Share

Bab 69

Penulis: Miss Lia
last update Tanggal publikasi: 2026-02-20 23:43:18

“Aku suka melihat orang bekerja keras, Sehan. Namun, tidak aku sangka aku bertemu dengan dirimu, padahal masalah yang kau hadapi cukup berat, namun kau bisa mengatasinya,” ucap Nadia setelah ia dan Sehan beberapa kali beristirahat disela permainan yang sedang keduanya lakukan.

“Semua ini pilihan, Tante. Sehan bisa saja hanya berdiam diri atau bahkan melakukan hal lain, yang mungkin pendapatan yang Sehan dapatkan tidak sebesar di tempat Sehan bekerja saat ini. Tapi Sehan memilih tempat yang bis
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sang Penakluk Wanita   Bab 130

    Sehan tidak menyangka jika putri dari ibu tirinya lah yang mengundang dia datang. Tatapan tajam dan penuh kebencian Sehan tidak membuat Nasya takut. Diri Nasya sudah sangat senang saat anak buahnya berhasil membawa Sehan ke rumahnya. Rumah pemberian Alinda, dimana dengan tega dan kejamnya menghabisi nyawa ibu kandung Sehan. Setelah bisa membuat berita lah baru Alinda memiliki kendali penuh pada keluarga Argantara. "Katakan apa maksud semua ini?" Tanya Sehan tanpa basa basi lagi. Sehan tidak habis pikir kenapa ada wanita senekat Nasya. Usianya hanya terpaut tiga tahun lebih muda Nasya daripada Sehan. "Hahaha, maaf, Kenz ... Eh, Sehan! Aku sengaja mengatakan semua ini agar aku bisa mendapatkan dirimu tanpa harus membayar pada wanita sialan itu!" ucap Nasya Putri kandung dari Alinda. Menurut sehan wanita itu adalah gadis sana ya tidak tahu aturan dan juga sopan santun. Entah bagaimana ibunya itu mendidik dirinya sehingga menjadi wanita yang tidak benar bahkan terke

  • Sang Penakluk Wanita   Bab 129

    Lelaki berseragam itu mengangguk lalu berkata," Silakan ikut saya, Tuan. Nyonya Zola sudah lama menunggu kita." Tanpa ada rasa curiga, Sehan mengikuti lelaki itu. "Kita akan kemana, Pak?" tanya Sehan. Sudah beberapa menit yang lalu di dlam mobil akan tetapi tidak sampai juga. "Tidak lama lagi, Tuan. Kita sudah dekat. Anda tenang saja, nanti jika sudah sampai akan saya beri tahu!" Supir itu menjawab dengan nadda sedikir emosi. Sehan mengerutkan kedua alisnya, seharusnya sebagai seorang supir tidak begitu jawabannya. Jelas yang diucapkan supir itu tidaklah sopan. "Kenapa anda menjawab begitu, Pak? Saya adalah tamu yang harus anda hormati. Saya bisa saja turun dan memesan taksi online lalu kembali ke hotel. hal yang sangat mudah bagi saya!" Suara dengusan terdengar dari napas si supir, menunjukkan kalau supir itu tidak suka dengan sehan yang banyak bicara. Namun, supir itu tidak membalas, ia hnya diam saja karen atidak ingin membuat masalah dengan tamu dari majikannya.

  • Sang Penakluk Wanita   Bab 128

    Tante Felicia menatap cumi asam pedas dengan tatapan tidak suka setelah tahu siapa yang memberi makanan itu. Akan tetapi perutnya tidak bisa bohong karena lapar setelah beraktivitas berat. "tante, kalau tante lapar lebih baik makan saja. Tidak baik membuang rezeki, lumayan kan bisa membuat kenyang daripada dibuang begitu saja," ujar Sehan. Lelaki hanya menahan senyum mana kala melihat mata tante Felicia yang tidak bisa lepas dari cumi-cumi asam pedas itu. "Hmm. Emang benar sih kalau kita tidak boleh menolak rizki. Dari pada dibuang kan sayang sekali. Mending kita makan kan?" celoteh tante Felicia membenarkan apa yang dikatakan oleh Sehan. "Hmm, sudahlah. Makanlah, tante. Kasihan cacing tante sudah lama menunggu. Mereka sudahkelaparan sedari tadi." Sehan menggelengkan kepalanya melihat tingkah tante Felicia yang terlihat lucu jika salah tingkah. Tante Felicia pastinya malu karena sebagai orang kaya raya mau makan makanan pemberian dari orang yang tidak selevel dengan

