LOGIN“Putri Anandya memang tidak bercerita, tapi aku tahu pasti sedang ada yang mencoba mencelakainya, cari dia! Siapa pun orangnya dia harus menerima hukuman berat,” kata Raja Balwa kepada patihnya.
“Sendiko Baginda, pembunuh ini pasti akan ditemukan,” patih Taruma Jati berlutut.
“Ingat! Ini adalah tugas rahasia, jangan biarkan siapa pun mengetahuinya, termasuk keluarga kerajaan,” sambung raja Balwa.
“Hamba mengerti baginda,” patih Taruma Jati mengangguk.
Mereka sedang berada di ujung hutan kerajaan, raja Balwa Sora sengaja menemui patihnya secara rahasia karena menduga sedang ada yang menginginkan kematian putri bungsunya.
Sebagai raja, Balwa Sora merupakan orang yang bijak, tetapi karena ulah ketiga putrinya, raja Balwa sangat buruk di mata rakyat.
Di mana tanpa sepengetahuan raja, putri Ardani memberi perintah kepada seluruh adipati agar menarik pajak sangat besar dari rakyat.
Membuat kehidupan rakyat begitu sengsara dan berada dalam kemiskinan.
Tidak ada yang berani membocorkan informasi ini kepada raja karena siapa pun pasti akan berakhir tewas di bunuh oleh pasukan putri Ardani.
**
Di dalam gubuk reyot di belakang kandang kuda kerajaan, Arga tengah terbaring seharian karena terluka parah.
Sementara tugasnya digantikan oleh punggawa Kantil bersama 6 anak buahnya.
Kejadian malam kemarin menjadi tanda tanya besar bagi punggawa Kantil.
Dia tidak mengerti entah mengapa banyak orang yang menginginkan kematian Arga.
Beruntung waktu itu dirinya keburu bangun dari pingsan, sehingga langsung menemui prajurit jaga dan berhasil menyelamatkan Arga.
Berita penyerangan Arga secara cepat tersebar luas di wilayah kerajaan.
Hampir semua orang tahu bahwa ada kelompok yang mencoba membunuh Arga, namun tidak ada seorang pun yang peduli terhadapnya. Di mana bagi mereka Arga tidak lebih dari sampah.
“Bagaimana keadaan dia sekarang, tuan Kantil?” tanya salah satu pegawai rendahan yang kini sedang menggantikan tugas Arga.
Mereka saat ini berada di padang rumput tidak jauh dari gerbang kerajaan.
“Malam kemarin dia terluka sangat parah, tapi ada yang aneh, luka-luka itu sembuh dengan cepat, namun entah mengapa sampai saat ini dia masih tidak sadarkan diri,” jawab Kantil sembari menengadah ke atas langit.
“Sepertinya anda sangat peduli terhadapnya?”
“Hahaha, tentu saja aku peduli, jika dia tewas, apa kalian mau bekerja seperti ini sepanjang hidup?”
Mendengar itu, para pekerja rendahan tersebut serentak menggeleng.
Mereka adalah abdi kerajaan yang bekerja menjaga para kuda, seharusnya mencari pakan dan merawat kuda adalah tugas mereka.
Namun setelah ada Arga, tugas itu dilimpahkan kepadanya, sementara mereka hanya asyik menghabiskan waktu di tempat perjudian.
Sedangkan punggawa Kantil adalah kepala prajurit yang bertugas menjaga keamanan di kandang kuda.
Selain 6 pegawai rendahan yang bersamanya, dia juga memiliki 20 prajurit bawahan, dan sekarang mereka diberi tugas untuk menjaga Arga di luar gubuknya.
“Sudahlah, cepat selesaikan tugas kalian, setelah ini bersihkan kotoran kuda dari kandang,” seru punggawa Kantil.
“Baik tuan,” jawab mereka serentak.
Namun jauh di dalam hati, ke-enam pegawai rendahan itu terus saja mengutuki Arga.
“Sial, gara-gara si pecundang itu aku jadi bekerja berat seperti ini, awas saja jika sudah sembuh, hmmm,” umpat salah satu dari mereka kesal.
“Benar, kita harus memberi dia pelajaran setelah ini,” tanggap yang lain.
“Kita tunggu saja sampai dia pulih, setelah itu baru kita buat perhitungan,” pegawai rendahan berbadan kurus mengepalkan tangan, sementara punggawa Kantil saat ini sedang berada di dekat gerobak rumput masih menengadah ke atas langit.
