LOGINTak lama kemudian, mereka berdua berjalan ke sisi magma. Andriyan menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, "Astaga, aku benar-benar nggak menyangka akan ada dunia lain di sini."Kelvin berjalan ke pinggir sungai magma. Dia membalikkan satu tangannya untuk mengeluarkan tungku.Seiring dengan dimasukkan kekuatan sejati, tungku itu pun mulai membesar."Astaga, kamu juga punya artefak spiritual?" ucap Andriyan dengan kaget. "Betul juga, ahli alkimia nggak pernah kekurangan uang. Dulu, aku pernah menghadiri acara kumpul bersama dengan beberapa kultivator. Dengar-dengar, hingga saat ini, hanya ada dua atau tiga ahli alkimia level tiga saja, dan nggak ada satu pun ahli alkimia level empat. Kalau ingin meminta ahli alkimia level tiga untuk meramu pil obat, mesti dibayar dengan artefak spiritual."Kelvin bertanya dengan nada bicara berat, "Apa artefak spiritual … bisa dibeli dengan uang? Berapa estimasi harganya?""Mana mungkin!" kata Andriyan. "Uang itu hanyalah tumpukan kertas saja. Artefak s
Di pintu masuk dermaga tepi laut Kota Lamur.Seorang pria muda mengenakan pakaian santai berdiri di sana dengan tangan disilangkan, seolah-olah sedang menunggu sesuatu.Di wajahnya terukir sedikit senyuman. Matahari pagi terbit dari permukaan laut, menyinari tubuhnya, membuatnya tampak begitu selaras dengan pemandangan sekitar.Dia berambut cepak, tetapi memberikan kesan pria tangguh. Wajahnya yang tampan berbeda dengan selebritas di televisi yang memakai riasan. Dia tidak memakai riasan apa pun di wajahnya. Alisnya tegas, matanya tajam berbinar, dan batang hidungnya mancung.Dia memang cukup tampan, bahkan para pria juga akan merasa iri ketika melihatnya.Orang-orang yang berjalan melewati sisinya, terutama wanita, juga spontan meliriknya sekilas, lalu berbisik-bisik.Bahkan dalam sesaat saja, sudah ada beberapa orang yang datang untuk meminta nomor WhatsApp-nya.Di antaranya terdapat banyak wanita cantik, tapi semuanya malah ditolaknya.Cit!Mobil berhenti di sekitar. Kelvin menuruni
Niveria dan Deven yang sudah seharian tidak ditemui Kelvin itu sedang makan di ruang makan.Kelvin berjalan pergi untuk mencedok semangkuk bubur, lalu duduk di tempat. Dia mengambil sebuah roti lagi, melahapnya sembari bertanya, "Gimana kondisi Profesor Canyo?""Kata dokter, kondisinya sudah sangat bagus. Sore hari ini sudah bisa mengurus prosedur keluar rumah sakit," kata Niveria. "Tapi, ada sedikit masalah dengan si Marco. Dia juga tahu kata sandi Profesor Canyo. Kami berencana untuk langsung mengantar Profesor Canyo ke asrama Universitas Lamur."Kelvin berkata dengan mengangguk, "Emm, bagus juga seperti itu.""Bagaimana dengan kalian? Apa kalian ada urusan hari ini?" tanya Kelvin."Lanjut sibuk urusan perusahaan. Ketiga perusahaan sudah berhasil digabungkan," kata Niveria. "Tapi selama beberapa saat ini, Paman Aaron …."Sembari berbicara, Niveria melihat Kate yang duduk di samping, lalu berkata, "Paman Aaron dan Arvin mau turun tangan sama kita. Beberapa perusahaan ini mengalami ber
"Apa mungkin, ada mata-mata di dalam Pengawas Malam kalian!" tanya Kelvin dengan ekspresi serius.Felix langsung membuka mulutnya hendak menyangkal. Hanya saja, dia pun mengerutkan keningnya dan berkata, "Kamu bilang, gimana ciri-ciri dari wanita itu?""Memiliki dada besar dan tubuh bagus!" jawab Kelvin.Felix mengangkat kepalanya menatap Kelvin dengan bingung.Kelvin segera berkata, "Anggota luar Nomor 0 yang beri tahu aku."Kali ini, Felix baru menghela napas lega dan berkata, "Kalau ciri-cirinya seperti itu, seharusnya bukan anggota kami.""Apa nggak ada ciri-ciri orang seperti itu di dalam Pengawas Malam?" tanya Kelvin.Felix menggeleng dan berkata, "Ditambah dengan aku, sekarang totalnya ada lima orang, dengan empat orang pria dan satu orang wanita. Wanita itu …."Dia mendengus, lalu berkata, "Rata sekali!""Hanya saja, seharusnya orang itu nggak ada alasan untuk membohongiku. Waktu itu, aku mengancamnya dengan membunuhnya." Kelvin mengusap dagunya, lalu merenung sejenak. "Aku kep
