แชร์

3. keluar dari lembah

ผู้เขียน: Mr.Xg
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-09-08 22:45:05

Matahari senja mulai mewarnai langit lembah dengan gradasi jingga dan ungu yang begitu indah. Wo Long, yang sedang bersantai di dahan teratas pohon beringin, menatap ke depan dengan banyak pikiran. Ini adalah hal baru baginya, tetapi sebuah keputusan telah diambil, ia tidak bisa lagi bersembunyi dari takdir yang telah memilihnya.

“Sebaiknya aku membereskan barang, karena besok aku harus pergi dari lembah ini. Aku harus mencari tahu langkah apa yang harus aku ambil untuk memulai semuanya dan mengubah dunia yang mengerikan ini.”

Wo Long membayangkan hal itu dan bergidik ngeri.

Mengubah dunia yang mengerikan ini bagaikan sebuah mimpi, tetapi ia percaya Sang Pencipta pasti akan membantunya dalam menjalankan misi yang menurutnya sangat mustahil ini. Meskipun rasa malas masih menggoda untuk menariknya kembali ke dalam dekapan ketenangan, bayangan penderitaan yang ia lihat dalam kilasan memori Sang Pencipta terlalu kuat untuk diabaikan.

“Baiklah,” gumamnya pelan, suaranya berbaur dengan desiran angin sore. “Mari kita lihat, Sang Pencipta Seluruh Alam mempercayakannya kepadaku. Entah apa yang bisa dilakukan oleh seorang pemalas sepertiku.”

Langkah pertama yang terlintas di pikirannya adalah meninggalkan lembah yang selama ini menjadi dunianya. Ini bukan tugas yang mudah. Setiap sudut lembah menyimpan kenangan tentang ketenangan dan kedamaian. Namun, ia tahu, ia tidak bisa lagi berlama-lama di sini. Dunia luar menantinya, dengan segala kekacauan dan ketidakadilannya.

Hap!

Wo Long melompat dari atas pohon dan mendarat di tanah dengan selamat. Ia mengamati sekelilingnya untuk menyimpan memori tentang tempat favoritnya ini, yang entah kapan lagi bisa ia kunjungi.

“Selamat tinggal, kedamaian. Semoga suatu hari kita bisa bertemu kembali,” gumamnya, lalu mulai melangkah menuju rumah kayunya yang sederhana.

Dalam perjalanan, ia memerhatikan sekelilingnya yang terlihat indah, di mana sungai ditumbuhi bunga teratai pelangi yang memiliki khasiat luar biasa. Bahkan air sungainya bisa menjadi obat, karena sebulan sekali embun dari bunga tersebut akan menetes ke dalam sungai, sehingga kandungan obatnya menyebar.

Wo Long sering meminum air sungai ini. Rasanya sangat menyejukkan, membuat pikiran terasa lebih tenang dan ringan. Bahkan tubuhnya yang jarang bergerak terbentuk dengan sendirinya dan memiliki kekuatan yang setara dengan orang yang bekerja keras, semua itu berkat air sungai tersebut.

Mengingat itu, ia pun mengambil wadah air yang tergantung di pinggangnya, lalu pergi ke tepi sungai sebentar dan mengisi wadah itu sampai penuh.

“Air sehebat ini jangan sampai dilupakan. Hei, sungai teratai pelangi, aku minta airmu, ya. Aku akan pergi dari sini,” ucapnya sambil menatap sungai setelah mengambil air. Entah mengapa, ia memang suka berbicara pada sesuatu yang disukainya, meskipun itu adalah benda mati.

Dari sebuah bunga teratai pelangi yang tiba-tiba mekar, muncul sebutir bola kecil yang bersinar warna-warni, sepertinya biji teratai. Biji itu terbang dan masuk ke dalam saku baju Wo Long tanpa ia sadari.

Selama perjalanan, Wo Long berpamitan pada tempat-tempat yang sering ia singgahi, seperti sebuah batu besar di tepi tebing yang menyuguhkan pemandangan indah, dan padang rumput tempat banyak hewan berkeliaran. Dan akhirnya, ia sampai di depan pagar sebuah rumah kayu yang cukup besar dan bagus.

Di depan rumah tersebut ada dua pasang suami istri, sepasang suami istri tua dan empat orang anak remaja laki-laki serta perempuan yang sedang asyik dengan kegiatan masing-masing.

“Paman Rio,” panggilnya.

Semua orang di sana langsung menatap Wo Long dengan heran. Baru kali ini mereka melihat Wo Long datang ke rumah mereka tanpa diundang. Pria yang sedang memotong kayu pun tersadar dari keheranannya dan segera mengenakan bajunya. Ia berjalan menghampiri Wo Long.

