LOGINScarlett tak langsung menjawab, hanya menampilkan smirk tipis yang menggoda.
"Diam dan ikut aku, Pendeta Suci," bisik Scarlett dengan nada dingin yang sensual. Mata ungunya berkilat kejam. TING! "Target merasakan kepanikan batin. Poin Penderitaan awal terdeteksi: +50 Poin!" Mendengar suara Pixie di benaknya, keraguan Scarlett menguap. Dia tahu dia harus bertindak ekstrem. Dengan kekuatan spiritualnya, Scarlett menyentak Caspian bangun dan menyeret pria itu keluar dari ruang kurungan lewat jalan rahasia kediaman Penguasa Kota. Caspian mencoba memberontak, namun tubuhnya yang lemas akibat kurungan dan percobaan bunuh dirinya tak mampu menandingi cengkeraman magis Scarlett. Tujuan Scarlett hanya satu yaitu Altar Gereja Agung yang terletak di batas luar distrik. Malam itu, gereja kosong melompong, hanya menyisakan keheningan yang mencekam. BRAK! Scarlett menghempaskan tubuh Caspian ke atas altar batu dingin yang biasanya digunakan untuk persembahan suci. Caspian meringis, jubah putihnya yang melambangkan kesucian kini tampak kusut dan kotor. "Nona Scarlett, ini adalah Rumah Dewa! Tempat ini suci! Tindakan Anda adalah penistaan!" Suara Caspian bergetar hebat, bukan karena marah, melainkan karena ketakutan batin yang mendalam. Jiwa agamisnya menjerit melihat bagaimana tempat ibadahnya dinodai oleh keagresifan seorang wanita. "Suci?" Scarlett tertawa hambar, suara tawa yang terdengar sangat meremehkan. Dia merangkak naik ke atas altar, menjebak tubuh Caspian di bawah kungkungannya sekali lagi. Jari-jari lentik Scarlett bergerak berani, menelusuri rahang tegas Caspian, lalu turun menyentuh dada pria itu, merasakan detak jantungnya yang berpacu gila. "Bagiku, kesucianmu itu menjijikkan, Caspian. Mengapa kamu menyembah dewa yang membiarkanmu dikurung seperti hewan pajangan oleh Penguasa Kota karena wajah tampanmu ini?" Scarlett berbisik tepat di depan bibir Caspian, memberikan embusan napas yang menghina sekaligus menggoda. Tak lama pelayan pribadinya masuk ke gereja itu dengan membawa seguci anggur beralkohol sedang, perintah Scarlett sebelum datang ke Kediaman Penguasa Kota. Scarlett menerimanya tanpa menoleh ke arah pelayan pribadinya. Setelah itu, pelayan itu membungkuk hormat dan pergi, menutup pintu gereja itu kembali. Caspian menoleh ke arah seguci alkohol itu, lalu menatap ke arah Scarlett, tanpa diberi tahu dirinya tahu apa yang akan dilakukan Scarlett kepadanya. Merangsang dirinya dengan tambahan alkohol. "Lepaskan aku, pendeta tak boleh minum alkohol!" Suara Caspian tercekat, tertahan di tenggorokan akibat kepanikan. "Ini tindakan penistaan terhadap Tuhan!" Scarlett tertawa rendah, "segala hal, kau anggap penistaan Tuhan. Jika Tuhanmu memang benar-benar nyata, bagaimana bisa dia membiarkanmu dihina dan hanya diam saja?" Caspian terdiam mendengar ucapan Scarlett, otaknya sempat kosong. Hanya air mata yang jatuh akibat terlalu menumpuk di pelupuk mata. "Tutup Mulutmu! Penista agama pasti akan mendapat murka Tuhan." Scarlett berdecih geli, bukan karena dia tak memiliki agama atau tak takut kepada Tuhan. Tapi karena Tuhannya bukan di dunia ini, Tuhannya di dunia modern miliknya. Persetan dengan Tuhan di dunia beastman ini, dirinya tak mau tahu dan tak peduli. "Kalau begitu kita lihat, mana yang datang lebih dulu, murka Tuhan atau ..." Scarlett menjeda kalimatnya, mengangkat seguci alkohol itu mendekat ke arah mulut Caspian. Matanya menatap Caspian intens, tak membiarkan Caspian memalingkan wajah. "Dirimu yang melanggar sumpah sucimu selama dua puluh tahun." Setelah itu, Scarlett