Home / Romansa / Sang Mempelai Pengganti / Istirahat yang Dibutuhkan

Share

Istirahat yang Dibutuhkan

Author: Ummu_Fikri
last update Huling Na-update: 2025-12-29 10:29:20

Aroma antiseptik yang tajam adalah hal pertama yang menyapa indra penciuman Andin saat ia kembali membuka matanya. Langit-langit putih rumah sakit tampak berputar sejenak sebelum pandangannya fokus pada botol infus yang menetes pelan. Dadanya masih terasa sesak, sisa dari reaksi alergi yang hampir merenggut nyawanya.

Pelan namun pasti, Andin mencoba menggerakkan tangannya, dan saat itulah ia menyadari bahwa ia tidak sendirian dalam ruangan itu. Di sisi kiri ranjangnya, Ada Axel yang menutup mata dengan posisi duduk. Wajah sahabatnya itu babak belur, sudut bibirnya pecah dan tulang pipinya membiru. Di sisi kanan, agak menjauh di sudut ruangan yang gelap, Bayu berdiri mematung. Wajahnya tidak kalah hancur. Lebam hampir seluruh bagian wajahnya dan kemejanya berantakan.

​"Din? Kamu sudah sadar?" suara Axel terdengar parau, penuh kekhawatiran yang tulus. Ia segera berdiri, menggenggam tangan Andin yang bebas dari infus.

​Andin menatap Axel, lalu beralih menatap Bayu. Keheningan di
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sang Mempelai Pengganti    Ilusi Antara Jakarta Dan Zurich

    ​Suara alarm dari ponsel di atas nakas terdengar nyaring, memecah keheningan kamar yang masih remang-remang. Andin tersentak, napasnya memburu, dan jantungnya berdegup tidak karuan. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, menatap langit-langit kamar yang berwarna krem pucat. Ada sisa rasa sesak di dadanya, sisa dari bau asap knalpot dan aroma lembap Jakarta yang tadi baru saja dia hirup. ​Dia menoleh ke samping. Tidak ada kemacetan Menteng. Tidak ada gerobak tukang bunga. Yang ada hanyalah jendela besar yang sedikit terbuka, memperlihatkan pemandangan pucuk-pucuk pohon pinus yang mulai tertutup salju tipis di Zürichberg. ​"Cuma mimpi..Aku pasti sudah gila." gumamnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. ​Andin menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, mencoba menata pikirannya. Tangan kanannya meraba lehernya yang sedikit berkeringat. Mimpi itu terasa begitu nyata. Dia bisa mengingat dengan jelas bagaimana rasanya berdiri di balik pohon besar, melihat Bayu yang tampak be

  • Sang Mempelai Pengganti    Wildest dreams

    ​Andin menarik napas panjang begitu pintu otomatis terminal kedatangan internasional Bandara Soekarno-Hatta terbuka. Bau khas Jakarta, campuran aroma aspal panas, polusi, dan kelembapan yang mencekik langsung menyerbu paru-parunya. Anehnya, setelah sekian lama menghirup udara Zurich yang bersih dan dingin, bau ini justru membuatnya merasa benar-benar sudah sampai di rumah.​Dia tidak memberi tahu siapa-siapa soal kepulangannya. Bahkan Axel pun dia minta untuk tetap di New York beberapa hari lagi. Andin butuh waktu untuk dirinya sendiri sebelum hiruk-pikuk konferensi medis itu dimulai.​Penampilannya sekarang jauh berbeda. Dia memakai kemeja linen longgar, celana denim yang nyaman, dan kacamata hitam yang menutupi matanya yang sedikit lelah karena penerbangan panjang. Rambutnya diikat asal, tapi dia tetap terlihat mencolok. Ada aura tenang dan dewasa yang terpancar dari wajahnya, sesuatu yang tidak bisa dia miliki empat tahun lalu.​"Taksi, Mbak?" tawar seorang sopir.​Andin tersenyum

