Mag-log in"Tuan Sofian!" Begitu melihat Sofian, Bagas segera berjalan mendekat, lalu seiring terdengarnya suara, dia langsung berlutut di depannya.Pada saat itu, Sofian dan wanita berbaju putih sedang minum teh. Sofian memegang cangkir sambil melirik sekilas ke arah Bagas yang berlutut, lalu berujar dengan nada datar, "Kuberi kamu waktu satu menit."Jelas, Sofian sama sekali tidak tertarik meladeni Bagas.Inilah sikap seorang ahli alkimia level tinggi yang penuh kepercayaan diri.Bagas buru-buru berkata, "Tuan Sofian, aku datang untuk memohon bantuan. Anakku, Arvin, kamu pasti mengenalnya. Dulu saat dia lahir, leluhur keluarga kami pernah mengundangmu datang untuk merayakan."Sofian hanya minum teh tanpa menanggapinya.Bagas segera melanjutkan, "Belakangan ini Arvin dicelakai orang. Kedua tulang kakinya rusak oleh teknik akupunktur. Jadi demi hubunganmu dengan leluhur keluarga kami, aku ingin memohon kepada Tuan Sofian untuk bantu meracik Pil Penumbuh Tulang. Apa pun syaratnya, Keluarga Jahan p
Andriyan di sampingnya bertanya dengan penuh semangat, "Lho? Kenapa kamu langsung tutup telepon? Aku tadi masih mau ikut mengejeknya!""Kamu nggak bilang dari awal!" jawab Kelvin tanpa daya."Sayang banget, nggak bisa lihat ekspresi Bagas," ucap Andriyan sambil terkekeh-kekeh. "Sekarang, dia pasti murka. Sepasang kaki anaknya sudah lumpuh. Saat ini, kabar tentang kerja sama Keluarga Jahan dengan kultivator iblis juga sudah tersebar. Dia pasti tertekan banget.""Dua bocah ini benar-benar kejam!" Tiba-tiba, terdengar suara seseorang mengomel.Mendengar suara itu, ekspresi Kelvin dan Andriyan langsung berubah. Mereka segera menoleh. Di bawah gelapnya malam, dua sosok perlahan berjalan keluar dari bayangan dan mendekat ke arah mereka.....Di dalam sebuah vila milik Keluarga Jahan.Brak!Bagas dengan marah menghantam sebuah vas antik bernilai hampir dua miliar hingga hancur di lantai."Benar-benar bikin emosi! Bikin emosi!" Bagas berteriak dengan suara serak. "Bayangan sama Rubah Perak ya?
"Hmm?" Jagoan di Tahap Pembukaan Batin tingkat delapan itu sedikit mengubah ekspresinya. Dia bertanya, "Apa maksudmu?"Ekspresi Andriyan berubah tipis. Kemudian, dia perlahan melepas topeng di wajahnya. Di bawah cahaya malam, wajah tampannya memperlihatkan senyum tipis."Kamu ... Andriyan!" Mata kultivator itu langsung membelalak.Foto Andriyan memang tidak sulit ditemukan. Sebagai orang dari Keluarga Jahan, apalagi sekarang Andriyan sudah kembali ke Kota Yanir dan menjadi target, wajahnya tentu sudah dikenal oleh para kultivator mereka.Jadi, mereka langsung mengenalinya.Tiga jagoan di Tahap Pembukaan Batin itu juga terlibat dalam kejadian di kilang anggur sebelumnya.Kalau orang ini adalah Andriyan ... identitas orang di sampingnya juga sudah jelas.Dialah orang yang melumpuhkan kedua kaki Arvin di depan belasan orang!Memikirkan itu, keempat orang itu langsung merinding."Kabur!" Salah satu dari mereka berteriak.Namun ... mana mungkin Kelvin dan Andriyan akan memberi mereka kesemp
Kulit kepala Kelvin terasa merinding. Dia menelan ludah lalu berkata, "Seharusnya ... nggak separah itu, 'kan?""Pokoknya, jaga diri saja," ucap Felix. "Aku masih ada urusan. Sudah dulu ya"Tanpa memberi kesempatan Kelvin berbicara lagi, Felix langsung menutup telepon.Di sampingnya, Andriyan jelas juga mendengar percakapan tadi. Setelah telepon ditutup, dia berucap, "Sebenarnya ... aku juga pernah dengar tentang orang seperti itu. Dulu waktu di Kota Yanir, aku pernah ngobrol dengan seorang kultivator. Dia bilang di dunia kultivator ini, ada sosok pembawa sial. Siapa pun yang berurusan dengannya, semuanya berakhir kehilangan nyawa."Kelvin terdiam.Segera setelah itu, Kelvin berucap sambil melambaikan tangan, "Ini terlalu berlebihan. Aku nggak percaya!"Andriyan menatapnya dengan serius dan berkata, "Temanku itu bilang, dulu juga ada orang yang nggak percaya. Katanya orang itu bahkan seorang jagoan di Tahap Pemadatan Inti. Dia sengaja mendekati si pembawa sial itu dan berhubungan denga