“Wo Long, ayo masuk. Tumben sekali kamu mau mampir. Aku senang sekali kamu datang tanpa harus diajak terlebih dahulu,” ucapnya dengan bahagia. Wo Long yang mendengar itu hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya karena merasa malu.

“Eh, Nak Wo Long, ayo ke sini, duduk,” ajak sepasang suami istri yang sedang duduk di bawah gazebo. Sepertinya mereka sedang memilah tanaman yang baru saja diambil dari dalam hutan.

Wo Long dan Paman Rio pun menghampiri dan ikut duduk di sana.

“Halo, Paman Ker, Bibi Si,” sapa Wo Long, yang disahuti oleh kedua orang tersebut.

Semua orang yang tadinya sedang asyik dengan kegiatan masing-masing langsung pergi ke gazebo dan mengobrol dengan Wo Long.

“Bang Wo Long, apakah kamu membawa apel lagi untukku seperti minggu kemarin?” tanya anak laki-laki yang kira-kira berumur sembilan tahun.

Sontak, wanita yang merupakan ibu dari anak tersebut (istri Paman Rio,) menatapnya tajam.

“Kamu ini…”

Anaknya hanya tersenyum melihat itu, sedangkan Wo Long yang tidak lupa segera mengeluarkan beberapa buah apel hijau yang ia petik dari pohon dekat sungai dan memberikannya kepada anak itu.

“Paman, Bibi, sebenarnya aku ingin berpamitan dengan kalian,” ucapnya tiba-tiba.

Para anak-anak yang sedang asyik memakan buah apel, dua pasang suami istri, dan sepasang suami istri tua yang menatapnya langsung terdiam.

“Maksudmu, kamu ingin pergi dari sini dan memulai kehidupan baru?” tanya Kakek Fu, yang diangguki oleh Wo Long.

Mendengar itu, semua orang saling berpandangan. Mereka mulai mengobrol lebih serius. Di satu sisi, mereka bahagia karena Wo Long akhirnya bisa hidup seperti orang pada umumnya, tetapi mereka juga sedikit sedih karena akan kehilangan sosok Wo Long yang sering mereka perhatikan setiap hari.

“Kalau begitu, semuanya saya pamit, ya. Dan semoga saja suatu hari kita bisa bertemu kembali,” Wo Long bangkit dari duduknya dan diantar pergi sampai depan pagar oleh semua orang.

“Hati-hati, ya, Bang, nanti di perjalanan!” ucap para anak-anak itu kompak, yang diangguki oleh Wo Long.

“Sepertinya dia sudah mendapatkan jalan yang seharusnya ia jalani. Karena kalau dirinya terus di sini, dunia ini akan semakin kacau,” ucap Kakek Fu, yang diangguki oleh yang lainnya.

“Tetapi semoga Wo Long bisa menghadapi semuanya dengan lancar,” ucap istri Paman Rio.

Keesokan harinya, saat kabut pagi masih menyelimuti lembah, Wo Long mulai berjalan.

“Selamat tinggal semuanya,” ucapnya pada dunianya.

Ia tidak membawa apa pun kecuali pakaian sederhana yang melekat di tubuhnya dan tekad yang baru saja tumbuh di dalam hatinya. Ternyata, ia tidak memiliki barang penting yang bisa dibawanya. Yang ada hanyalah cincin penyimpanan di jarinya yang berisi beberapa tanaman yang diberikan oleh Paman Ker dan istrinya, sebotol air dari sungai, dan sebutir biji warna-warni yang tiba-tiba saja ada di saku bajunya.

Ia berjalan tanpa tujuan yang jelas, hanya mengikuti insting yang membawanya keluar dari lembah terpencil itu.

“Huh… entah ke mana jalan ini akan membawaku,” gumamnya sambil terus berjalan, karena dirinya memang tidak mengenali jalan untuk keluar dari dalam lembah.

Selama beberapa hari berjalan kaki, ia bertemu dengan beberapa hewan seperti kelinci tanah dan ayam api. Ia menangkapnya dan memanggang mereka dengan bumbu dari alam seadanya.

Setelah kelinci dan ayamnya matang, Wo Long celingak-celinguk seperti mencari sesuatu. Ketika melihat sesuatu yang dicarinya, ia berlari dan kembali membawa sebuah batu merah muda yang kotor.

Krakkk!

Ia membelah batu tersebut, lalu mulai mengikis sedikit bagian dalamnya yang terlihat indah dan menaburkannya di atas kelinci dan ayam bakar.

