Mag-log inBersambung...
“AARGH! Apa yang kau lakukan?!”Rayhan terpaku. Ia tidak menyangka serangannya akan sekuat itu.Pria kedua mundur dengan wajah pucat. Tatapannya berpindah dari tangan Rayhan menuju cincin safir yang berkilau di jari manisnya.“Cincin itu…” gumamnya.Rayhan langsung menangkap perubahan ekspresinya. “Kau mengenali benda ini?”Pria itu tidak menjawab. Ia justru menarik rekannya yang kesakitan. “Kita harus pergi!”“Tidak sebelum dia mati!” bentak si kekar.“Kau mau melawan orang yang bisa membekukan tulangmu? Silakan! Aku tidak dibayar cukup mahal untuk menjadi patung es!”Pria kedua menyeret rekannya menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh dan menunjuk Rayhan. “Ini belum berakhir!”Rayhan menyandarkan tangan ke meja, berusaha menstabilkan napas.“Ucapan itu mulai membosankan,” gumamnya.Kedua pria itu menghilang ke dalam kegelapan malam. Rumah kembali sunyi, hanya menyisakan suara angin yang masuk melalui pintu rusak.“Mas Rayhan!” Nabila berlari dari belakang rumah. Ia berhenti begitu m
BRAK! BRAK! BRAK!Pintu kayu rumah Nabila bergetar keras. Debu berjatuhan dari kusen, sementara suara seorang pria kembali terdengar dari luar.“Buka pintunya! Kami tahu orang yang kami cari ada di dalam!”Nabila berdiri kaku di samping meja. Wajahnya pucat, dan kedua tangannya mencengkeram ujung bajunya.Rayhan segera bangkit dari kursi.“Tenang,” bisiknya. “Jangan buka pintu sebelum aku menyuruhmu.”“Tapi mereka membawa senjata.” Nabila melirik celah jendela. “Aku melihat salah seorang memegang pisau.”“Kalau begitu, jangan berdiri dekat jendela.”Rayhan menarik Nabila menjauh dari dinding depan. Gerakannya membuat bahu yang terluka kembali terasa nyeri, tetapi ia menggertakkan gigi dan menahannya.Di jari manisnya, cincin safir mengeluarkan hawa dingin yang semakin kuat.Anehnya, kali ini Rayhan tidak hanya merasakan dingin. Ada aliran energi samar yang bergerak dari batu safir, menyusuri jari, lalu memasuki telapak tangannya. Sensasinya seperti air mengalir di dalam pembuluh darah,
“Mas! Mas, bisa dengar suara saya?”Suara seorang perempuan terdengar samar di tengah kesadaran Rayhan yang hampir padam. Hujan rintik-rintik mulai membasahi wajahnya, bercampur dengan darah yang mengalir dari pelipis. Tubuhnya terbaring miring di antara semak berduri, sementara air sungai dangkal mengalir beberapa sentimeter dari ujung sepatunya.Rayhan berusaha membuka mata.Sosok perempuan muda berjongkok di hadapannya. Rambut hitamnya diikat sederhana, beberapa helai jatuh menutupi pipi. Ia mengenakan jaket lusuh berwarna cokelat dan celana panjang yang ujungnya basah oleh lumpur. Sebuah keranjang rotan tergeletak di sampingnya, berisi sayuran liar dan beberapa tanaman obat.“Syukurlah! Masih sadar!” Perempuan itu mengembuskan napas lega.Rayhan mencoba bangkit, tetapi rasa sakit langsung menjalar dari bahu hingga pinggang. “Aduh!”“Jangan bergerak dulu!” Perempuan itu segera menahan bahunya. “Kau jatuh dari atas sana?”Rayhan mengangguk lemah.“Bagaimana bisa jatuh dari jalan seti
Saat ujung pisau hampir menyentuh kemejanya, aliran dingin menyembur dari tangannya. Serangan itu menyimpang beberapa sentimeter, meleset dari dada dan menggores lengan kirinya.Rayhan terhuyung. Rasa perih menjalar dari luka tipis di lengannya. Darah merah membasahi kain kemeja, tetapi ia masih berdiri.Penyerangnya membelalak. “Apa-apaan tadi?”Rayhan sendiri tidak tahu. Ia hanya menatap cincin safir yang kini berkilau samar. Ujung jari-jarinya terasa mati rasa, sementara hawa dingin berputar di telapak tangan.Pria bertopeng itu menggeram dan kembali menyerang.Kali ini Rayhan berusaha menghindar. Kakinya terpeleset di atas aspal lembap, membuat tubuhnya jatuh ke satu lutut. Pisau melintas tepat di atas kepalanya.Pria bertubuh kekar segera menerjang dari samping. Pukulan keras menghantam bahu Rayhan.Rasa sakit meledak hingga ke leher. Ia terlempar beberapa langkah dan membentur sisi SUV.“Berhenti melawan!” bentak pria itu.Rayhan terbatuk, berusaha menarik napas. “Kalian berdua…
SUV hitam itu berhenti mendadak.Tubuh Rayhan Halim terhentak ke depan. Sabuk pengaman menekan dadanya, sementara ban mobil mengeluarkan decitan panjang di atas aspal basah.“Apa-apaan ini?” seru Rayhan.Darto mencengkeram kemudi dengan kedua tangan. Wajahnya pucat, keringat membasahi pelipisnya meskipun udara pegunungan terasa dingin.“Mobil di depan menghalangi jalan, Tuan Muda.”Rayhan menatap mobil pikap tua yang melintang beberapa meter di hadapan mereka. Kap mesinnya terbuka, tetapi tidak ada asap ataupun tanda kerusakan. Kaca jendelanya gelap. Tidak seorang pun terlihat di dalam.“Kalau rusak, kenapa parkirnya melintang seperti itu?” Rayhan bertanya.Darto tidak menjawab.Di sampingnya, Rendra justru tampak tenang. Pria itu merapikan manset kemejanya, lalu mengembuskan napas seolah mereka hanya mengalami gangguan kecil dalam perjalanan.“Turun dan periksa mobil itu,” perintahnya.Darto menelan ludah. “Tuan, mungkin lebih baik kita...”“Apa kau tuli?”“Baik, Tuan.”Darto membuka
Papan bertuliskan FORBIDDEN VILLAGE — 5 KM perlahan menghilang di belakang SUV hitam yang melaju menembus kabut pegunungan.Rayhan Halim menyandarkan punggungnya pada jok kulit. Dari balik kaca jendela, pepohonan tinggi tampak seperti bayangan raksasa yang mengawasi jalan sempit itu. Kabut menggantung rendah, membatasi jarak pandang hingga beberapa meter. Sesekali, ranting kering menggores bodi mobil, menimbulkan suara mencicit yang membuat suasana semakin tidak nyaman.Di jari manisnya, cincin safir berdenyut dingin. Rayhan mengusap permukaannya dengan ibu jari. Apa sebenarnya yang ingin kau peringatkan kepadaku?Sejak melewati pos pemeriksaan terbengkalai tadi, suhu cincin itu terus menurun. Dingin yang awalnya hanya terasa seperti menyentuh es kini merambat hingga ke pergelangan tangannya.Di kursi depan, Rendra melirik melalui kaca spion. “Kenapa diam saja? Biasanya kau punya banyak pertanyaan.”Rayhan mengangkat kepala. “Aku sedang menikmati pemandangan.”Rendra tertawa pendek. “P