memaksa mulut Caspian terbuka dengan tangan kiri, sedangkan tubuhnya masih duduk diatas perut Caspian dan menuangkan semua alkohol dalam guci itu ke dalam mulut Caspian. Mata abu Caspian memerah akibat rasa panas dan terbakar di tenggorokannya. Tenaganya dengan tenaga Scarlett berbeda, tenaga Scarlett lebih besar karena Scarlett memiliki kekuatan spiritual walaupun itu hanya tingkat F. Di dunia beastman ini memang hanya wanita yang memiliki kekuataan spiritual, dan para pria beastman menjadi pengikut wanita. Bebas wanita itu memiliki pengikut atau suami seberapa banyak, asalkan wanita itu bisa menjinakkan semua pria itu saat sedang dalam masa-masa tertentu. Seguci alkohol sudah habis, Scarlett menyeringai puas melihat kondisi Caspian sekarang. Jubah keagamaannya telah bernoda merah alkohol, rambut putih Caspian yang berantakan, Wajahnya memerah dan air matanya terus menetes akibat reaksi alkohol yang datang cepat, meninggalkan jejak suci yang telah bersemayam di dalam tubuhnya selama ini. Kini kondisinya layaknya para pecundang yang biasa berpesta di rumah bordil ibu kota. "Tuan pendeta, lihatlah dirimu sekarang. Dimana letak kesucianmu itu?"Scarlett menimang sebentar ajakan Elian. Di tengah banyaknya urusan takhta, tatapan mata rubah pria itu terlihat begitu menuntut. Scarlett akhirnya mengembuskan napas pendek lalu mengiyakan. "Baiklah, ayo," jawab Scarlett kemudian. Senyum manis langsung mengembang lebar di bibir Elian, matanya berkilat senang. "Pilihan yang bagus, Nona Besar. Mari ikut aku." Elian mengulurkan tangan, menuntun Scarlett berjalan bersama meninggalkan ruang audiens menuju ke arah taman belakang Kediaman Penguasa Kota. Scarlett menerima uluran tangan Elian. Seketika itu juga Elian langsung menggenggam erat jari Scarlett. Padahal sudah sering sekali Scarlett melakukan kontak intens dengan Elian serta yang lain, tapi selalu saja detak jantungnya berdegup menggila. Begitu pintu kayu besar taman terbuka, embusan angin segar langsung menyambut mereka. Di taman itu terdapat sebuah danau kecil yang jernih dan hamparan taman yang dipenuhi oleh berbagai jenis bunga yang sedang mekar dengan indah. Elia
"Nghhh..." Sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra kamar, membangunkan Scarlett dari tidur nyenyaknya. Dia mengerjapkan mata ungunya, lalu menoleh ke arah samping ranjang. Tempat di mana Caspian memeluknya semalam kini sudah kosong dan mendingin. "Pria itu... sudah pergi lagi sepagi ini? Benar-benar pendeta yang sibuk," gumamnya lirih, seraya beranjak duduk. TOK! TOK! TOK! Suara ketukan pintu memutus lamunannya. Pelayan pribadinya melangkah masuk dengan kepala menunduk khidmat, membawa nampan berisi naskah agenda hari ini. "Selamat pagi, Yang Mulia Penguasa Kota. Hamba datang untuk membantu Anda bersiap. Hari ini adalah hari penting di mana Anda harus menetapkan struktur anggota pemerintahan yang baru." Ya ampun! Karena banyaknya masalah yang terjadi belakangan ini, Scarlett hampir melupakan hal penting ke penguasaannya. Tapi Scarlett tak melupakan undangan pribadi malam ini dari sang Kaisar Vulpisgard. Scarlett mengangguk tegas, beranjak dari ranjang. "Bai