“Sempurna,” katanya, kemudian melempar batu tersebut ke sembarang arah dan mulai memakan makanannya dengan lahap.

Setelah selesai, ia mulai berjalan kembali dan akhirnya tiba di kaki pegunungan yang menjulang tinggi. Di kejauhan, ia bisa melihat samar-samar atap bangunan yang menandakan keberadaan permukiman manusia. Ini adalah pertama kalinya ia melihat dunia luar setelah bertahun-tahun mengasingkan diri.

“Sepertinya itu tempat orang-orang tinggal, seperti yang dibilang Paman Rio,” gumamnya.

Saat ia mendekati sebuah desa kecil di kaki gunung, suara riuh rendah terdengar. Para penduduk desa tampak sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Beberapa petani sedang menggarap sawah, sementara yang lain berjualan di pasar kecil.

Pemandangan ini terasa asing bagi Wo Long yang terbiasa dengan kesunyian lembahnya.

“Semua ini sangat asing dan memiliki suasana tersendiri, karena biasanya aku hidup dalam kesunyian dan kedamaian.”

Namun di tengah keramaian itu, Wo Long menangkap aura yang tidak menyenangkan. Beberapa orang tampak berjalan dengan angkuh, mengenakan pakaian mewah dan membawa senjata berkilauan. Mereka menatap rendah para penduduk desa, dan aura kekerasan terpancar dari mereka.

“Apa-apaan orang-orang itu?” gumamnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Sang Penentang Aturan   Berkumpul di sungai

    Larut malam telah tiba ketika Wo Long dan Thanzi melangkah menyusuri jalan setapak berbatuan menuju bukit tempat tinggal mereka yang terisolasi. Suara jangkrik dan desir angin di antara pepohonan bambu memberikan melodi ketenangan yang sudah lama tidak Wo Long rasakan. Setibanya di dalam bangunan kayu, Wo Long tidak langsung beristirahat. Ia menuju ke meja kerjanya yang dipenuhi dengan tanaman obat kering dan botol-botol kristal. Thanzi duduk di kursi kayu di sudut ruangan, memperhatikan Wo Long dengan tatapan lembut. Untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir, Thanzi melihat ketegangan di bahu Wo Long mulai mengendur. Tidak ada lagi api kemarahan yang meluap-luap seperti saat Wo Long berlatih di bawah air terjun tempo beberapa hari. "Kau akan mulai meracik lagi, Kak?" tanya Thanzi sambil tersenyum kecil. Wo Long mengangguk, tangannya dengan terampil memilah kelopak bunga Matahari Pagi. "Latihan fisik memang penting, tapi untuk seorang alkemis sejati, ketenangan dapa

  • Sang Penentang Aturan   Jaring laba-laba yang sangat besar

    Siang itu, matahari di atas wilayah perbatasan Kerajaan Angin terasa menyengat, namun di tepi sungai yang mengalir di kaki gunung dekat Sekte Ilusi, udara terasa lebih sejuk berkat rindangnya pohon-pohon kuno. Sekelompok murid perempuan, yaitu Mei-Mei, Xuan Ji putri Kepala Sekte, Han Lie, Wei, Zhee Lin, dan yang lainnya, yang baru saja menyelesaikan tugas harian mereka mengambil air dan mencuci jubah-jubah latihan. Suasana sangat riuh dengan tawa dan obrolan ringan. Mereka sedang membicarakan betapa pesatnya kemajuan kultivasi mereka sejak kedatangan kelompok Wo Long. "Kalian juga melihatnya bukan? Sejak meminum pil pemurni meridian dari Tetua Zee, gerakanku menjadi jauh lebih ringan," puji Xuan Ji sambil memeras kain. "Benar, rasanya seperti beban berat di tubuhku juga terasa seperti terangkat," jawab murid sekte perempuan lainnya dengan wajah berseri-seri, sedangkan Mei-Mei dan teman-teman kelas B perempuan lainnya hanya tersenyum geleng-geleng kepala. Namun, keceriaan it

  • Sang Penentang Aturan   Perjuangan, harapan, dan pemberontakan.

