Home / Fantasi / Sang Villainess Yang Disayang / 143. Sisi Lain Valerian

Share

143. Sisi Lain Valerian

Author: Hydragea
last update publish date: 2026-09-08 12:52:20

TOK! TOK! TOK!

Suara ketukan pintu yang ritmis itu kembali terdengar di tengah keheningan kamar Valerian. Ketukan tersebut seketika menghentikan pergerakan intim mereka.

Valerian mendengus pelan, sepasang mata merah darahnya berkilat kesal karena atmosfer hangat yang baru saja ia bangun bersama Scarlett harus terinterupsi.

Pria bertubuh kekar itu mengendurkan sedikit genggaman tangannya pada jemari Scarlett, lalu menoleh ke arah pintu kayu ek besar kamarnya.

"Masuk," perintah Valerian dengan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Villainess Yang Disayang   157. Obsesi Zayn Yang Semakin Parah

    "Kalau begitu, minumlah tehnya sampai habis, Tuan... Dan setelah itu, biarkan aku membantu merilekskanmu." Mendengar bisikan sensual tepat di telinganya, Scarlett perlahan membuka kelopak mata ungunya. Sentuhan jari-jari putih pucat Zayn di bahunya, berpadu dengan kehangatan tubuh pria duyung itu yang menempel di punggungnya, perlahan-lahan mengikis tumpukan kepenatan yang menggelayuti benaknya sejak pagi. "Kau selalu tahu cara memanfaatkan situasi, Zayn," ucap Scarlett dengan nada suara yang rendah dan rileks. Zayn terkekeh rendah, sama sekali tidak tersinggung ucapan Scarlett. "Benarkah aku seperti itu... di matamu?" "Ya." Scarlett mendongak, menatap Zayn dari bawah. "Bisa dibilang, kau pandai mengambil kesempatan dalam kesempitan." Zayn menunduk, dan terkekeh kembali, kali ini sedikit lebih keras. Matanya berkedip sebelah–gestur menggoda genit. "Ku anggap itu pujian, Nona Besar." Tawa Scarlett pecah, Zayn pun ikut tertawa bersamanya. "Lalu dengan cara apa k

  • Sang Villainess Yang Disayang   156. Apa Ini Zayn?

    Pintu ruang kerja Penguasa Kota yang baru telah ditutup rapat. Scarlett duduk bersandar di balik meja mahakarya kayu ek yang kokoh, menopang dagunya dengan satu tangan. Manik mata ungunya yang jernih menatap kosong ke arah deretan dokumen pemerintahan yang menumpuk di hadapannya. Pikirannya benar-benar sedang bercabang hebat, berputar-putar di antara dua masalah besar yang mendadak melanda hatinya. Scarlett mengembuskan napas panjang, memijit pelan pelipisnya yang berdenyut halus. "Caspian... ku mohon jangan gegabah. Dan Killain... ku harap kau bisa membantu Valerian di lembah tengkorak." Scarlett memejamkan matanya rapat-rapat. Dua masalah ini benar-benar sukses membuat kepalanya hampir pecah karena khawatir. TOK! TOK! TOK! Suara ketukan pintu yang mendadak memutus lamunan panjang Scarlett. Daun pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok pelayan pribadinya yang melangkah masuk dengan kepala tertunduk, membawa sepucuk surat yang entah siapa pengirimnya. "Maaf, Nona Besa

  • Sang Villainess Yang Disayang   155. Jenderal Yang Baru

    Suasana ruang kerja yang megah namun sunyi. Lilin-lilin besar menerangi meja kayu jati yang dipenuhi tumpukan dokumen dan peta wilayah. Pintu ruang ganda terbuka. Scarlett melangkah masuk dengan gaun berwarna ungu lilac–ciri khasnya, yang sedikit berdebu, kelelahan setelah melewati hari panjang dengan berdebat bersama Caspian. "Sialan. Caspian benar-benar sudah gila." batinnya menggerutu sepanjang perjalanan. Killain berjalan satu langkah di belakangnya, tangan kanannya secara refleks selalu berada di dekat gagang pedangnya. Scarlett menghela napas panjang. Ia berjalan menuju kursi kebesarannya di balik meja kerja, lalu mendudukkan diri. Baru saja punggung Scarlett menyentuh sandaran kursi, mencoba mencari ketenangan— BRAKK!!! Pintu ruang kerja dibuka paksa dari luar hingga membentur dinding dengan keras. Killain langsung melesat ke depan Scarlett, menghunuskan separuh pedangnya dari sarung dengan bunyi desingan logam yang tajam. Prajurit Garth, utusan setia Valeria

