Share

Bab 4

Author: Abimana
"Kamulah yang harus memohon!" Arjuna mengambil mangkuk lain.

"Buk!"

"Beranikah aku menghajarmu?"

"Ah!" Raditya yang tidak waspada pun jatuh ke lantai, kemudian menjerit. Setelah itu, dia mencoba untuk bangun, tetapi Arjuna tidak memberinya kesempatan.

"Buk!"

"Berani atau tidak?"

"Buk!"

"Berani atau tidak?"

Setiap kali bertanya, Arjuna akan memukul Raditya sekali.

Pukulan Arjuna menjadi makin keras setiap kalinya.

Kepala Raditya langsung memerah, darah yang mengalir keluar makin banyak. Awalnya dia masih tahan, tetapi setelahnya pukulan Arjuna makin menyakitkan sehingga dia pun memohon.

Kedua pria dari Rumah Bordil Prianka menurunkan tangan mereka yang tadinya bersedekap di depan dada. Mereka saling menatap, tetapi tidak berani membantu Raditya.

Kenapa Arjuna berbeda dari yang mereka ketahui?

Arjuna yang mereka kenal tidak bisa menghajar siapa pun, selain wanitanya sendiri. Reputasinya sebagai preman desa karena ada Raditya yang melindunginya.

Kenapa sekarang ....

"Buk, buk, buk!" Arjuna masih menghajar Raditya.

"Tuan, Tuan!" Daisha berjongkok di samping Arjuna. "Jangan pukul lagi, jangan pukul lagi! Kamu bisa membunuhnya!"

Dalam sebuah keluarga tidak bisa tidak ada kepala keluarga. Jika Arjuna masuk penjara, mereka akan menjadi wanita tanpa pemilik.

Siapa pun bisa menindas wanita yang tidak memiliki pemilik.

"Kalian!" Arjuna berhenti, kemudian memandang dua pria dari Rumah Bordil Prianka itu dengan tatapan dingin.

Wajah Arjuna berlumuran darah Raditya, badannya juga sama.

Kedua pria dari Rumah Bordil Prianka ketakutan hingga melangkah mundur.

Sepanjang hidup mereka, ini adalah pertama kalinya mereka melihat seseorang menghajar orang lain dengan begitu sadis.

"Bawa dia pergi, jangan mengotori rumahku!"

Kedua pria dari Rumah Bordil Prianka segera menyeret Raditya pergi.

Setelah Raditya dibawa pergi, Arjuna menyeka darah dari wajahnya. Dia berbalik, lalu berjalan ke arah Daisha yang masih duduk di lantai.

"Lantai dingin, Daisha. Tubuhmu lemah, cepat bangun!"

Tangan Arjuna yang terulur dihindari oleh Daisha.

"Tuan, duduklah. Saya akan mengambil air untuk mencuci wajah Anda."

Suara Daisha masih lemah lembut, demikian pula raut wajahnya. Namun, Arjuna bisa merasakan kesan jaga jarak dalam nada Daisha.

Daisha masih marah karena Arjuna menjualnya.

Tunggu.

Pemilik tubuh Arjuna sebelumnya yang menjual Daisha, bukan Arjuna yang sekarang.

"Bukan aku ...."

Daisha tidak mendengarkan penjelasan Arjuna. Dia langsung keluar untuk mengambil air.

Melihat punggung Daisha yang berjalan dengan pincang, dia mengedikkan bahu dengan tak berdaya.

Lupakan saja, dia tidak perlu menjelaskannya, toh dia juga tidak bisa menjelaskannya dengan jelas. Sekarang Arjuna menggunakan tubuh pria berengsek itu, dia hanya bisa menjadi kambing hitam untuk sementara.

Setelah Daisha membersihkan darah dari wajah Arjuna, dia kembali sibuk membersihkan rumah.

Arjuna tidak membantu. Pertama, Daisha tidak ingin melihatnya sekarang. Kedua, tubuhnya belum sepenuhnya pulih.

Dia baru saja mengalami transmigrasi zaman, ingatan pemilik tubuh sebelumnya begitu berantakan dan membingungkan hingga kepalanya pusing. Sebelum dia mencernanya, Raditya membawa dua orang kemari.

Tubuh Arjuna kurus dan lemah. Tadi dia menghajar Raditya dengan sepenuh tenaga, sekarang dia agak lelah.