    Thanzi, yang kini telah mampu berdiri tegak dengan aura Ranah Raja Puncak yang tenang namun menindas, berjalan perlahan keluar dari bukit belakang setelah pamit terlebih dahulu kepada Wo Long. Di sampingnya, Komandan Ren berjalan dengan langkah tegap, menjalankan tugasnya untuk memperkenalkan dunia yang selama setahun ini hanya dirasakan Thanzi lewat sisa-sisa energi. "Tuan Muda Thanzi, selamat datang di sekte kami," ujar Komandan Ren dengan nada bicara yang penuh hormat namun hangat. "Aku tahu dari Tuan Muda Eo Long kalau kalau tuan muda pasti bisa merasakan sekitar saat tertidur, tapi melihat dengan mata kepala sendiri adalah hal yang berbeda." Dirinya di mintai oleh Tetua Bao Li agar memperkenalkan tempat ini kepada Thanzi, dan dengan senang hati dirinya melakukan hal tersebut. Thanzi mengangguk pelan, matanya yang berwarna perak tajam menatap ke sekeliling. "Kau benar, Komandan. Saat aku tertidur lelap, aku hanya bisa merasakan getaran energi dan aroma. Aku tahu tempat ini lua

  • Sang Penentang Aturan   Menjadi iblis di mata dunia

    Setelah setahun lebih terlelap dalam belenggu racun, Thanzi akhirnya terbangun. Ruangan alkimia yang biasanya panas dan penuh tekanan kini terasa dingin setelah tungku peracikan dipadamkan. Thanzi mendudukan dirinya di tempat tidur batu giok, ia mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari yang masuk dari celah jendela. Di depannya, terdapat Wo Long berdiri dengan tatapan penuh keharuan. Namun, di balik senyum hangat orang yang telah dirinya anggap sebagai kakaknya sendiri, Thanzi merasakan sesuatu yang mengganjal padanya, seperti ada sebuah kekosongan yang dalam, seolah-olah separuh jiwa Wo Long baru saja direnggut paksa. Thanzi menatap sekeliling ruangan yang asing baginya. Ia mencium sisa-is aroma yang lembut, aroma yang tidak berasal dari bahan obat mana pun. "Kak..." suara Thanzi pelan, namun berwibawa. "Di mana perempuan yang selama ini bersamamu?" Wo Long tertegun sejenak. Tangannya yang sedang merapikan botol obat sedikit gemetar, namun ia segera meng

  • Sang Penentang Aturan   Antara Kasta dan Kekuatan

    Waktu berjalan seperti aliran sungai yang tenang namun tak terbendung di bukit belakang Sekte Ilusi. Satu tahun telah berlalu sejak Wo Long membawa Lin Xiao kembali dari kengerian Hutan Beracun. Satu tahun yang tidak hanya diisi oleh uap tungku alkimia dan aroma obat yang pahit, tetapi juga oleh untaian perasaan yang tumbuh di sela-sela perjuangan mereka berdua untuk menyelamatkan orang-orang tersayang mereka. Ruangan alkimia terlarang itu kini tidak lagi terasa dingin dan kaku. Berkat kehadiran Lin Xiao, tempat itu memiliki sentuhan kehidupan. Ada bunga-bunga liar yang diletakkan di dalam vas tanah liat, dan suara tawa kecil yang sesekali pecah di tengah keheningan malam saat mereka berdua beradu argumen tentang dosis tanaman obat. Selama satu tahun ini, Wo Long dan Lin Xiao bekerja dalam sinkronisasi yang sempurna. Setiap malam, mereka duduk berseberangan di depan Tungku Naga Langit. Wo Long mengendalikan api emas yang ganas, sementara Lin Xiao, dengan tangan yang lembut namun

  • Sang Penentang Aturan   Lin Xiao menjadi asisten Wo Long

    Di luar gua, sisa-sisa dengungan Kupu-Kupu Racun Tanah, masih terdengar seperti nyanyian kematian yang menjauh, bahkan getarannya masih terasa sampai menembus dinding gua. Di dalam gua, api unggun kecil yang dibuat Wo Long menari-nari, memantulkan bayangan panjang yang tampak seperti monster-monster yang sedang berbisik di kegelapan. Lin Xiao duduk memeluk lututnya, menatap api dengan tatapan kosong yang hampa. Jubah putih sutranya yang dulu melambangkan kemurnian dan kasta tertinggi di Kekaisaran Cahaya kini hanya berupa kain compang-camping yang ternoda darah dan lumpur hitam. Namun, meski dalam kondisi yang sangat menyedihkan, aura kecantikan alaminya tetap terpancar, sebuah kontras yang tajam dengan wajah Wo Long yang keras dan penuh kewaspadaan. "Kenapa kau melakukannya?" suara Lin Xiao memecah keheningan, suaranya halus namun membawa beban yang berat. "Kau mempertaruhkan nyawamu untuk menyelamatkan orang asing di tempat di mana bahkan para Dewa pun enggan menoleh. Aku

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status