Share

Chapter 32.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-03-22 17:01:15
Yuna menatap layar ponselnya dengan jantung yang berdegup tak karuan. Chat dari Darren terasa seperti bom waktu yang meledak pelan di tangannya.

“Yuna, ayo kita ketemuan berdua. Sekarang saya ada di depan gedung kantormu.”

Yuna menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tiba-tiba, perasaan takut langsung menyergap di dadanya.

Yuna melirik sekilas ke arah pintu ruang kerja Kai. Sosok yang paling ia takuti masih berada di dalam ruangan itu.

Jika pria itu keluar sekarang, jika ia sampai melihat Yuna
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 56.

    Yuna menelan ludah kecil sebelum menjawab, berusaha menstabilkan suaranya. “Baik, Dok. Saya … masih di kantor. Lagi lembur sedikit.” Di seberang, Firas terdengar menarik napas pelan. “Masih di kantor jam segini?” suaranya tetap lembut, tapi ada nada lain yang sulit dijelaskan. “Kamu nggak terlalu memaksakan diri, Yuna?” Yuna tersenyum kecil, meski tak terlihat. “Sudah biasa, Dok. Lagian saya juga nggak terlalu capek kok.” Firas terdiam sebentar, lalu suaranya kembali terdengar yang kali ini sedikit lebih pelan. “Kamu nggak ke rumah sakit malam ini?” “Iya … rencananya besok sore baru ke sana lagi. Kenapa, Dok? Ada apa dengan Ibu?” “Kondisi Ibumu stabil … tapi masih butuh pengawasan ketat. Tadi sempat ada perubahan kecil, tapi masih dalam batas aman.” Yuna langsung menegang. “Perubahan …?” tanyanya cepat. “Tenang,” Firas menenangkan. “Bukan sesuatu yang berbahaya. Tapi kalau kamu punya waktu … mungkin lebih baik kamu lihat langsung.” Yuna terdiam. “Lagipula,” lanjut Firas

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 55.

    Wanita itu … pacarnya Kai? Ingatan kemarin sore langsung menyala terang di kepalanya—wanita elegan yang mencium pipi Kai di depan gedung Verazo & Associates. Yuna sebenarnya tidak begitu terkejut. Ia tahu pria predator seperti apa Kai Verazo itu. Dulu, ia juga pernah memergoki Kai berhubungan intim dengan seorang wanita di mobil. Yang membuatnya heran adalah, untuk apa Rosie mengatakan ini padanya, di depan semua orang? Ia bahkan melirik Yuna dengan tatapan tajam. “Ya … beda banget sih sama yang lain,” katanya sambil mengedikkan dagu ke arah Yuna. “Ada yang genit, sengaja kerja gak becus biar sering dipanggil Bos. Cari perhatian gitu pokoknya. Pantes aja kerjaan numpuk, kan? Biar bisa deket-deket Bos terus.” Beberapa orang di sekitar mulai berbisik-bisik. Pandangan mereka beralih ke Yuna penuh curiga dan jijik. Rosie menyeringai tipis, menikmati suasana yang mulai memanas. “Kalo dipikir-pikir, lucu ya … yang kerja beneran malah junior,” lanjutnya santai. “Yang senior? Sibuk jag

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 54.

    Yuna tersentak mendengar suara ceria Alya. Ia berhenti sejenak di tengah koridor, dan memaksakan senyum tipis saat menoleh ke arah Alya yang sedang berdiri di depan pantry dengan secangkir kopi di tangan. “Pagi, Alya,” jawab Yuna pelan. “Iya … cuti saya sudah selesai. Makanya aku masuk hari ini.” Alya tersenyum lebar dengan mata berbinar tulus. “Syukurlah, Kak. Aku khawatir banget kemarin. Ibu Kakak gimana? Sudah lebih baikan?” Yuna mengangguk cepat. “Keadaan Ibu sudah stabil, cuma masih perlu dirawat di ICU.” Tak lama, Yuna buru-buru melangkah mendekat, suaranya sedikit tergesa. “Ngomong-ngomong, makasih banyak ya, Alya … udah bantu gantikan kerjaan saya satu harian kemarin. Pasti numpuk banget ya? Maaf banget saya ninggalin semuanya ke kamu.” Alya menggeleng pelan dengan senyum yang tetap hangat. “Gapapa kok, Kak. Awalnya memang agak kewalahan, tapi … aku juga bisa belajar banyak dari job desk yang Kak Yuna kerjakan. Banyak hal baru yang aku pahami kemarin.” Yuna merasa d

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 53.

