หน้าหลัก / Fantasi / Sang Kusir / Bab 4 Tiga Putri Jahat

แชร์

Bab 4 Tiga Putri Jahat

ผู้เขียน: Pujangga
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-15 20:29:36

Di dalam istana kerajaan Bunisora, raja Balwa Sora tengah marah besar kepada semua punggawa penjaga kaputren.

Selain para punggawa yang berjumlah ratusan, di sana juga terdapat permaisuri dan ke tiga putrinya yang lain.

Permaisuri tampak cemas memikirkan nasib putri Anandya yang hilang entah ke mana.

“Tidak berguna! Jika sampai tengah malam nanti putriku belum kembali, maka kalian semua akan berakhir di tiang gantungan,” bentak Raja Balwa.

Selain kepada punggawa, raja juga menanyai ke-tiga putrinya yang lain, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan putri Anandya.

“Kakak macam apa kalian? Menjaga satu adik saja tidak becus,” hardik raja Balwa kesal.

“Ma-maafkan kami ayahanda, kami sungguh tidak tahu, dinda Anandya tadi siang memang masih ada di kamarnya,” jelas putri Ardani Sora.

Dia merupakan putri sulung dari raja Balwa, sehingga bagaimanapun ini semua merupakan tanggung jawabnya.

“Sudah kanda, ini semua bukan salah mereka, kita berharap saja semoga putri Anandya tidak apa-apa,” ucap permaisuri menenangkan.

“Kau jangan terlalu memanjakan mereka dinda, putri-putri kita sudah dewasa, biarkan mereka bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri,” ungkap raja Balwa sembari melayangkan tatapan kesal.

Tidak lama, seorang prajurit jaga pintu gerbang berlari masuk istana dengan tergesa.

“Ampun baginda, tuan putri Anandya telah kembali,” ungkap sang prajurit seraya berlutut.

“Apa? Di mana? Cepat bawa dia kemari,” raja Balwa terkejut senang.

Baru saja prajurit itu akan undur diri menemui putri Anandya, seorang gadis cantik telah masuk ke dalam istana.

“Aku di sini ayahanda, maaf karena telah membuat kalian khawatir,” ucap putri Anandya menundukan wajah.

“Putriku!” seru raja Balwa dan permaisuri secara bersamaan.

Keduanya segera berlari dan mendekap tubuh putri Anandya sangat erat.

“Apa kau tidak apa-apa Ayu? Apa kau terluka? Di mana? Bagaimana kondisimu?” tanya sang raja panik.

“Aku baik-baik saja ayahanda, anda jangan khawatir,” jawab putri Anandya lembut.

“Syukurlah, ayo istirahat di kamarmu, ibunda akan mengirim para abdi dalem untuk membersihkan tubuhmu, dan kau juga pasti laparkan? Ayo ikut bunda,” permaisuri berkata lembut.

Dia segera membawa putri Anandya bersamanya menuju kaputren. Begitu juga dengan raja Balwa, ayah 4 putri itu mengikuti dari belakang meninggalkan para punggawa yang masih menunduk cemas.

Sementara ke-tiga putri yang lain tampak kecewa atas kepulangan adiknya, mereka berbisik saling menyalahkan satu sama lain.

“Ini salahmu Ka Ardani, andai tadi kau langsung membunuhnya, mungkin dia tidak akan pernah kembali,” ungkap putri Kanaya Citra.

“Kurang ajar! Berani menyalahkanku, bukankah tadi dinda Damayanti yang mengasihaninya,” sergah putri Ardani tidak terima.

“Apa? Aku? Enak saja, dinda Citra sendiri yang tidak tega melihat pembunuhan, bukankah kau tadi bilang begitu kepadaku dinda?” ungkap putri Damayanti pada adiknya Citra.

“Sudah, sudah! Dia masih hidup pasti ada yang menolongnya, tidak mungkin putri sialan itu dapat selamat begitu saja,” kata Putri Ardani.

“Kaka benar, tapi siapa yang menolongnya?” tanya putri Kanaya Citra.

“Itu yang harus kita cari tahu,” jawab putri Ardani.

Mereka selanjutnya berlalu meninggalkan istana menuju kediaman putri Ardani dimana dari semua putri, hanya dialah yang memiliki kediaman sendiri.