  • Sang Penakluk Wanita   bab. 127

    Sehan duduk sembari melihat ke arah piring cumi-cumi asam pedas. Kebetulan habis mandi dia merasa lapar. Belum ada pergerakan dari Sehan. Menatap makanannya yang saat ini akan dia makan. Makanan yang dia inginkan sebenarnya adalah makanan higienis Sehan dan bukan dari pesanan orang lain yang digagalkan. "Meskipun enak rasanya aku tidak tertarik dengan lauk ini. Seperti sedang memakan sisa orang lain!" Sehan mengurungkan niatnya untuk memakan cumi-cumi asam pedas itu. Sehan mengambil ponselnya dan memilih untuk melihat pesan masuk. "Tante Zola ada apa lagi dia?" gumam Sehan menaikkan kedua alisnya saat melihat notif pesan masuk dari Tante Zola. 'Sehan, malam ini kalau kamu tidak sedang sibuk atau free maka layani lah Tante Raysa. Dia sangat ingin memakai mu. Sepertinya dia akan menjadi pelanggan tetap mu!' 'Satu lagi jika ada chat masuk dengan nomor asing, itu adalah pelanggan mu selanjutnya. Kamu bebas berkencan kapan saja sesuai mood mu.' Sehan mendelik sempurna, rup

  • Sang Penakluk Wanita   Bab 126

    Kedua orang saling menatap tajam. "Benarkah? Aku yakin suatu saat kamu akan menginginkannya. Dan di saat iu iba, aku pastikan hanya aku lah yang kamu inginkan, Nona!" tegas Sehan sembari menekan dahi Chellia dengan telunjuknya. "Aduh, sakit!" teriak Sehan menahan sakit karena gigitan Chelia. Sehan tidak menjawab pertanyaan dari Chellia. Ia memilih mengabaikan saja karena pasti akan membawa masalah lain dan Sehan saat ini sedang malas debat. "Sudahlah, katakan buat apa kamu datang membawa makanan itu pada kami?" tanya Sehan dengan nada kesal. Ia kecewa karena makanan yang ia pilihkan tidak dimakan oleh Chellia. Chellia mengalihkan pandangannya dari tubuh Sehan ke arah piring saji berisi cumi pedas mania. "Mmm, begini. Saat ini makanan yang dikirim ke kamarku berlebihan, dan aku lihat kakak tadi belum makan. Jadi aku bagi sedikit makanan untuknya. Siapa tau dia merasa lapar atau bagaimana gitu," jawab Chellia dengan menatap ke arah salah satu tangannya yang membawa piring saj

  • Sang Penakluk Wanita   bab 125

    Tante Felicia benar-benar menguasai tubuh Sehan seorang diri. Wanita itu tersenyum sembari memejamkan mata saat dirinya sampai di puncak sedangkan Sehan belum merasa apa-apa. Bruk! Tante Felicia lemas dan menjatuhkan dirinya di samping tubuh Sehan. Beberaap menit kemudian dengkuran halus terdengar dari bibir Tante Felicia. "Sial, wanita itu seenaknya sendiri tidur begitu saja tanpa pedulikan aku yang belum sampai puncak pun!" geram Sehan kesal karena dia belum sampai puncak, Tante Felicia sudah tidur duluan. Sehan menyingkirkan tangan Tante Felicia yang masih berada di atas dadanya. Ia bangkit dari tidurnya dan akan menyelesaikan nafsunya dengan bermain solo di kamar mandi. "Aaargh, sial sekali! Lagi-lagi aku harus menuntaskan hasratku sendiri di kamar mandi! Entah kenapa tidak ada wanita yang bisa bertahan lebih lama dariku!" gumam Sehan sembari mengumpulkan kembali bajunya yang berserakan di lantai. Dengan langkah lunglai, Sehan menuju ke kamar mandi. Saat hendak sa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status