MasukArka berjalan paling depan. Ia telah berganti ke seragam tempur hitam yang bersih, meskipun sebagian perban masih terlihat menyembul dari balik kerah di bahu kirinya. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tetapi semburat merah di matanya menunjukkan bahwa malam panjang itu belum benar-benar berlalu.Di belakangnya, Taring Baja mendorong sebuah kursi roda. Duduk di atasnya adalah Taring Serigala.Pria yang dulu selalu tampil garang dan penuh tenaga itu kini terlihat jauh lebih kurus. Wajahnya pucat, kedua matanya sedikit cekung, sementara lengan kiri bajunya menggantung kosong tertiup angin.Kaki kanannya dibalut gips tebal dan ditopang sandaran khusus. Namun anehnya, senyum khas yang sedikit nakal dan liar itu masih ada. Seolah ia sedang menikmati lelucon yang tidak dipahami orang lain.Keempat orang itu berjalan mendekat hingga berhenti di depan Adhyaksa.Arka sempat menatap ke arah jalan pegunungan yang telah menelan iring-iringan kendaraan tadi. Ia terdiam beberapa saat. Kemudian pa
Kaivan berdiri di samping kendaraan paling depan dengan punggung menghadap aula utama. Sorot matanya tertuju ke kejauhan, tetapi pikirannya jelas tidak berada di sana.Di belakangnya, dua penjaga Keluarga Mahesa mendorong sebuah tandu dengan sangat hati-hati.Musang terbaring di atasnya dalam kondisi tidak sadarkan diri. Hampir seluruh tubuh pria itu tertutup balutan perban, hanya sebagian wajahnya yang masih terlihat. Di samping tandu, cairan infus darurat terus menetes perlahan ke dalam pembuluh darahnya, sementara dadanya masih naik turun tipis sebagai tanda bahwa ia tetap bertahan hidup.Tidak jauh dari sana, sebuah tubuh lain terbaring diam di bawah kain putih bersih. Warna putih itu tampak begitu mencolok di tengah reruntuhan yang dipenuhi debu dan darah. Siluet tubuh di baliknya terlihat jelas, tetapi tidak menunjukkan sedikit pun tanda kehidupan.Siluman Hutan.Adhyaksa berdiri di dekat kedua tandu tersebut. Dalam semalam, pria yang telah kehilangan adik kandungnya itu tampak
Algojo langsung mengangkat kepala. "Levino?""Bukan." Penjagal menggeleng pelan. "Gavin Montara.""Dia sedang menempuh pendidikan di Varanta dan baru menerima kabar kematian ayahnya kemarin. Saat ini dia sedang dalam perjalanan kembali."Mata Algojo langsung berbinar. "Maksudmu kita akan memanfaatkannya?"Sudut bibir Penjagal sedikit terangkat di balik topeng mengerikan itu. Ia tidak menjawab secara langsung. Sebagai gantinya, ia berdiri dan berjalan menuju pintu ruangan. Tangan bersarung hitamnya menggenggam gagang pintu."Satu hal yang perlu kau ingat." Suaranya terdengar datar. "Jangan pernah meragukan keputusan yang datang dari atas. Mereka melihat lebih jauh daripada kita dan memahami permainan ini jauh lebih dalam."Krek...Pintu perlahan terbuka.Cahaya redup dari koridor menerobos masuk dan membentuk siluet tubuh Penjagal yang kurus memanjang di lantai.Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah keluar. Suara langkahnya semakin menjauh hingga akhirnya lenyap sepenuhnya.Kini hanya A
Mendengar itu, Algojo hanya bisa terdiam.Penjagal perlahan berdiri lalu berjalan menuju jendela. Walaupun tirainya tertutup rapat, ia tetap menghadap ke arah sana. Cahaya lampu yang redup memanjangkan bayangannya di lantai, membuat sosoknya terlihat semakin menyeramkan."Algojo, kau melupakan satu hal penting." Suaranya lembut, tetapi tajam seperti jarum."Semua anggota Unit Alpha tahu bahwa Arka adalah sang Taring Alpha. Menurutmu, apa yang akan terjadi ketika mereka mengetahui pemimpin mereka berada di Zona Bayangan, identitasnya terbongkar, lalu dikepung oleh empat keluarga besar sekaligus?""Mereka tetap tentara aktif." Algojo segera membalas. "Mereka terikat disiplin dan rantai komando. Tidak mungkin mereka—""Kalau begitu jawab satu pertanyaanku."Penjagal berbalik, tatapannya menembus lubang mata topeng dan langsung mengunci Algojo. "Menurutmu kondisi Komando Militer Zona Selatan saat ini stabil? Damai? Terkendali?"Tawa dingin keluar dari balik topengnya."Heh...""Justru seb