Entah mengapa hatinya kali ini sedikit goyah.
Melihat bagaimana kondisi Arga setelah dipukuli oleh para pendekar tingkat tinggi, ada sedikit rasa iba di hatinya.
**
“Hahaha, kemampuanmu cukup mumpuni anak muda, tapi untuk membunuhku? Kau masih perlu berlatih 100 tahun lagi.”
“Cih! Jumawa kau Bursa Sana, meskipun harus mati, aku tidak akan mundur darimu.”
“Hahaha, bodoh! Seharusnya kau bisa mengukur diri, dasar bocah!”
Seorang pendekar sepuh berpakaian serba hitam menatap dingin pada seorang pemuda tampan berusia sekitar 16 tahun.
Ada rasa kekaguman di hati-nya tatkala melihat kegigihan pemuda itu.
Terlebih dia memiliki bakat ilmu beladiri yang sangat jarang ditemukan pada manusia lain.
Keduanya saat ini tengah melayang di atas langit dengan menggenggam senjata masing-masing.
Sang pemuda telah mendapatkan banyak luka di tubuhnya, darah merah mengalir berjatuhan menghujani daratan, namun dia tetap tidak menyerah.
Sementara sang pendekar sepuh berpakaian hitam masih terlihat bugar tanpa mendapatkan luka sedikit pun.
“Peduli setan dengan diri, hari ini akan kubuktikan aku mampu menghabisimu,” sang pemuda tampan mulai kembali mengalirkan tenaga dalamnya pada pedang, membuat senjatanya seketika dilapisi cahaya kuning berhawa panas.
Sementara di belakang punggungnya, 10 pedang lain melayang dengan warna aura yang sama.
Melihat itu, sang pendekar sepuh juga kembali melapisi senjatanya menggunakan tenaga dalam. Dia sangat berhati-hati menghadapi pemuda di depannya.
Meski musuhnya kali ini masih sangat belia, tetapi dia memiliki kemampuan yang unik hingga bisa saja membahayakan nyawanya.
“Ayo Bursa Sana, kita akhiri pertarungan ini!”
“Hahaha, bukan aku, tapi nyawamu yang akan berakhir,” pendekar sepuh tertawa.
Tanpa menunggu lagi, sang pemuda langsung melesat dengan kecepatan tinggi, gerakannya sungguh cepat hingga sulit diikuti mata.
Namun Bursa Sana bukanlah pendekar sembarangan, dia merupakan dedengkot golongan hitam yang sudah 100 tahun melanglang buana di dunia persilatan.
Dengan tenang Bursa Sana membacakan mantera mengeluarkan jurus tertinggi yang dia miliki.
“Pedang elang!” seru sang pemuda sembari memukulkan telapak tangan kirinya ke depan, membuat 10 pedang yang tadi melayang di belakang punggungnya seketika melesat menyerang Bursa Sana.
“Sial! Jurus itu lagi,” umpat Bursa Sana.
“Kibasan badai, pedang pembelah langit!” teriak Bursa Sana.
Satu demi satu pedang kuning milik sang pemuda ditangkis olehnya.
Seperti memiliki pikiran sendiri, pedang-pedang itu menyerang mengincar titik vital musuh dari berbagai arah.
Tetapi Bursa Sana berhasil mengatasi semuanya, dia bergerak seperti bayangan menghancurkan pedang musuh satu persatu.
Setiap pedang yang bersentuhan dengan senjatanya akan langsung patah menjadi beberapa bagian, tidak terkecuali pedang kuning milik sang pemuda, sehingga pada akhirnya pedang itu habis berjatuhan ke daratan.
“Jurus bumi tahap 9, tebasan penghancur gunung!” teriak pemuda tampan memberikan serangan terkuatnya.
Selarik energi berwarna kuning berukuran besar melesat hampir saja menghantam Bursa Sana, beruntung dia segera menyadari serangan itu. Jika tidak, kemungkinan tubuhnya akan hancur menjadi serpihan daging.
“Gelombang dari neraka, jurus akhir penghakiman!” teriak Bursa Sana.
Dia langsung mengayunkan pedangnya tepat ke arah serangan energi milik sang pemuda.
Selarik cahaya merah besar bahkan lebih besar dari cahaya kuning melesat dengan kecepatan tinggi.