Setelah keluar dari tempat itu, Kelvin merasa heran karena Anderson tidak ada di depan pintu.Kelvin merasa pria tua itu benar-benar aneh.Selama beberapa jam tadi, pria tua itu terus menatapnya, seolah-olah sedang meneliti dirinya.Melihat Anderson tidak ada, Kelvin dan Andriyan pun saling memandang, lalu salah satu dari mereka berujar, "Kita pergi dulu!"Mereka punya jeda lima menit, cukup untuk pergi dengan aman.Namun baru saja mereka berjalan, seseorang di Tahap Pemurnian Energi yang memakai topeng diam-diam mengikuti di belakang mereka.Sambil berjalan, Kelvin mengeluarkan ponselnya dan segera menelepon Felix.Anderson ini terlalu aneh. Diperhatikan oleh orang yang jauh lebih kuat darinya bukanlah hal baik. Dia harus segera tahu siapa orang itu sebenarnya.Tak lama kemudian, telepon tersambung. Felix bertanya dengan nada bingung, "Kamu menemukan apa lagi?""Oh, bukan itu," jawab Kelvin segera. "Felix, kamu masih ingat nggak? Waktu itu kamu bilang, kalau di Kota Yanir ada orang ya
Kelvin memperkirakan, kemungkinan besar karena biaya sekali jasa ahli alkimia level tiga terlalu mahal. Sementara itu, kebanyakan orang di pertemuan ini masih berada di Tahap Pemurnian Energi atau Tahap Pembukaan Batin, jadi belum membutuhkan jasa ahli alkimia level tiga.Membantu meracik pil untuk ditukar dengan bahan atau harta juga memang salah satu tujuan Kelvin datang ke pertemuan ini.Mendengar pertanyaan itu, Kelvin membalas sambil menggeleng, "Kalau soal itu aku nggak tahu. Biasanya kalau mau membuat pil, aku kumpulkan bahannya dulu, lalu aku minta dia membantu. Dia selalu membantuku secara gratis. Kami sudah saling kenal sejak kecil. Hubungan kami sangat dekat."Orang-orang di sekitarnya langsung memandang dengan penuh rasa iri.Tidak ada yang mengira bahwa Kelvin sendiri merupakan ahli alkimia level tiga tersebut. Profesi itu terlalu langka dan biasanya ahli alkimia seperti itu sangat menjaga status. Tidak mungkin bersikap seperti Kelvin sekarang."Harga pasar biasanya lima b
"Pertemuan semacam ini biasanya diadakan seminggu sekali atau sebulan sekali. Di dalamnya, para peserta akan saling bertukar pengalaman dalam berkultivasi, lalu juga saling menukar barang. Bisa dengan sistem barter atau dibeli menggunakan uang," jelas Eric."Jadi, mereka semua saling mengenal?" tany
Keluarga Lorenz, Kota Jingawan!Saat ini di rumah Keluarga Lorenz, kepala keluarga yang hanya berstatus nama saja, Gino Lorenz, sedang mondar-mandir di dalam sebuah kamar.Di atas ranjang di sampingnya, ada seseorang yang sedang berbaring. Orang itu tidak lain adalah Karlo."Kenapa belum kembali jug
Adrian menatap ke arah Kelvin. Wajah dan sorot matanya dipenuhi keputusasaan, ketakutan, dan amarah!Yang membuat Adrian putus asa adalah karena dia mengira rencana yang disusunnya kali ini sudah sempurna tanpa celah. Namun kenyataannya, Kelvin justru berhasil membalikkan keadaan.Awalnya setelah te
Ini benar-benar seperti orang mengantuk yang langsung diberi bantal. Kebetulan sekali, Kelvin memang juga berencana pergi ke Kota Lamur. Dia pun menyetujui sambil mengangguk, "Pas banget, aku juga ada urusan di Kota Lamur. Kapan kita berangkat?""Sekarang? Sebentar lagi aku jemput kamu di depan wism







