Beranda / Pendekar / Sang Penguasa Dunia Silat / 2. Kemunculan Dewa Pedang

Share

2. Kemunculan Dewa Pedang

Penulis: QUEEN NIS CA
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-10 21:01:03

"Aku ... tidak mati?" Mu Zehuai bergumam setelah sadar bahwa dirinya masih hidup. Kemudian, dia berusaha bangkit dari posisinya.

Reflek Mu Zehuai menyentuh area bahunya yang terluka sembari meringis kesakitan. "Argh ... Sshh ...."

Matanya mengerjap. Kelopak matanya bergerak-gerak memindai pemandangan asing di sekelilingnya. Selain cahaya rembulan dan hamparan bintang-bintang di langit malam yang tampak dari celah lubang di atas, semuanya gelap gulita.

Ingatan terakhirnya sampai pada saat Zhang Ruling menembakkan panah hingga berhasil menembus bahu kirinya. Selanjutnya, entah bagaimana caranya dia bisa berakhir di tempat ini.

Mu Zehuai menoleh ke samping. "Apa ini?" Dia mendapati sebuah benda yang menyerap cahaya bintang dari langit.

Benda itu berkedip beberapa kali. Rasa penasarannya menggebu-gebu, lalu segera memungut benda itu.

Ternyata, benda itu tidak lain hanyalah sebuah buku yang telah usang. Tulisannya pudar, tidak jelas, nyaris tidak bisa terbaca oleh orang biasa. Akan tetapi, dia adalah Mu Zehuai, orang paling berbakat di dunia persilatan. Dengan ilmu batinnya, dia berusaha menerawangi jejak masa lalu yang tertulis di buku itu.

"Ilmu Suk ... ma Penghan ... cur Ha ... ti?" Mu Zehuai mengeja kata demi kata yang tertulis di sampul buku lusuh itu.

Deg!

Mu Zehuai terhenyak. Jantungnya berdebar hebat. Matanya yang terpejam sontak terbelalak lebar tatkala menyadari betapa berharganya benda di tangannya ini.

"Ini ... Kitab Ilmu Sukma Penghancur Hati yang legendaris itu?! Tidak mungkin! Apa aku sedang bermimpi?"

Benua Tingyan pernah dihujani beragam rumor yang beredar di dunia persilatan. Salah satunya yaitu tentang Kitab Ilmu Sukma Penghancur Hati— sebuah kitab legendaris yang dikemas dengan rumor berlebihan.

Ilmu Sukma Penghancur Hati dicap sebagai ilmu terkutuk. Konon katanya, orang yang pernah menemukan kitab ini pernah menjadi orang terkuat yang mendominasi dunia, tetapi dia berakhir kehilangan jiwa dan pikiran, menjadi gila dan bahkan mati dalam kondisi tidak wajar.

Rumor tentang kekuatan dahsyat kitab ini telah menyebar luas di dunia persilatan, membangkitkan keserakahan hati manusia di berbagai penjuru. Mereka tergoda untuk mencari jejak keberadaannya. Namun sejauh ini, keberadaan Kitab Ilmu Sukma Penghancur Hati masih menjadi misteri.

Beberapa orang lebih percaya bahwa kitab legendaris yang disebut-sebut hanyalah mitos belaka. Namun, sebagian orang juga percaya bahwa kitab ini disembunyikan di tempat misterius demi menunggu sosok yang telah ditakdirkan.

Bagi mereka yang berpikiran waras, mereka berharap jika kitab terkutuk ini sebaiknya tidak pernah muncul lagi di dunia persilatan.

"Benda yang paling didambakan semua orang, ternyata malah berakhir di tanganku. Apa ini yang disebut takdir? Jika aku berhasil mempelajarinya ... mungkinkah aku bisa ...." Mu Zehuai sengaja menggantung ucapannya. Tanpa perlu mengatakannya, sorot matanya seolah menyiratkan ambisi terselubung.

Meskipun semua ini nyata, Mu Zehuai masih kesulitan untuk mempercayai keberuntungannya. Bukan hanya tidak mati, tetapi Mu Zehuai justru mendapatkan sebuah harta pusaka yang tidak ternilai harganya.

***

"Sial! Jelas-jelas panahku tepat sasaran, tapi kenapa jejaknya malah menghilang?" geram Zhang Ruling. Nada bicaranya terdengar ketus disertai rasa tidak rela.