Tiba-tiba terdengar keroncongan di dalam rumah.

Daisha menoleh ke arah Arjuna dengan ekspresi tegang.

Arjuna memegang perutnya, lalu terkekeh. "Uh ... tadi mengerahkan terlalu banyak tenaga, sekarang perutku agak lapar."

"Tuan, saya akan segera memasak."

Daisha segera menghentikan pekerjaan yang sedang dia lakukan, lalu buru-buru berjalan keluar pintu. Kakinya memang tidak bagus, begitu berjalan cepat, Daisha langsung jatuh ke lantai.

"Kenapa kamu begitu ceroboh?" Arjuna segera mendekat.

Sebelum Arjuna tiba di depan Daisha, Daisha sudah bangun dengan panik lalu berkata, "Maaf, Tuan, maaf. Saya begitu ceroboh, membuat Tuan kelaparan tanpa ada makanan yang bisa dimakan. Tolong jangan marah."

"Aku ...." Melihat Daisha yang terus meminta maaf kepadanya, Arjuna tampak tak berdaya.

Apakah ada yang salah dengan ekspresinya sehingga Daisha merasa bahwa dia sedang marah?

Sebuah kenangan muncul di benak Arjuna.

Sebelum Arjuna mengalami transmigrasi, jika pemilik tubuh sebelumnya lapar dan Daisha tidak menyajikan hidangan tepat waktu, dia akan langsung melakukan kekerasan lagi.

Sekarang Daisha ketakutan. Menurutnya, setiap gerakan yang dilakukan Arjuna adalah hendak memukulnya.

"Tuan, mohon tunggu sebentar, makanan akan segera jadi."

Daisha berlari lebih cepat daripada tadi. Dia berjalan dengan pincang, tubuhnya gemetar, tampak makin tidak stabil.

Melihat pemandangan tersebut, tenggorokan Arjuna tercekat.

Sungguh orang yang malang.

Matahari telah terbenam di lereng gunung.

Daisha sedang sibuk di dapur. Arjuna yang merasa sedikit bosan di rumah pun berjalan ke halaman.

Begitu banyak hal terjadi setelah dia mengalami transmigrasi, dia belum sempat melihat seperti apa rumahnya.

Ada lima ruangan, ditambah sebuah dapur. Semuanya terbuat dari bata.

Namun ....

Selain ruangan di mana dia berada tadi, ruangan lainnya tidak memiliki ubin maupun dinding berlubang.

Jika angin bertiup kencang akan terdengar suara berderak.

Jangankan musim dingin, bila ada angin kencang belum tentu bisa menahannya.

Sedangkan interiornya ....

Jangankan furnitur, pakaian saja tidak ada yang layak. Orang lain yang mengalami transmigrasi akan menjadi pangeran atau bangsawan, kenapa dirinya malah ....

Permulaan yang berengsek.

"Tuan."

Terdengar panggilan lembut, Arjuna pun berbalik. Daisha sudah masuk ke ruang tamu, dia berdiri di dekat kusen pintu untuk memanggil Arjuna.

Pijaran matahari terbenam menerpa tubuh Daisha, memantulkan lingkaran cahaya yang lembut.

Wajah cantik, tubuh indah.

Sungguh pemandangan yang enak dilihat.

Wanita secantik ini masih perawan.

Sungguh luar biasa.

Meskipun Arjuna tidak dapat mengingat alasan pemilik tubuh sebelumnya tidak menyentuh Daisha, ingatannya yang ada memberitahunya bahwa pemilik tubuh sebelumnya memang tidak menyentuh istrinya itu.

"Tuan."

Daisha memanggil tiga kali berturut-turut.

"Ya, aku datang."

Arjuna segera pergi.

Daisha sudah menghidangkan makanan.

Begitu masuk ke ruang utama, Arjuna langsung mengerutkan kening.

Ada sepiring daging panas dan sepiring nasi di atas meja kecil.

Jika Arjuna tidak salah, daging itu adalah daging yang jatuh ke lantai ketika dia berkelahi dengan Raditya tadi.

Daisha memungut, mencuci, kemudian memasaknya lagi untuk Arjuna.

Keluarga ini ... mungkin lebih miskin dari yang dia lihat.

