Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 5 Lima Pria tidak dikenal

Share

Bab 5 Lima Pria tidak dikenal

Author: Pujangga
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-15 20:34:54

Malam begitu gelap tanpa rembulan, suasana kerajaan Bunisora sangat sepi di wilayah kaputren.

Hanya terdapat beberapa prajurit saja yang sedang berdiri di depan kediaman raja dan di depan pintu gerbang kaputren. Mereka berjaga secara bergantian setiap 4 jam sekali. (catatan : Kaputren adalah wilayah kediaman raja atau keluarga kerajaan.)

Semua orang sudah terlelap dalam mimpi indahnya masing-masing.

Sementara seorang pemuda berpakaian lusuh sedang tertatih memikul dua ember kayu besar berisi air.

Langkahnya gontai menembus pekatnya kegelapan turun naik sungai mengisi kolam pemandian para putri raja.

“Dasar pemalas! Percepat langkahmu sialan, tugas ini harus segera selesai sebelum fajar tiba,” bentak punggawa Kantil yang sedari tadi terus mengawasi Arga.

“Ba-baik tuan kantil, tapi ini sungguh berat sekali,” ungkap Arga.

“Cih! Banyak alasan, cepat jalan!” bentak Kantil tidak peduli.

Sudah dua jam Arga memikul air, namun kolam baru terisi ¼ -nya saja karena ukurannya yang besar.

Jalanan menanjak dari sungai ke wilayah kerajaan tidak membuat Kantil iba, dia malah tersenyum senang melihat penderitaan Arga.

Namun tepat ketika Arga tiba di atas tanjakan, 5 orang berbadan besar tiba-tiba saja datang mengepung-nya.

Arga tidak dapat mengenali mereka karena mengenai penutup kain berwarna hitam.

Yang terlihat oleh Arga sekarang hanya dada bidang berotot yang ditumbuhi banyak bulu.

Kantil yang berjalan di belakang Arga-pun ikut terkejut. Sebagai punggawa penjaga kandang kuda, dia tentu memiliki ilmu kanuragan, membuatnya langsung melesat ke depan Arga memastikan siapa yang datang.

“Siapa kalian? Mengapa menghalangi jalan kami?” bentak Kantil membusungkan dada.

Dia percaya dengan statusnya di kerajaan, tidak akan ada yang berani mengusiknya, terlebih mereka saat ini sedang berada di wilayah Kaputren Keluarga Raja.

"Hahaha, kami tidak ada urusan denganmu punggawa hina, menyingkir dari hadapanku atau kau akan mati mengenaskan!" ungkap salah satu dari kelima pria berbadan besar.

Mendapati bentakan balik dari orang asing di depannya, punggawa Kantil mulai bimbang.

"Sialan, sepertinya mereka menginginkan bocah ini," umpat Kantil dalam hati.

"Apa yang sudah kau lakukan pemalas? Apa kau telah mengusik salah satu dari mereka?" tanya Kantil kepada Arga, dia tidak memperdulikan ancaman dari pria tadi karena yakin dirinya mampu menghadapi mereka.

"A-aku tidak tahu tuan, seperti biasa, hari-hariku hanya dengan rumput dan kuda," jawab Arga yang mulai ketakutan.

"Kalian dengar! Orangku tidak pernah mengusik kalian, lantas apa yang membuat kalian menghadang kami di sini?" tanya Kantil berang.

Namun tepat selesai dia bertanya, sebuah pukulan keras dengan cepat bersarang di perutnya, membuat Kantil terhuyung seketika dan jatuh ke tanah.

"Cecunguk! sebagai punggawa rendahan kau terlalu banyak bertanya," ungkap pria besar yang tadi, "Singkirkan dia, dan hajar pemuda itu!" serunya kemudian.

3 orang segera melesat ke hadapan Arga, sementara satu orang lagi menendang wajah punggawa Kantil hingga dia tidak sadarkan diri.

Kanuragan seorang punggawa tentu saja tidak ada apa-apanya dihadapan seorang senopati, membuat Kantil tidak berdaya dihajar olehnya.

Sementara Arga yang mengetahui para pria itu mengincarnya langsung lari menuju arah sungai.

