MasukDi sebuah lembah terpencil yang diselimuti kabut abadi, tersembunyi dari hiruk-pikuk dunia kultivasi yang penuh intrik, tinggallah seorang pemuda bernama Wo Long.
Sesuai dengan namanya yang berarti "Naga Tertidur," Wo Long lebih memilih kehangatan sinar matahari yang menembus dedaunan rindang dan kelembutan lumut di bawah pohon purba sebagai teman setianya. Baginya, hiruk-pikuk para kultivator yang berlomba-lomba meningkatkan kekuatan, bertarung memperebutkan sumber daya, dan menjunjung tinggi hukum rimba yang kejam hanyalah gangguan yang tak perlu. Rutinitas hariannya nyaris tak berubah. Ia bangun saat matahari sudah cukup tinggi, mencari buah-buahan atau umbi-umbian dengan usaha seminim mungkin, lalu kembali merebahkan diri di tempat favoritnya hingga senja menjelang. Dunia luar, dengan segala ambisi dan pertumpahan darahnya, terasa begitu jauh dan tidak relevan bagi Wo Long. Ia lebih suka menghabiskan waktu dalam lamunan tentang awan yang membentuk berbagai rupa atau suara serangga yang mendendangkan melodi alam. Para tetangga di perkampungan kecil itu telah lama menyerah untuk memahami Wo Long. Mereka menggelengkan kepala melihat pemuda yang memiliki bakat kultivasi yang lumayan, tetapi memilih untuk menyia-nyiakannya. "Sayang sekali," bisik para tetua. "Dengan potensi seperti itu, dia bisa mencapai puncak dunia kultivasi. Tapi lihatlah, dia lebih memilih tidur daripada berlatih." Namun, di balik mata Wo Long yang sering kali terlihat sayu dan gerak-geriknya yang lamban, tersembunyi sebuah kejernihan pikiran yang jarang dimiliki oleh para kultivator yang terobsesi dengan kekuatan. Ia mengamati dunia dengan perspektif yang unik, tidak terpengaruh oleh ambisi atau ketakutan. Baginya, hukum rimba "si kuat memangsa yang lemah" hanyalah sebuah lingkaran setan yang tak berujung, sebuah tatanan yang cacat, namun diterima begitu saja. Di suatu siang yang tenang, saat Wo Long tertidur lelap di bawah naungan pohon beringin raksasa, sebuah bisikan lembut menyusup ke dalam mimpinya. Bukan suara manusia atau makhluk duniawi, melainkan resonansi yang menggema jauh di dalam jiwanya. "Wo Long..." Suara itu terasa kuno dan tak terhingga, seperti desiran angin yang telah berhembus sejak awal waktu. Wo Long menggeliat dalam tidurnya, merasa ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. "Dunia telah kehilangan keseimbangannya..." bisikan itu berlanjut, perlahan, namun pasti membangunkan kesadarannya. "Hukum yang berlaku telah menodai harmoni yang seharusnya ada..." "Suara apakah itu?" gumamnya pelan, mulai sadar dari tidurnya. Mata Wo Long terbuka perlahan. Ia menatap langit dengan dedaunan yang berayun lembut, bertanya-tanya apakah ia mendengar suara tadi saat sedang bermimpi. Namun, ada sensasi aneh yang menggelayuti dirinya, sebuah keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa bisikan itu nyata. Wo Long meregangkan kedua tangannya dan menguap sambil menutupi mulutnya. Ia celingak-celinguk, memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar. "Siapa sih tadi yang berbicara, mengganggu tidurku saja." Tiba-tiba, sebuah cahaya lembut terpancar dari dalam benaknya, menampilkan sosok yang tak terlukiskan – sebuah entitas yang terasa begitu agung dan purba hingga Wo Long merasa seluruh keberadaannya bergetar. 'Si… siapakah sosok agung ini?' batinnya terbata. "Akulah Sang Pencipta Seluruh Alam," suara itu bergema dalam benaknya, kali ini lebih jelas dan penuh wibawa. "Dan kaulah... utusan yang Ku pilih." "A… apa maksudmu? Aku utusan apa? Dan siapa Sang Pencipta Seluruh Alam itu?" tanyanya. Wajahnya terkejut melihat sosok agung yang belum pernah dilihatnya seumur hidup. Ia baru pertama kali ini mendengar nama tersebut, tetapi jiwanya bergetar dan mulutnya terasa kelu saat mengucapkannya. Sebuah gambaran kehidupan terbentang, dimulai dari pergerakan tak terhitung dari partikel-partikel kecil yang menjadi cikal bakal kehidupan. Proses pertumbuhan tanaman terlukiskan, dari kecambah