“Panggil senopati Rajo ke sini!” teriak putri Ardani pada salah satu abdi dalemnya.

“Sendiko putri.” Angguk abdi dalem tersebut, dia segera berlari menuju wilayah kediaman para senopati.

Tidak berselang lama, seorang pria tinggi berwajah garang tiba di kaputren putri Ardani.

“Rencana kita gagal paman Rajo, apa anda tahu siapa yang menyelamatkannya?” tanya Ardani.

“Aku juga sudah mendengarnya putri, tidak kusangka dia mampu selamat dari dalam hutan angker itu,” senopati Rajo menggeleng, “Menurut telik sandi, dia pulang bersama seorang pegawai rendahan pengurus kuda,” ungkap senopati Rajo kemudian.

“Pengurus kuda? Bukankah hanya ada satu orang yang bekerja di sana? Sial, si pemuda dekil itu ternyata telah ikut campur masalah kita,” putri Damayanti mengepalkan tangan.

“Aku tidak mau tahu, beri dia pelajaran, tapi ingat! Jangan sampai mati, jika ayahanda mendengar dia tewas, maka urusan ini akan semakin rumit,” kata putri Ardani memberi perintah.

“Baik putri! titah anda akan segera hamba laksanakan,” senapati Rajo menunduk, kemudian dia undur diri dan segera pergi menuju kandang kuda.

Di kandang kuda, Arga baru saja selesai membersihkan kotoran kuda, sementara Liwa sudah beristirahat lebih dulu.

Arga tengah berjibaku membereskan semua peralatan kerjanya, pakaian lusuhnya semakin terlihat kumuh terkena kotoran kuda.

Keringat bercucuran di seluruh tubuh dimana pekerjaan yang Arga lakukan sungguh berat dan menjijikan, dan dia mengerjakannya hanya seorang diri.

Terlihat wajah penat pemuda itu seperti menggambarkan lelah yang tidak terkira, tetapi Arga selalu menjalaninya dengan tulus.

Baru saja dia akan beristirahat, sang punggawa Kantil anak buah kepala kandang kerajaan datang dengan wajah kesal karena baru saja dia mendapat tugas berat mengambil air untuk mengisi kolam pemandian putri Kanaya Citra.

Tidak mau bersusah payah dan mandi keringat, Kantil berniat memberikan tugas itu kepada Arga.

“Berhenti di sana pemalas!”  teriak punggawa Kantil.

“Tuan!” sapa Arga mengerutkan kening.

“Hahaha, bangsat! Kau jangan menatapku seperti itu sialan,” bentak Kantil sembari menampar Arga dengan sangat keras, membuat pemuda itu terhuyung ke samping.

“A-a—apa salahku tuan?” tanya Arga terbata.

Arga memegangi sebelah pipinya yang terasa sakit, kemudian menyeka sudut bibirnya karena mengucurkan darah.

“Sudah! Jangan banyak tanya, sekarang tugasmu adalah mengisi kolam pemandian di kaputren kerajaan, cepat lakukan atau kau tahu sendiri akibatnya,” teriak punggawa Kantil.

“Ta-ta-tapi tuan? Bu-bukankah tugasku …. Aaah, ukhuk!” Arga mendapat tendangan keras di dadanya.

Pemuda itu terpundur sejauh 5 langkah sebelum akhirnya jatuh menghantam tanah dengan posisi terlentang.

“Sudah kukatakan jangan banyak tanya! Dasar pemalas! Kau tuli atau sengaja ingin kupukuli?” kembali Kantil membentak Arga.

“Ba-baik tuan Kantil, ma-ma-maafkan aku,” ucap Arga terbata.

Arga tidak bisa melawan karena sadar siapa dirinya di sana, andaipun melawan, Arga hanya akan berakhir lebih buruk di tiang gantungan.

Dia-pun perlahan bangkit seraya memegangi dadanya.

Namun ada yang aneh dengan tubuh Arga sekarang, dimana setiap rasa sakit dari pukulan Kantil tiba-tiba saja lenyap dalam waktu singkat.

Membuat Arga bertanya-tanya pasti ada yang salah dengan tubuhnya?

