LOGINAriani memimpin semua pendekar kembali ke atas bukit termasuk Jantaka, sementara Arga berusaha menahan serangan siluman kelelawar di tengah tebing.“Aneh mengapa siluman ini tidak takut padaku?” gumam Arga dalam hati.Arga sendiri sudah merasakan ada hawa siluman sangat pekat sedari tadi, namun dia cukup tenang karena setiap hewan siluman biasanya takut terhadap aura di tubuhnya.Tetapi setelah menerima serangan dari siluman kelelawar, Arga mulai merasa cemas.“Aku juga tidak bisa merasakan tingkat kanuragannya, sial! Siluman macam apa dia?” umpat Arga di dalam hati.Wuussh!Siluman kelelawar kembali menyerang berniat mencabik tubuh Arga dengan kedua cakarnya.Tebasan Dewa!Arga menebaskan pedang hitam pada cakaran musuh, tetapi aneh, setiap tebasannya selalu saja tidak meninggalkan bekas seperti cakaran kelelawar itu adalah sesuatu yang sangat keras.Traang! Kreeek!Pedang hitam dicengkram kuat oleh sang kelelawar, membuat pegangan Arga terlepas.Arga segera melompat ke arah samping
10 orang pendekar terus berjalan menyusuri lebatnya hutan di tengah pekatnya malam.Arga berada di paling depan bertugas membuat jalan dengan menyibak belukar menggunakan pedang besar.Mereka sengaja tidak menciptakan penerangan kerena api bisa memancing apa pun untuk mendekat.Bagi Arga sendiri malam bukanlah masalah, dia bisa melihat menembus kegelapan layaknya siang.Entah apa yang terjadi dengan matanya, tetapi ketika ingatannya kembali, kemampuan mata Arga juga kembali.“Apa benar kita akan pergi ke sarang hantu?” Jantaka masih saja tetap bertanya.Dia berjalan tepat di belakang Arga supaya ada yang mengawasi punggungnya dari belakang.Entah apa yang melatar belakangi Jantaka seperti itu, tetapi dia sungguh sangat tidak menyukai suasana malam.“Tidak,” jawab Arga singkat.“Lantas kemana tujuan kita?” tanya Jantaka.“Kita akan ke sarang biangnya hantu,” jawab Arga sembari tersenyum geli.“Sial! Kau jangan menakutiku Arga,” umpat Jantaka dari belakang.“Hahaha, kau sendiri yang ban
Pagi hari menjelang siang, Arga, Jantaka, Ariani dan rombongan pendekar cenayang keluar dari penginapan untuk mengantar gadis kecil yang semalam mereka selamatkan.Sapto juga ikut bersama rombongan mereka karena setelah mengantarkan gadis kecil, Arga rencananya akan langsung menemui adik dari korban yang pertama kali membawa wabah mayat hidup ke desa.Mereka berjalan beriringan melalui jalanan besar yang menuju ke pusat dusun, sementara mentari di atas langit sudah mulai naik sepenggalah.“Ini karena kau kesiangan Arga,” keluh Jantaka karena tadi Arga sulit sekali dibangunkan.“Hahaha, maaf, itu karena aku sedang mimpi buruk tadi,” jawab Arga sembari tersenyum kecil.“Mana ada orang mimpi buruk susah bangun, biasanya yang bermimpi buruk akan mudah sekali bangun,” sergah Jantaka masih tidak terima.Keduanya terus berdebat hanya karena sebuah mimpi, Arga tetap dengan pendiriannya, sementara Jantaka tetap dengan keluhannya.Sapto dan Jambang yang berada di dekat mereka beberapa kali meng
“Apa dia mati?” gumam Nuri melebarkan mata.“A-a—aku tidak tahu,” jawab Tika terbata.Dia masih terkejut karena dirinya hampir saja tergigit mahluk itu.“Pedang ini!” Jambang mengenali pedang besar yang masih menancap di tanah.“Benar, itu punyaku,” terdengar suara Arga yang baru saja muncul dari kegelapan.Di belakangnya juga muncul Ariani dan Jantaka yang sedari tadi terus memperhatikan pertarungan.“Kau?”“Kau?”“Kau?”Nuri, Kamala, Bopeng, Apud, dan Buki menyipitkan mata melihat Arga. Pandangan mereka masih saja sinis seperti tidak suka kelompok Arga ada di sana.Arga tidak menggubris mereka, dia terus berjalan menghampiri Tika untuk mengambil pedangnya kembali.Sriing!Pedang hitam berukuran besar dicabut dari tanah untuk kemudian di tenteng dengan satu tangan seakan pedang itu sangat ringan.“Terima kasih kau telah menyelamatkan teman kami,” ungkap Jambang.“Sama-sama, itu hanya bantuan kecil,” jawab Arga.“Aku tidak menyukai mereka,” bisik Ariani.“Aku juga sama,” jawab Jantaka
Jambang langsung keluar dari formasi, dia melesat menebaskan pedang memotong salah satu lengan mayat hidup untuk melepaskan Dirman.Sring! Cruat!Satu lengan mayat hidup terlepas terkena tebasan pedang Jambang membuat dekapan mahluk itu kepada Dirman terlepas.Dirman yang memiliki kesempatan langsung melompat melepaskan diri, dia memegangi pundaknya yang terasa amat sakit serta mengucurkan banyak darah hitam.Selesai menyelamatkan Dirman, Jambang kembali melakukan tebasan mencabik tubuh mayat hidup menggunakan pedang, memotongnya menjadi beberapa bagian. Kemudian dia melesat ke arah Dirman untuk memastikan keadaan.Tika yang sudah melepaskan mantera rantai energi segera melesat menyelamatkan anak perempuan yang tergeletak tidak jauh dari mayat hidup.Sementara Kamala melesat menghampiri tubuh Nuri untuk menenangkannya.Buki, Apud, dan Bopeng menghampiri Jambang memeriksa keadaan Dirman.“Bagaimana?” tanya Buki.“Ini panas sekali, aku tidak bisa meredakan rasa sakitnya meski menggunaka
Arga bersama Ariani dan Jantaka berjalan mengendap-ngendap mengikuti kelompok cenayang yang sedang berburu hantu.Dari arah jalannya, mereka seperti akan menuju pusat dusun karena di sanalah tempat paling banyak rumah penduduk.“Perasaanku sungguh tidak enak, sebaiknya kita kembali dan biarkan urusan mayat hidup ini kepada mereka sebagai ahlinya,” ungkap Jantaka dengan berbisik.“Sebagai pria dirimu memang penakut Taka,” sahut Ariani menanggapi.“Bu—bukan penakut Ariani, tetapi perbuatan mencampuri urusan orang lain itu sungguh tidak baik,” kilah Jantaka tidak terima.“Sudah ikuti saja mereka, tapi jika dirimu takut, kau boleh kembali sendiri kepenginapan,” ujar Arga sembari tersenyum licik.“A—apa kau bercanda? A—aku tidak takut, baik kita ikuti saja mereka,” Jantaka sedikit terbata.Pulang sendiri ke penginapan dari jarak sejauh itu sama saja dengan menyerahkan diri kepada mayat hidup, makanya Jantaka menolak dan memilih mengikuti Arga.“Hahaha, sudah kuduga. Sekarang diamlah dan pe







