LOGINMentari pagi menyapa Wo Long dengan sinarnya yang hangat, menembus jendela sederhana kediaman Tetua Li.
Semalam, setelah percakapan yang mengubah jalan hidupnya, Wo Long tidur nyenyak, sebuah ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Beban takdir memang berat, namun kini ia tidak lagi sendiri. Pagi itu, setelah sarapan bubur nasi hangat yang disiapkan oleh istri Tetua Li, mereka berdua pergi ke halaman belakang rumah. Halaman itu cukup luas, dengan beberapa pohon buah dan area terbuka yang ditumbuhi rumput hijau. "Wo Long," kata Tetua Li memulai, berdiri menghadap Wo Long dengan tangan di belakang punggung. "Untuk mengubah dunia kultivasi, tekad saja tidak cukup. Kau membutuhkan kekuatan. Kekuatan sejati lahir dari latihan yang keras dan pemahaman yang mendalam tentang energi di sekitarmu." "Energi?" tanya Wo Long, sedikit bingung. Selama ini, ia hanya fokus pada kenyamanan dan menghindari segala bentuk usaha keras. Tetua Li tersenyum maklum. "Benar. Di dunia ini, segala sesuatu dialiri oleh energi spiritual, atau yang biasa kita sebut qi. Para kultivator menyerap dan memanipulasi qi ini untuk meningkatkan kekuatan fisik, memperpanjang hidup, dan bahkan melakukan hal-hal yang tampak mustahil." "Lalu, bagaimana cara menyerap qi itu, Tetua?" tanya Wo Long dengan rasa ingin tahu yang mulai tumbuh. "Ada banyak metode, tergantung pada aliran dan teknik kultivasi masing-masing sekte," jawab Tetua Li. "Namun, dasar utamanya adalah merasakan keberadaan qi di sekitarmu, lalu membimbingnya masuk ke dalam tubuhmu dan mengedarkannya melalui jalur-jalur energi yang ada di dalam tubuh." Tetua Li kemudian menjelaskan tentang jalur-jalur energi atau meridian di dalam tubuh manusia, dan bagaimana qi harus dialirkan melalui jalur-jalur tersebut untuk memperkuat tubuh dan meningkatkan kemampuan kultivasi. Ia juga memperingatkan tentang bahaya mengalirkan qi secara sembarangan, yang bisa menyebabkan cedera serius. "Untukmu, karena kau belum pernah berkultivasi sebelumnya, kita akan mulai dengan metode yang paling dasar dan aman," lanjut Tetua Li. "Kita akan fokus pada merasakan qi di alam sekitarmu terlebih dahulu." Tetua Li kemudian memperagakan beberapa gerakan meditasi sederhana. Ia menyuruh Wo Long duduk bersila dengan punggung tegak dan mata terpejam. "Tarik napas dalam-dalam dan perlahan," instruksi Tetua Li dengan suara lembut namun penuh wibawa. "Rasakan udara yang masuk dan keluar dari tubuhmu. Sekarang, coba rasakan lingkungan di sekitarmu. Angin yang menyentuh kulitmu, kehangatan matahari, suara dedaunan... di dalam semua itu, terdapat qi." Wo Long mencoba mengikuti instruksi Tetua Li. Awalnya terasa sulit. Pikirannya melayang ke mana-mana, mengingat kasur empuknya di lembah atau suara serangga yang menenangkan. Namun, dengan kesabaran, ia terus mencoba fokus. Setelah beberapa waktu, Wo Long mulai merasakan sensasi aneh di sekitarnya. Seperti ada getaran halus di udara, atau partikel-partikel kecil yang tak terlihat menari-nari di sekelilingnya. "Apakah ini... qi?" tanya Wo Long dengan suara berbisik, tanpa membuka matanya. "Bagus sekali, Wo Long," jawab Tetua Li dengan nada memuji. "Kau mulai merasakannya. Sekarang, langkah selanjutnya adalah mencoba menarik qi itu ke dalam tubuhmu." Tetua Li kembali memberikan