LOGINHutan kembali tenggelam dalam kesunyian setelah kepergian wanita misterius itu.
Sungai yang sebelumnya bergolak perlahan kembali tenang. Riak-riak air memudar, seolah menelan seluruh jejak benturan dahsyat yang baru saja terjadi. Permukaannya kembali jernih, memantulkan cahaya senja yang memerah di ufuk barat. Tian Hei berdiri cukup lama di tepi sungai. Tatapannya menyapu sekeliling dengan kewaspadaan tinggi. Ia tidak hanya mengandalkan penglihatan—instingnya menjalar, meraba sisa-sisa tekanan yang mungkin tertinggal. Tidak ada aura asing. Tidak ada niat membunuh yang mengendap. Wanita itu benar-benar telah pergi. Namun justru karena itu, hatinya terasa semakin berat. Pertemuan barusan jelas bukan kebetulan. Dan duel yang berakhir tanpa pemenang itu meninggalkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar luka fisik. Ia menghela napas pelan. Rasa nyeri masih menjalar dari bahu hingga sisi punggung. Beberapa memar tersembunyi di balik pakaian—tidak parah, namun cukup untuk mengingatkannya bahwa ia belum cukup kuat. Jika pertarungan tadi berlanjut sedikit lebih lama, hasilnya belum tentu sama. Tanpa menoleh lagi ke arah sungai, Tian Hei melangkah masuk ke dalam hutan. Langkahnya ringan, nyaris tanpa suara. Ia memilih jalur yang jarang dilewati makhluk buas, memanfaatkan bayangan pepohonan dan kontur tanah. Meski terluka, pernapasannya tetap stabil—hasil dari latihan panjang dan disiplin yang tertanam sejak kecil. Beberapa waktu kemudian, ia menemukan sebuah cekungan alami di balik gugusan batu besar. Akar-akar pohon tua menjuntai, membentuk tirai alami yang menutupi area itu dari pandangan luar. Angin berhembus sejuk, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. “Cukup di sini,” gumamnya. Tian Hei duduk bersila di atas batu datar. Ia menutup mata, menenangkan pikirannya, mengecek kondisi tubuhnya, lalu mulai mengatur aliran energi di dalam tubuh. Tidak terburu-buru. Tidak memaksa. Ia membiarkan setiap denyut mengikuti ritme alami. Perlahan, rasa panas dan nyeri mereda. Waktu berlalu tanpa ia sadari. Napasnya kembali stabil. Luka-luka di tubuhnya tidak lagi mengirimkan rasa perih yang menusuk. Udara malam yang lembap menyatu dengan ritme pernapasannya, seolah alam di sekitarnya ikut mengakui keberadaannya—atau mungkin hanya mengamatinya dalam diam. Tangannya bergerak ke pinggang. Dari balik jubah hitam yang robek di beberapa bagian, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu. Permukaannya kasar, serat kayunya gelap dan tua, seakan telah melewati waktu yang jauh lebih panjang dari usia manusia biasa. Kotak itu pernah digantungkan oleh gurunya sendiri di pinggang Tian Hei, beberapa hari lalu—tepat sebelum ia dilempar ke dalam hutan ini tanpa penjelasan apa pun. Dengan gerakan hati-hati, Tian Hei membuka pengunci sederhana di sisi kotak. Seketika, udara di sekelilingnya berubah. Di dalam kotak itu terbaring sebuah kitab tua berwarna hitam legam. Guratan merah gelap membentuk pola samar di tepi sampulnya. Aura kuno yang menekan menyeruak keluar tanpa suara, membuat napas Tian Hei sempat tertahan sepersekian detik. Itu bukan tekanan yang memaksa, melainkan kehadiran sesuatu yang telah lama berdiri di atas langit, memandang segala sesuatu dari ketinggian. Sampul kitab telah pudar, sudut-sudutnya aus dimakan waktu. Tulisan di bagian depan hampir tak terbaca, seolah sengaja dihapus oleh usia. Namun yang paling menarik perhatian Tian Hei adalah rune-rune asing yang terukir samar di permukaannya. Ia pernah melihat bentuk serupa