MasukSuasana penthouse terasa jauh lebih tenang setelah Yuna selesai makan siang.Semangkuk sop daging hangat tadi benar-benar membuat tubuhnya terasa sedikit lebih baik dibanding pagi tadi. Setidaknya kepalanya tidak lagi terlalu berat, dan tubuhnya juga terasa lebih ringan setelah sesi reflexology tadi.Yuna perlahan membereskan meja makan sambil membawa mangkuk dan sendok bekasnya ke dapur. Air hangat mengalir pelan dari keran wastafel ketika Yuna mulai mencuci piring satu per satu dengan gerakan santai. Namun di tengah kegiatannya, matanya sempat melirik ke arah lorong ruang kerja Kai.Kai belum keluar lagi?Bukannya pria itu belum makan siang?Tanpa banyak berpikir, Yuna menyisakan sop daging yang tadi di pesan Kai ke dalam panci kecil. Ia menaruhnya di kompor agar mudah dipanaskan nanti.Beberapa menit kemudian, Yuna berjalan pelan menuju ruang tengah sambil membawa segelas air putih. Ia duduk santai di sofa besar pent
“NIKAH?!”Suara Yuna langsung memecah kamar tamu dengan nada panik setengah mati.Wanita terapis itu malah tertawa kecil geli melihat reaksinya.“Aduh, Nona lucu sekali.” Wanita itu masih tersenyum hangat sambil memijat pelan tubuh Yuna. “Memangnya salah kalau saya mendoakan hubungan kalian serius?”“S-salah besar!” bantah Yuna cepat dengan wajah memanas. “Kami benar-benar bukan pasangan!”Namun sebelum wanita itu sempat membalas lagi, Kai justru menanggapinya santai sambil masih memegang tablet kerjanya.“Saya tidak keberatan.”Yuna langsung membeku total hingga hening langsung menyergap di ruangan itu.Bahkan wanita terapis itu ikut terdiam sepersekian detik sebelum matanya langsung berbinar senang.“Nah kan!” serunya puas. “Pak Kai saja mengakuinya!”“KAI?!” Yuna langsung menoleh tidak percaya.Namun pria itu tetap terlihat tenang seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sangat bias
Yuna langsung panik setengah matiTunggu dulu ….Jangan-jangan wanita ini salah paham terlalu jauh?!Memang, dari tadi Kai mengantarnya sendiri, menyuruh fokus di bagian tubuh tertentu, sampai bicara seolah sudah sangat mengenalnya.Jangan bilang terapis ini mengira mereka pasangan sungguhan?“B-bukan!” bantahnya cepat sambil buru-buru menoleh. “Saya bukan pacarnya!”Wanita itu malah tertawa kecil geli.“Aduh, Nona langsung panik begitu.”“Saya serius,” desak Yuna cepat. “Hubungan kami bukan seperti itu!”Wanita terapis tersebut hanya tersenyum samar sambil kembali memijat area bahu Yuna dengan gerakan profesional dan nyaman.“Kalau begitu … saya malah lebih kaget lagi.”Yuna mengernyit bingung.“Maksudnya?”Wanita itu tertawa kecil sebelum berkata santai,“Karena selama ini Pak Kai terkenal dekat dengan banyak perempuan.”Yuna langsung diam.
