LOGINThanzi, yang kini telah mampu berdiri tegak dengan aura Ranah Raja Puncak yang tenang namun menindas, berjalan perlahan keluar dari bukit belakang setelah pamit terlebih dahulu kepada Wo Long. Di sampingnya, Komandan Ren berjalan dengan langkah tegap, menjalankan tugasnya untuk memperkenalkan dunia yang selama setahun ini hanya dirasakan Thanzi lewat sisa-sisa energi. "Tuan Muda Thanzi, selamat datang di sekte kami," ujar Komandan Ren dengan nada bicara yang penuh hormat namun hangat. "Aku tahu dari Tuan Muda Eo Long kalau kalau tuan muda pasti bisa merasakan sekitar saat tertidur, tapi melihat dengan mata kepala sendiri adalah hal yang berbeda." Dirinya di mintai oleh Tetua Bao Li agar memperkenalkan tempat ini kepada Thanzi, dan dengan senang hati dirinya melakukan hal tersebut. Thanzi mengangguk pelan, matanya yang berwarna perak tajam menatap ke sekeliling. "Kau benar, Komandan. Saat aku tertidur lelap, aku hanya bisa merasakan getaran energi dan aroma. Aku tahu tempat ini lua
Setelah setahun lebih terlelap dalam belenggu racun, Thanzi akhirnya terbangun. Ruangan alkimia yang biasanya panas dan penuh tekanan kini terasa dingin setelah tungku peracikan dipadamkan. Thanzi mendudukan dirinya di tempat tidur batu giok, ia mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari yang masuk dari celah jendela. Di depannya, terdapat Wo Long berdiri dengan tatapan penuh keharuan. Namun, di balik senyum hangat orang yang telah dirinya anggap sebagai kakaknya sendiri, Thanzi merasakan sesuatu yang mengganjal padanya, seperti ada sebuah kekosongan yang dalam, seolah-olah separuh jiwa Wo Long baru saja direnggut paksa. Thanzi menatap sekeliling ruangan yang asing baginya. Ia mencium sisa-is aroma yang lembut, aroma yang tidak berasal dari bahan obat mana pun. "Kak..." suara Thanzi pelan, namun berwibawa. "Di mana perempuan yang selama ini bersamamu?" Wo Long tertegun sejenak. Tangannya yang sedang merapikan botol obat sedikit gemetar, namun ia segera meng
Waktu berjalan seperti aliran sungai yang tenang namun tak terbendung di bukit belakang Sekte Ilusi. Satu tahun telah berlalu sejak Wo Long membawa Lin Xiao kembali dari kengerian Hutan Beracun. Satu tahun yang tidak hanya diisi oleh uap tungku alkimia dan aroma obat yang pahit, tetapi juga oleh untaian perasaan yang tumbuh di sela-sela perjuangan mereka berdua untuk menyelamatkan orang-orang tersayang mereka. Ruangan alkimia terlarang itu kini tidak lagi terasa dingin dan kaku. Berkat kehadiran Lin Xiao, tempat itu memiliki sentuhan kehidupan. Ada bunga-bunga liar yang diletakkan di dalam vas tanah liat, dan suara tawa kecil yang sesekali pecah di tengah keheningan malam saat mereka berdua beradu argumen tentang dosis tanaman obat. Selama satu tahun ini, Wo Long dan Lin Xiao bekerja dalam sinkronisasi yang sempurna. Setiap malam, mereka duduk berseberangan di depan Tungku Naga Langit. Wo Long mengendalikan api emas yang ganas, sementara Lin Xiao, dengan tangan yang lembut namun
Di luar gua, sisa-sisa dengungan Kupu-Kupu Racun Tanah, masih terdengar seperti nyanyian kematian yang menjauh, bahkan getarannya masih terasa sampai menembus dinding gua. Di dalam gua, api unggun kecil yang dibuat Wo Long menari-nari, memantulkan bayangan panjang yang tampak seperti monster-monster yang sedang berbisik di kegelapan. Lin Xiao duduk memeluk lututnya, menatap api dengan tatapan kosong yang hampa. Jubah putih sutranya yang dulu melambangkan kemurnian dan kasta tertinggi di Kekaisaran Cahaya kini hanya berupa kain compang-camping yang ternoda darah dan lumpur hitam. Namun, meski dalam kondisi yang sangat menyedihkan, aura kecantikan alaminya tetap terpancar, sebuah kontras yang tajam dengan wajah Wo Long yang keras dan penuh kewaspadaan. "Kenapa kau melakukannya?" suara Lin Xiao memecah keheningan, suaranya halus namun membawa beban yang berat. "Kau mempertaruhkan nyawamu untuk menyelamatkan orang asing di tempat di mana bahkan para Dewa pun enggan menoleh. Aku
Tiga bulan bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah sekte yang nyaris rata dengan tanah oleh sebuah kelompok berkuasa yang mengerikan. Namun, kini di bawah naungan langit perbatasan yang mulai cerah dan dengan adanya bantuan dari Tetua Zee beserta yang lainnya, Sekte Ilusi telah bermetamorfosis secara bertahap. Aula latihan utama sekte, yang dulu hanya diisi oleh debu yang mencirikan kesantaian dan keheningan yang menandakan kedamaian tanpa ambisi, kini setiap harinya selalu terdengar suara bergetar hebat setiap pagi oleh hentakan kaki ratusan murid muda. Dengan adanya peristiwa penyerangan dari pasukan Gui Mo, membuat semua orang sekte, terutama para anak muda menjadi tersulut semangat kembali untuk memperkuat diri. "Fokus! Jangan biarkan pedangmu gemetar hanya karena angin bertiup!" teriak Si Wuya. Ia berkeliling di tengah lapangan, mengawasi para murid sepantarannya yang sedang berlatih berpedang dengan tatapan tajam. Di hadapan seluruh anggota muda sekte, Lin Xuan sedang
Cahaya emas yang terpancar dari tubuh Wo Long bukan lagi sekadar energi Qi biasa, itu adalah manifestasi dari kehendak yang murni, sebuah resonansi yang hanya dimiliki oleh mereka yang ditakdirkan untuk menyeimbangkan dunia. Di bawah kakinya, tanah halaman utama sekte yang tadinya hitam pekat akibat racun spiritual Gui Mo, perlahan mulai kembali ke warna aslinya saat energi emas itu menyentuh setiap butir debu. Gui Mo terengah-engah. Empat Jenderal Raja Puncak yang tadinya begitu angkuh kini terkapar di berbagai sudut halaman, tubuh mereka melemah bukan karena serangan luka fisik, melainkan karena energi mereka dikosongkan secara paksa oleh teknik Wo Long. "Ini tidak mungkin... kau hanyalah bocah dari kelas buangan!" raung Gui Mo. Suaranya pecah, bercampur dengan isak tangis keputusasaan. "Kekuatan ini... ini adalah kekuatan yang seharusnya tidak ada di tangan manusia rendahan sepertimu!" Wo Long tidak menjawab. Ia melangkah maju dengan tenang. Di belakangnya, murid-murid Kelas B