“Aneh! apa mungkin ini karena penyakit yang aku derita semalam?” gumam Arga di dalam hati.

“Ayo ikuti aku! Kita menuju kaputren kerajaan,” seru Kantil tidak peduli.

Baginya, asal Arga tidak mati, dia berhak menghakimi Arga sesuka hati.

Empat tahun menjadi penjaga kandang kuda, Kantil memperlakukan Arga lebih buruk dari seorang budak.

“Ba-ba—baik tuan,” ujar Arga mulai melangkah mengikuti sang punggawa di belakangnya.

**

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Sang Kusir   Bab 195 Campur tangan dewa

    “Siapa dia? apa putra mahkota Lingga Hiang juga merupakan alkemis?” tanya raja Evandaru pada putri Elenio.“Dia Argadanta Niskala Candra, putra tunggal dari Maha Prabu Niskala Jayanata. Kedatangannya memang sebuah kejutan, ayah. Dia memiliki begitu banyak harta dan mampu membunuh 8000 kesatria pasukan aliansi,” tutur putri Elenio membeberkan semua tentang Arga pada ayah-nya.“Kabar tentang kesaktian orang-orang Benua Utara memang bukan isapan jempol belaka,” gumam raja Evandaru.“Lantas mengapa dirimu tidak bisa membaca pikirannya?” tanya raja Evandaru kemudian.“Entahlah, mungkin karena energi batin tuan Arga terlalu besar. Kita tidak tahu entah sesakti apa dia sebenarnya,” jawab putri Elenio.“Jangan lepaskan dia, ayah akan sangat senang jika pemuda itu tertarik padamu,” pinta raja Evandaru.Tentu saja putri Elenio langsung merona mendengar itu di mana sedari awal, dia memang sudah menaruh hati kepada Arga.Mendapati ayahnya juga tertarik, putri Elenio seperti mendapatkan dukungan p

  • Sang Kusir   Bab 194 Racun Sihir

    Pertemuan keluarga kerajaan masih tetap berlangsung di mana raja Evandaru belum menemukan jalan keluar untuk bisa menyelesaikan pertikaian.Harapan satu-satunya sekarang adalah Arga mau membantu mereka, namun sampai saat ini Arga belum memberikan jawaban.“Bagaimana tuan Arga?” tanya raja Evandaru menegaskan.“Jika perang ini berakhir dengan kemenangan, aku menginginkan kerajaan Balkan menghapus sistem kasta dan memperbolehkan masyarakat kecil tinggal di kota raja,” ungkap Arga.“Raja yang besar bukan dia yang memiliki kekuatan dan harta tidak terbatas, tetapi mereka yang mampu membangun negeri untuk kesejahteraan rakyat tanpa harus memiliki kesenjangan,” sambung Arga.“Kaya boleh, tetapi sikap saling menghargai dan peduli sesama wajib ditanamkan kerena itu akan mampu membangun kekuasaan yang kokoh dan tidak terkalahkan,” jelas Arga.Antonio membuka mulutnya lebar tidak percaya Arga berani mengungkapkan semua itu di depan penguasa Balkan.Sementara Mutiara Sendayu hanya mengerutkan ke

  • Sang Kusir   Bab 193 Permintaan Kerajaan Balkan

    “Apa maksudmu putriku?” tanya raja Evandaru mengerutkan kening.Tidak hanya raja, tetapi semua pembesar kerajaanpun sama-sama mengerutkan kening tidak mengerti dengan ucapan Elenio.Arga memang sorang pahlawan dan kesaktria sakti, tetapi urusan strategi perang, raja Evandaru tidak yakin terhadapnya.Tetapi putri Elenio segera menghampiri raja dan membisikan sesuatu yang membuat mulut ayahnya terbuka lebar.“A—apa kau yakin dengan itu putriku?” tanya raja Evandaru terbata.“Benar ayah,” jawab putri Elenio pelan.“Begitu rupanya, berarti kita benar-benar kedatangan tamu agung,” raja Evandaru tersenyum lebar.Lady Geffie juga tidak melepaskan pandangan terhadap Arga, dia yakin Arga bukanlah pemuda seperti yang terlihat.Hatinya mengatakan Arga adalah orang besar yang sengaja bersembunyi dibalik kesederhanaan.Terlepas dari hatinya yang selalu bergetar terhadapnya, Lady Geffie sangat berharap Arga dapat membantu keluarganya yang kini sedang di sekap.Gadis itu sudah tidak peduli lagi deng