Selama 3 hari, 3 malam, Zhang Ruling dan para pengikutnya tidak henti mencari-cari keberadaan Mu Zehuai. Matahari bahkan belum terbit sepenuhnya, tetapi mereka tidak berhenti mencari jejak keberadaan Mu Zehuai.

Sungguh aneh tapi nyata. Setelah tertembak panahnya, Mu Zehuai yang seharusnya terluka parah justru menghilang tanpa jejak bagaikan ditelan bumi. Meskipun demikian, pencarian tetap terus dilakukan. Tiada yang tahu bahwa Mu Zehuai sebenarnya tidak menghilang, dia ada lubang bawah di sekitar mereka. Hanya saja, keberadaannya tertutup oleh formasi ghaib.

"Kalian! Cari yang benar! Kalau sampai hari ini dia masih belum ditemukan juga, kita akan dikubur bersama!" perintahnya sambil mengancam.

"Aku penasaran ... sebenarnya apa yang membuat Anda harus mengerahkan banyak tenaga demi mencari seorang pengkhianat sepertinya. Apa mungkin Mu Zehuai sepenting itu bagi Tuan Muda Zhang?" Tang Huang mendekat, berusaha menggali informasi dari Zhang Ruling.

Bola mata Zhang Ruling memutar, melirik Tang Huang yang telah berdiri sembari melipat tangan di samping kanannya.

"Dia hanya orang yang hampir mati, sama sekali tidak berguna bagiku. Tapi ...." Seketika Zhang Ruling berhenti melanjutkan ucapannya.

"Tapi kenapa?" tanya Tang Huang karena semakin penasaran.

Zhang Ruling menarik setengah bibirnya. "Bukan urusanmu."

Dari awal dia tidak ingin memberi informasi apa pun. Membuat Tang Huang tersiksa rasa penasaran adalah tindakan yang disengaja.

Terlalu banyak bicara adalah sebuah kelalaian. Terlebih lagi, orang di sampingnya ini sempat bertarung mati-matian dengannya, walaupun pada akhirnya pertarungan harus disudahi karena sang target telah melarikan diri.

"Apa kalian mencariku?"

Suara yang mencuri perhatian itu sontak membuat semua orang mendongak ke atas.

"Itu dia!" tunjuk salah seorang prajurit kepada sosok pria yang sedang menangkring di dahan pohon.

Alis tebal Tang Huang mengernyit karena merasakan aura kejanggalan. "Mu Zehuai?"

"Mu Zehuai!" Zhang Ruling menyerukan nama itu dengan nada tinggi seperti sedang meledak-ledak.

"Tunggu!"

Tatkala Zhang Ruling hendak maju selangkah, tubuhnya langsung dihadang oleh lengan Tang Huang. Dia berniat untuk menahan Zhang Ruling supaya tidak bertindak gegabah.

Zhang Ruling menatap nyalang wajah Tang Huang. "Apa yang kaulakukan? Minggir!" murkanya.

"Tuan Muda Zhang, hati-hati. Ada yang tidak beres dengannya." Tang Huang memang jauh lebih peka.

"Kurasa kau yang sudah tidak beres!" balas Zhang Ruling, lantas mengangkat busur naga emas di genggamannya.

Tali busur ditarik, posturnya tegak, siap membidik sosok Mu Zehuai yang sedang santai merebahkan tubuhnya di atas dahan pohon akasia.

Whoooshh!

Zhang Ruling melepaskan anak panahnya.

Set!

Dengan satu telapak tangannya, sangat mudah bagi Mu Zehuai menahan anak panah itu. Anak panah yang diluncurkan Zhang Ruling bukanlah anak panah biasa. Kecepatannya lebih cepat dari angin dan lebih tajam dari pedang. Tekanan kekuatannya lebih dari 500 Kg.

Dia adalah murid dari akademi bela diri ternama. Kemampuan memanahnya masuk peringkat ke-3 dalam daftar para ahli pemanah. Tingkatan bela dirinya telah mencapai tahap pembentukan fondasi, dipadukan kemampuan memanahnya, bahkan Tang Huang yang memiliki tahap bela diri yang sama pun kesulitan untuk melawannya.

Namun, Mu Zehuai justru menahannya hanya dengan satu telapak tangan?

Melihat anak panah itu mengambang di udara, mereka yang menyaksikannya serentak dibuat tercengang.