    Yuna mengernyit dalam, dan tanpa sadar kakinya mengerem pelan hingga mobilnya hampir berhenti di pinggir jalan. Yuna memicingkan mata tipis. Campuran kejutan dan heran saat ia melihat pemandangan kedua orang itu yang begitu dekat dan … intim. “Kai dan … siapa lagi cewek itu?” gumam Yuna berbisik. Hubungan mereka … terlihat sangat akrab. Wanita itu tersenyum manis sambil tangannya sempat menyentuh lengan Kai sebentar. Wanita itu terlihat sangat cantik. Berpakaian elegan, rambut tergerai sempurna, aura percaya diri yang kuat. Bukan tipe Alya yang polos-ceria, tapi tipe wanita dewasa yang sepadan dengan Kai Verazo. Yuna teringat perkataan Kai saat bilang Alya kurang menarik karena terlalu sempurna. Lalu wanita ini …? Tangan Yuna yang memegang burger mengerat. Sausnya menetes ke pangkuannya, tapi ia tak peduli. Matanya masih terpaku pada dua sosok di depan gedung itu. Kai tersenyum tipis pada wanita itu, senyum yang sama sekali tidak dingin seperti yang biasa ia tunjukkan padanya.

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 52.

    Yuna membeku di tempat. Jantungnya berdebar kencang hingga terasa menyakitkan di dada.Firas… mau antar dirinya pulang?Firas melanjutkan dengan nada lebih lembut, penuh perhatian yang kali ini terasa lebih dalam.“Kamu kelihatan kecapekan. Saya nggak enak kalau kamu pulang sendiri dalam keadaan seperti ini.”Yuna menahan napas sepersekian detik. Tawaran Firas begitu sederhana, tapi terasa sangat berat dan tulus. Namun, Yuna harus menelan ludah lagi saat pikirannya mulai panik oleh kenyataan yang menampar dirinya.Kalau Firas tahu ia tinggal di kediaman Kai, bagaimana reaksinya?Yuna tidak berani membayangkan kemungkinan itu. Apalagi kalau Firas mulai menekannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyentuh hidup pribadinya dan … hubungannya dengan Kai.Yuna menelan ludah berat karena tenggorokannya mendadak terasa kering.“Terima kasih, Dok … tapi nggak usah. Saya bawa mobil sendiri kok. Lagian, masih ada yang ha

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 51.

    Yuna menarik napas pelan, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski dadanya kembali sesak.“Iya … baru saja dari ICU. Kondisinya sudah lebih stabil. Makasih udah nanyain.”Firas diam di sampingnya, menyesap kopi hitam dari botol di tangannya. Tatapannya sempat turun, tapi Yuna bisa merasakan bahwa pria itu tetap mendengarkan dengan saksama.Darren di telepon melanjutkan dengan nada yang semakin lembut.“Saya lega dengarnya. Kamu sendiri gimana? Kemarin kamu kelihatan … capek banget. Sudah makan? Tidurmu juga cukup nggak?”Yuna menggigit bibir bawahnya. Pertanyaan sederhana itu terasa berat. Karena di balik perkataan Darren, ia bisa mendengar kepedulian yang tulus yang membuatnya tidak nyaman.Bukankah seharusnya Darren lebih mengkhawatirkan Alya yang semalam terlihat tidak enak badan?Tapi … kenapa justru dia yang ditanyakan?“Saya… sudah makan tadi. Sekarang lagi di taman rumah sakit,” jawabnya pelan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status