“Hah?! Pijat tubuh?!”Yuna langsung menoleh tidak percaya ke arah Kai dengan mata melebar lebar. Sementara pria itu tetap duduk santai di kursinya sambil meminum kopi tanpa ekspresi.“Reflexology,” koreksi Kai datar. “Kamu pikir saya panggil siapa?”Yuna langsung tersedak udara sendiri.Sial, Yuna benar-benar salah paham!“B-bukan gitu maksud saya!”Kai melirik sekilas dengan tatapan tipis yang terasa sangat mencurigakan. Namun anehnya, pria itu tidak melanjutkan godaan apa pun. Yuna buru-buru menggeleng kecil sambil mencoba mengalihkan pembicaraan.“Nggak usah panggil orang segala juga kali ….” gumamnya pelan. “Saya cuma kecapekan sedikit kok. Lagian pasti repot buat Anda.”Kai langsung meletakkan cangkir kopinya pelan di meja.“Repot?”“Iya.” Yuna menggaruk pipinya canggung. “Anda sampe manggil terapis segala cuma karena saya sakit begini ….”Kai memandangnya beberapa detik
Air terus mengalir membasahi punggung tangan Yuna yang memerah samar, sementara Kai tetap memegang pergelangan tangannya erat namun hati-hati.Dan justru itu yang membuat Yuna makin tidak nyaman. Karena perhatian kecil seperti ini terasa terlalu asing datang dari Kai Verazo.Yuna akhirnya menoleh pelan.“Saya bisa sendiri,” ucapnya cepat sambil menarik napas kecil. “Kopi Anda … Anda bisa tuang sendiri kan? Biar sisanya saya atasi sendiri.”Kai memandangnya beberapa detik cukup lama. Tatapannya turun sekilas pada wajah pucat Yuna sebelum akhirnya pria itu melepaskan tangannya perlahan.“Jangan bikin dapur saya banjir,” gumamnya datar.Yuna langsung mendelik kecil.“Saya cuma tumpahin air sedikit.”Kai tidak menjawab lagi. Pria itu berbalik santai menuju meja dapur dan mulai menuangkan kopinya sendiri. Sementara itu, Yuna masih berdiri di depan wastafel sambil membiarkan air dingin mengalir beberapa meni
Cahaya matahari pagi yang redup menembus celah tirai besar penthouse saat Yuna perlahan membuka mata. Beberapa detik ia hanya menatap kosong langit-langit kamar sambil mencoba mengingat di mana dirinya sekarang. Dirinya tertidur begitu saja setelah mandi air hangat di kamar tamu. Yuna menghela napas pelan sambil memegang dahinya. Kepalanya sudah tidak terlalu sakit seperti kemarin malam, hanya masih terasa ringan dan sedikit berat di bagian belakang. Namun tubuhnya masih lemas. Ia melirik jam digital di meja samping kasur yang menunjukkan pukul 08:00. Mata Yuna langsung melebar. “Ya Tuhan—” Ia refleks bangkit dari kasur terlalu cepat hingga kepalanya langsung berputar ringan. Ia buru-buru memegang pinggir tempat tidur sambil memejamkan mata beberapa detik. Sial … tubuhnya masih belum benar-benar pulih. Namun kebiasaan bekerja membuat tubuhnya bergerak otomatis. Ia langsung berjalan cepat ke kamar mandi sambil mulai berpikir pakaian apa yang harus dipakai ke kantor hari ini, se
Yuna menatap layar ponselnya dengan jantung yang berdegup tak karuan. Chat dari Darren terasa seperti bom waktu yang meledak pelan di tangannya. “Yuna, ayo kita ketemuan berdua. Sekarang saya ada di depan gedung kantormu.” Yuna menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tiba-tiba, perasaan takut langsung
“Jam 07:40?!” suara Yuna naik setengah oktaf, hampir berteriak. Tubuhnya langsung duduk tegak hingga selimut melorot dari bahu. Kepala masih sedikit pusing, tapi yang lebih parah adalah rasa panik yang langsung menyergap. Jam masuk kantor pukul 8 pagi. Yuna menoleh ke samping ranjang. Kai suda
Yuna langsung panik. Tangannya refleks menepis cengkeraman Kai di pergelangan, tapi pria itu tidak bergeming sama sekali. Malah jarinya mengencang pelan. Ia mendengus kesal sekaligus malu. “Ma–mau ke mana lagi? S–saya mau tidur di kamar tamu lah!” jawab Yuna gelagapan, suaranya naik setengah o
Di restoran mewah, Yuna duduk dengan postur sangat canggung, sendok dan garpu di depannya terasa asing hingga ia hanya berani mengambil sedikit salad dan daging panggang. Pikirannya berisik dan tatapannya kosong menatap piring. Dibenaknya, ia masih takut jika ia lupa siapa dirinya yang dulu, yang k







