ANMELDENGerakannya begitu cepat hingga nyaris tak terlihat. Belati pendek berwarna hitam tiba-tiba muncul di tangannya dan langsung melesat menuju tenggorokan Bramantyo."Kau—!"Bramantyo hanya sempat mengeluarkan suara pendek sebelum bilah itu menembus lehernya. Rasa sakit dan sesak langsung menyergap, tetapi tangan Dipta yang lain telah mencengkram bahunya dan menahannya kuat di kursi. Darah mengalir deras membasahi meja, lantai, dan pakaian Dipta.Mata Bramantyo membelalak. Ia tidak pernah membayangkan kematiannya akan datang dari orang yang selama puluhan tahun dianggapnya sebagai saudara sendiri.Dipta tetap tenang, ia hanya memperhatikan tatapan Bramantyo yang perlahan kehilangan cahaya hingga tubuhnya benar-benar lemas.Setelah memastikan targetnya tewas, Dipta melepaskan cengkramannya. Ia menyeka darah dari belati dan wajahnya menggunakan kain putih, lalu menyentuh alat komunikasi kecil yang tersembunyi di balik kerah."Target pertama telah dieliminasi."Kalimat itu menjadi tanda dimu
Adelina masih berdiri diam dengan alat komunikasi di tangannya. Cahaya lampu ruang komando menerangi wajahnya yang pucat, memperlihatkan kelelahan, kecemasan, dan ketakutan yang belum sepenuhnya menghilang.Beberapa saat kemudian, ia menurunkan alat komunikasi itu dan menghembuskan napas panjang. "Sampaikan perintahku."Adelina berbalik menghadap para perwira staf. "Seluruh pasukan, personel logistik, dan staf administrasi yang telah memasuki bekas wilayah Keluarga Montara harus ditarik kembali ke garis kendali semula dalam waktu tiga hari. Jangan menunda dan jangan membawa peralatan berat maupun persediaan yang tidak bisa dipindahkan dengan cepat."Tatapannya mengeras. "Utamakan keselamatan personel. Siapa pun yang berani melanggar akan dikenai hukum militer."Perintah itu seketika memicu kegaduhan di pusat komando. Namun, begitu melihat wajah Adelina yang serius dan pucat, tak seorang pun berani mempertanyakan keputusan tersebut.Adelina tidak memberikan penjelasan apa pun. Ia hanya
"Oh? Berita apa?" Nada Arka terdengar sedikit tertarik, tetapi tetap tenang.Adelina menggenggam alat komunikasinya lebih erat. "Wiranata telah meninggal."Ia sengaja mengucapkannya perlahan sambil memasang seluruh perhatiannya pada suara di seberang. Ia ingin menangkap sekecil apa pun perubahan dari lawan bicaranya, entah jeda napas, perubahan intonasi, atau keterkejutan.Hening selama dua detik.Kemudian suara Arka terdengar kembali. "Aku tahu."Ucaoan sederhana itu membuat dada Adelina terasa sesak.Arka tidak terkejut, tidak bertanya bagaimana ia bisa mati. Bahkan tidak berusaha menyembunyikan bahwa dirinya sudah mengetahui kabar tersebut.Bagaimana mungkin?Bahkan Keluarga Mahardika yang memiliki jaringan informasi kuat baru saja menerima berita itu, sementara Arka sudah mengetahuinya lebih dahulu.Tenggorokan Adelina terasa kering. Ia menahan debar jantungnya sebelum mengajukan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal pikirannya."Tuan Arka... Anda tahu siapa pelakunya?" Ia menahan
Mendengar ucapan Pramudya dan melihat kesombongan seorang pemenang kembali muncul di wajahnya, kegelisahan Adelina justru semakin kuat.Menang dalam pertempuran ini bukan berarti semuanya sudah terkendali. Bramantyo memang terpukul, tetapi dia belum mati dan fondasi Keluarga Wijaksana masih utuh. Keluarga Nirvana juga telah membangun kekuatannya selama bertahun-tahun. Pertempuran ini belum cukup untuk membuat mereka runtuh begitu saja.Dan yang paling membuatnya waspada adalah Arka Mahendra. Benarkah pria itu hanya seorang mitra yang kebetulan ikut menikmati hasil perang?"Sudah." Suara Adelina yang tenang langsung menghentikan Pramudya. "Situasi belum stabil, jangan menganggap remeh musuh dan jangan bertindak gegabah. Perintahkan pasukan di garis depan untuk memperkuat posisi yang sudah dikuasai. Jangan melakukan pengejaran atau memperluas wilayah tanpa perintah."Ia menatap peta sebelum melanjutkan. "Awasi pergerakan Keluarga Wijaksana dan Keluarga Nirvana. Kalau ada perubahan, sege