instruksi, kali ini tentang teknik pernapasan dan visualisasi untuk menarik qi ke dalam tubuh dan mengedarkannya melalui meridian. Wo Long mengikuti dengan saksama, meskipun sesekali rasa kantuk masih menyerangnya. Hari-hari berikutnya, rutinitas Wo Long berubah drastis. Ia bangun sebelum matahari terbit dan berlatih meditasi di bawah bimbingan Tetua Li. Siang harinya, ia belajar tentang pengetahuan dasar dunia kultivasi, sejarah berbagai sekte, dan jenis-jenis tanaman serta hewan spiritual. Sore harinya, ia melakukan latihan fisik ringan untuk memperkuat tubuhnya. Awalnya, tubuh Wo Long terasa sakit dan pegal-pegal. Kebiasaan bermalas-malasan selama bertahun-tahun membuatnya harus beradaptasi dengan ritme latihan yang baru. Namun, dengan tekad yang semakin kuat dan motivasi dari tujuannya, ia terus berusaha. Tetua Li adalah guru yang sabar dan berpengetahuan luas. Ia tidak hanya mengajarkan teknik kultivasi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dan etika seorang kultivator sejati. Ia menekankan bahwa kekuatan tanpa kebijaksanaan dan belas kasihan hanyalah kehancuran belaka. "Ingatlah, Wo Long," kata Tetua Li suatu sore saat mereka beristirahat di bawah pohon rindang. "Kekuatan yang kau peroleh harus digunakan untuk kebaikan, untuk membantu mereka yang lemah dan menegakkan keadilan. Jangan sampai kau terjerumus ke dalam jalan kekuasaan dan keserakahan seperti banyak kultivator di dunia ini." Wo Long mendengarkan dengan saksama setiap nasihat Tetua Li. Kata-kata lelaki tua itu terasa tulus dan penuh makna. Ia mulai menyadari bahwa menjadi seorang kultivator bukan hanya tentang mendapatkan kekuatan, tetapi juga tentang memikul tanggung jawab yang besar. Seiring berjalannya waktu, Wo Long merasakan perubahan yang signifikan pada dirinya. Tubuhnya terasa lebih kuat dan berenergi. Ia bisa merasakan aliran qi yang semakin lancar di dalam tubuhnya. Bahkan, terkadang ia merasakan dorongan aneh untuk bergerak dan melakukan hal-hal yang dulu sangat ia hindari. Suatu hari, saat mereka sedang berlatih gerakan dasar bela diri, Wo Long secara tidak sengaja mengeluarkan sedikit energi qi dari tangannya, menciptakan embusan angin kecil yang menerpa dedaunan di sekitar mereka. "Kau melakukannya, Wo Long!" seru Tetua Li dengan wajah gembira. "Kau akhirnya berhasil memanipulasi qi di luar tubuhmu!" Wo Long menatap tangannya dengan takjub. Ia tidak menyangka bahwa ia, seorang pemalas yang dulunya hanya bisa bermimpi tentang awan, kini bisa mengeluarkan energi spiritual. "Ini... rasanya luar biasa," kata Wo Long dengan senyum lebar yang pertama kali terlihat di wajahnya sejak ia meninggalkan lembah. "Ini hanyalah awal, Wo Long," kata Tetua Li. "Perjalananmu masih panjang. Kau harus terus berlatih dan mengembangkan kekuatanmu. Dunia di luar sana penuh dengan bahaya dan tantangan yang tidak bisa kau bayangkan." "Saya siap, Tetua," jawab Wo Long dengan tekad yang membara di matanya. "Saya akan melakukan apa pun untuk mengubah hukum rimba yang kejam itu." Beberapa bulan berlalu dengan cepat. Wo Long terus berlatih tanpa kenal lelah di bawah bimbingan Tetua Li. Kekuatannya meningkat pesat. Ia tidak hanya menguasai teknik meditasi dan manipulasi qi, tetapi juga mulai memahami dasar-dasar bela diri. Namun, kedamaian di desa itu tidak berlangsung