Caspian terdiam mematung selama beberapa saat setelah bayangan tubuh tegap Zayn sepenuhnya menghilang di balik pintu keluar Altar Agung. Kalimat tajam sang raja laut dalam yang menuduhnya bertingkah kekanakan terus berputar di kepalanya, bertabrakan dengan nasihat bijak yang baru saja dilontarkan oleh Alden. Perlahan, Caspian memalingkan wajahnya, melirik ke arah pendeta junior di sampingnya. Menatap binar ketulusan di mata Alden, sebuah pencerahan mendadak menyambar benaknya. Dia seolah-olah telah menemukan jawaban yang dia butuhkan untuk memecahkan dilema hidupnya. Tanpa memberikan aba-aba atau peringatan apa pun, Caspian melangkah maju lalu merengkuh tubuh Alden ke dalam sebuah pelukan persaudaraan yang kuat. Alden terkejut setengah mati, tubuhnya menegang kaku karena tidak mengira sang Pendeta Agung akan melakukan tindakan sefrontal ini. Namun, menyadari bahwa pelukan itu adalah simbol dari runtuhnya beban batin sang pemimpin, Alden memilih untuk tidak bertanya lebi
Caspian terhenyak, bibirnya membisu mendengar kalimat bijak yang keluar dari mulut pendeta junior di sampingnya. Kata-kata Alden bagai seberkas cahaya menembus kegelapan labirin pikirannya, memaksanya untuk merenungkan kembali strategi baru yang jauh lebih taktis tanpa harus mengorbankan perasaan ataupun rakyatnya. Alden tidak mendesak Caspian untuk memberikan jawaban cepat, dia juga tidak mencoba untuk meyakinkan atau memengaruhi keputusan sang pemimpin lebih jauh lagi. Dia tahu, seluruh keputusan penentu masa depan tatanan suci ini berada sepenuhnya di dalam genggaman tangan Caspian sendiri. Perlahan seulas senyum lembut yang tulus merekah di bibir Caspian yang pucat, dia menatap Alden dengan binar mata penuh rasa syukur. "Terima kasih banyak, Alden. Kamu... kamu benar-benar telah berhasil membuka mata batinku yang sempat buta oleh kecemburuan." Alden tersenyum tulus, tak menjawab, namun kepalanya mengangguk pelan sebagai jawabannya. Namun, tepat di saat kelegaan ter
Keheningan malam yang sunyi membungkus Altar Gereja Suci dengan atmosfer yang sakral. Cahaya temaram dari puluhan lilin putih raksasa yang menyala di sepanjang altar memantulkan bayangan pilar-pilar batu yang tinggi melengkung. Di atas lantai marmer yang dingin, tepat di bawah patung simbol ketuhanan yang agung, Caspian tampak sedang bersujud di atas kedua lututnya. Pemuda itu menundukkan kepala, merajut jemarinya di depan dada dalam posisi berdoa yang kaku, mencoba mencari jawaban atas dilema terbesar yang sedang meretakkan batinnya. Caspian mengembuskan napas pendek yang terasa sesak di dadanya. Sepasang mata abu-peraknya menatap sayu ke arah lilin yang bergoyang ditiup angin malam. "Tuhan... Tolong berikan hamba-Mu ini petunjuk yang jernih. Apa yang sebenarnya harus kulakukan saat ini?" gumamnya dengan nada lirih dan parau. "Bagaimana caranya agar aku tetap bisa mengikat kontrak pengaktifan totem dengan Scarlett sebagai suaminya... namun di saat yang sama, rumah suci in
"Kalau begitu, minumlah tehnya sampai habis, Tuan... Dan setelah itu, biarkan aku membantu merilekskanmu." Mendengar bisikan sensual tepat di telinganya, Scarlett perlahan membuka kelopak mata ungunya. Sentuhan jari-jari putih pucat Zayn di bahunya, berpadu dengan kehangatan tubuh pria duyung itu yang menempel di punggungnya, perlahan-lahan mengikis tumpukan kepenatan yang menggelayuti benaknya sejak pagi. "Kau selalu tahu cara memanfaatkan situasi, Zayn," ucap Scarlett dengan nada suara yang rendah dan rileks. Zayn terkekeh rendah, sama sekali tidak tersinggung ucapan Scarlett. "Benarkah aku seperti itu... di matamu?" "Ya." Scarlett mendongak, menatap Zayn dari bawah. "Bisa dibilang, kau pandai mengambil kesempatan dalam kesempitan." Zayn menunduk, dan terkekeh kembali, kali ini sedikit lebih keras. Matanya berkedip sebelah–gestur menggoda genit. "Ku anggap itu pujian, Nona Besar." Tawa Scarlett pecah, Zayn pun ikut tertawa bersamanya. "Lalu dengan cara apa k







