LOGINDi dalam gubuk kayu, 300 meter di atas permukaan tanah, Arga begitu senang menikmati daging hiu bakar yang sebelumnya dia panggang di atas batu besar di bibir pantai.Panas sore di sana mampu membakar ikan hiu besar hanya dalam waktu 10 menit saja.Setelah ikan tersebut matang, Zufu membawanya pulang ke gubuk untuk mereka santap di sana.“Huuuuuaaaa, ini nikmat sekali! Aku tidak percaya daging ikan akan memiliki rasa seenak ini,” Arga heboh sendiri dengan terus memasukan daging hiu kemulutnya.“Hahaha, terang saja enak. Hewan laut di sini sudah mengandung garam, jadi selain gurih, daging ikan juga terasa nikmat karena ada rasa asinnya,” Zufu tertawa.“Lalu mengapa kau tidak menangkap ikan saja setiap hari? Bukankah daging tikus itu terasa menjijikan?” tanya Arga sembari terus menikmati makanannya.“Hahaha, itu tidak bisa kulakukan karena cuaca dilaut berubah-ubah dengan cepat,” jelas Zufu.“Dalam satu tahun, hanya terdapat waktu satu bulan laut bisa dikunjungi. Dan tadi adalah hari te
Dua hari berada dihutan kematian, Arga hanya menghabiskan waktu dengan bertapa menyesuaikan tubuhnya dengan alam di sana.Di hari ke 3, Zufu mengajak dia berburu karena melihat Arga sudah mulai bisa berlari cepat.Zufu turun dari gubuk dengan cara melompat, sementara Arga menuruni gubuk menggunakan sebuah tali.Arga tidak dapat melompat karena tulang kakinya pasti akan patah saat mencapai daratan.Di alam kehampaan, tubuh Arga tidak ubahnya seperti seorang anak kecil yang rapuh.Dia juga tidak bisa menggunakan energinya karena sejak masuk jurang tanpa dasar, energi Arga lenyap begitu saja.Zufu mengatakan bahwa di alam kehampaan segala macam energi dari alam manusia tidak akan berguna di mana udara dan semua partikel di sana akan menekan tubuh bahkan sampai ke inti energi.Sementara semua hewan, tanaman, bahkan rerumputan di alam kehampaan mampu menghisap energi kehidupan, membuat Arga harus menghindari mereka.Kecuali ranting kering dan semua yang tidak bernyawa di sana dapat disentu
“Ini …?” Arga terkejut mendapati tubuhnya tidak bisa berdiri.Bukan karena luka atau tulang Arga pernah patah, tetapi sama seperti di bukit terlarang, di sana terdapat suatu energi yang menarik tubuh Arga hingga terasa sangat berat.“Ini bahkan jauh lebih berat ratusan kali lipat dari energi bukit terlarang,” gumam Arga.Beberapa kali Arga mencoba bangkit, tetapi selalu saja gagal, dia kembali terjatuh dan terjatuh lagi, sampai pada akhirnya, Arga memilih pasrah berbaring di lantai ranting.“Tempat macam apa ini? Mengapa tekanan di sini begitu sangat berat,” gumam Arga.Selanjutnya dia memandangi wajah Mutiara Sendayu yang amat teramat cantik, Arga tersenyum sembari menggeleng.Pemuda itu tidak menyangka akan terjebak di tempat seperti ini bersama gadis yang pernah merepotkannya.Kemudian dia teringat janjinya kepada Karnia saat gadis itu akan meninggal, membuat Arga segera kembali bangkit.Dia tidak bisa menyerah pada alam, janji adalah janji, sesuatu yang harus Arga penuhi.“Benar!
Di atas sebuah pohon setinggi 300 meter terdapat sebuah gubuk kayu yang cukup besar.Dinding dan atapnya terbuat dari kulit pohon yang sangat lebar, semetara lantainya terbentuk dari tumpukan ranting kering.Arga dan Mutiara Sendayu dibaringkan secara berdampingan, sementara seluruh tubuh mereka dibalut dengan tanah liat hingga menyerupai kepongpong.Tidak jauh dari tempat mereka, seorang pria tampan bertelinga runcing tengah asyik menyantap daging tikus mentah dari hasil buruannya.Ternyata Arga dan Mutiara Sendayu dibawa ke sana untuk diobati, tetapi entah mengapa cara mereka dibawa dan diobati sungguh sangat aneh.Setelah selesai menyantap daging tikus mentah, sang pria tampan lantas menghampiri tubuh Arga dan Mutiara Sendayu.“Siapa kalian? Mengapa bisa sampai ke tempat seperti ini?” gumam pria tampan.Beberapa kali dia mengerutkan kening merasa heran memikirkan Arga dan Mutiara Sendayu.Selama ribuan tahun, tidak pernah ada satupun manusia yang bisa mencapai tempat ini.Hutan kem
Gagalnya membawa Mutiara Sendayu membuat sesepuh perguruan Walet Darah sangat marah.Meski mereka mendapatkan pusaka selendang sutra, tetapi tanpa darah gadis berambut merah hanya kesia-siaan di mana pusaka tersebut tidak dapat di gunakan.Alih-alih mendapatkan pujian atau hadiah dari sesepuh Walet Darah, Kala Hitam bersama Boyojogo dan teman-temannya malah mendapatkan hukuman berat.Mereka dikurung dengan tubuh terikat rantai berduri membuat darah mereka terus menetes masuk ke dalam wajan batu berukir aksara segel aneh.Mereka tidak dapat menolak atau meronta karena ini adalah hukum Walet Darah.Siapa pun yang berhasil melalui hukuman tersebut selama 40 hari, maka mereka akan dibebaskan.Sementara darah mereka akan dipersembahkan kepada ratu sihir kegelapan sebagai tumbal kegagalan tugas.Bukan hanya gagal, tetapi Kala Hitam juga telah menghilangkan 5000 prajurit kuat perguruan mereka membuat perguruan Walet Darah mengalami kerugian besar.“Penjaga, tolong bebaskan kami. Bukankah kam
“Hewan siluman? Sial!” Kala Hitam kembali mundur menjauh.Dia tidak percaya mengapa bisa ada hewan siluman di perguruan sebesar Sayap Dewa.Tetapi pandangan Boyojogo dan ke 4 ketua pengkhianat tiba-tiba langsung berubah buruk karena ingat di sini adalah bukit terlarang.“Sial! Dia menjebak kita masuk ke sarang siluman,” teriak Boyojogo.“Sarang siluman?” tanya Rakean yang juga terkejut.“Benar, Ki Elang Sakti selain pendekar tanpa tanding, dia juga merupakan pawang hewan siluman. Orang tua itu mengumpulkan banyak siluman hanya untuk di pelihara,” tutur Boyojogo sembari mundur menjauh.“Hahaha, bodoh! Seharusnya kalian menyadari lebih awal,” Arga tertawa terbahak-bahak sementara mulutnya masih saja mengeluarkan darah.Ukhuk!“Sial! Lukaku terlalu parah,” umpat Arga kemudian.Selanjutnya dia memasang posisi bersila untuk memulihkan diri, sementara musuh mulai bertarung melawan ratusan hewan siluman yang baru saja tiba.Ayam berbulu api, singa loreng, kura-kura bertaring setinggi 5 meter







