Share

Bab 76

Author: Skyy
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-27 22:30:45

Video itu menampilkan adegan brutal—Arka memukul seorang bocah. Sudut pengambilan yang sengaja dipotong membuat semuanya tampak kejam.

Keira berdiri kaku, dunia di sekelilingnya kabur.

Pria yang ia kenal—yang melindungi, yang tenang—bertolak belakang dengan sosok dalam video. Ia membungkuk, mengambil ponsel, tangannya gemetar.

Potongan adegan terus terulang di kepalanya. Tatapan dingin, tamparan keras dan bocah yang menangis. Dadanya terasa sesak, kepercayaan yang baru tumbuh runtuh seketika.

I
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 280

    Sorot mata Yudhist dipenuhi cahaya menyeramkan. Ambisi, ketakutan, sekaligus kegilaan bercampur menjadi satu. Dia tahu, jika berhasil malam ini, posisinya di Keluarga Nirvana akan melonjak drastis. Namun jika gagal, tubuhnya mungkin bahkan tidak akan ditemukan utuh.Wiranata terdiam beberapa detik. Amarah yang sebelumnya membara di wajahnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, tenang, dan berbahaya. Dia memang membutuhkan kemenangan.Bukan sekadar balas dendam atas penghinaan semalam, tetapi juga untuk mengembalikan nama Keluarga Nirvana di mata dunia bawah. Kalau tidak, semua orang akan mulai menganggap mereka melemah. Dan itu tidak boleh terjadi.“Apa yang kau butuhkan?” tanyanya akhirnya, nada suaranya terdengar rendah dan berat.Yudhist langsung menjawab tanpa ragu. “Lima pembunuh terbaik keluarga.”Ia melangkah maju satu langkah. “Aku tidak butuh banyak orang. Terlalu banyak pergerakan justru akan menarik perhatian. Yang kubutuhkan adalah orang-orang yang benar-bena

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 279

    “Longgarkan pengamanan luar mulai malam ini. Buat semuanya terlihat alami.” Lorenzo menyandarkan tubuhnya santai. “Terutama area laut Zona Frontier. Dekat lokasi tempat Yudhist dan anak buahnya bersembunyi.”Reginald langsung memahami maksud itu. “Kakak… kau ingin memancing mereka masuk?”“Wiranata sudah melempar umpannya.” Lorenzo mengangkat cangkir teh yang mulai dingin. “Sekarang, tinggal kita lihat… apakah umpannya cukup bagus untuk menangkap ikan.”Srrt.Ia menyesap teh itu perlahan sebelum kembali berkata dengan nada acuh tak acuh. “Biarkan tali pancingnya menjulur panjang. Jangan buru-buru menariknya.”“Dimengerti.” Reginald segera berbalik meninggalkan ruangan.Pintu tertutup kembali.***Di saat yang hampir bersamaan, suasana di kediaman Keluarga Nirvana juga dipenuhi tekanan mencekam.Yudhist yang baru dipanggil masuk tidak lagi terlihat setenang biasanya. Wajahnya pucat kelelahan, sementara luka baru di pipi kirinya masih belum sepenuhnya mengering. Bekas pelarian semalam m

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 278

    Setelah mendengar laporan bawahannya yang lagi-lagi hanya mengatakan mereka masih menyelidiki, garis di antara alis Lorenzo perlahan mengeras. Sorot matanya tetap tenang, tetapi dingin yang tersembunyi di sana cukup untuk membuat siapa pun enggan menatap terlalu lama.Tanpa intelijen yang jelas, semua langkah terasa seperti berjalan di ladang ranjau dalam gelap. Sedikit saja salah membaca situasi, nyawa bisa lenyap tanpa jejak. Terlebih lagi, informasi yang baru diterimanya mengarah pada satu fakta yang membuat situasi semakin rumit, target kali ini berasal dari Zona Arkturus.Tok tok tok.Ketukan pelan terdengar dari pintu kayu ukir di sisi ruangan. Ritmenya stabil, tidak tergesa, tetapi cukup tegas untuk menunjukkan siapa pun di luar sana datang membawa urusan penting.“Masuk.”Suara Lorenzo rendah dan datar.Pintu terbuka perlahan. Seorang pria bertubuh tinggi melangkah masuk dengan wajah yang memiliki kemiripan kuat dengannya. Rahang tajam, sorot mata dingin, dan aura menekan yang

