LOGINCahaya matahari pagi yang redup menembus celah tirai besar penthouse saat Yuna perlahan membuka mata. Beberapa detik ia hanya menatap kosong langit-langit kamar sambil mencoba mengingat di mana dirinya sekarang. Dirinya tertidur begitu saja setelah mandi air hangat di kamar tamu. Yuna menghela napas pelan sambil memegang dahinya. Kepalanya sudah tidak terlalu sakit seperti kemarin malam, hanya masih terasa ringan dan sedikit berat di bagian belakang. Namun tubuhnya masih lemas. Ia melirik jam digital di meja samping kasur yang menunjukkan pukul 08:00. Mata Yuna langsung melebar. “Ya Tuhan—” Ia refleks bangkit dari kasur terlalu cepat hingga kepalanya langsung berputar ringan. Ia buru-buru memegang pinggir tempat tidur sambil memejamkan mata beberapa detik. Sial … tubuhnya masih belum benar-benar pulih. Namun kebiasaan bekerja membuat tubuhnya bergerak otomatis. Ia langsung berjalan cepat ke kamar mandi sambil mulai berpikir pakaian apa yang harus dipakai ke kantor hari ini, se
Hujan masih turun pelan membasahi jalanan kota saat mobil sport hitam Kai kembali melaju meninggalkan area restoran cepat saji. Di dalam mobil, suasana berubah jauh lebih sunyi dibanding sebelumnya. Tidak ada lagi suara Darren dari sambungan telepon. Tidak ada lagi ketegangan pesta keluarga Mahesa, tatapan curiga Alya, ataupun tekanan keluarga Darren yang terasa menyesakkan. Semuanya terasa seperti baru saja runtuh perlahan … dan meninggalkan kelelahan besar di dada Yuna. Gadis itu duduk diam sambil memeluk paper bag makanan di pangkuannya tanpa benar-benar berniat memakannya lagi. Pandangannya kosong mengarah ke jendela mobil yang dipenuhi titik-titik hujan. Sementara Kai menyetir tenang di sampingnya. Pria itu tidak banyak bicara sejak telepon tadi berakhir. Namun anehnya, justru keheningan Kai kali ini tidak terasa menekan seperti biasanya. Untuk pertama kalinya, Yuna merasa pria itu sengaja memberikannya ruang untuk bernapas. Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya Kai mem
Suasana mobil langsung membeku. Beberapa detik tidak ada suara dari Darren, dan justru keheningan ini terasa jauh lebih berat daripada kemarahan. Saat Darren akhirnya bicara lagi, nada suaranya terdengar jauh lebih rendah. “Pak Kai, sebenarnya Anda siapa nya Yuna?” Kai tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap lurus ke depan sebelum pria itu menyandarkan tubuhnya lebih santai dan berkata tenang. “Saya? Seseorang yang kebetulan masih punya akal sehat saat Anda terus menyeret Yuna ke kebohongan yang makin besar.” Rahang Yuna langsung menegang kecil. Sementara di seberang sana, Darren tertawa hambar pelan. “Jadi sekarang Anda merasa paling mengerti keadaan Yuna?” “Saya tidak merasa demikian,” jawab Kai datar. “Saya melihat sendiri bagaimana dia hancur karena kebohongan yang Anda buat.” Yuna langsung memejamkan mata frustasi kecil. “Pak Kai … sudah cukup.” Namun Kai tetap melanjutkan dengan nada rendah dan dingin. “Dia stres berhari-hari. Sampai jatuh sakit. Sampai pingsan mala
Hening menyelimuti udara di kabin mobil membuat Yuna semakin gugup. Kai mengambil minumnya lebih dulu sebelum menjawab dengan tenang. “Saya bawa kamu keluar.” “Terus?” “Keluarga Mahesa panik.” Yuna memejamkan mata frustrasi kecil. Ya Tuhan …. Yuna bahkan tidak berani membayangkan sekacau apa suasana tadi setelah dirinya pingsan. “Kemudian Ibunya Darren meminta maaf karena memaksamu datang saat kondisi kamu sakit.” Kai berhenti sebentar. “Dan acara ulang tahun dilanjutkan setelah kita pergi.” Yuna perlahan membuka mata lagi. “Cuma itu?” Kai menatapnya lurus beberapa detik. “Sebelum kamu pingsan, Ayah Darren hampir menyebut nama kamu di depan semua tamu. Makanya saya suruh kamu berdiri.” Yuna membeku. Beberapa potongan kejadian langsung tersusun di kepalanya sekarang. Tatapan Kai yang mendadak berubah serius. Nada suaranya yang tegas. Perintahnya agar Yuna berdiri saat itu juga. Dan beberapa detik setelahnya … dirinya benar-benar tumbang. Jantung Yuna langsu