lama. Suatu sore, saat Wo Long dan Tetua Li sedang berlatih di halaman belakang, suara teriakan panik terdengar dari arah desa. "Ada apa itu?" tanya Wo Long dengan cemas. "Sepertinya ada masalah," jawab Tetua Li dengan wajah serius. "Ayo kita lihat."Mereka berdua bergegas menuju pusat desa dan menemukan pemandangan yang mengerikan. Beberapa kultivator arogan yang dulu diusir oleh Tetua Li kembali, kali ini dengan jumlah yang lebih banyak dan tampak lebih ganas. Mereka menyerang penduduk desa, merampas harta benda, dan melukai siapa saja yang berani melawan. "Kalian lagi!" geram Tetua Li, auranya langsung berubah menjadi dingin dan mengancam. "Oh, Tetua Li yang terhormat," kata pemimpin para kultivator itu dengan seringai mengejek. "Kami kembali untuk 'upeti' yang lebih besar. Dan kali ini, tidak ada yang bisa menghentikan kami." Para kultivator itu tertawa dengan kejam, sementara penduduk desa tampak ketakutan dan putus asa. Wo Long mengepalkan tangannya, amarahnya kembali memuncak melihat ketidakadilan di depan matanya. "Wo Long," kata Tetua Li dengan suara pelan namun tegas. "Ini adalah kesempatanmu untuk menguji apa yang telah kau pelajari. Lindungi penduduk desa." Tanpa ragu sedikit pun, Wo Long melangkah maju, menghadang para kultivator yang sedang mengamuk. Aura qi yang kuat mulai terpancar dari tubuhnya, membuat para penyerang terkejut. "Siapa bocah ingusan ini?" tanya pemimpin kultivator itu dengan nada meremehkan. Wo Long tidak menjawab. Ia memusatkan qi-nya di kedua tangannya, siap untuk bertarung. Tatapannya dingin dan penuh tekad, tidak ada lagi jejak pemuda pemalas yang dulu hanya ingin tidur di bawah pohon rindang. Pertarungan sengit pun terjadi. Para kultivator arogan itu meremehkan Wo Long pada awalnya, namun mereka segera menyadari bahwa pemuda ini memiliki kekuatan yang tidak bisa dianggap enteng. Gerakannya cepat dan tepat, dan setiap serangannya mengandung energi qi yang dahsyat. Tetua Li juga tidak tinggal diam. Dengan pengalamannya yang luas, ia melindungi penduduk desa sambil memberikan dukungan kepada Wo Long. Meskipun jumlah musuh lebih banyak, Wo Long dan Tetua Li berhasil memberikan perlawanan yang sengit. Wo Long menggunakan semua yang telah ia pelajari, bergerak dengan insting yang tajam dan memanfaatkan qi-nya dengan efektif. Ia tidak lagi merasa takut atau ragu. Tujuannya untuk melindungi orang-orang yang lemah dan mengubah tatanan dunia yang kejam memberinya kekuatan yang luar biasa. Setelah pertarungan yang melelahkan, akhirnya para kultivator arogan itu berhasil dipukul mundur. Mereka melarikan diri dengan luka-luka dan rasa malu. Penduduk desa bersorak gembira, berterima kasih kepada Wo Long dan Tetua Li karena telah menyelamatkan mereka. Malam itu, di bawah bintang-bintang yang bertaburan di langit desa, Wo Long berdiri di samping Tetua Li. Ia merasa lelah, namun hatinya dipenuhi dengan kepuasan. Ia telah mengambil langkah pertamanya dalam mewujudkan takdirnya. "Kau melakukannya dengan baik, Wo Long," kata Tetua Li sambil menepuk bahu Wo Long dengan bangga. "Kau bukan lagi 'Naga Tertidur'. Kau telah mulai menunjukkan taringmu." Wo Long tersenyum tipis. "Ini semua berkat bimbinganmu, Tetua. Tapi ini hanyalah awal, bukan?" "Benar," jawab Tetua Li. "Perjalananmu masih panjang. Dunia kultivasi