Dia tidak peduli lagi dengan ember air yang dipikulnya, dengan cepat Arga melemparkan ember tersebut dan melesat menuruni tanjakan.

Meski berada di kegelapan malam tapi entah mengapa Arga dapat melangkah seolah sangat mudah.

Seakan tahu pijakan di bawah, kakinya dapat seimbang seperti sedang berlari di siang hari, membuat ke-lima pria yang mengejarnya terkejut bukan buatan.

"Terus kejar! jangan biarkan dia lolos," seru senopati Rajo.

Mendapati Arga bisa berlari di kegelapan, diapun ikut melesat mengejar Arga, termasuk senopati lain yang tadi menghajar punggawa Kantil.

Tubuh punggawa Kantil dibiarkan tergeletak begitu saja di atas tanjakan.

Sebuah keberuntungan dia tidak dibunuh, dimana secara tidak sengaja saat ini Kantil terlibat masalah besar rencana pembunuhan putri raja.

Arga terus berlari menuju sungai, dia tidak berani menoleh kebelakang karena khawatir akan memperlambat langkah-nya.

"Aku curiga ini pasti ada kaitannya dengan putri Anandya yang tadi siang kuselamatkan, celaka, bagaimana ini?" gumam Arga, hatinya sudah sedari tadi berdebar tidak karuan.

Sebagai pemuda biasa, Arga tidak memiliki sedikitpun ilmu kanuragan untuk membela diri.

Jangankan ilmu kanuragan, siapa dan dari mana asalnya saja Arga tidak tahu.

Dia menumpang hidup di kerajaan Bunisora tidak lebih hanya memenuhi janji kepada Aki Begawan.

Andai tidak pernah berjanji, mungkin sudah sedari dulu Arga meninggalkan kerajaan itu.

"Bagaimanapun aku harus bisa hidup! jika benar ini tentang putri Anandya, maka aku harus bisa menjaganya," gumam Arga bertekad.

Tidak terasa dia saat ini telah tiba di tepi sungai, membuat Arga bingung kemana sekarang dia harus berlari.

Karena tidak memiliki pilihan, Arga lantas terjun masuk ke dalam air, dia berenang membelah arus menyebrangi sungai dengan cepat. Hingga pada akhirnya, Arga sampai di tepian sebrang.

Tetapi yang mengejarnya adalah para pendekar berkanuragan tinggi. Bagi mereka, sungai bukanlah rintangan.

Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, dalam sekali lompat lima pria berpakaian hitam itu sudah tiba di seberang sungai.

Membuat Arga terkejut dan kembali terkepung oleh mereka.

"Hahaha, dasar bocah sialan, mau kemana lagi sekarang? Secepat apa pun larimu di malam hari, kau tetap tidak akan bisa lepas dari kami," salah satu pria berbaju hitam tertawa.

"Cepat, selesaikan tugas kalian!" serunya kepada ke-empat pria lain.

Satu persatu mereka melesat melayangkan pukulan keras kepada Arga.

Pemuda itu terus meronta dan meminta ampun, tetapi ke-empat pria berpakaian hitam tidak peduli.

Mereka menendang, menginjak dan memukul Arga secara bergantian, membuat Arga hanya bisa pasrah menerima kenyataan.

Darah mulai merembes dari hidung, mulut dan telinga Arga. Dia mengerang dan berguling menahan sakit, tetapi pukulan musuh tetap tidak berhenti.

Hingga pada akhirnya Arga terkulai lemas tidak sadarkan diri, dia teluka parah terbaring di atas tanah.

"Sudah hentikan! Jangan biarkan dia tewas," seru pria tadi yang memberi perintah.

"Cih! mengapa tidak dibunuh saja Rajo," kata salah satu dari mereka masih ingin menghajar Arga.

"Bodoh! Apa kau ingin mendapatkan hukuman dari putri Ardani, cepat menyingkir," bentak senopati Rajo.

Membuat ke-empat senopati tersebut tidak memiliki pilihan selain menuruti perintah Rajo.

"Soma, patahkan kedua kakinya agar dia tidak bisa bekerja lagi. Akan sangat berbahaya jika pemuda itu bisa berkeliaran," perintah senopati Rajo kemudian.