mungil yang berjuang menembus tanah, hingga menjadi pohon besar dan kokoh. Begitu juga dengan proses embrio di dalam rahim seorang ibu, yang perlahan tumbuh menjadi janin, membentuk organ dan jaringan tubuh yang kompleks, sampai akhirnya terlahir ke dunia. Jalan kehidupan alam semesta pun bergulir. Tahun demi tahun, perubahan membawa kemajuan bagi manusia, tetapi mengganggu keseimbangan ekosistem. Manusia mulai menebang pepohonan secara membabi buta untuk membangun peradaban. Abad demi abad berlalu, kejayaan manusia semakin tak terbendung, mendominasi kehidupan dan menekan makhluk lain. Seorang kultivator manusia memimpin bangsanya menuju kejayaan, sementara sebagian kultivator lainnya memilih jalan yang menyesatkan. Pertentangan tak terhindarkan, memicu pertempuran yang menghancurkan berbagai wilayah yang dihuni manusia. Akibatnya, beberapa kawanan hewan yang memiliki kekuatan dan kecerdasan luar biasa memilih untuk mengasingkan diri ke dalam hutan yang tak terjamah oleh tangan manusia. Sebagian lagi harus musnah karena gegabah melawan manusia. Bahkan, tanaman yang memiliki banyak manfaat kini menjadi sangat langka, hanya tersisa di beberapa wilayah berbahaya. Kehidupan manusia didominasi oleh kekuasaan dan kekuatan, membuat mayoritas manusia menderita karena tidak memiliki kedua hal itu. Kekejaman pada sesama merajalela. Para penguasa mempertahankan wilayah mereka dengan intrik dan kekerasan. Pertempuran antara orang-orang berkuasa dan mereka yang memiliki kekuatan luar biasa sering terjadi, sampai mengguncang bumi dan langit. "Kamu adalah salah satu dari ciptaan yang Ku buat, tetapi kamu Ku berikan suatu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Karena itu, kamu harus menanggung tanggung jawab dengan mendapatkan keistimewaan yang Ku berikan kepadamu," lanjut Sang Pencipta. Wo Long terperanjat. Ia, si pemalas yang lebih suka tidur daripada bergerak, dipilih menjadi utusan Sang Pencipta? Tugas macam apa yang mungkin diemban oleh seorang seperti dirinya? Dan yang lebih membingungkan, tugas apa yang bisa diberikan oleh Sang Pencipta kepada seorang pemalas seperti dirinya? Sebelum Wo Long sempat mengajukan pertanyaan, Sang Pencipta melanjutkan, "Hukum rimba yang berlaku di dunia kultivasi... harus diubah. Kaulah yang akan membawa kembali keseimbangan dan keadilan." Sebuah beban yang tak terbayangkan terasa menimpa pundak Wo Long yang selama ini hanya terbiasa menahan kantuk. Ia, seorang pemalas yang bahkan enggan berjalan jauh, kini ditugaskan untuk mengubah tatanan dunia yang telah mengakar kuat selama berabad-abad. "Tapi... tapi aku..." gumam Wo Long linglung, mencoba mencerna kenyataan yang terasa seperti mimpi buruk. Sang Pencipta seolah mengerti kebingungan dan ketidakpercayaannya. "Di dalam kemalasanmu, terdapat sebuah kejernihan. Di dalam keenggananmu terhadap kekerasan, ada potensi untuk kedamaian. Jangan meremehkan dirimu, Wo Long. Takdir memiliki jalannya sendiri." Dengan kata-kata terakhir itu, kehadiran Sang Pencipta memudar, meninggalkan Wo Long yang terduduk lemas di bawah pohon beringin. Angin sepoi-sepoi yang biasanya terasa menenangkan kini membawa bersamanya beban tanggung jawab yang maha berat. "Aaa... apa semua ini?" gumamnya, masih tidak percaya. Namun, gambaran tadi dan wujud sosok yang tak terbantahkan, bahkan sampai sekarang sosok tersebut terus terlihat dalam pikirannya dengan sangat jelas. Apakah dirinya harus mempercayai semua ini? Sang Pencipta Seluruh Alam telah dia lihat, dengan sebuah tugas yang diberikan kepadanya. Apakah semua ini nyata atau hanya sebuah ilusi saja? "Tetapi sosok agung yang tidak terbantahkan itu," Wo Long merasa tidak percaya, tetapi apa yang tadi dia dengar dan lihat begitu nyata. Apalagi setelah melihat kilas waktu kehidupan di seluruh dunia yang luar biasa. "Bagaimana ini, apakah aku bisa melakukannya?" ucapnya dengan nada pasrah. Sebuah memori yang tiba-tiba muncul di kepalanya, yang menunjukkan betapa buruk dan kejamnya dunia