Sebuah kota kecil di wilayah perbatasan, siang hari.Jalanan di kawasan itu tampak seperti tempat yang terlupakan oleh waktu. Rumput liar tumbuh di sela-sela batu trotoar yang retak. Sementara deretan bangunan kayu tua di kedua sisi jalan berdiri miring dengan kondisi memprihatinkan.Sebagian besar lapisan dinding sudah mengelupas, memperlihatkan papan-papan kayu tua yang menghitam akibat usia dan cuaca. Di udara bercampur aroma dupa murah, acar sayuran, serta bau kandang hewan yang samar tetapi terus menempel.Di sudut jalan berdiri sebuah rumah makan bernama Kedai Perbatasan. Papan namanya bergoyang pelan tertiup angin, membuat rantai besi penyangganya mengeluarkan bunyi kretek yang terdengar aneh di tengah suasana siang yang lengang. Pintu kayunya terbuka setengah, sementara lapisan cat yang telah lama mengelupas membuat permukaannya tampak penuh bekas luka.Di lantai dua, tepat di ruangan pribadi paling ujung, seluruh tirai ditutup rapat.Satu-satunya sumber cahaya berasal dari la
"Ini Zona Bayangan."Adhyaksa perlahan berdiri lalu menatap Arka, tidak ada air mata di wajahnya. Yang tersisa hanyalah ketenangan yang nyaris mati rasa, tetapi jauh di dalam matanya masih menyala bara yang membuat siapa pun enggan menatap terlalu lama."Di tempat seperti ini, orang mati setiap hari. Kemarin giliran orang lain, hari ini adikku, dan besok mungkin aku atau bahkan kamu."Pandangannya kemudian beralih ke para anggota Keluarga Mahesa yang masih tersisa di dalam aula utama. Jumlah mereka bahkan tidak mencapai lima belas orang. Sebagian besar dipenuhi luka, sementara sorot mata mereka memuat campuran kesedihan, ketakutan, kelelahan, dan kebingungan karena berhasil lolos dari bencana yang hampir memusnahkan mereka.Namun beberapa detik kemudian, suara Adhyaksa tiba-tiba mengeras. "Tapi kita masih hidup."Kalimat itu tidak diucapkan keras, tetapi seluruh aula seketika terdiam."Selama kita masih hidup, kita harus terus bergerak maju. Kita harus menyelesaikan apa yang belum sel
Video itu menampilkan adegan brutal—Arka memukul seorang bocah. Sudut pengambilan yang sengaja dipotong membuat semuanya tampak kejam.Keira berdiri kaku, dunia di sekelilingnya kabur.Pria yang ia kenal—yang melindungi, yang tenang—bertolak belakang dengan sosok dalam video. Ia membungkuk, mengamb
Arka tak memperhatikan itu. Ia sudah berada di sisi Taring Baja, yang tubuh besarnya hampir roboh. Dengan sigap, ia menopang pria itu.“Bos…” suara Taring Baja melemah. Wajahnya pucat, darah masih mengalir dari luka di perut. “Aku… mempermalukan kita…”“Diam!” Arka memotong keras. Tak ada amarah di
Setelah gelombang gairah yang panjang akhirnya mereda, kamar tidur kembali diselimuti keheningan hangat yang samar. Mireya bersandar nyaman di pelukan Arka, ujung jarinya bergerak malas, menggambar lingkaran kecil di bekas luka di dada pria itu. Napasnya masih sedikit berat, namun ekspresinya penuh
Keira menggeleng. Ia meletakkan kue, mengambil tasnya. “Terima kasih. Aku pergi.”Ia membuka pintu dan keluar tanpa menoleh.Senyum Reza langsung lenyap. Ia mengenakan mante