Setelah Arjuna duduk, Daisha segera berlutut di depannya.

Arjuna baru saja hendak bertanya kepada Daisha mengapa dia berlutut lagi. Sebelum Arjuna bertanya, Daisha sudah mengambil sendok dari atas meja. Dia mengambil lauk bersama nasi, lalu mengangkatnya ke depan mulut Arjuna.

"Tuan, silakan makan."

"..."

"Tuan."

Setelah Arjuna mengambil makanan dari tangan Daisha, Daisha berkata lagi. "Setelah Anda selesai makan, panggil saja saya. Saya akan datang berberes."

Usai berbicara, Daisha berdiri, kemudian berjalan menuju luar.

"Daisha, kamu juga duduk, kita makan bersama," kata Arjuna.

Tangan Daisha yang memegang tirai pintu pun berhenti sebentar. "Tuan, saya adalah wanita, tidak boleh duduk satu meja dengan Anda."

Setelah itu, Daisha pergi tanpa menunggu jawaban Arjuna.

"Aish ...."

Arjuna akhirnya menurunkan tangannya yang terangkat.

Dia menyerah. Daisha tidak tahu bahwa Arjuna bukanlah Arjuna yang dulu. Daisha sangat takut pada suaminya hingga tidak berani duduk satu meja dengannya.

Lupakan, pelan-pelan saja, jangan terburu-buru.

Bau apek tercium di mana-mana dalam rumah, Arjuna bangun untuk mengikat tirai pintu.

Saat ini, Daisha sedang makan di depan pintu dapur makan. Dia agak terkejut saat melihat Arjuna.

"Apakah ada masalah, Tuan?" tanya Daisha, lalu dia meletakkan piringnya dan mendekat.

"Tidak apa-apa." Arjuna buru-buru menghentikannya. "Kamu makan saja, abaikan aku."

Arjuna makan di ruang utama, sedangkan Daisha makan di depan pintu dapur. Mereka saling melihat dari kejauhan.

Dari awal hingga akhir, Daisha tidak berani mengangkat kepalanya untuk menatap Arjuna.

Entah makanan apa yang ada di dalam piring Daisha. Akan tetapi, dari ekspresi menderita Daisha dapat diketahui bahwa makanan yang ada di dalam piringnya bukanlah makanan enak.

Apa yang para istrinya makan biasanya? Arjuna makan sambil mengingat-ingat.

Makin mengingat, dada Arjuna makin sesak.

Jika tebakannya benar, makanan yang sedang Daisha makan adalah dedak padi atau sayuran liar.

Arjuna yang dulu adalah seorang penjudi, makanan di rumah disita karena dia kalah berjudi.

Beras di rumah tidak cukup, sedangkan Arjuna yang dulu harus makan nasi. Jadi kalau tidak ada nasi, dia akan memukul Daisha dan yang lainnya.

Agar Arjuna yang dulu bisa makan nasi, Daisha dan yang lainnya tidak berani makan. Mereka biasanya hanya makan dedak dan sayur-sayuran liar. Sebenarnya dedak pun jarang, mereka lebih sering makan sayuran liar.

Melihat tubuh lemah Daisha, Arjuna yang kesulitan menelan pun meletakkan alat makannya.

"Tuan, apakah Anda sudah selesai makan?"

Daisha juga segera meletakkan alat makannya, kemudian mendekat. Ketika dia melihat masih ada makanan di dalam piring Arjuna, dia pun tertegun.

"Tuan ...."

"Duduk, habiskan makanan ini!" ucap Arjuna dengan nada memerintah.

Dia tahu jika dia tidak galak, Daisha yang sangat takut padanya tidak akan patuh.

"Hah?" Daisha memandang Arjuna dengan tidak percaya.

Hari ini Arjuna benar-benar berbeda. Pria itu tidak memukul atau memarahinya, menghajar Raditya karena dirinya, sekarang bahkan menyuruhnya makan nasi.

Apakah Arjuna benar-benar sudah menjadi baik?

Tidak, tidak!

Daisha menggelengkan kepalanya dengan keras. 'Daisha, Daisha, jangan memiliki angan-angan seperti itu. Kalian sudah menikah selama setengah tahun, apakah kamu belum cukup dipukul dan dimarahi?'

Hari ini dia bahkan hampir menjualmu.'

Jual!