sebelumnya—tajam, teratur, penuh makna. Namun rune ini berbeda. Lebih dalam. Lebih sunyi. Tian Hei membuka halaman pertama. Tidak ada tulisan biasa.. Yang ada hanyalah rangkaian gambar—garis-garis rumit yang saling bertaut, membentuk pola sirkulasi aneh. Beberapa menyerupai aliran sungai, sebagian lain seperti pusaran langit. Ia membalik halaman demi halaman. Alisnya sedikit mengernyit. Tidak ada penjelasan. Tidak ada instruksi tertulis. Hanya ilustrasi yang tampak menantang logika kultivasi yang ia kenal. “Ini… bukan teknik bela diri,” gumamnya pelan. Ia terus membaca dengan penuh kehati-hatian. Tanpa sadar, ia telah memahami hampir sepertiga isi kitab tersebut. Saat itulah ia merasakan sesuatu berubah. Pola-pola yang semula tampak acak mulai membentuk kesinambungan. Tian Hei tidak sepenuhnya memahaminya, namun instingnya—hasil dari bertahun-tahun latihan keras—menyadari satu hal dengan jelas. Ini adalah teknik kultivasi. Dan bukan teknik biasa. Di salah satu halaman, untuk pertama kalinya, muncul deretan karakter dan rune yang dapat ia pahami. Tulisan itu sederhana, namun mengandung bobot yang berat: *Langit bukan puncak. Hukum bukan batas. Namun jangan melangkah bila hatimu rapuh. Jangan membuka jalan ini dengan niat yang goyah. Jalan ini tidak merusak pikiran— ia hanya mempercepat kehancuran bagi mereka yang sejak awal tidak layak bertahan. Ketika seluruh elemen tunduk pada satu kehendak, semesta pun kehilangan hak untuk menghakimi.* Pandangan Tian Hei mengeras. Di bagian bawah halaman itu, tertulis nama teknik tersebut—singkat, tegas, dan seolah menelan cahaya di sekitarnya. KULTIVASI PELAHAP SEMESTA Mengetahui nama teknik itu, Tian Hei akhirnya memahami sedikit petunjuk tentang isi kitab ini. Ia membaca ulang berulang kali, menyadari bahwa kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang dua kali. Setelah sembilan kali pengulangan, jantungnya berdetak lebih cepat. Ia akhirnya memahami makna terdalam dari rangkaian gambar tersebut. “Teknik kultivasi yang sangat hebat…” gumamnya. Sesuai dengan namanya, teknik ini memungkinkan penggunanya menyerap hampir semua jenis energi yang ada di langit dan bumi. “Namun syarat utamanya adalah dua belas titik meridian utama harus terbuka,” lanjut Tian Hei dengan ekspresi berat. “Titik cabang mungkin tidak wajib… tapi untuk mencapai puncak, pondasi teknik ini menuntut semuanya terbuka.” Ia terdiam sejenak. “Membuka titik meridian cabang… terlalu sulit.” Dari pemahamannya, Kultivasi Pelahap Semesta memang luar biasa, namun syaratnya kejam. Jika meridian cabang tidak sepenuhnya terbuka, perkembangan akan terhenti. Dan bila dipaksakan, risiko kehancuran tubuh dan jiwa sangat besar. “Sungguh teknik yang tidak memberi jalan mundur bagi penggunanya…” Tian Hei menarik napas dalam-dalam. Saat menghembuskannya, ia mengambil keputusan besar. Ini adalah pertaruhan. Jika ia gagal, maka itu berarti ia memang tidak layak. Begitu keputusan itu terbentuk, kejadian aneh pun terjadi. Kitab di tangannya perlahan berubah menjadi butiran kabut hitam. Tanpa meninggalkan jejak sedikit pun, kabut itu menguap ke udara, seolah kitab tersebut tak pernah ada. kabut hitam itu tidak hanya menguap ke udara, tapi terserap ke dalam dahi Tian Hei. “Apa yang terjadi…?” gumam Tian Hei terkejut. Namun tak lama kemudian, ketenangannya kembali. Sebuah kemungkinan terlintas di benaknya—dan firasat itu membuat matanya menyipit tajam.Kabut Lembah Kematian tidak menipis setelah kematian Ular Rawa Bersayap Empat—ia justru menjadi lebih berat, lebih pekat, seolah alam