sangat luas dan penuh dengan kekuatan yang jauh melampaui apa yang kita lihat di sini. Tapi aku yakin, dengan tekad dan semangatmu, kau akan mampu menghadapi semuanya." Wo Long menatap langit malam yang luas. Ia tahu, petualangannya baru saja dimulai. Ia harus menjadi lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih berani untuk menghadapi tantangan yang menantinya. Namun, ia tidak lagi merasa sendirian. Ia memiliki tujuan, seorang guru yang bijaksana, dan keyakinan bahwa ia bisa membuat perubahan. Sang "Naga Tertidur" telah terbangun, dan dunia kultivasi akan segera merasakan kehadirannya.Larut malam telah tiba ketika Wo Long dan Thanzi melangkah menyusuri jalan setapak berbatuan menuju bukit tempat tinggal mereka yang terisolasi. Suara jangkrik dan desir angin di antara pepohonan bambu memberikan melodi ketenangan yang sudah lama tidak Wo Long rasakan. Setibanya di dalam bangunan kayu, Wo Long tidak langsung beristirahat. Ia menuju ke meja kerjanya yang dipenuhi dengan tanaman obat kering dan botol-botol kristal. Thanzi duduk di kursi kayu di sudut ruangan, memperhatikan Wo Long dengan tatapan lembut. Untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir, Thanzi melihat ketegangan di bahu Wo Long mulai mengendur. Tidak ada lagi api kemarahan yang meluap-luap seperti saat Wo Long berlatih di bawah air terjun tempo beberapa hari. "Kau akan mulai meracik lagi, Kak?" tanya Thanzi sambil tersenyum kecil. Wo Long mengangguk, tangannya dengan terampil memilah kelopak bunga Matahari Pagi. "Latihan fisik memang penting, tapi untuk seorang alkemis sejati, ketenangan dapa
Siang itu, matahari di atas wilayah perbatasan Kerajaan Angin terasa menyengat, namun di tepi sungai yang mengalir di kaki gunung dekat Sekte Ilusi, udara terasa lebih sejuk berkat rindangnya pohon-pohon kuno. Sekelompok murid perempuan, yaitu Mei-Mei, Xuan Ji putri Kepala Sekte, Han Lie, Wei, Zhee Lin, dan yang lainnya, yang baru saja menyelesaikan tugas harian mereka mengambil air dan mencuci jubah-jubah latihan. Suasana sangat riuh dengan tawa dan obrolan ringan. Mereka sedang membicarakan betapa pesatnya kemajuan kultivasi mereka sejak kedatangan kelompok Wo Long. "Kalian juga melihatnya bukan? Sejak meminum pil pemurni meridian dari Tetua Zee, gerakanku menjadi jauh lebih ringan," puji Xuan Ji sambil memeras kain. "Benar, rasanya seperti beban berat di tubuhku juga terasa seperti terangkat," jawab murid sekte perempuan lainnya dengan wajah berseri-seri, sedangkan Mei-Mei dan teman-teman kelas B perempuan lainnya hanya tersenyum geleng-geleng kepala. Namun, keceriaan it
Thanzi, yang kini telah mampu berdiri tegak dengan aura Ranah Raja Puncak yang tenang namun menindas, berjalan perlahan keluar dari bukit belakang setelah pamit terlebih dahulu kepada Wo Long. Di sampingnya, Komandan Ren berjalan dengan langkah tegap, menjalankan tugasnya untuk memperkenalkan dunia yang selama setahun ini hanya dirasakan Thanzi lewat sisa-sisa energi. "Tuan Muda Thanzi, selamat datang di sekte kami," ujar Komandan Ren dengan nada bicara yang penuh hormat namun hangat. "Aku tahu dari Tuan Muda Eo Long kalau kalau tuan muda pasti bisa merasakan sekitar saat tertidur, tapi melihat dengan mata kepala sendiri adalah hal yang berbeda." Dirinya di mintai oleh Tetua Bao Li agar memperkenalkan tempat ini kepada Thanzi, dan dengan senang hati dirinya melakukan hal tersebut. Thanzi mengangguk pelan, matanya yang berwarna perak tajam menatap ke sekeliling. "Kau benar, Komandan. Saat aku tertidur lelap, aku hanya bisa merasakan getaran energi dan aroma. Aku tahu tempat ini lua