Daisha memandang Arjuna dengan waspada.

Arjuna tiba-tiba bersikap baik terhadapnya, jangan-jangan ada niat terselubung?

"Untuk apa kamu melihatku? Cepat makan!" Kali ini suara Arjuna naik satu oktaf. Jika Daisha tidak segera makan, makanannya akan dingin.

"Arjuna sialan, bisa-bisanya kamu menjual adikku yang keempat ketika aku tidak ada di rumah!"

Begitu Arjuna selesai berbicara, suara melengking terdengar dari luar pintu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Kamar Udin
najis anjing babi baca novel ini lg iklan. kok iklannya sampai 15 menit... wkwkwk ..penulisnya binatang kales
goodnovel comment avatar
Suroso Kemis
keren mantap
goodnovel comment avatar
Hauris Pati
keren dan enak di baca
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 1204

    Yudha dan Kemil melawan. Ratna bahkan tidak memerintahkan bawahannya, dia melakukannya sendiri. Dia mengambil dua pisau dari anak buahnya, satu di masing-masing tangan, kemudian menekan kepala Yudha dan Kemil ke tanah.Di tengah, Yudha dan Kemil mencoba melawan lagi, sehingga Ratna menggunakan punggung pisaunya untuk memukul kepala mereka. Kemil, yang lebih muda dan kuat, melawan dengan lebih keras dan berulang kali, mengakibatkan kepalanya ditampar hingga berdarah.Kebencian Ratna terhadap Yudha dan Kemil tak kalah besarnya dengan kebencian Dewi terhadap mereka. Jika bukan karena hukum dan Dewi, Ratna pasti sudah menghajar kepala Yudha dan Kemil hingga babak belur."Ah, Komandan Ratna, ayah dan kakakku tidak enak badan, tolong lebih pelan!" teriak Nayla, memohon Ratna untuk bersikap lembut.Ratna memelototi Nayla dengan dingin. "Sedang tidak enak badan? Lalu kenapa mereka begitu sehat ketika membunuh dan meracuni orang?"Merasa makian verbal belum cukup, Ratna mengangkat kedua tangann

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 1203

    "Yang Mulia!"Dito keluar lebih dulu, diikuti oleh yang lainnya ....Mereka juga keluar, tetapi ...."Cepat jalan!"Beberapa prajurit wanita bersenjata muncul, menahan beberapa pria.Setelah mengetahui peracunan skala besar di Bratajaya, Arjuna telah mengantisipasi tindakan Yudha. Tugas pertamanya saat masuk ke Kota Sudarana adalah memanggil Rizal, memintanya untuk menyelidiki pergerakan berbagai pasukan di Bratajaya. Tugas kedua adalah penawar racun."Guntur, Salman, kenapa kalian ...." Ketika Yudha melihat Guntur dan Salman digiring keluar, dia benar-benar panik.Para Pengawal Kekaisaran tidak serta merta mematuhi perintah Dito. Jika pasukan Guntur dan Salman tidak bisa bergerak, hampir tidak ada peluang untuk menang."Kavaleri Besi Hitam, bawa Kemil pergi!"Yudha ingin menyelamatkan nyawa Kemil. Selama Kemil masih hidup, keluarganya masih memiliki harapan.Arjuna melambaikan tangannya dengan pelan. "Rizal!"Rizal segera memimpin lima puluh prajurit bersenjata senapan mesin ringan un

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 1202

    "Paduka Kaisar, bagaimana bisa Anda menikahi Bratajaya? Anda jelas-jelas ...."Ratna menatap Dewi dengan sedih.Anda jelas-jelas sangat mencintai Yang Mulia Arjuna, meskipun Anda tidak pernah mengakuinya, perasaan Anda tak terbantahkan.'Tak terhitung berapa malam Anda terbangun, memanggil nama Yang Mulia Arjuna, lalu duduk menatap kediaman Kusumo hingga fajar.'"Ratna, berhenti bicara lagi."Dewi mengibaskan lengan bajunya, seolah-olah memarahi Ratna, tetapi sebenarnya dia menggunakan kesempatan itu untuk menghapus air mata dari pipinya.Orang-orang di sekitar, termasuk Yudha, terkejut dengan keputusan tegas Dewi.Keheningan menyelimuti ruangan.Terdapat keterkejutan, kekaguman, dan kebingungan.Rambut Dewi yang terpotong sebagai sumpah untuk sementara membungkam gosip.Khawatir Ratna dan yang lainnya akan terus membujuknya, takut akan komplikasi jika berlarut-larut, bahkan lebih takut pada tatapan Arjuna yang patah hati, Dewi mengganti topik pembicaraan dengan lambaian tangannya."Pe