menelan kembali darah penguasanya yang tumbang. Danau hitam itu kembali tenang, namun ketenangan tersebut bukan kedamaian, melainkan keheningan sebelum kelaparan berikutnya. Tian Hei duduk bersila di atas tulang-belulang di tepi danau. Tubuhnya nyaris tak lagi dapat disebut manusia. Bahu kirinya hancur, lengan kirinya tak merespons, dan setiap napas terasa seperti pisau yang menggores paru-parunya dari dalam. Namun auranya—auranya justru semakin mengerikan. Energi gelap berdenyut di sekelilingnya, berputar liar seperti badai yang kehilangan pusat. Xi Qianyue berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya pucat. Ia ingin mendekat, namun naluri spiritualnya menjerit agar berhenti. Energi dalam tubuh Tian Hei saat ini terlalu tidak stabil. Satu kesalahan kecil bisa membuatnya meledak dari dalam. Tian Hei membuka mata perlahan. Pandangannya buram, namun k
Waktu seolah kehilangan maknanya di bawah kanopi ungu kehitaman Lembah Kematian. Satu bulan telah berlalu sejak Tian Hei melahap rombongan Sekte Angin Hijau, dan selama tiga puluh hari itu, ia bersama Xi Qianyue tidak pernah benar-benar memejamkan mata dengan tenang. Lembah ini adalah neraka yang terus memberi makan. Sepanjang perjalanan mereka dari pinggiran menuju pedalaman, keduanya telah dihadang oleh barisan binatang buas yang haus darah. Mulai dari Kera Lengan Besi tingkat 5 hingga Ular Sanca Bayangan tingkat 6 yang bisa menyatu dengan kegelapan. Tian Hei menghadapi mereka semua dengan keganasan yang sama. Pakaian hitamnya kini bukan lagi hitam karena pewarna, melainkan karena lapisan darah kering yang bertumpuk-tumpuk. Xi Qianyue, meski awalnya merasa ngeri, kini telah terbiasa dengan metode brutal Tian Hei. Namun, semua pertarungan sebulan terakhir hanyalah pemanasan bagi apa yang menanti mereka di bagian dalam lembah. Kehadiran Sang Penguasa Udara di bagian dalam Lemb
Di tengah kabut pagi yang masih tebal, dua sosok berpakaian hitam melangkah keluar dari bayang-bayang tembok kota. Tian Hei berjalan dengan langkah mantap, palu Pemusnah Surga di punggungnya tampak lebih gelap di bawah cahaya temaram. Di sampingnya, Xi Qianyue bergerak dengan keanggunan yang sunyi, cadarnya berkibar lembut mengikuti embusan angin dingin. "Kau yakin ingin melewati jalur itu?" tanya Xi Qianyue pelan, matanya menatap ke arah jajaran pegunungan hitam yang menjulang di cakrawala utara. "Lembah kematian merupakan salah satu area terlarang yang jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan Hutan Abadi." Tian Hei tidak berhenti melangkah. Pandangannya lurus ke depan, menembus kabut. "hmm, kata bahaya hanyalah kedok untuk pelung besar bagi kultivator." Mereka meninggalkan jalan setapak utama dan mulai memasuki wilayah hutan tua yang semakin rapat. Semakin jauh mereka melangkah, suara kehidupan kota di belakang mereka perlahan memudar, digantikan oleh suara dahan yang berderi
Matahari mulai tenggelam di cakrawala Kota Qing Yun, menyisakan semburat merah darah yang seolah meramalkan masa depan yang akan ditempuh Tian Hei. Alun-alun yang tadinya penuh dengan hiruk-pikuk perekrutan murid kini sunyi, hanya menyisakan bisikan-bisikan ketakutan dari orang-orang yang menyaksikan jatuhnya harga diri Sekte Gang Quan. Tian Hei tidak mempedulikan tatapan mata yang tertuju padanya. Di tangannya, ia menggenggam plakat hitam kemerahan pemberian Lie Cang. Logam itu terasa dingin di permukaan, namun ada denyut energi yang sangat panas di dalamnya—seperti petir yang terperangkap dalam botol kaca. "Ayo pergi," ucap Tian Hei datar kepada Xi Qianyue. Keduanya berjalan menjauh dari alun-alun, meninggalkan sisa-sisa reruntuhan batu dan harga diri sekte yang telah hancur. Mereka kembali ke penginapan, tempat yang kini terasa lebih seperti tempat pengintaian daripada tempat beristirahat. Setelah sampai di kamar mereka, Xi Qianyue segera mengunci pintu dan memasang segel iso