ini, membuatnya lemas. Ia bahkan merasakan panas dingin di sekujur tubuhnya. Bagaimana mungkin seorang pemalas seperti dirinya menjadi utusan Sang Pencipta? Dan bagaimana mungkin ia, yang selalu menghindari masalah, kini harus menghadapi seluruh dunia kultivasi untuk mengubah hukum rimba yang kejam? Wo Long mengacak-acak rambutnya dengan gusar, memikirkan semua hal yang harus ia lakukan. Apakah dirinya bisa? Apakah dunia yang sudah rusak ini masih bisa diperbaiki? "Apakah... apakah... apakah..." kata-kata itu terngiang-ngiang di kepalanya. "Semuanya terlalu rumit. Kalaupun nyata, bagaimana bisa aku melakukannya? Mau memulai dari mana pun aku tidak terpikirkan, apalagi dengan tanggung jawab yang begitu berat ini." Wo Long menarik napas perlahan, lalu menghembuskannya. Dia melakukannya tiga kali berturut-turut. Setelah merasa pikirannya mulai tenang, dia menatap langit. Ia mulai mengingat kembali ucapan sang ibu yang telah meninggal, bahwa di dunia ini tidak ada hal yang mustahil, kecuali hal tersebut telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Matanya terbelalak. Ia baru teringat kalau ibunya pernah berbicara tentang Sang Pencipta juga. "Entah bagaimana ibu bisa mengetahui semua itu, padahal semua orang tidak mengetahui keberadaan Sang Pencipta. Tapi aku harus mulai percaya kalau tidak ada yang mustahil dalam kehidupan ini, karena dengan sebuah usaha, segala urusan bisa teratasi. Semangat, Wo Long, kamu pasti bisa!" ucapnya, menyemangati diri sendiri. Ia mulai mencoba membangun kepercayaan diri dan semangat yang selama ini tidak pernah hadir dalam dirinya. Tetapi sekarang, mau tidak mau ia harus membangunnya. Dia tahu betul betapa kejamnya dunia kultivasi yang menggunakan hukum rimba, di mana seorang yang lemah, penakut, dan tidak memiliki kepercayaan diri akan mudah ditindas. Wo Long harus mempersiapkan segalanya untuk menjalani kehidupan barunya, setelah selama ini dirinya menjalani kehidupan yang tenang dan damai.di sudut terjauh bagian bangunan sekte ilusi, terdapat sebuah rumah kayu yang sudah lapuk hampir reyot berdiri dengan sunyi. Dan itu adalah rumah kediaman keluarga Kaelan. Di dalamnya, terdapat seorang wanita tua, ibu dari Kaelan sedang tertidur lelap, dia tidak menyadari bahwa maut sedang merayap masuk ke halaman rumahnya. Muncul enam sosok berpakaian hitam di halaman rumah yang hampir rubuh itu, dan mereka adalah anggota dari faksi rahasia Elder Lin yang bergabung dengan Tetua Chang Min yang selalu menindas keluarga Kaelan. para kultivator itu bergerak dengan kelincahan predator. Pemimpin mereka, seorang pria dengan bekas luka di mata kirinya, memberi isyarat tangan. "Ingat instruksi Elder Lin," bisiknya dengan suara serak yang nyaris hilang ditelan angin. "Jangan bunuh wanita penyakitan itu. Karena kita membutuhkan dia hidup-hidup untuk memastikan Kaelan tidak bisa melawan. Jika bocah itu berani bertindak, maka wanita ini akan menjadi taruhannya agar dirinya tidak berani
Larut malam telah tiba ketika Wo Long dan Thanzi melangkah menyusuri jalan setapak berbatuan menuju bukit tempat tinggal mereka yang terisolasi. Suara jangkrik dan desir angin di antara pepohonan bambu memberikan melodi ketenangan yang sudah lama tidak Wo Long rasakan. Setibanya di dalam bangunan kayu, Wo Long tidak langsung beristirahat. Ia menuju ke meja kerjanya yang dipenuhi dengan tanaman obat kering dan botol-botol kristal. Thanzi duduk di kursi kayu di sudut ruangan, memperhatikan Wo Long dengan tatapan lembut. Untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir, Thanzi melihat ketegangan di bahu Wo Long mulai mengendur. Tidak ada lagi api kemarahan yang meluap-luap seperti saat Wo Long berlatih di bawah air terjun tempo beberapa hari. "Kau akan mulai meracik lagi, Kak?" tanya Thanzi sambil tersenyum kecil. Wo Long mengangguk, tangannya dengan terampil memilah kelopak bunga Matahari Pagi. "Latihan fisik memang penting, tapi untuk seorang alkemis sejati, ketenangan dapa