"Hahaha, tentu saja, aku akan senang melakukannya," senopati Soma tertawa.

Namun baru saja dia akan melancarkan aksinya, di sebrang sungai terlihat banyak obor yang datang.

Mereka merupakan prajurit kaputren yang di bawa oleh punggawa Kantil.

Membuat senopati Rajo dan ke-empat senopati lain berdecak kesal dan langsung melesat meninggalkan tempat itu.

**

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sang Kusir   Bab 195 Campur tangan dewa

    “Siapa dia? apa putra mahkota Lingga Hiang juga merupakan alkemis?” tanya raja Evandaru pada putri Elenio.“Dia Argadanta Niskala Candra, putra tunggal dari Maha Prabu Niskala Jayanata. Kedatangannya memang sebuah kejutan, ayah. Dia memiliki begitu banyak harta dan mampu membunuh 8000 kesatria pasukan aliansi,” tutur putri Elenio membeberkan semua tentang Arga pada ayah-nya.“Kabar tentang kesaktian orang-orang Benua Utara memang bukan isapan jempol belaka,” gumam raja Evandaru.“Lantas mengapa dirimu tidak bisa membaca pikirannya?” tanya raja Evandaru kemudian.“Entahlah, mungkin karena energi batin tuan Arga terlalu besar. Kita tidak tahu entah sesakti apa dia sebenarnya,” jawab putri Elenio.“Jangan lepaskan dia, ayah akan sangat senang jika pemuda itu tertarik padamu,” pinta raja Evandaru.Tentu saja putri Elenio langsung merona mendengar itu di mana sedari awal, dia memang sudah menaruh hati kepada Arga.Mendapati ayahnya juga tertarik, putri Elenio seperti mendapatkan dukungan p

  • Sang Kusir   Bab 194 Racun Sihir

    Pertemuan keluarga kerajaan masih tetap berlangsung di mana raja Evandaru belum menemukan jalan keluar untuk bisa menyelesaikan pertikaian.Harapan satu-satunya sekarang adalah Arga mau membantu mereka, namun sampai saat ini Arga belum memberikan jawaban.“Bagaimana tuan Arga?” tanya raja Evandaru menegaskan.“Jika perang ini berakhir dengan kemenangan, aku menginginkan kerajaan Balkan menghapus sistem kasta dan memperbolehkan masyarakat kecil tinggal di kota raja,” ungkap Arga.“Raja yang besar bukan dia yang memiliki kekuatan dan harta tidak terbatas, tetapi mereka yang mampu membangun negeri untuk kesejahteraan rakyat tanpa harus memiliki kesenjangan,” sambung Arga.“Kaya boleh, tetapi sikap saling menghargai dan peduli sesama wajib ditanamkan kerena itu akan mampu membangun kekuasaan yang kokoh dan tidak terkalahkan,” jelas Arga.Antonio membuka mulutnya lebar tidak percaya Arga berani mengungkapkan semua itu di depan penguasa Balkan.Sementara Mutiara Sendayu hanya mengerutkan ke

  • Sang Kusir   Bab 193 Permintaan Kerajaan Balkan

    “Apa maksudmu putriku?” tanya raja Evandaru mengerutkan kening.Tidak hanya raja, tetapi semua pembesar kerajaanpun sama-sama mengerutkan kening tidak mengerti dengan ucapan Elenio.Arga memang sorang pahlawan dan kesaktria sakti, tetapi urusan strategi perang, raja Evandaru tidak yakin terhadapnya.Tetapi putri Elenio segera menghampiri raja dan membisikan sesuatu yang membuat mulut ayahnya terbuka lebar.“A—apa kau yakin dengan itu putriku?” tanya raja Evandaru terbata.“Benar ayah,” jawab putri Elenio pelan.“Begitu rupanya, berarti kita benar-benar kedatangan tamu agung,” raja Evandaru tersenyum lebar.Lady Geffie juga tidak melepaskan pandangan terhadap Arga, dia yakin Arga bukanlah pemuda seperti yang terlihat.Hatinya mengatakan Arga adalah orang besar yang sengaja bersembunyi dibalik kesederhanaan.Terlepas dari hatinya yang selalu bergetar terhadapnya, Lady Geffie sangat berharap Arga dapat membantu keluarganya yang kini sedang di sekap.Gadis itu sudah tidak peduli lagi deng