Setelah setahun lebih terlelap dalam belenggu racun, Thanzi akhirnya terbangun. Ruangan alkimia yang biasanya panas dan penuh tekanan kini terasa dingin setelah tungku peracikan dipadamkan. Thanzi mendudukan dirinya di tempat tidur batu giok, ia mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari yang masuk dari celah jendela. Di depannya, terdapat Wo Long berdiri dengan tatapan penuh keharuan. Namun, di balik senyum hangat orang yang telah dirinya anggap sebagai kakaknya sendiri, Thanzi merasakan sesuatu yang mengganjal padanya, seperti ada sebuah kekosongan yang dalam, seolah-olah separuh jiwa Wo Long baru saja direnggut paksa. Thanzi menatap sekeliling ruangan yang asing baginya. Ia mencium sisa-is aroma yang lembut, aroma yang tidak berasal dari bahan obat mana pun. "Kak..." suara Thanzi pelan, namun berwibawa. "Di mana perempuan yang selama ini bersamamu?" Wo Long tertegun sejenak. Tangannya yang sedang merapikan botol obat sedikit gemetar, namun ia segera meng
Waktu berjalan seperti aliran sungai yang tenang namun tak terbendung di bukit belakang Sekte Ilusi. Satu tahun telah berlalu sejak Wo Long membawa Lin Xiao kembali dari kengerian Hutan Beracun. Satu tahun yang tidak hanya diisi oleh uap tungku alkimia dan aroma obat yang pahit, tetapi juga oleh untaian perasaan yang tumbuh di sela-sela perjuangan mereka berdua untuk menyelamatkan orang-orang tersayang mereka. Ruangan alkimia terlarang itu kini tidak lagi terasa dingin dan kaku. Berkat kehadiran Lin Xiao, tempat itu memiliki sentuhan kehidupan. Ada bunga-bunga liar yang diletakkan di dalam vas tanah liat, dan suara tawa kecil yang sesekali pecah di tengah keheningan malam saat mereka berdua beradu argumen tentang dosis tanaman obat. Selama satu tahun ini, Wo Long dan Lin Xiao bekerja dalam sinkronisasi yang sempurna. Setiap malam, mereka duduk berseberangan di depan Tungku Naga Langit. Wo Long mengendalikan api emas yang ganas, sementara Lin Xiao, dengan tangan yang lembut namun
Di luar gua, sisa-sisa dengungan Kupu-Kupu Racun Tanah, masih terdengar seperti nyanyian kematian yang menjauh, bahkan getarannya masih terasa sampai menembus dinding gua. Di dalam gua, api unggun kecil yang dibuat Wo Long menari-nari, memantulkan bayangan panjang yang tampak seperti monster-monster yang sedang berbisik di kegelapan. Lin Xiao duduk memeluk lututnya, menatap api dengan tatapan kosong yang hampa. Jubah putih sutranya yang dulu melambangkan kemurnian dan kasta tertinggi di Kekaisaran Cahaya kini hanya berupa kain compang-camping yang ternoda darah dan lumpur hitam. Namun, meski dalam kondisi yang sangat menyedihkan, aura kecantikan alaminya tetap terpancar, sebuah kontras yang tajam dengan wajah Wo Long yang keras dan penuh kewaspadaan. "Kenapa kau melakukannya?" suara Lin Xiao memecah keheningan, suaranya halus namun membawa beban yang berat. "Kau mempertaruhkan nyawamu untuk menyelamatkan orang asing di tempat di mana bahkan para Dewa pun enggan menoleh. Aku