Siang itu, matahari di atas wilayah perbatasan Kerajaan Angin terasa menyengat, namun di tepi sungai yang mengalir di kaki gunung dekat Sekte Ilusi, udara terasa lebih sejuk berkat rindangnya pohon-pohon kuno. Sekelompok murid perempuan, yaitu Mei-Mei, Xuan Ji putri Kepala Sekte, Han Lie, Wei, Zhee Lin, dan yang lainnya, yang baru saja menyelesaikan tugas harian mereka mengambil air dan mencuci jubah-jubah latihan. Suasana sangat riuh dengan tawa dan obrolan ringan. Mereka sedang membicarakan betapa pesatnya kemajuan kultivasi mereka sejak kedatangan kelompok Wo Long. "Kalian juga melihatnya bukan? Sejak meminum pil pemurni meridian dari Tetua Zee, gerakanku menjadi jauh lebih ringan," puji Xuan Ji sambil memeras kain. "Benar, rasanya seperti beban berat di tubuhku juga terasa seperti terangkat," jawab murid sekte perempuan lainnya dengan wajah berseri-seri, sedangkan Mei-Mei dan teman-teman kelas B perempuan lainnya hanya tersenyum geleng-geleng kepala. Namun, keceriaan itu m
Thanzi, yang kini telah mampu berdiri tegak dengan aura Ranah Raja Puncak yang tenang namun menindas, berjalan perlahan keluar dari bukit belakang setelah pamit terlebih dahulu kepada Wo Long. Di sampingnya, Komandan Ren berjalan dengan langkah tegap, menjalankan tugasnya untuk memperkenalkan dunia yang selama setahun ini hanya dirasakan Thanzi lewat sisa-sisa energi. "Tuan Muda Thanzi, selamat datang di sekte kami," ujar Komandan Ren dengan nada bicara yang penuh hormat namun hangat. "Aku tahu dari Tuan Muda Eo Long kalau kalau tuan muda pasti bisa merasakan sekitar saat tertidur, tapi melihat dengan mata kepala sendiri adalah hal yang berbeda." Dirinya di mintai oleh Tetua Bao Li agar memperkenalkan tempat ini kepada Thanzi, dan dengan senang hati dirinya melakukan hal tersebut. Thanzi mengangguk pelan, matanya yang berwarna perak tajam menatap ke sekeliling. "Kau benar, Komandan. Saat aku tertidur lelap, aku hanya bisa merasakan getaran energi dan aroma. Aku tahu tempat ini lua
Setelah setahun lebih terlelap dalam belenggu racun, Thanzi akhirnya terbangun. Ruangan alkimia yang biasanya panas dan penuh tekanan kini terasa dingin setelah tungku peracikan dipadamkan. Thanzi mendudukan dirinya di tempat tidur batu giok, ia mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari yang masuk dari celah jendela. Di depannya, terdapat Wo Long berdiri dengan tatapan penuh keharuan. Namun, di balik senyum hangat orang yang telah dirinya anggap sebagai kakaknya sendiri, Thanzi merasakan sesuatu yang mengganjal padanya, seperti ada sebuah kekosongan yang dalam, seolah-olah separuh jiwa Wo Long baru saja direnggut paksa. Thanzi menatap sekeliling ruangan yang asing baginya. Ia mencium sisa-is aroma yang lembut, aroma yang tidak berasal dari bahan obat mana pun. "Kak..." suara Thanzi pelan, namun berwibawa. "Di mana perempuan yang selama ini bersamamu?" Wo Long tertegun sejenak. Tangannya yang sedang merapikan botol obat sedikit gemetar, namun ia segera meng
Waktu berjalan seperti aliran sungai yang tenang namun tak terbendung di bukit belakang Sekte Ilusi. Satu tahun telah berlalu sejak Wo Long membawa Lin Xiao kembali dari kengerian Hutan Beracun. Satu tahun yang tidak hanya diisi oleh uap tungku alkimia dan aroma obat yang pahit, tetapi juga oleh untaian perasaan yang tumbuh di sela-sela perjuangan mereka berdua untuk menyelamatkan orang-orang tersayang mereka. Ruangan alkimia terlarang itu kini tidak lagi terasa dingin dan kaku. Berkat kehadiran Lin Xiao, tempat itu memiliki sentuhan kehidupan. Ada bunga-bunga liar yang diletakkan di dalam vas tanah liat, dan suara tawa kecil yang sesekali pecah di tengah keheningan malam saat mereka berdua beradu argumen tentang dosis tanaman obat. Selama satu tahun ini, Wo Long dan Lin Xiao bekerja dalam sinkronisasi yang sempurna. Setiap malam, mereka duduk berseberangan di depan Tungku Naga Langit. Wo Long mengendalikan api emas yang ganas, sementara Lin Xiao, dengan tangan yang lembut namun







