Compartilhar

Bab 511

Autor: Skyy
last update Data de publicação: 2026-09-07 23:15:28

Vila Keluarga Montara.

Di dalam ruangan utama, Topeng Algojo mendengarkan laporan bawahannya melalui celah sempit pada topeng yang menutupi wajahnya. Bombardir yang baru saja menghantam kompleks memang menyebabkan kerusakan, tetapi bagi dirinya kerugian tersebut masih berada dalam batas yang dapat diterima.

etelah laporan berakhir, sosok bertopeng itu bangkit perlahan dari tempat duduknya. Suaranya terdengar dingin tanpa emosi saat berkata. "Kerahkan artileri dan hancurkan hutan itu."

"Mereka s
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 513

    Kali ini, ledakannya jatuh jauh lebih rapat. Titik-titik hantaman langsung menyapu kawasan tempat Revan dan para rekannya berlindung, seolah penembaknya telah menemukan posisi mereka dan berniat menghabisi seluruh kelompok itu sekaligus."Revan! Damar! Berlindung!" Arka berteriak sekuat tenaga."BERLINDUNG SEKARANG!"Raungannya menembus kepulan asap dan sela-sela pepohonan, tetapi segera ditelan oleh suara dentuman artileri yang mengguncang hutan. Matanya memerah.Dari lubang sempit itu, ia menyaksikan sendiri akibat serangan yang dilakukan Topeng Algojo. Saudara-saudaranya dibantai tanpa ampun, dan musuh terus menghujani kawasan tersebut dengan tembakan yang tidak memberi sedikit pun kesempatan untuk melarikan diri.Jarak mereka sebenarnya tidak sampai dua ratus meter. Namun bagi Arka, hamparan tanah di antara mereka terasa seperti jurang yang mustahil diseberangi.Tangannya mencengkeram tepian lubang ventilasi dengan kuat. Ia hanya bisa menyaksikan ketika ledakan kembali menghantam

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 512

    Arka menatapnya tajam. "Kita harus bergerak sekarang!"Nocthar bergidik melihat sorot mata Arka. Ia memaksa ingatannya bekerja, lalu beberapa detik kemudian menunjuk ke bagian lorong yang hampir tertutup sarang laba-laba dan lumut tebal."Ada... ada satu." Ia menunjuk dengan tangan gemetar. "Di sana terdapat lubang ventilasi tua. Ada celah di antara batu yang menuju ke permukaan, tepat di tepi Hutan Belantara. Tapi jalur itu hampir tidak bisa disebut jalan keluar. Sudah terlalu lama terbengkalai, kondisinya rusak, dan mungkin sudah tertutup.""Antarkan aku." Arka langsung bergerak.Rusak atau tertutup bukan masalah. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah jalur tercepat menuju sumber ledakan agar bisa mengetahui keadaan Revan dan pasukannya.Rombongan segera berbalik. Arga maju lebih dulu dan membersihkan tumpukan sarang laba-laba serta lumut tebal dengan belatinya. Di balik penghalang itu ternyata terdapat lubang gelap yang menanjak menuju permukaan, diameternya tidak lebih dari empat pul

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 511

    Vila Keluarga Montara.Di dalam ruangan utama, Topeng Algojo mendengarkan laporan bawahannya melalui celah sempit pada topeng yang menutupi wajahnya. Bombardir yang baru saja menghantam kompleks memang menyebabkan kerusakan, tetapi bagi dirinya kerugian tersebut masih berada dalam batas yang dapat diterima.etelah laporan berakhir, sosok bertopeng itu bangkit perlahan dari tempat duduknya. Suaranya terdengar dingin tanpa emosi saat berkata. "Kerahkan artileri dan hancurkan hutan itu.""Mereka suka bermain dengan meriam, bukan?" Ia menatap ke arah luar. "Kalau begitu, biarkan mereka merasakan sendiri akibatnya."Perintah itu segera dijalankan.Di bagian dalam kompleks Keluarga Wijaksana, beberapa posisi artileri permanen yang selama ini tersembunyi mulai dibuka. Mortir berat dan meriam ringan yang terawat baik perlahan mengangkat laras, para pengamat menghitung ulang titik sasaran dan mengirimkan koreksi. Tak lama kemudian, para awak meriam memasukkan peluru ke dalam sungsang.DUAAAR!