Tekanan dingin yang menyelimuti alun-alun belum sepenuhnya menghilang ketika Gang Zhen melangkah maju satu langkah. Langkah itu berat. Bukan karena luka fisik—melainkan karena tekanan eksistensi yang berdiri di hadapannya. Pria tua berjubah gelap itu melayang setengah inci di atas tanah, seolah hukum dunia tak sepenuhnya berlaku padanya. Rambut peraknya terurai bebas, wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam dan dingin seperti pedang tua yang telah meminum darah lebih banyak dari yang bisa dihitung waktu. Gang Zhen menggenggam tangannya perlahan. Qi di tubuhnya berputar, berat dan padat. Sebagai Tetua Agung Sekte Gang Quan, ia telah melewati puluhan tahun pertarungan hidup dan mati. Ia tidak asing dengan tekanan dari kultivator tingkat tinggi. Namun tekanan ini— Berbeda. Ini bukan sekadar perbedaan kekuatan. Ini adalah perbedaan tingkatan eksistensi. “Senior,” ucap Gang Zhen akhirnya, suaranya rendah namun stabil, “ini adalah wilayah Sekte Gang Quan. Perekrutan m
Tekanan Qi brutal yang menyapu alun-alun perlahan mereda, namun suasana justru semakin mencekam. Tanah batu yang retak masih menghembuskan debu tipis, sementara tubuh-tubuh peserta yang tumbang tergeletak tanpa daya. Beberapa merintih kesakitan, yang lain pingsan dengan wajah pucat keabu-abuan. Pria bertubuh besar di atas panggung menurunkan kakinya perlahan. Sorot matanya menyapu mereka yang masih berdiri—jumlahnya kini tak sampai separuh dari semula. “Bagus,” ucapnya dingin, seolah apa yang terjadi barusan hanyalah pemanasan. “Setidaknya kalian belum sepenuhnya rapuh.” Beberapa peserta yang masih bertahan menggertakkan gigi. Keringat bercampur debu mengalir di wajah mereka. Tubuh gemetar, napas tersengal, namun tak seorang pun berani mundur. Tian Hei berdiri tenang di antara mereka. Napasnya telah kembali stabil, seolah tekanan barusan tak lebih dari angin kencang yang lewat. Di balik ketenangan itu, Pelahap Semesta bekerja dengan sangat halus, melahap sisa tekanan Qi yang
Tatapan Tian Hei tetap tertuju ke arah cekungan itu. Baru sekarang ia menyadari bahwa sejak awal, tanah di sekeliling bangkai naga hitam tidak sepenuhnya datar. Permukaannya membentuk kemiringan halus, nyaris tak terasa saat dilalui dengan berjalan kaki—namun cukup untuk menciptakan perbedaan keti
Tian Hei melangkah keluar dari tempat peristirahatan sementaranya tanpa membawa arah yang pasti. Hutan ini terlalu luas, terlalu asing, dan terlalu sunyi untuk mengandalkan logika semata. Ia tidak tahu di mana pintu keluar berada, maka ia memilih mempercayakan langkahnya pada satu-satunya hal yang
“Apa yang terjadi…?” gumam Tian Hei pelan. Kejadian barusan jelas mengejutkannya. Namun hanya sesaat. Tak lama kemudian, ketenangannya kembali. Sebuah kemungkinan terlintas di benaknya—dan itu cukup untuk membuat pikirannya kembali stabil. Untungnya, ia telah membaca isi kitab itu berulang kali
Hutan tetap sunyi, kabut tipis merayap di atas tanah, menyelimuti pepohonan raksasa yang menjulang seperti menara gelap yang angkuh. Di tengah keheningan itu, Tian Hei berdiri tegak. Besi hitam di tangannya terasa seperti perpanjangan lengannya sendiri. Mata tajamnya menembus keremangan, menilai se