  • Sang Mempelai Pengganti    Tuan Bayu Andarsono

    Bayu Andarsono, jika di kantor ia adalah sosok pemimpin sempurna, dengan wajah tampan paripurna, walaupun minus di sifatnya yang dingin, penuh intimidasi dan gila kerja. Maka, ketika pulang ke rumah, ia hanyalah seorang suami yang ditinggal pergi sang istri. Setiap malam, lelaki itu selalu konsisten untuk meninggalkan kantor pada pukul 11.30. Sebab ketika pulang ke apartemennya yang mewah, ia akan disuguhi kesunyian dan sepi tak bertepi. Apartemen mewahnya, tidak bisa sedikitpun memberikan obat bagi hatinya yang dipaksa patah. Bunga indah di hatinya yang sudah tumbuh, kini layu dan perlahan mati kekeringan. Bayu dan kesepian adalah dua hal kontras, yang dipaksa menerima satu sama lain Apartemen itu masih sama. Sama seperti yang pernah ditinggalkan Andin. Tata letak dari benda sekecil apapun, tidak diubah olehnya. ​Di kamar mandi, ia masih membiarkan sikat gigi Andin berada di tempatnya, meski bulu-bulunya sudah mulai kaku. ​Di lemari, ia secara rutin mencuci dan menyetrik

  • Sang Mempelai Pengganti    Awan Hitam Di Langit Jakarta

    Kembali ke Jakarta. Tempat dimana CEO Bayu Andarsono meratapi kesepiannya. Bagi sang CEO, waktu berhenti sejak empat tahun lalu. Malam itu, sama seperti malam-malam sunyi sebelumnya. Bayu masih berada di kantornya. Duduk termenung, sendirian di ruangannya yang sepi dan ttemaram Di bawahnya pemandangan kota yang berkilauan, seolah memgejek kesendiriannya. Matanya yang dulu setajam elang, kini tampak redup dan kosong, seperti lubang hitam yang menghisap cahaya di sekelilingnya. ​Dalam empat tahun terakhir, Bayu telah bertransformasi menjadi sosok yang oleh para karyawannya dijuluki sebagai "The Robotic CEO". Hal ini bukan tanpa alasan. Bayu yang sekarang memiliki intensitas kekuatan yang tidak manusiawi. Kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan untuk tidak tidur beberapa hari, jarang makan dan ekspresi wajahnya lebih dingin dan kaku. Persis seperti robot dalam wujud manusia. Lelaki itu juga tetaplah menjadi CEO hebat,

  • Sang Mempelai Pengganti    Cahaya di Langit Zurich

    ​Empat tahun adalah waktu yang cukup bagi salju Alpen untuk menyapu bersih sisa-sisa trauma di wajah Andin. Di koridor Universitätsspital Zürich (Rumah Sakit Universitas Zurich) yang serba putih dan modern, langkah kaki Andin terdengar ringan dan penuh kepastian. Tidak ada lagi langkah ragu atau bahu yang merosot karena beban pikiran.​"Guten Morgen, Dr. Andin!" sapa seorang perawat senior dengan senyum lebar.​"Guten Morgen, Heidi! Apakah pasien di kamar 402 sudah menghabiskan sarapannya?" balas Andin dengan bahasa Jerman yang kini terdengar natural dan mengalir.​Andin telah bertransformasi sepenuhnya. Jas putih dokter yang ia kenakan bukan sekadar seragam, melainkan simbol kemenangan atas masa lalunya. Sosoknya sekarang bukan lagi gadis yang hanya bisa menangis dan meraung konyol di dalam kamarnya. Kini, ia adalah salah satu spesialis imunologi muda yang paling dihormati di departemennya. Kecantikannya yang khas Asia, dipadu dengan keramahan yang t

  • Sang Mempelai Pengganti    Good bye, Jakarta

    ​Pagi itu, suasana di kamar rawat rumah sakit terasa jauh lebih ringan namun dipenuhi kabut emosional yang tak kasat mata. Di atas meja nakas, surat perceraian yang sudah ditandatangani oleh Bayu masih tergeletak rapi di dalam kotak kayu. Andin menatap kertas itu cukup lama, jemarinya mengusap tanda tangan Bayu yang tegas namun tampak sedikit goyah di ujungnya.​Axel berdiri di dekat jendela, menatap arlojinya. "Pesawat kita berangkat dua jam lagi, Din. Mobil juga sudah siap di bawah. Kamu benar-benar yakin akan melakukan ini?"​Andin menarik napas panjang, lalu perlahan menutup kotak kayu itu tanpa menyentuh pena sedikitpun. Ia tidak menandatangani surat cerai itu.​"Aku yakin, X. Aku harus keluar dari tempat ini, dari semua tekanan dan dari semua hal-hal yang membuatku sesak napas," ujar Andin dengan suara yang kini lebih mantap. "Tapi, aku tidak akan menandatangani surat cerai ini. Setidaknya, belum sekarang."​Axel mengernyit, sedikit terkejut namun mencoba mengerti. "Kenapa? Sete

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status