  • Sang Kusir   Bab 192 Pertemuan Kerajaan

    “Siapa kau anak muda? Beraninya datang ke istanaku tanpa izin,” bentak raja Evandaru.Hampir 500 pasukan kesatria sudah siap bertarung mengepung Arga dan Mutiara Sendayu di mana sepasang muda-mudi itu masuk istana kerajaan tanpa permisi.Para bangsawan yang di bawa Rhobinson memang sama melarikan diri ke wilayah istana. Tetapi mereka belum tiba karena dihadang pasukan penjaga gerbang membuat sosok Arga dan Mutiara Sendayu tidak ada yang mengenali.“Cepat katakan! Atau pasukanku akan membinasakanmu di sini,” kembali raja Evandaru berteriak.Arga dari tadi tidak menjawab karena sedang mengamati situasi, dia khawatir masih ada pengkhianat di dalam istana yang akan membocorkan situasi istana kepada aliran bangsawan bergelar.Setelah yakin yang berada di sana adalah orang-orang kepercayaan raja Evandaru, dia segera mengibaskan tangannya membuat putri Elenio dan yang lain seketika muncul di hadapan semua orang.500 pasukan kesatria serentak mundur terkejut bukan buatan, sementara raja Evand

  • Sang Kusir   Bab 191 Petikaian Rumah Lelang bagian 3

    “Di mana ini? Apa kita tiba-tiba berpindah ke sebuah hutan?” Duke Ega panik karena mendapat dirinya tiba-tiba berada di sebuah hutan yang gelap.Arga memang sengaja membawa mereka ke sisi lain dunia dimensi gelang pusaka kerena tidak ingin siapa pun mengetahui letak penyimpanan harta miliknya.Setelah berhasil mengamankan orang-orang penting, pemuda itu segera mengirimkan pesan suara.“Kalian sekarang sedang berada di dunia dimensi milikku, tetap tenang di sana karena ini tidak akan lama. Antonio, gunakan pedangmu untuk penerangan,”“Tuan Arga?” gumam Antonio.Sring!Untuk pertama kalinya Antonio mencabut pedang tersebut di mana sedari tadi, dirinya tidak menggunakannya karena Antonio tidak suka bertarung.Lelaki kerdil itu hanya mengandalkan perlindungan Mutiara Sendayu tanpa sekalipun menghadapi musuh.“Anda?” seru Duke Ega terkejut mendapati Antonio ada bersamanya.“Benar tuan, aku adalah bawahan dari tuan Arga,” jawab Antonio sopan.“Apa yang terjadi dengan kita?” tanya Lady Eleni

  • Sang Kusir   bab 190 Pertikaian Rumah Lelang bagian 2

    Hampir 200 penyihir serentak merapalkan mantera menyerang Arga dengan energi sihirnya.Cahaya jingga berlesatan dari berbagai sisi dengan kecepatan tinggi mengincar tubuh Arga berniat membunuhnya.“Hahaha, trik yang sama tidak akan berguna padaku,” Arga tertawa kecil.“Hasrat perang tahap 6, jirah dewa perang!” teriaknya lantang.Energi biru seketika menyeruak membentuk baju perang sangat indah membuat mata semua orang terpana melihatnya.Tidak hanya para kesatria yang sedang bertarung saja, tetapi semua pembesar bangsawan bergelar juga ikut terpana menyaksikan Arga.Apa yang dilakukannya sungguh ajaib layaknya seorang dewa sehingga mereka mulai bertanya-tanya siapa Arga sebenarnya.Setiap cahaya jingga dari energi sihir mengenai tubuh Arga, cahaya itu akan langsung terpental kesembarang arah mengenai beberapa kesatria musuh hingga mereka tewas dalam waktu singkat.“Pusaka macam apa yang dipakainya? Itu sungguh indah sekali,” ungkap Durori melebarkan mata.“Aku harus mendapatkan pusak

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status