Kesadaran Yuna perlahan kembali bersama suara samar hujan rintik yang mengetuk kaca mobil. Kelopak matanya terasa berat saat ia membuka mata perlahan. Pandangannya masih sedikit buram beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada interior mobil sport hitam yang terasa begitu familiar. Kini, ia berada di mobil Kai. Yuna mengernyit kecil sambil memegang kepalanya yang masih berdenyut samar. Tubuhnya terasa ringan seperti habis kehilangan tenaga terlalu banyak. Dan yang pertama kali kembali ke ingatannya justru bukan suara musik pesta. Melainkan suara Dustin Mahesa di atas panggung: “… akhirnya membawa calon tunangannya sendiri.” Jantung Yuna langsung mencelos. Ia refleks duduk lebih tegak sambil napasnya berubah cepat. Bayangan lampu pesta, para tamu, tatapan keluarga Mahesa, lalu tubuhnya yang mendadak limbung langsung memenuhi kepalanya sekaligus. Sial. Apa Dustin sempat menyebut namanya?! Yuna buru-buru menoleh ke samping, namun kursi pengemudi kosong. “Kai …?” panggi
Suasana meja makan kini terasa canggung setelah ucapan Dwina barusan. Perkataan Ibu Darren yang awalnya terdengar seperti candaan ringan itu justru meninggalkan keheningan aneh di antara mereka sekarang. Yuna langsung merasa tenggorokannya mengering. Dadanya sesak bukan hanya karena gugup, tapi karena untuk pertama kalinya ia benar-benar merasa semua kebohongan ini mulai saling bertabrakan di depan matanya sendiri. Di satu sisi, Darren yang menyeretnya masuk ke dalam sandiwara pertunangan palsu demi menghindari perjodohan. Tapi, Kai justru duduk terlalu dekat dengannya sekarang, sampai bahkan orang lain mulai menangkap sesuatu yang seharusnya tidak terlihat. Dan yang paling membuat Yuna takut, perlahan ia mulai tidak tahu harus berdiri di sisi siapa sejak semuanya berubah kacau. Terlebih sekarang, Darren sendiri mulai terlihat kehilangan kendali atas kebohongan yang dulu ia ciptakan sendiri. Yuna masih belum berani mengangkat wajah sepenuhnya. Jantungnya berdegup kacau, sem
Yuna membeku. Pandangannya langsung tertuju pada Alya. Dan benar saja, gadis itu hanya diam, tapi Yuna bisa melihat bagaimana bahunya menegang pelan dan sorot matanya semakin sulit dibaca. Darren akhirnya membalas dengan nada yang masih terdengar santai tapi kali ini lebih sarkastik. “Baik, Bos b
Koridor rumah sakit yang semula sunyi mendadak terasa sempit. Yuna berdiri terpaku di tempatnya, napasnya tercekat saat pandangannya menangkap satu per satu sosok di hadapannya. Alya di sisi kanan dengan wajah penuh khawatir, Darren sedikit di depannya dengan tatapan tajam pada Kai, dan … Kai, berd
Koridor lantai dua rumah sakit terasa terlalu sunyi untuk ukuran tempat yang sedang mempertaruhkan nyawa seseorang. Di ujung lorong, lampu merah bertuliskan Operasi Berlangsung masih menyala dan tak berkedip. Yuna duduk diam di kursi tunggu dengan tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya saling
Dunia seolah berhenti berputar. Napasnya tersendat, tangannya gemetar hebat hingga HP-nya hampir jatuh. Air mata langsung menggenang di pelupuknya, mengaburkan pandangan. ‘Tidak … tidak boleh …’ pikirnya dalam hati, panik yang membuncah seperti gelombang dingin. Sekejap, ingatannya langsung meny