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 510

    "Dimengerti! Unit Talon, belok kiri!" Damar langsung mengubah arah sesuai instruksi.Pasukan itu kembali menerobos maju, meninggalkan jejak darah di sepanjang perjalanan. Mereka bergerak seperti ujung pisau yang dipaksa menembus kepungan dari segala sisi, tetapi jumlah mereka terus berkurang.Seorang prajurit elit menjatuhkan tubuhnya di atas granat yang dilemparkan musuh untuk melindungi rekan-rekannya. Tidak jauh dari sana, seorang prajurit artileri yang sedang menggendong rekannya yang terluka terkena peluru penembak runduk dari samping. Keduanya kehilangan keseimbangan dan terguling bersama menuruni lereng.Darah terus menodai rerumputan dan bebatuan yang mereka lewati.Para pengejar tidak memberi mereka kesempatan untuk bernapas. Mereka terus mengikuti dari belakang seperti lintah yang menempel dan tidak mau melepaskan mangsanya. Semakin dekat mereka dengan kompleks Keluarga Wijaksana, semakin sering mereka menemukan kelompok penjaga dan titik pertahanan yang muncul secara sporad

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 509

    "Tembakan terakhir!" Begitu peluru terakhir meluncur, Revan langsung memberikan perintah berikutnya. "Ledakkan semua meriam!"Para penembak yang masih hidup segera menjalankan instruksi. Mata beberapa di antara mereka berkaca-kaca ketika bahan peledak yang telah disiapkan sebelumnya dipasang pada laras dan bagian penting meriam, lalu sumbunya dinyalakan.Tidak ada waktu untuk berduka."Mundur!" Revan berteriak. "Gabung dengan Pasukan Tuan Damar! Kita bergerak menuju hutan di sekitar kompleks Keluarga Wijaksana!"Ia sendiri menjadi orang pertama yang keluar dari perlindungan. Senapan serbunya menggelegar dalam rentetan pendek dan terukur, setiap tembakan membuka celah di antara kepungan musuh. Pasukan yang tersisa segera mengikuti jalurnya."Pasukan Tuan Damar, bergerak ke posisiku! Saling lindungi dan mundur!"Dari sisi lain lembah, Damar akhirnya muncul di antara pepohonan. Tubuhnya dipenuhi darah yang tidak jelas berasal dari dirinya atau lawan. Senapan mesin ringan di tangannya ter

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 508

    "Musuh datang dari arah jam tiga! Senapan mesin, lumpuhkan senapan mesin mereka!""Lindungi meriam! Tim kedua, tahan sisi kiri!""Titik pengamatan ditekan! Kita tidak bisa melakukan kalibrasi!"Perintah dan teriakan bercampur dengan suara tembakan serta ledakan yang mengguncang lembah.Revan menembakkan beberapa peluru pendek dari pistolnya ke arah kelompok musuh yang terus mendekat sambil memberikan instruksi melalui headset. Matanya sudah memerah, tetapi pikirannya tetap bekerja cepat.Posisi ini tidak mungkin dipertahankan.Musuh telah menguasai inisiatif, jumlah mereka lebih besar, dan mereka sudah mengetahui lokasi artileri. Pasukan Revan sendiri dirancang untuk memberikan dukungan tembakan jarak jauh, bukan menghadapi pengepungan dalam jarak dekat.Namun ada satu perintah yang tidak boleh gagal, mereka harus menembak.Perintah Arka harus dilaksanakan."Semua kru meriam, dengarkan!" Suara Revan menggema melalui mikrofon tenggorokan dan terdengar di headset setiap penembak. "Targe

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 126

    Mireya menatapnya dengan mata berkilat, senyum misterius tersungging. Wanita itu jelas tidak datang sekadar menjenguk.Bangsal yang sebelumnya sunyi kini berubah hangat sekaligus tegang dengan kehadiran tiga wanita yang memancarkan pesona berbeda.Aroma disinfektan yang biasanya dominan perlahan te

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 125

    “Taring Badai?” tanya Arga.Garuda Hitam menggeleng. “Dia menghilang saat misi luar negeri, katanya tertelan ledakan?”Arga tersenyum tipis. “Dengan kemampuan dia? Aku tak percaya dia mati.”Mereka saling menatap, kenangan pahit berkelebat.Tiba-tiba Taring Baja berdiri. “Aku tak tahan! Aku bunuh d

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 124

    “Apa… yang Ayah inginkan?”Suaranya rendah, serak, dan penuh tekanan. Seolah jika jawaban yang diterima tak sesuai harapan, sesuatu akan meledak di tempat itu.Di sampingnya, Reno langsung merasakan atmosfer berubah. “Kak, tenang,” bisiknya cepat, mencoba meredakan ketegangan.Namun Surya justru te

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 74

    Arka tak memperhatikan itu. Ia sudah berada di sisi Taring Baja, yang tubuh besarnya hampir roboh. Dengan sigap, ia menopang pria itu.“Bos…” suara Taring Baja melemah. Wajahnya pucat, darah masih mengalir dari luka di perut. “Aku… mempermalukan kita…”“Diam!” Arka memotong keras. Tak ada amarah di

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status