini telah terbiasa dengan metode brutal Tian Hei. Namun, semua pertarungan sebulan terakhir hanyalah pemanasan bagi apa yang menanti mereka di bagian dalam lembah. Kehadiran Sang Penguasa Udara di bagian dalam Lemb
Di tengah kabut pagi yang masih tebal, dua sosok berpakaian hitam melangkah keluar dari bayang-bayang tembok kota. Tian Hei berjalan dengan langkah mantap, palu Pemusnah Surga di punggungnya tampak lebih gelap di bawah cahaya temaram. Di sampingnya, Xi Qianyue bergerak dengan keanggunan yang sunyi, cadarnya berkibar lembut mengikuti embusan angin dingin. "Kau yakin ingin melewati jalur itu?" tanya Xi Qianyue pelan, matanya menatap ke arah jajaran pegunungan hitam yang menjulang di cakrawala utara. "Lembah kematian merupakan salah satu area terlarang yang jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan Hutan Abadi." Tian Hei tidak berhenti melangkah. Pandangannya lurus ke depan, menembus kabut. "hmm, kata bahaya hanyalah kedok untuk pelung besar bagi kultivator." Mereka meninggalkan jalan setapak utama dan mulai memasuki wilayah hutan tua yang semakin rapat. Semakin jauh mereka melangkah, suara kehidupan kota di belakang mereka perlahan memudar, digantikan oleh suara dahan yang berderi
Matahari mulai tenggelam di cakrawala Kota Qing Yun, menyisakan semburat merah darah yang seolah meramalkan masa depan yang akan ditempuh Tian Hei. Alun-alun yang tadinya penuh dengan hiruk-pikuk perekrutan murid kini sunyi, hanya menyisakan bisikan-bisikan ketakutan dari orang-orang yang menyaksikan jatuhnya harga diri Sekte Gang Quan. Tian Hei tidak mempedulikan tatapan mata yang tertuju padanya. Di tangannya, ia menggenggam plakat hitam kemerahan pemberian Lie Cang. Logam itu terasa dingin di permukaan, namun ada denyut energi yang sangat panas di dalamnya—seperti petir yang terperangkap dalam botol kaca. "Ayo pergi," ucap Tian Hei datar kepada Xi Qianyue. Keduanya berjalan menjauh dari alun-alun, meninggalkan sisa-sisa reruntuhan batu dan harga diri sekte yang telah hancur. Mereka kembali ke penginapan, tempat yang kini terasa lebih seperti tempat pengintaian daripada tempat beristirahat. Setelah sampai di kamar mereka, Xi Qianyue segera mengunci pintu dan memasang segel iso
Tekanan dingin yang menyelimuti alun-alun belum sepenuhnya menghilang ketika Gang Zhen melangkah maju satu langkah. Langkah itu berat. Bukan karena luka fisik—melainkan karena tekanan eksistensi yang berdiri di hadapannya. Pria tua berjubah gelap itu melayang setengah inci di atas tanah, seolah hukum dunia tak sepenuhnya berlaku padanya. Rambut peraknya terurai bebas, wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam dan dingin seperti pedang tua yang telah meminum darah lebih banyak dari yang bisa dihitung waktu. Gang Zhen menggenggam tangannya perlahan. Qi di tubuhnya berputar, berat dan padat. Sebagai Tetua Agung Sekte Gang Quan, ia telah melewati puluhan tahun pertarungan hidup dan mati. Ia tidak asing dengan tekanan dari kultivator tingkat tinggi. Namun tekanan ini— Berbeda. Ini bukan sekadar perbedaan kekuatan. Ini adalah perbedaan tingkatan eksistensi. “Senior,” ucap Gang Zhen akhirnya, suaranya rendah namun stabil, “ini adalah wilayah Sekte Gang Quan. Perekrutan m
Tekanan Qi brutal yang menyapu alun-alun perlahan mereda, namun suasana justru semakin mencekam. Tanah batu yang retak masih menghembuskan debu tipis, sementara tubuh-tubuh peserta yang tumbang tergeletak tanpa daya. Beberapa merintih kesakitan, yang lain pingsan dengan wajah pucat keabu-abuan. Pria bertubuh besar di atas panggung menurunkan kakinya perlahan. Sorot matanya menyapu mereka yang masih berdiri—jumlahnya kini tak sampai separuh dari semula. “Bagus,” ucapnya dingin, seolah apa yang terjadi barusan hanyalah pemanasan. “Setidaknya kalian belum sepenuhnya rapuh.” Beberapa peserta yang masih bertahan menggertakkan gigi. Keringat bercampur debu mengalir di wajah mereka. Tubuh gemetar, napas tersengal, namun tak seorang pun berani mundur. Tian Hei berdiri tenang di antara mereka. Napasnya telah kembali stabil, seolah tekanan barusan tak lebih dari angin kencang yang lewat. Di balik ketenangan itu, Pelahap Semesta bekerja dengan sangat halus, melahap sisa tekanan Qi yang
Tatapan Tian Hei tetap tertuju ke arah cekungan itu. Baru sekarang ia menyadari bahwa sejak awal, tanah di sekeliling bangkai naga hitam tidak sepenuhnya datar. Permukaannya membentuk kemiringan halus, nyaris tak terasa saat dilalui dengan berjalan kaki—namun cukup untuk menciptakan perbedaan keti
Tian Hei melangkah keluar dari tempat peristirahatan sementaranya tanpa membawa arah yang pasti. Hutan ini terlalu luas, terlalu asing, dan terlalu sunyi untuk mengandalkan logika semata. Ia tidak tahu di mana pintu keluar berada, maka ia memilih mempercayakan langkahnya pada satu-satunya hal yang
“Apa yang terjadi…?” gumam Tian Hei pelan. Kejadian barusan jelas mengejutkannya. Namun hanya sesaat. Tak lama kemudian, ketenangannya kembali. Sebuah kemungkinan terlintas di benaknya—dan itu cukup untuk membuat pikirannya kembali stabil. Untungnya, ia telah membaca isi kitab itu berulang kali
Hutan kembali tenggelam dalam kesunyian setelah kepergian wanita misterius itu. Sungai yang sebelumnya bergolak perlahan kembali tenang. Riak-riak air memudar, seolah menelan seluruh jejak benturan dahsyat yang baru saja terjadi. Permukaannya kembali jernih, memantulkan cahaya senja yang memer