"Tidak mungkin!" Zhang Ruling menolak percaya ketika melihat penampakan di hadapan mata.

"Sudah kuduga. Memang ada yang tidak beres dengan anak itu." Tang Huang semakin yakin bahwa Mu Zehuai memanglah seseorang yang tidak pantas dibiarkan hidup.

"Jika kalian masih berani melawanku, akan kubuat tubuh kalian seperti panah ini," cetus Mu Zehuai.

Telapak tangannya mengepal, bersamaan dengan anak panah yang mengambang pun seketika hancur lebur menjadi abu.

"Benarkah?" sahut suara sosok lain.

Hanya mendengar suaranya saja, gendang telinga terasa sangat tersiksa. Ini adalah tanda-tanda kemunculan seorang ahli di tingkat Tranformasi Ilahi, sang Dewa Pedang Suara.

"Aarrgghhh!"

"Arrggghhh!"

Para prajurit itu mengerang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sang Penguasa Dunia Silat   36.

    "2 hari lagi bulan purnama. Aku harus mulai mengekstrak mawar-mawar china ini untuk dijadikan minyak wangi," ucap Yue Ji sembari memandangi bunga mawar yang tumbuh subur di halaman kediamannya di sekte iblis Kerajaan Darah.Sebagai seorang master kultivator tingkat tinggi, Yue Ji mendapat perlakuan istimewa atas prestasi yang dia capai untuk sekte iblis Kerajaan Darah. Oleh sebab itu, ia memiliki rumah atau kediaman pribadi yang cukup luas dan dihiasi dengan halaman untuknya menanam mawar china yang dijadikan sebagai senjata mautnya ketika dia bertarung.Yue Ji menanami halaman rumahnya dengan berbagai macam tanaman mawar yang beragam. Namun, yang paling dia rawat dengan sepenuh hati adalah mawar china, karena hanya mawar china yang memiliki efek paling tinggi untuk dijadikan senjata kultivasinya."Yue Ji." Seseorang menyerukan namanya hingga membuat Yue Ji reflek menoleh ke arah sumber suara.Tatkala Yue Ji mendapati sosok yang menyerukan namanya, ia pun mengernyitkan kedua alisnya s

  • Sang Penguasa Dunia Silat   35. Dendam

    "Dasar pengecut!" hardik Li Jing, sang kakak seperguruan pertama.Mulutnya yang terbungkam rapat sejak tadi, kini langsung menyemburkan kata-kata menohok. Matanya menghunus ke arah Yi Xuan, pembawaannya tenang, tetapi cukup mengintimidasi lawan. Giliran Yi Xuan terbungkam seribu bahasa. Kakak seperguruan pertama telah bicara, dia tidak berani membantah lebih jauh. Wajahnya tertunduk takut, sekaligus merasa bersalah. "Saudara sekalian, ayo kita pergi," himbau Li Jing, membubarkan para murid yang masih berkumpul di aula. Beberapa murid mengikuti Li Jing, sisanya tetap mematung di tempat. Di halaman sekte, para pengikut Li Jing mulai penasaran. Sebenarnya, apa yang ingin dilakukan Li Jing? Apakah benar dia akan menagih nyawa terhadap Yue Ji? Salah seorang murid akhirnya angkat bicara. "Kakak pertama, haruskah kita berdiam seperti ini? Sekte Angin Phoenix tidak bisa ditindas semena-mena!" geramnya. Wajahnya tampak kusut karena dikendalikan emosi. Li Jing tenggelam dalam keheni

  • Sang Penguasa Dunia Silat   34. Jenazah Murid Dipulangkan

    Sekte Angin Phoenix, Kota Emas Cahaya. Di dalam sebuah aula diskusi, tampak para murid yang sedang berkumpul membicarakan masalah yang menimpa sekte. Kegaduhan menguasai ruangan, menambah kesan gelap ruangan yang hanya bertemankan cahaya lilin meremang. Wajah mereka ditekuk masam, memancarkan kebencian yang tak pernah padam bagaikan api abadi berkobar tatkala menatap 5 jenazah terbaring dibungkus kain putih sekujur tubuhnya. Mereka tak lain adalah murid Sekte Angin Phoenix yang baru saja dipulangkan ke sekte. "Tidak bisa dibiarkan! semakin hari, wanita iblis itu semakin kurang ajar. Berani sekali mereka membunuh murid-murid sekte kita!" cetus salah seorang pemuda yang tak lain berasal dari sekte Xu Feng. "Benar, kita harus membalaskan dendam saudara-saudara kami!" sambung yang lain. "Jadi, bagaimana dengan keputusan sekte? apa mereka mengizinkan kita pergi melawan Yue Ji?" tanyanya. Kreeek ... Terdengar suara pintu yang didorong dari luar ruangan. Kemudian, muncullah seorang

  • Sang Penguasa Dunia Silat   33. Tangkap Mereka!