Dua serangan kuat bertemu di ketinggian, menciptakan ledakan maha dahsyat yang menggelegar.
Langit seakan mau runtuh waktu itu juga, petir dan angin badai seketika tercipta entah dari mana.
Sebelum gelombang besar dari ledakan menyeruak ke segala arah melenyapkan semuanya.
Bursa Sana terpental sejauh 400 meter ke belakang, dia terkena luka dalam yang cukup parah hingga tiga kali memuntahkan darah hitam.
Bahkan di dadanya terdapat luka robek yang sangat besar, menganga mengucurkan banyak darah.
Sementara sang pemuda tampan jatuh ke daratan, terperosok ke dasar tebing curam yang sangat tinggi, hingga siapa pun percaya dia pasti akan tewas.
“Aaaaaah ….” Sang pemuda berteriak keras sebelum akhirnya suara itu hilang di telan bumi.
Arga bangun dari pembaringannya dengan mata terbelalak penuh ketakutan, keringatnya bercucuran membasahi seluruh tubuh.
Nafasnya naik turun sedikit tertahan, “Hah, hah, hah!” Arga terengah-engah berusaha menguasai diri, “Mimpi itu lagi, me-me—mengapa terus saja menghantuiku?” gumam Arga menyeka keringat di keningnya.
**
“Ini …?” Arga terkejut mendapati tubuhnya tidak bisa berdiri.Bukan karena luka atau tulang Arga pernah patah, tetapi sama seperti di bukit terlarang, di sana terdapat suatu energi yang menarik tubuh Arga hingga terasa sangat berat.“Ini bahkan jauh lebih berat ratusan kali lipat dari energi bukit terlarang,” gumam Arga.Beberapa kali Arga mencoba bangkit, tetapi selalu saja gagal, dia kembali terjatuh dan terjatuh lagi, sampai pada akhirnya, Arga memilih pasrah berbaring di lantai ranting.“Tempat macam apa ini? Mengapa tekanan di sini begitu sangat berat,” gumam Arga.Selanjutnya dia memandangi wajah Mutiara Sendayu yang amat teramat cantik, Arga tersenyum sembari menggeleng.Pemuda itu tidak menyangka akan terjebak di tempat seperti ini bersama gadis yang pernah merepotkannya.Kemudian dia teringat janjinya kepada Karnia saat gadis itu akan meninggal, membuat Arga segera kembali bangkit.Dia tidak bisa menyerah pada alam, janji adalah janji, sesuatu yang harus Arga penuhi.“Benar!
Di atas sebuah pohon setinggi 300 meter terdapat sebuah gubuk kayu yang cukup besar.Dinding dan atapnya terbuat dari kulit pohon yang sangat lebar, semetara lantainya terbentuk dari tumpukan ranting kering.Arga dan Mutiara Sendayu dibaringkan secara berdampingan, sementara seluruh tubuh mereka dibalut dengan tanah liat hingga menyerupai kepongpong.Tidak jauh dari tempat mereka, seorang pria tampan bertelinga runcing tengah asyik menyantap daging tikus mentah dari hasil buruannya.Ternyata Arga dan Mutiara Sendayu dibawa ke sana untuk diobati, tetapi entah mengapa cara mereka dibawa dan diobati sungguh sangat aneh.Setelah selesai menyantap daging tikus mentah, sang pria tampan lantas menghampiri tubuh Arga dan Mutiara Sendayu.“Siapa kalian? Mengapa bisa sampai ke tempat seperti ini?” gumam pria tampan.Beberapa kali dia mengerutkan kening merasa heran memikirkan Arga dan Mutiara Sendayu.Selama ribuan tahun, tidak pernah ada satupun manusia yang bisa mencapai tempat ini.Hutan kem