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 277

    “Kau—!”“Dan soal tuduhanmu…” Lorenzo memotong tanpa memberi kesempatan bicara. “Apa kau punya bukti?”Hening sesaat.Lalu suara Lorenzo kembali terdengar pelan, namun jauh lebih menusuk. “Daripada meraung seperti binatang terluka, lebih baik kau memikirkan apakah ada kebocoran di dalam keluargamu sendiri,” Ia mendengus tipis. “Atau mungkin sejak awal rencanamu memang penuh celah.”Urat di pelipis Wiranata berdenyut hebat.“Lagi pula,” lanjut Lorenzo santai, “Yang meminta kerja sama sejak awal adalah kau. Bukan aku.”Kalimat itu terasa seperti tamparan keras.Wajah Wiranata berubah merah keunguan. Dadanya naik turun hebat menahan amarah yang hampir meledak dari tenggorokan.Namun Lorenzo belum selesai. “Kalau tidak ada hal penting lagi, aku tutup teleponnya,” suaranya kembali malas. “Pagi-pagi sudah mendengar orang mengamuk benar-benar merusak suasana.”“Lorenzo!” bentak Wiranata sekuat tenaga. “Ini belum selesai! Keluarga Nirvana tidak akan melupakan penghinaan ini!”“Cih.” Lorenzo t

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 276

    Pikirannya berputar cepat, orang yang mengetahui keseluruhan operasi itu tidak banyak. Darmajaya jelas tidak mungkin berkhianat. Orang itu sudah mengikuti dirinya selama bertahun-tahun. Selain itu, Sindikat Taring Ular bahkan menderita kerugian paling besar malam tadi.Kalau begitu, tatapan Wiranata perlahan berubah dingin. “Lorenzo…” Suaranya keluar lirih seperti desisan ular berbisa. “Rubah tua sialan itu!”Semakin dipikirkan, semakin semuanya terasa janggal.Keluarga Montara seharusnya melancarkan serangan bersamaan untuk menekan Keluarga Mahesa dari sisi lain. Namun sepanjang malam, tidak ada satu pun bayangan pasukan mereka muncul di medan perang.Mereka benar-benar menghilang. Dan sekarang, setelah Keluarga Nirvana dan Sindikat Taring Ular babak belur, pihak yang justru paling sedikit kehilangan adalah Keluarga Montara.Wiranata langsung meraih telepon kuningan di atas meja, jarinya menekan nomor Lorenzo dengan kasar.Nada sambung terdengar cukup lama sebelum akhirnya diangkat.

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 275

    Napas berat terdengar dari sambungan.“Omong kosong!” Wiradarma langsung mengumpat pelan, tetapi suaranya sedikit bergetar. “Jangan bicara seolah kau sendirian.”Kehangatan samar muncul di mata Arka.“Kalau butuh sesuatu, katakan langsung. Selama aku masih hidup, tak ada yang akan membiarkanmu berjalan sendirian!” lanjut Wiradarma.“Baik.”Beberapa detik berikutnya, suasana perlahan melunak.“Kapan kau datang ke Zona Frontier?” tanya Wiradarma tiba-tiba. “Aku masih menyimpan minuman lama di gudang bawah tanah. Orang-orang tua itu sudah lama mencari-cari kabarmu.”“Setelah semua urusan di sini selesai.” Arka terkekeh kecil. “Dan jangan bocorkan keberadaanku dulu.”“Cih, seolah aku sebodoh itu.” Wiradarma mendengus. “Cepat datang sebelum aku keburu mati tua.”Tut.Sambungan telepon terputus.Namun ruang batu itu masih dipenuhi keheningan berat.Adhyaksa belum sepenuhnya pulih dari keterkejutan, sementara Garda tiba-tiba melangkah maju dan mencengkeram lengan Arka erat-erat. “Taring Alph

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 14

    Wanita itu tampak kehilangan kesadaran. Langkahnya tidak stabil, rambutnya sedikit berantakan, gaunnya kusut.Leonard dengan gugup menggesek kartu kamar.Beep.Pintu terbuka.Wajah Leonard langsung dipenuhi kegembiraan yang hampir tak bisa disembunyikan. Ia menarik tubuh Keira masuk. Namun tepat sa

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 13

    Seorang pria muda memasuki aula dengan langkah santai. Setelan putihnya begitu mencolok di tengah kerumunan tamu—Leonard Wijaya.Tuan muda keluarga konglomerat yang sedang naik daun itu langsung menangkap sosok yang ia cari—Keira.Tatapan Leonard berhenti di wajah wanita itu. Ada kilatan lapar yang

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 12

    Arka menatapnya, sorot matanya gelap seperti tinta. Tenang, namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang bergolak—aroma tubuh Keira.Kata-katanya yang berani tadi, semuanya mengusik kendali diri yang selama ini ia banggakan. Provokasi wanita ini sudah terlalu jauh. Tiba-tiba Arka bergerak, satu

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 11

    Keira sedikit terkejut, sesaat ia bahkan menyesali pilihan pakaiannya. Namun jika ia kembali ke kamar sekarang, itu sama saja dengan mengakui kekalahan. Jadi ia memilih bertahan.Dengan sengaja ia menggoyangkan pinggulnya saat berjalan menuju sofa. Ia duduk perlahan dan kakinya disilangkan. Rok gau

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status