LOGINBersambung.
Papan bertuliskan FORBIDDEN VILLAGE — 5 KM perlahan menghilang di belakang SUV hitam yang melaju menembus kabut pegunungan.Rayhan Halim menyandarkan punggungnya pada jok kulit. Dari balik kaca jendela, pepohonan tinggi tampak seperti bayangan raksasa yang mengawasi jalan sempit itu. Kabut menggantung rendah, membatasi jarak pandang hingga beberapa meter. Sesekali, ranting kering menggores bodi mobil, menimbulkan suara mencicit yang membuat suasana semakin tidak nyaman.Di jari manisnya, cincin safir berdenyut dingin. Rayhan mengusap permukaannya dengan ibu jari. Apa sebenarnya yang ingin kau peringatkan kepadaku?Sejak melewati pos pemeriksaan terbengkalai tadi, suhu cincin itu terus menurun. Dingin yang awalnya hanya terasa seperti menyentuh es kini merambat hingga ke pergelangan tangannya.Di kursi depan, Rendra melirik melalui kaca spion. “Kenapa diam saja? Biasanya kau punya banyak pertanyaan.”Rayhan mengangkat kepala. “Aku sedang menikmati pemandangan.”Rendra tertawa pendek. “P
Cincin safir di jari Rayhan terasa semakin dingin ketika SUV hitam itu memasuki jalan pegunungan yang sempit.Di luar jendela, pepohonan menjulang rapat. Kabut tipis menggantung di antara batang-batang pohon, sementara permukaan jalan yang basah membuat ban mobil sesekali berdecit.Rayhan melirik kaca spion.Rendra duduk di sebelahnya dengan senyum puas. Darto mengemudi tanpa sepatah kata pun.Keduanya terlihat tenang, terlalu tenang untuk perjalanan menuju desa terpencil yang terkenal berbahaya.“Rendra,” ujar Rayhan sambil menyandarkan kepala, “aku baru ingat sesuatu.”“Apa lagi?”“Kalau kita tersesat di sini, siapa yang akan menemukan kita?”Rendra mendengus. “Berhentilah berpikir macam-macam. Kau hanya perlu mengikuti perintahku.”“Baiklah. Aku cuma berharap kita tidak menjadi berita utama. Judulnya mungkin, Tiga Pria Hilang di Pegunungan karena Salah Memilih Sopir.”Darto melirik kaca spion sekilas.Rendra tidak tertawa. “Kalau kau terus mengoceh, aku bisa menyuruhmu turun sekara
SUV hitam itu melaju semakin jauh dari pusat Bellavista City. Gedung-gedung tinggi telah berganti dengan perkebunan, jalan berkelok, dan deretan pepohonan yang menutupi cahaya matahari.Rayhan Halim duduk di kursi belakang sambil berpura-pura menikmati pemandangan. Di sebelahnya, Rendra sibuk memainkan ponsel, sesekali tersenyum puas setelah membaca pesan yang masuk.Sementara itu, Darto terus mengemudi tanpa banyak bicara.“Rendra,” ujar Rayhan tiba-tiba, “kita masih jauh dari Forbidden Village?”“Kenapa? Kau ingin pulang?”“Bukan. Aku hanya ingin tahu apakah kita sempat makan siang. Perutku mulai berisik.”Rendra mendengus. “Pikiranmu hanya makanan! Tidak heran kau tidak pernah berhasil melakukan sesuatu yang berarti.”Rayhan mengusap perutnya sambil tersenyum santai.“Setidaknya perutku jujur. Kalau lapar, dia langsung memberi tahu. Tidak seperti manusia yang tersenyum di depan, tetapi menyimpan pisau di belakang.”Senyum Rendra langsung menghilang. “Apa maksudmu?”“Tidak ada. Aku s
Pagi itu, harumnya kopi memenuhi ruang makan kediaman keluarga Halim. Cahaya matahari menembus jendela besar, menyinari meja panjang yang dipenuhi hidangan mahal. Namun, suasana hangat itu tidak berlaku bagi Rayhan Halim.Pemuda itu duduk di ujung meja dengan sepotong roti panggang di tangan. Kemeja sederhananya tampak kontras dengan pakaian bermerek yang dikenakan Jessica dan Rendra.“Rayhan!” Lilian meletakkan cangkir kopinya dengan bunyi nyaring. “Setelah sarapan, siapkan barang-barang untuk perjalanan kita ke Forbidden Village.”Rayhan mengangkat wajah. “Kita berangkat hari ini, Ma?”“Tentu saja. Apa kau ingin menunggu sampai tahun depan?” sahut Jessica sambil terkekeh.Rendra menyandarkan punggung ke kursi, lalu menatap Rayhan dengan senyum mengejek.“Jangan lupa membawa pakaian yang pantas. Meskipun kau tidak punya selera, setidaknya jangan membuat keluarga ini terlihat seperti sedang membawa gelandangan.”Jessica tertawa sampai hampir tersedak jus jeruknya.Rayhan menatap pakaia
Malam menyelimuti kediaman keluarga Halim di Bellavista City. Lampu kristal di ruang tengah memancarkan cahaya keemasan, sementara aroma daging panggang dari dapur masih tertinggal di udara.Rayhan Halim baru saja turun dari lantai dua ketika mendengar suara Lilian dari ruang keluarga.“Pokoknya, masalah Rayhan harus diselesaikan sebelum surat wasiat itu ditemukan!”Langkah Rayhan terhenti. Ia berdiri di balik pilar, hanya beberapa meter dari pintu ruang keluarga yang sedikit terbuka. Suara Rendra segera menyusul.“Tenang saja, Bu. Aku sudah mengatur semuanya. Kita akan membawanya ke Forbidden Village. Tidak ada yang akan curiga kalau sesuatu terjadi di sana.”“Bagaimana kalau dia menolak pergi?” tanya Jessica.Rendra tertawa meremehkan. “Rayhan? Dia itu sampah keluarga. Sejak kapan dia berani menentangku?”Jessica terkikik. “Benar juga. Bahkan untuk membeli pakaian bagus saja dia harus berpikir tiga kali. Orang seperti itu mau melawan kita?”Lilian tidak ikut tertawa.“Kalian jangan m
Rayhan berhenti tepat di anak tangga pertama.Sepatu hitamnya berderit pelan di permukaan marmer yang dingin. Tangannya masih menyentuh pegangan tangga, tapi langkahnya tertahan—seolah ada sesuatu yang belum selesai.Ia menoleh.Gerakannya lambat. Tenang. Tidak terburu-buru.“Oh ya.”Suaranya ringan. Hampir seperti seseorang yang baru teringat hal sepele.Jessica yang berdiri di bawah langsung menyipitkan mata. Alisnya terangkat, ekspresinya penuh curiga.“Apa?”Rayhan menatap mereka bertiga. Satu per satu. Seolah sedang menilai… atau mungkin meremehkan.Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.“Kalian ini hanya sekumpulan pecundang tak berguna.”Hening.Kalimat itu jatuh begitu saja—dingin, tajam, tanpa emosi. Seperti pisau yang tidak perlu diayunkan keras untuk melukai.Rendra mengernyit, wajahnya langsung menegang.“Apa katamu?”Rayhan hanya mengangkat bahu, seolah ucapan barusan tidak ada artinya sama sekali.“Tidak apa-apa.”Dan tanpa memberi kesempatan balasan, ia berbalik.Langkahn