Gagalnya membawa Mutiara Sendayu membuat sesepuh perguruan Walet Darah sangat marah.Meski mereka mendapatkan pusaka selendang sutra, tetapi tanpa darah gadis berambut merah hanya kesia-siaan di mana pusaka tersebut tidak dapat di gunakan.Alih-alih mendapatkan pujian atau hadiah dari sesepuh Walet Darah, Kala Hitam bersama Boyojogo dan teman-temannya malah mendapatkan hukuman berat.Mereka dikurung dengan tubuh terikat rantai berduri membuat darah mereka terus menetes masuk ke dalam wajan batu berukir aksara segel aneh.Mereka tidak dapat menolak atau meronta karena ini adalah hukum Walet Darah.Siapa pun yang berhasil melalui hukuman tersebut selama 40 hari, maka mereka akan dibebaskan.Sementara darah mereka akan dipersembahkan kepada ratu sihir kegelapan sebagai tumbal kegagalan tugas.Bukan hanya gagal, tetapi Kala Hitam juga telah menghilangkan 5000 prajurit kuat perguruan mereka membuat perguruan Walet Darah mengalami kerugian besar.“Penjaga, tolong bebaskan kami. Bukankah kam
“Hewan siluman? Sial!” Kala Hitam kembali mundur menjauh.Dia tidak percaya mengapa bisa ada hewan siluman di perguruan sebesar Sayap Dewa.Tetapi pandangan Boyojogo dan ke 4 ketua pengkhianat tiba-tiba langsung berubah buruk karena ingat di sini adalah bukit terlarang.“Sial! Dia menjebak kita masuk ke sarang siluman,” teriak Boyojogo.“Sarang siluman?” tanya Rakean yang juga terkejut.“Benar, Ki Elang Sakti selain pendekar tanpa tanding, dia juga merupakan pawang hewan siluman. Orang tua itu mengumpulkan banyak siluman hanya untuk di pelihara,” tutur Boyojogo sembari mundur menjauh.“Hahaha, bodoh! Seharusnya kalian menyadari lebih awal,” Arga tertawa terbahak-bahak sementara mulutnya masih saja mengeluarkan darah.Ukhuk!“Sial! Lukaku terlalu parah,” umpat Arga kemudian.Selanjutnya dia memasang posisi bersila untuk memulihkan diri, sementara musuh mulai bertarung melawan ratusan hewan siluman yang baru saja tiba.Ayam berbulu api, singa loreng, kura-kura bertaring setinggi 5 meter
“Sial!” umpat Yamandaru yang merasakan musuh tiba-tiba berada di sana.Sring! Cruaaat! Aaaaaa!Punggung Yamandaru terkena sayatan pedang hitam meninggalkan luka terbuka yang kini mengucurkan banyak darah.Beruntung dia masih sempat menendang angin untuk menghindar, andai Yamandaru tidak bergerak, kemungkinan tubuhnya akan terbelah menjadi dua.Ketua perguruan Walet Darah itu segera turun ke daratan untuk memulihkan diri sementara Arga di hadapi oleh Kala Hitam dan Rakean.Trang! Trang! Trang!Suara pedang beradu di udara. Melawan dua orang secara bersamaan membuat Arga dengan cepat terdesak.“Gelombang kepakan sayap!” teriak Kala Hitam.Dia memanfaatkan situasi saat Arga sedang bertarung dengan rakean.Gelombang energi kuat melesat tepat mengenai tubuh Arga.Bummmm! Aaaaa!Ledakan besar terjadi melemparkan tubuh Arga sejauh 300 meter. Arga jatuh ke daratan dan berhenti setelah menghantam batuan besar membuat batu tersebut langsung hancur menjadi serpihan.Ukhuk!Arga memuntahkan darah
“Kita akan pergi ke mana Arga?” tanya Mutiara Sendayu. Mutiara Sendayu tidak bisa menentukan arah dari atas langit karena ini merupakan kali pertama dia terbang.“Kita akan masuk ke wilayah perguruan Sayap Dewa, di sana ada tempat yang bagus untuk menjebak mereka,” jawab Arga.“Tunggu dulu! Dari mana kau tahu namaku?” tanya Arga kemudian.“A-a—aku menanyakan ke salah satu ketua di Sayap Dewa,” jawab Mutiara Sendayu malu-malu.“Menanyakan?” desak Arga.“Be-be—benar,” jawab Mutiara Sendayu terbata.Gadis itu tidak mungkin berterus terang bahwa dia dari awal sudah penasaran dengan sosok Arga.Bahkan saat di gedung perawatan pun Mutiara Sendayu sengaja diam-diam ke sana hanya untuk melihat keadaan Arga.Namun siapa sangka, kehadirannya di gedung perawatan malah mengulang kejadian yang sama.Lagi-lagi bibirnya kembali bersentuhan dengan bibir Arga, membuat Mutiara Sendayu semakin bertanya-tanya mengapa ini bisa ternjadi?Dia tahu semua yang terjadi dengannya adalah sebuah kebetulan, tetapi







