LOGINArga terus mengayuh rakit bergantian bersama Jantaka hingga tidak terasa sudah 4 hari mereka berada di atas danau Panenjoan.Hari pertama sampai hari ke 3 cuaca di atas danau masih nyaman. Meski sedikit mendung dan hujan gerimis, rombongan Arga masih tetap bisa menikmati perjalanan.Tetapi ketika memasuki hari ke 4, angin badai mulai bergemuruh di atas langit menciptakan gelombang air cukup besar membuat rakit yang mereka tumpangi terombang-ambing kesana-kemari.Selain badai, hujan lebat disertai guntur juga turun mengguyur permukaan danau dengan sangat deras sehingga Arga dan Jantaka tidak lagi bisa mendayung rakit dari luar.“Hahaha, beruntung rakit ini memiliki gubuk, jika tidak kemungkinan kita akan kebasahan,” Jantaka tertawa senang di depan api unggun yang menyala.Ariani di sana sedang membakar daging rusa untuk mereka santap, sementara Arga tengah menyisir rambut Liwa menggunakan jari-jemarinya.Dua kuda lain juga ikut dimasukan ke dalam gubuk karena di luar terlalu berbahaya.
Gerhana total berakhir saat hampir menjelang pagi, waktu itu Arga sudah kembali kedaratan. Sementara raja Udawa dan pasukannya kembali ke dunia lelembut.Arga menerima hadiah berupa gelang pusaka berbentuk kelat bahu dari raja Udawa.Awalnya dia menolak karena mengenakan gelang kelat bahu sama saja dengan membuka jati dirinya sebagai seorang putra mahkota.Tetapi ketika raja Udawa menjelaskan bahwa gelangnya dapat berubah bentuk menjadi apa pun yang diinginkan Arga, pemuda itu dengan terpaksa menerimanya.Arga mengenakan gelang tersebut di jari manisnya sebagai cincin kecil yang mirip seperti kayu agar tidak menarik perhatian orang lain.Mendapati gelang pusaka raja Udawa benar-benar bisa berubah bentuk, Arga mulai merasa senang dan menyukainya.Gelang pusaka itu adalah gerbang gaib penghubung antara Arga dengan raja Udawa, sehingga Arga dapat memanggil pasukan bangsa Kumbolo kapan pun dirinya menghendaki.“Mentari sudah muncul dicakrawala, apakah kau akan membiarkan Ariani tetap sepe
“Ke-ke—kekuatan macam apa ini?” gumam salah satu panglima terbata.Tubuhnya terasa berat sekali seakan ditimpa sebuah gunung membuat dia sulit berdiri.Sementara semua prajurit sudah sedari tadi menjerit kesakitan tidak tahan dengan tekanan energi tersebut.Raja Udawa sampai harus menggunakan seluruh energinya untuk dapat tetap berdiri.Keningnya berkerut menatap lekat ke dalam danau tempat aura mengerikan itu berasal.“Ayo Liwa, kita menghindar!” teriak Jantaka mengajak sang kuda putih.Pemuda itu merasa heran dengan semua makhluk lelembut karena dia sendiri tidak merasakan apa-apa.Mendengar seruan dari Jantaka, Liwa dengan cepat melesat menuju tepian danau.“Oak, Oak!” teriak Liwa.“Kuda itu? Aku yang mengajaknya mengapa dia yang pergi lebih dulu,” umpat Jantaka sembari melesat mengejar Liwa.Air danau kini mulai bergejolak mengepulkan asap tipis ke udara membuat semua pasukan bangsa Kumbolo semakin menderita.Tidak lama dari itu seorang pemuda dengan tubuh memancarkan cahaya merah
Jantaka lagi-lagi melebarkan mata menyaksikan Liwa, dia semakin nyakin bahwa kuda itu bukanlah makhluk sembarangan karena tidak ada satupun kuda yang mampu bersinar terang seperti Liwa.Mendapati kuda putih yang dia kenal menjelma menjadi makhluk raksasa setinggi 10 meter membuat Jantaka merinding hingga beberepa kali menelan ludah.Tetapi di balik itu, semangat dirinya untuk lebih bekerja keras dalam belajar ilmu kanuragan semakin bergelora.Seperti tersulut bara api, kobaran tekad Jantaka sulit sekali dikendalikan sehingga tanpa sadar sayap dewa miliknya muncul secara tiba-tiba.Wush! Wush!Dua sayap kuning kemerahan yang terbentuk dari api mentari mengepak mengagetkan pemuda itu.“Ini …? Mengapa bisa tumbuh?” Jantaka bingung dengan tubuh-nya.“Tidak mungkin! padahal aku tidak menggunakan jurus,” kembali Jantaka bergumam.Mendapati tubuhnya yang ringan dan harsrat bertarung yang menggebu-gebu, Jantaka lantas melesat ke tengah danau menerjang beberapa makhluk berkulit merah.“Tebasan
Jantaka yang melihat Arga bertarung seorang diri merasa malu dan ingin membantunya. Tetapi mengingat kanuragannya masih lemah, dia kembali mengurungkan niatnya.Arga bertarung di atas langit melawan 4 makhluk setinggi 5 meter. Kekuatan mereka tidak main-main karena berada di tingkat kanuragan kependekaran langit.Cahaya benturan senjata terus memercik menciptakan bunga api besar yang cukup terang membuat Jantaka bisa menyaksikan semuanya.“Sial! Mengapa aku begitu lemah,” keluh Jantaka kesal kepada dirinya sendiri.Tidak lama dari belakang datang seekor kuda yang tiada lain adalah Liwa.“Oak, Oak!” ucap Liwa kepada Jantaka, tetapi pemuda itu hanya bisa mengerutkan kening karena tidak mengerti bahasa Liwa.“Mengapa kau ke sini? Kembali bersama kuda lain, di sini berbahaya,” ujar Jantaka meminta Liwa pergi.Liwa awalnya diikat bersama kuda Jantaka dan Ariani di pinggir hutan bambu untuk beristirahat.Tetapi entah mengapa dia bisa lepas padahal Jantaka sendiri yang mengikatnya dengan kua
“Tunggu dulu! Di mana senjata Ariani, kita tidak bisa meninggalkannya karena itu adalah senjata pusaka dari pedepokan Melati Sakti,” sergah Jantaka.“Bukankah itu hanya senjata, kita bisa mendapatkan senjata lain nanti,” jawab Arga tergesa-gesa.“Kau tidak mengerti, senjata sama halnya dengan anggota tubuh. Jika dia kehilangan senjatanya, mungkin Ariani akan bersedih,” tutur Jantaka.Mendengar itu Arga melirik ke arah pedang hitamnya, “Benar juga, kau adalah anggota tubuhku,” ucap Arga berbicara kepada pedang hitam.“Baiklah, aku akan mengambilkannya,” ungkap Arga membuat Jantaka senang.Arga segera mengangkat salah satu kepalan tangannya ke atas langit, memancarkan cahaya merah terang yang menyebar ke seluruh wilayah.Tidak lama dari itu sebuah pedang indah lengkap dengan sarungnya melesat dari arah goa kaum Kumbolo dan mendarat mulus di tangan Arga.“Sial! Kemampuanmu itu sungguh luar biasa, apa aku bisa mempelajarinya?” tanya Jantaka berdecak kagum.“Hahaha, tidak bisa. Ini kemampu