  • Sang Kusir   Bab 192 Pertemuan Kerajaan

    “Siapa kau anak muda? Beraninya datang ke istanaku tanpa izin,” bentak raja Evandaru.Hampir 500 pasukan kesatria sudah siap bertarung mengepung Arga dan Mutiara Sendayu di mana sepasang muda-mudi itu masuk istana kerajaan tanpa permisi.Para bangsawan yang di bawa Rhobinson memang sama melarikan diri ke wilayah istana. Tetapi mereka belum tiba karena dihadang pasukan penjaga gerbang membuat sosok Arga dan Mutiara Sendayu tidak ada yang mengenali.“Cepat katakan! Atau pasukanku akan membinasakanmu di sini,” kembali raja Evandaru berteriak.Arga dari tadi tidak menjawab karena sedang mengamati situasi, dia khawatir masih ada pengkhianat di dalam istana yang akan membocorkan situasi istana kepada aliran bangsawan bergelar.Setelah yakin yang berada di sana adalah orang-orang kepercayaan raja Evandaru, dia segera mengibaskan tangannya membuat putri Elenio dan yang lain seketika muncul di hadapan semua orang.500 pasukan kesatria serentak mundur terkejut bukan buatan, sementara raja Evand

  • Sang Kusir   Bab 191 Petikaian Rumah Lelang bagian 3

    “Di mana ini? Apa kita tiba-tiba berpindah ke sebuah hutan?” Duke Ega panik karena mendapat dirinya tiba-tiba berada di sebuah hutan yang gelap.Arga memang sengaja membawa mereka ke sisi lain dunia dimensi gelang pusaka kerena tidak ingin siapa pun mengetahui letak penyimpanan harta miliknya.Setelah berhasil mengamankan orang-orang penting, pemuda itu segera mengirimkan pesan suara.“Kalian sekarang sedang berada di dunia dimensi milikku, tetap tenang di sana karena ini tidak akan lama. Antonio, gunakan pedangmu untuk penerangan,”“Tuan Arga?” gumam Antonio.Sring!Untuk pertama kalinya Antonio mencabut pedang tersebut di mana sedari tadi, dirinya tidak menggunakannya karena Antonio tidak suka bertarung.Lelaki kerdil itu hanya mengandalkan perlindungan Mutiara Sendayu tanpa sekalipun menghadapi musuh.“Anda?” seru Duke Ega terkejut mendapati Antonio ada bersamanya.“Benar tuan, aku adalah bawahan dari tuan Arga,” jawab Antonio sopan.“Apa yang terjadi dengan kita?” tanya Lady Eleni

  • Sang Kusir   bab 190 Pertikaian Rumah Lelang bagian 2

    Hampir 200 penyihir serentak merapalkan mantera menyerang Arga dengan energi sihirnya.Cahaya jingga berlesatan dari berbagai sisi dengan kecepatan tinggi mengincar tubuh Arga berniat membunuhnya.“Hahaha, trik yang sama tidak akan berguna padaku,” Arga tertawa kecil.“Hasrat perang tahap 6, jirah dewa perang!” teriaknya lantang.Energi biru seketika menyeruak membentuk baju perang sangat indah membuat mata semua orang terpana melihatnya.Tidak hanya para kesatria yang sedang bertarung saja, tetapi semua pembesar bangsawan bergelar juga ikut terpana menyaksikan Arga.Apa yang dilakukannya sungguh ajaib layaknya seorang dewa sehingga mereka mulai bertanya-tanya siapa Arga sebenarnya.Setiap cahaya jingga dari energi sihir mengenai tubuh Arga, cahaya itu akan langsung terpental kesembarang arah mengenai beberapa kesatria musuh hingga mereka tewas dalam waktu singkat.“Pusaka macam apa yang dipakainya? Itu sungguh indah sekali,” ungkap Durori melebarkan mata.“Aku harus mendapatkan pusak

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status