Sementara itu, suasana di pos komando garis depan Keluarga Mahardika nyaris meledak oleh kegembiraan.“Kita menang! Patriark, kita menang! Ini kemenangan besar!”Pramudya menendang pintu pos komando hingga terbuka dan menerobos masuk. Wajahnya penuh jelaga, seragamnya berlumuran darah kering dan lumpur, tetapi matanya menyala penuh kegembiraan.“Pasukan kita sudah menerobos garis pertahanan kedua yang dibangun terburu-buru oleh Keluarga Nirvana! Mereka bahkan tidak mampu bertahan dan langsung runtuh!”Ia mengepalkan tangan dengan penuh semangat. “Pasukan terdepan sekarang sedang membangun benteng untuk memperkuat posisi. Wilayah kita juga sudah meluas jauh!”Pramudya segera mendekati meja peta besar dan menunjuk wilayah yang baru saja mereka kuasai dengan wajah penuh semangat."Kak, lihat! Sebagian besar wilayah yang sebelumnya dikuasai Keluarga Montara sekarang sudah menjadi milik kita. Bahkan beberapa wilayah yang sebelumnya dikuasai bersama Keluarga Nirvana dan Keluarga Wijaksana j
Pengemudi dan kepala keamanan terhempas ke depan akibat pengereman mendadak sebelum sabuk pengaman menarik mereka kembali. Petugas keamanan di kursi depan segera menarik pistol dan hendak berbalik untuk memeriksa keadaan.Namun, tubuhnya membeku. Wiranata masih duduk di kursi belakang. Hanya saja, sebagian besar sisi kiri kepalanya telah hancur akibat tembakan tersebut, meninggalkan luka fatal yang membuat seluruh kabin seketika dipenuhi kepanikan.Para pengawal menatap tanpa suara, darah mereka terasa membeku melihat kepala keluarga yang selama ini dikenal karena perhitungan dan ketenangannya telah tewas dalam satu tembakan.Cairan hangat berbau logam menyiprat ke jok kulit, atap kabin, jendela, bahkan mengenai bagian belakang kursi depan dan wajah para pengawal yang masih terpaku.Kepala pria yang selama ini mengendalikan Zona Bayangan dengan perhitungan panjang kini terkulai tanpa daya. Salah satu matanya masih setengah terbuka, tetapi tidak lagi menyimpan sedikit pun kehidupan."P
Melihat itu, Arka mundur setengah langkah dan memberi ruang di tengah pintu agar para penembak keluarga Mahesa bisa mengambil posisi terbaik.Brama segera mendekat ke sampingnya, suaranya lebih rendah kali ini. “Tuan Arka… sebenarnya apa yang terjadi?”Tatapannya tidak lagi hanya berisi kewaspadaan
“Kalau aku tidak salah…” gumamnya santai, “Orang-orang keluarga Mahesa seharusnya sudah—.”Belum selesai kalimat itu—BRAKK!Pintu kayu berat itu dihantam dari luar dan terbuka paksa, engselnya berderit keras hingga sebagian panel terlepas dan jatuh miring ke samping.“Jangan bergerak!”“Tangan ke
Satu kata itu jatuh ringan, namun beratnya menghantam seluruh ruangan.Bar langsung sunyi.Tubuh Gavira menegang. Sensasi dingin menjalar dari telapak kaki hingga ke tengkuknya, seperti sedang diincar sesuatu yang mematikan. Tatapannya terkunci pada Valen, penuh ketidakpercayaan, sebelum tanpa sada
Arka berhenti di depan meja itu. Tatapannya turun perlahan, menekan tanpa suara.“Aku harus memanggilmu apa?” ucapnya ringan, namun dingin.Sedikit jeda, lalu sudut bibirnya bergerak tipis. “Atau… cukup ‘Bayangan Rawa’?”Pria yang disebut Arka sebagai Bayangan Rawa duduk sendirian di sudut paling g







