Mag-log in20 pendekar menyerang Arga secara bersamaan menggunakan serangan energi, sehingga 20 cahaya merah melesat dari berbagai arah.“Hahaha, kalian melakukan langkah bodoh,” Arga tertawa senang.Mendapatkan 20 serangan tingkat tinggi tidak membuat pemuda itu gentar, alih-alih merasa takut, Arga malam menyeringai penuh makna.“Kau yang bodoh telah meremehkan kemampuan kami sialan!” teriak salah satu pendekar kesal.“Jangan diladeni, kita lihat saja. Dia pasti akan mati, hahaha,” pendekar lain tertawa karena sangat yakin dengan serangannya.“Hahaha, kau benar. Tidak ada yang pernah selamat dari serangan kita,” pendekar di sisinya ikut tertawa penuh percaya diri.20 cahaya energi terus melesat dengan kecepatan tinggi menderu menyibak angin.Satu larik cahaya tersebut mampu menghancurkan rumah penduduk dalam sekejap karena mengandung daya hancur sangat tinggi.Sedangkan yang menyerang Arga saat ini berjumlah 20 larik cahaya sehingga tidak terbayangkan entah seperti apa ledakan yang akan terjadi
“Ayo arahkan panah kalian!” seru putri Anandya.Dia memimpin barisan pemanah untuk menghadang sebagian pasukan yang merangsek maju mendekati wilayah istana.“Tarik!” teriak putri Anandya, “sekarang!” sambungnya.Siuttt! Siutt! Siiutt!200 anak panah melesat ke udara kemudian setelah itu menukik menuju menghujani daratan.Cleb! Cleb! Cleb! Aaaaaaaa!Hampir 100 pasukan musuh tumbang menjadi korban, sementara sebagian pasukan lain masih tetap maju mengincar raja Balwa.“Kau memang hebat putriku,” gumam raja Balwa.Dia sendiri memimpin sekitar 800 pasukan menghadang di barisan depan.Saat pasukan musuh tiba, pertempuranpun tidak dapat terelakkan.“Serang!” teriak raja Balwa.Trang! Trang! Trang!Dia menahan beberapa serangan pedang, kemudian dengan lincah, raja Balwa melesat membabat 6 orang prajurit musuh yang menyerangnya.Sreeet! Sreet! Sreeet! Sriiiing!Raja Balwa menebas mereka tanpa ampun, beberapa mati terkena sayatan pedang di dada dan punggungnya, tetapi satu orang mati terpengga
Selagi menunggu kedatangan patih Taruma Jati, mau tidak mau Arga harus bertarung melawan 100 pendekar dari pihak kerajaan Lengkuni.Mereka bukanlah pendekar sembarangan di mana dari 100 orang, 30 diantara-nya merupakan pendekar pilih tanding tahap tiga dan dua.“Hati-hati anakku,” ucap raja Balwa pelan sembari menepuk pundak Arga.“Hamba mengerti baginda, anda juga,” ujar Arga sembari mengangguk.“Putri, bergabunglah bersama baginda raja. Aku akan memimpin di barisan depan,” pinta Arga.“Baik kakang, jaga dirimu,” ucap putri Anandya sembari menatap mata Arga penuh kecemasan.Bersama raja Balwa, putri Anandya segera berlari menuju bangunan istana bergabung dengan pasukan yang berada di sana.“Kalian, kemarilah!” teriak Arga kepada senopati Rajo, panglima dan para senopati lain.Suaranya begitu lantang membuat mereka yang tadi tengah ketakutan hampir saja kehilangan jantung karena kaget.“A-a—aku?” senopati Rajo terbata. lututnya tidak bisa tidak bergetar menatap wajah Arga dengan tatap
Keadaan wilayah istana saat ini begitu sangat memprihatinkan.Mayat prajurit, abdi dalem, dan penduduk bergelimpangan di mana-mana.Semakin lama, korban di pihak kerajaan Bunisora semakin banyak saja yang berjatuhan.Itu karena selain pasukan musuh lebih kuat, pasukan kerajaan Bunisora juga bertarung secara terpisah-pisah tanpa ada yang memberi komando.Meski ada senopati dan panglima yang memimpin, mereka tidak bisa berbuat banyak karena tekanan situasi.Pihak kerajaan terus terpojok mundur ke depan gedung istana, sementara pasukan musuh dengan gencar merangsek masuk menyerang dengan membabi buta.“Bagaimana ini senopati? Sepertinya kita tidak akan bisa bertahan lebih lama,” seru salah satu panglima kepada senopati Rajo.Keringat dingin tadi tersebut terus bercucuran karena melihat pasukan musuh yang mulai berdatangan semakin banyak.“Mengapa kau bertanya padaku? Seharusnya ini menjadi tugas patih Taruma,” teriak senopati Rajo kesal.Jangankan orang lain, dia sendiri bingung entah ba
“Tidak akan kubiarkan!” patih Taruma Jati geram.“Jurus pedang penghancur malam!” seru patih Taruma lantang.Dari ayunan pedangnya muncul cahaya berwarna hitam pekat seperti malam, cahaya itu melesat menuju lautan musuh yang sedang berdesak-desakan lari melewati gerbang wilayah penjara.“Orang tua gila!” umpat Arga, “Menghindar!” seru Arga kepada Jantaka dan Ariani.Sementara dirinya langsung melesat menyambar tubuh putri Anandya untuk dibawanya naik ke atas udara.“Kakang?” putri Anandya terkejut.“Pegangan,” ujar Arga.Keduanya melesat cepat ke atas langit dan melayang di udara,Jantaka dan Ariani juga langsung melompat menuju panggung persidangan.Sementara raja Balwa memilih bertahan dengan menyilangkan pedang.Wuuush! Cahaya hitam menderu pada lautan musuh, BUMMMM!Ledakan dahsyat terjadi digerbang wilayah penjara menciptakan gelombang energi cukup pesar yang menghempaskan apa pun yang dilewatinya.200 musuh tewas terkena ledakan, 500 sisanya berhasil melarikan diri menuju wilaya
Ariani dan Jantaka dikepung oleh sekitar 100 prajurit, ke-duanya sulit bergerak karena medan pertempuran penuh sesak.Mereka hanya dapat berlompatan ke atas sembari menebaskan pedang.Trang! Trang! Trang!Banyak pedang dan tombak berkelebat mengincar tubuh Ariani, tetapi seperti tanpa celah, gadis itu selalu saja dapat menangkisnya.Jantaka tidak bisa bertarung jauh dari Ariani karena khawatir gadis itu akan mendapatkan masalah.Meski kanuragan prajurit musuh tidak seberapa, namun dengan jumlah yang banyak tetap saja mereka menjadi ancaman mematikan.“Tebasan mentari!” Jantaka mengeluarkan jurus langka dari perguruan sayap dewa.10 larik cahaya kuning melesat menuju gerombolan musuh yang baru saja akan maju menyerang-nya.Bum! Bum! Bum! Aaaaaa!30 musuh tewas terbakar serangan energi Jantaka, tubuh mereka meledak kemudian serpihannya habis dilahap api kuning sampai menjadi abu.“Ambil jarak! Jangan terlalu dekat dengan pemuda itu!” teriak salah satu prajurit menunjuk Jantaka.Tentu sa