"Di mana penanggung jawab minimarket? Kalian punya hubungan resmi, seharusnya sangatlah gampang untuk menyelidikinya!" kata Kelvin."Penanggung jawab hanyalah orang biasa," balas Felix. "Agar nggak membuat mereka waspada, kami pun nggak bergerak, hanya saja terlalu sulit untuk menyelidiki lebih dalam. Anggota Nomor 0 saja akan pergi ketika menyadari Pengawas Malam."Ketika berbicara sampai di sini, Felix berkata dengan menyipitkan matanya, "Anggota Nomor 0 lagi mengejarmu. Kamu bisa menyamar sebagai umpan untuk memancing keluar anggota Nomor 0."Membahas sampai di sini, Kelvin pun merasa sedikit gembira.Kelvin datang ke Kota Lamur karena ingin mencari tahu alasan kenapa Nomor 0 ingin membunuhnya. Setelah dilihat-lihat sekarang, besar kemungkinan alasannya karena teknik pengobatannya!Alasan kedua adalah Kelvin ingin melihat apakah dia bisa mendapatkan beberapa informasi kakeknya dari mulut organisasi Nomor 0!Reputasi kakeknya di lingkaran kultivator lebih tinggi daripada yang dibayan
Setelah kembali ke Kota Lamur, waktu sudah menunjukkan pukul 12.00. Julia langsung mengendarai mobil menuju ke minimarket.Kelvin juga berencana untuk berjaga di warung seberang minimarket. Sesuai dengan ucapan Julia, kemungkinan bos dari minimarket akan menampakkan diri dalam beberapa hari ini. Seandainya Kelvin bertemu dengannya, bisa jadi ada kesempatan untuk berduel dengannya!Sekarang, Kelvin memiliki pemahaman terhadap kemampuannya sendiri. Dia memiliki tiga lembar jimat level tiga, dia pun memiliki keyakinan untuk bisa menghadapi orang di Tahap Pembukaan Batin.Mobil balap melintasi Jalan Anges, lalu berhenti di depan minimarket.Hanya ada satu pelayan yang sedang bertugas di dalam minimarket. Kelvin kepikiran dengan Sienna. Dia pun segera bertanya, “Oh, ya, bagaimana dengan masalah Sienna?”Julia menghentikan mobilnya, lalu berkata, “Aku sudah bantu lunasi utangnya, juga sudah carikan pekerjaan sales yang cukup bagus untuk dia, tapi ….”Ketika berbicara sampai di sini, kening J
Di balkon lantai dua wisma, Kelvin berdiri di depan sebuah kamar dan menatap tajam pada dua orang itu. Ekspresinya dingin.Sebenarnya, Kelvin bisa menebak dari pembicaraan telepon wanita tadi.Kedua orang ini sepertinya adalah pembunuh bayaran yang dikirim oleh Arvin.Kelvin sudah punya antisipasi
Wajah pria paruh baya itu dipenuhi amarah. Tangan kanannya sudah terkepal.Yugo sangat ingin lari, tetapi dia tampak sangat takut pada ayahnya. Yugo pun berdiri gemetaran di tempat, tidak berani pergi."Ayah, aku ... aku gegar otak ringan, belum sembuh!" Yugo berkata memelas, "Jangan ...."Plak!Tep
Kelvin kaget tak terkira!Tadi dia masih berpikir untuk membantu wanita bergaun putih meracik pil secara gratis karena itu juga bukan hal yang merepotkan baginya. Namun, tak disangka, saat Kelvin ingin membantunya, wanita itu malah ... datang untuk membunuhnya.Untungnya, mereka belum saling menyebu
Saat ini, di ruang kantor di atas gedung perkantoran, perban di wajah Karlo sudah dibuka.Karlo duduk di kursinya sambil terus memutar pulpen. Senyuman tersungging di bibirnya.Suasana hatinya sangat riang.Karlo sangat marah karena dipukul habis-habisan oleh anak buah Niveria. Niveria jelas bukan o