  • Sang Villainess Yang Disayang   154. Derita di Balik Tembok Suci

    Mendengar tuduhan polos yang mengarah pada Scarlett, detak jantung Caspian seolah berhenti.Rasa ketakutan yang teramat besar langsung menyerang dadanya—bukan takut akan takdir hukum gereja, melainkan ketakutan jika nama baik Scarlett kembali dicap jelek, kejam, dan jahat oleh seluruh lapisan masyarakat setelah semua usaha pembersihan nama yang mereka lakukan.Caspian mempererat genggaman tangannya pada jemari sang anak, menggelengkan kepalanya dengan terburu-buru dan panik."Tidak, Sayang! Tolong jangan pernah berpikiran seperti itu! Nona Penguasa Kota Scarlett sama sekali bukan orang yang jahat!"Caspian menoleh menatap Scarlett dari samping sesaat, sebelum kembali memusatkan pandangannya pada anak kecil di depannya."Penguasa Kota... dia adalah wanita yang sangat mulia, bahkan jauh lebih suci dari siapa pun di kekaisaran ini!"Anak kecil itu mengerjapkan matanya yang masih basah oleh air mata, menatap bingung."Benarkah, Pendeta Agung? Tapi kata para pendeta senior yang lain, Nona

  • Sang Villainess Yang Disayang   153. Pertanyaan Yang Memaku Jiwa

    PLAK! Suara hantaman telapak tangan Scarlett yang mendarat keras di pipi Caspian menggema nyaring di bawah selasar paviliun yang sunyi . Tamparan itu begitu tiba-tiba, memaksa kepala sang Pendeta Agung menoleh ke samping. Caspian seketika membatu. Gejolak emosi batin dan tekad gilanya yang berapi-api runtuh dalam sekejap, digantikan oleh sorot mata yang kembali berubah menjadi lugu dan polos. Dia menatap nanar ke arah Scarlett, meraba pipinya yang terasa panas dengan ujung jemarinya yang gemetar, benar-benar syok karena baru saja ditampar oleh wanita yang dia agungkan sebagai Tuhannya. "Buka matamu dan sadarlah, Caspian bodoh!" bentak Scarlett dengan napas memburu dan dada naik turun menahan amarah yang membuncah. Scarlett mencengkeram bahu Caspian, mengguncangnya kasar sembari meluapkan seluruh kekesalan dan usaha keras yang telah dia lakukan demi pria itu. "Kamu pikir posisi Pendeta Agung yang kamu duduki sekarang adalah barang murah yang bisa kamu buang begitu saja karena e

  • Sang Villainess Yang Disayang   152. Penangguhan Pelepasan

    Beberapa saat yang lalu... Suasana di bawah selasar batu putih terasa amat dingin dan kaku. Empat pendeta senior berpakaian jubah bersulam benang emas berdiri mengelilingi Caspian yang tampak tegak, tak bergeming dengan keputusan gila yang dibawanya dari Taman Gethsemane. Pendeta Senior 1, memasang wajah prihatin yang dibuat-buat, memegang sebuah perkamen besar berisi sumpah pelepasan. "Pendeta Agung Caspian, kami akan menanyakan ini untuk terakhir kalinya sebelum segalanya terlambat. Pikirkanlah matang-matang. Melepas jabatan Pendeta Agung bukan hal sepele." Pendeta Senior 2, menimpali dengan nada berat, pura-pura panik. "Benar, Caspian! Kamu adalah pilar kejujuran di Gereja Suci ini! Jika kamu pergi, bagaimana kami harus menjelaskan pada seluruh rakyat kekaisaran?!" Namun, di balik topeng keprihatinan itu, hati para pendeta senior bersorak senang bukan main. Mereka diam-diam tersenyum licik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status