    "Malam ini, aku menerima laporan bahwa Kediaman Hakim Chu sedang dikepung oleh orang asing. Kupikir tikus dari mana, ternyata ...." Ucapannya menggantung disengaja. Tatapan bengisnya langsung melirik Mu Zehuai, menatap remeh seolah menganggap segala yang ada di hadapannya terlalu mudah diinjak di bawah kakinya. "Sudahlah. Jangan bahas itu lagi. Aku tanya, di mana Tuan Hakim Chu? Kalian sudah membunuhnya? Benar, bukan?" Zhang Ruling mengalihkan topik, menuding langsung dengan asumsi sepihak darinya. Senyum semirik menambah keculasan yang terpapar di wajahnya. Dituduh sedemikian rupa, Mu Zehuai tetap memasang sikap tenang bagaikan air mengalir. Mu Zehuai membalas tuduhan itu dengan senyuman tipis. Wajah dan tatapannya tetap datar dan dingin. Badai pun takkan mudah menghoyahkan keteguhan sikapnya. "Aku tidak mengerti apa maksud Jendral Muda. Zhang Ruling, sepertinya kau salah paham. Malam ini, Chu Ling Long secara pribadi mengundang kami untuk bertamu ke rumahnya. Apa ada yang

  • Sang Penguasa Dunia Silat   32. Penghakiman

    Matanya menatap nyalang sosok Li Sanggu. Langit malam yang diselimuti kegelapan pun mengalahkan pekatnya kebencian yang berkecamuk di dalam hatinya. "Bocah tengik dari mana ini? Beraninya kau tidak menghormatiku! Bahkan kaisar sekali pun tidak memperlakukanku seperti ini!" Ucapannya tercekat. Dia tidak berniat melanjutkannya lebih jauh.Zhang Ruling sampai tidak segan menyinggung pemimpin agung negeri ini. Namun bagi Li Sanggu, semua itu tidak cukup memprovokasinya. Tanpa gentar Li Sanggu membalas, "Tentu saja. Apa kau pikir aku takut? Sekali pun Kaisar kalian berdiri di hadapanku ... Lantas kenapa?" balas Li Sanggu dengan suara stabil, tidak takut jika ucapanya yang lancang tersebar dan terdengar hingga sampai ke telinga kaisar. "Lancang!" Zhang Ruling menuding dengan suara lantang menggelegar, setara kilat menyambar di tengah hujan.Li Sanggu mencondongkan kepalanya ke samping. Sengaja memasang ekspresi cengo. "Kenapa? Apa kau merasa tidak percaya diri ... sampai-sampai harus me

  • Sang Penguasa Dunia Silat   31. Pengepungan

    Untuk saat ini, belum ada cara untuk menyadarkan mereka. Akan tetapi, Mu Zehuai yakin Li Sanggu pasti memiliki caranya. Dia ingin memercayai seseorang sekali lagi. Dia harap Li Sanggu tidak akan mengkhianati kepercayaannya. "Jangan pikirkan itu dulu. Sekarang yang terpenting adalah keluar dari tempat sial ini dan kembali ke sekte," himbau Mu Zehuai. Setelah Li Sanggu berhasil menyadarkan para tahanan yang pingsan, Mu Zehuai segera memasukkan dua rekannya ke dalam kantung persenjataan."Semuanya, ayo kita keluar dari sini," himbau Li Sanggu. Menatap lekat para tahanan yang telah kehilangan cahaya harapan, berharap mereka memiliki semangat untuk tetap bertahan hidup.*** Halaman Kediaman Chu Ling Long "Itu mereka!" "Lancang!""Pembunuh rendahan beraninya menginjakkan kaki ke rumah seorang pejabat bersih! Negara ini benar-benar sudah kehilangan aturan!" "Hari ini berani datang ke rumah seorang Hakim, besok-besok mungkin akan berani datang ke istana Kaisar!" "Nyali kalian sunggu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status