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 1201

    "Yang Mulia!"Akhirnya, bahkan Gading dan Galang pun berlutut.Silsilah legitimasi telah tertanam kuat di tulang-tulang orang-orang kuno ini.Tatapan Arjuna menyapu sekeliling, akhirnya dia menarik kembali pandangannya, lalu berkata, "Aku ....""Klang!"Sebuah suara nyaring terdengar, menyela kata-kata Arjuna.Itu Dewi. Sebelum Arjuna sempat berbicara, dia menghunus pedang dari gagangnya.Di bawah sinar matahari, pedang perak itu berkilau tajam, membuat orang merasa takut.Dewi mengangkat pedangnya."Paduka Kaisar!"Arjuna bergegas ke sisi Dewi, dia hawatir Dewi akan bertindak impulsif, menghunus pedangnya untuk membunuh Yudha.Yudha harus mati hari ini, tetapi tidak dengan cara seperti ini. Dia harus mengakui kejahatannya di hadapan semua orang dan menghadapi hukum Bratajaya.Campur tangan Arjuna terlambat.Namun, Dewi tidak mengangkat pedangnya untuk membunuh Yudha. Sebaliknya, dia memotong seikat rambutnya sendiri."Apa yang kamu lakukan?"Arjuna menatap Dewi dengan bingung. Dia tid

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 1200

    Identitas Dewi dan Arjuna yang tak jelas tidak hanya diketahui oleh penduduk ibu kota, tetapi semua orang di Bratajaya. Sebelumnya, Dewi adalah seorang "pria", sekarang segalanya berbeda."Tidak bisa!"Orang yang pertama mengajukan keberatan adalah para kerabat kekaisaran, kali ini sikap mereka tegas."Pangeran Maruta, Anda setuju dengan apa yang aku katakan, 'kan?"Yudha bertanya kepada Pangeran Maruta yang tetap diam sampai sekarang. Pangeran Maruta adalah adik mendiang Raja. Jika dia juga keberatan, maka Dewi harus turun takhta.Pangeran Maruta memelototi Yudha dengan ekspresi muram tanpa bersuara.Menghadapi tatapan tajam Pangeran Maruta, Yudha tidak hanya tak takut, tetapi bahkan mengangkat kepalanya lebih tinggi. "Aku sudah tahu. Pangeran Maruta, Anda sungguh luar biasa sebagai ayah mertua. Anda bahkan bisa menyerahkan kerajaan keluarga Alsava."Raut wajah Pangeran Maruta makin muram. Dia sungguh mendukung Dewi sepenuh hati, dia juga menyayangi Arjuna. Dia bahkan bisa memberikan

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 1199

    Saat Pangeran Maruta berbicara, embusan angin bertiup, mengangkat helaian rambut yang jatuh di wajah Dewi. Setelah angin mereda, helaian rambut itu jatuh kembali ke pipinya."Astaga!" seru kerumunan di sekitar. "Paduka Kaisar tampak persis seperti Ibu Suri dalam lukisan Tahun Baru!"Ibu Suri yang dimaksud adalah Permaisuri Selendra, istri mendiang kaisar sebelumnya.Di Bratajaya, potret kaisar terdahulu dan Permaisuri Selendra adalah lukisan terlaris selain potret Dewa Kekayaan. Toko-toko seni mengolahnya menjadi cetakan Tahun Baru, yang dibeDito digantung di rumah-rumah mereka dengan harapan dapat menangkal kejahatan dan bencana, sekaligus untuk memohon berkah leluhur agar keluarga mereka sukses dalam bisnis dan bahagia dalam percintaan."Bukan sekadar mirip, tapi sama persis!""Benar!"Kerumunan di sekitar bersorak sorai. Tak seorang pun yang tidak setuju dengan kemiripan Dewi dan Permaisuri Selendra. Karena Dewi yang rambutnya tergerai memang sangat mirip dengan Permaisuri Selendra.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status