LOGINSebelum mencapai lembah Batu Situng, rombongan Arga harus melewati danau Panenjoan terlebih dahulu.Danau itu membentang sangat luas sehingga mau tidak mau mereka harus membangun rakit dari batang-batang bambu yang disatukan.“Aku tidak mengerti entah bagaimana cara dirimu berangkat ke Bunisora seorang diri Jantaka?” tanya Arga mengerutkan kening sembari menatap jauh ke sebrang danau Panenjoan yang begitu luas.Jika dilintasi dengan terbang mungkin hanya akan memakan waktu satu hari untuk menyebranginya. Tetapi jika menggunakan rakit, Arga tidak tahu entah akan berapa hari tinggal di atas rakit.“Saat berangkat aku menggunakan jalur selatan yang lebih dekat dan tidak melewati danau ini, tetapi karena kita memulai pejalanan dari dusun Pandira, maka terpaksa aku membawa kalian menggunakan jalur utara,” ungkap Jantaka sembari menyeringai bodoh.“Mengapa tidak menggunakan jalur selatan saja? Bukankah akan lebih dekat,” kembali Arga bertanya cepat.“Hahaha dasar bodoh! Dekat jika dari kera
“Kakek tua?” Arga menghentikan serangannya.“Sudah cukup, beri dia kesempatan,” ujar Resi Gamadharma.“Baiklah, aku serahkan sisanya padamu,” ucap Arga.Hampir seluruh wilayah perguruan Kuil Batara hancur oleh Arga, jika tidak ada Resi Gamadharma, kemungkinan sesepuh perguruan tersebut juga ikut lenyap dimusnahkan pemuda itu.“Ro-ro-romo, maafkan aku,” ungkap Anggadharma lirih.Air matanya terus meniti dengan tubuh terbaring lemas tanpa daya. Dia hanya bisa pasrah menerima nasib, andai Arga membunuhnya-pun Anggadharma akan menerimanya dengan suka rela.“Kau telah terlalu jauh keluar dari jalur tujuan awal kita Angga, semoga ini bisa menjadi pelajaran berharga untukmu,” ujar sang kakek tua.Tidak hanya Resi Gamadharma saja yang datang ke sana, tetapi 13 pilar Kuil Batara juga ikut datang.Mereka sengaja tidak membantu Anggadharma supaya orang tua itu sadar akan kesalahannya.Itu juga merupakan alasan mengapa Resi Gamadharma meminta Arga tinggal diperguruan selama beberapa hari karena h
“Pedang Batara! Gelombang surgawi!” teriak Anggadharma sembari menebaskan pedang ke arah tempat para ketua.Selarik cahaya kuning berbentuk bulan sabit sangat besar melesat dari tebasan pedangnya menyapu 2000 pedang milik Arga membuat pedang-pedang tersebut seketika berhamburan ke sembarang arah.Tetapi naas, semua guru dan ketua sudah tergeletak bersimbah darah termasuk Nandu. Mereka lemas tidak berdaya sebelum akhirnya pingsan tidak sadarkan diri.“Nandu!” teriak Anggadharma cemas, dia segera melesat menghampiri putranya.Melihat kondisi Nandu yang begitu mengenaskan, Anggadharma semakin murka tidak terkendali.Aura membunuh miliknya keluar menyeruak menekan tubuh siapa pun yang ada di sana.Termasuk semua murid perguruan, Jantaka, Ariani dan teman-teman Jambang.Tubuh mereka sulit berdiri seperti ditekan beban berat puluhan kuintal.Jantaka dan Ariani masih bisa bertahan karena mereka memiliki kualitas tulang di atas manusia rata-rata.Sementara semua murid perguruan Kuil Batara tu
Jambang dan Bopeng tersenyum ke arah Arga, setelah itu keduanya langsung terkulai lemas tidak sadarkan diri membuat Arga semakin marah.Selesai membaringkan tubuh Jambang dan Bopeng, Arga langsung menebaskan punggung pedang hitamnya ke arah depan membuat 100 murid yang sedang maju ke sana langsung berhamburan terkena gelombang energi serangannya.100 murid itu seketika tidak sadarkan diri dengan tubuh membiru seperti terkena pukulan yang sangat keras.Buki dan Apud yang menyaksikan Arga tidak bisa tidak menelan ludah, seumur hidup, mereka baru menyaksikan ada serangan sedahsyat itu.“A-a—apa aku tidak bermimpi?” gumam Buki yang sedang terduduk lemas setelah bertarung melawan ratusan orang.“A—aku juga melihatnya,” ujar Apud kembali menelan ludah.Mereka tidak dapat membayangkan entah apa yang terjadi jika Arga melancarkan serangan menggunakan mata pedang. Kemungkinan 100 murid yang baru saja melayang berhamburan tidak akan memiliki kesempatan untuk hidup.Jika tubuh mereka tidak poton
Tangan Anggadharma bergetar menahan amarah pada anak nya. Tidak disangka dia akan dikhianati oleh keturunannya sendiri.Padahal baru saja dia menghukum Jambang karena berani mengambil misi tanpa se-ijin perguruan dan menewaskan satu orang murid terbaik, sekarang dia dan teman-temannya sudah kembali berulah dengan membantu kelompok Arga.“Cepat pergi dari sana atau kau akan ikut kubunuh anak tidak berguna!” teriak Anggadharma geram.Mendapat bentakan dari ayahnya membuat tubuh Jambang bergetar, tetapi dia masih tetap berdiri di depan Arga tidak berniat mematuhinya.“A-a—ayah boleh membunuhku jika mau,” teriak Jambang dengan nada terbata.Bopeng, Buki, Apud, Nuri, Tika, dan Kamala juga ikut bergetar menerima tatapan sang sesepuh. Tetapi sama seperti Jambang, mereka juga tidak berniat mematuhinya.“Dasar manusia tidak tahu balas budi, bunuh mereka!” teriak Anggadharma.Mendengar itu, 4000 murid perguruan kembali melesat menuju tempat Arga untuk menghabisi mereka.“Terima kasih telah memb
Ukhuk! Ukhuk!Dua kali Jantaka memuntahkan darah segar, 4 tulang rusuknya patah sementara sebagian tulang wajahnya mengalami keretakan.Jantaka berusaha bangkit tetapi dia tidak bisa karena luka yang di terima tubuhnya terlalu parah.Tidak hanya Jantaka, tetapi Ariani juga tidak luput dari serangan.Gadis itu terlempar setelah menerima tendangan keras dari salah satu ketua perguruan.“Sesepuh! Mohon maafkan kami, mereka yang menyerang kami lebih dulu,” salah satu murid senior berlutut di depan Anggadharma.Mengetahui sesepuh perguruan tengah sangat marah, semua murid yang tadi bertarung di aula serentak berlutut meminta ampun.Anggadharma ke sana setelah mendengar beberapa ledakan, tidak hanya Anggadharma saja, tetapi semua guru dan ketua perguruan juga turut datang dengan sorot mata penuh amarah.40 guru berusaha memadamkan api dengan menggunakan mantera pemanggilan angin.Dalam sekejap api yang membakar gedung aula langsung padam menyisakan asap hitam dan puing yang berserakan.Jela







