LOGIN"Aku ingin bertemu dengan pendeta Caspian sekarang." Scarlett memberi perintah tanpa menoleh pada pelayan itu.
"Baik, Nona." Pelayan itu bergegas memakaikan gaun yang diinginkan Scarlett, merias wajah Scarlett dengan make up tipis, namun tetap menunjukkan tatapan mata ungunya yang memancarkan ketegasan tak terbantahkan. Scarlett keluar dari kamarnya dengan langkah anggun, hanya dirinya sendiri tanpa pelayannya. Karena tak ingin siapapun mengikutinya. Di perjalanan menuju Kediaman Penguasa Kota, Scarlett nampak ragu untuk menjalankan misinya. Bagaimanapun yang akan dia goda adalah seorang pendeta, apa tidak akan ada karma nantinya? "Pixie, apa tak masalah, menculik pria tak bersalah dan seorang pendeta, bukankah itu kurang pantas?" Nada suara Scarlett menujukkan keraguan dan sedikit kekhawatiran. "Misi baru dirilis, goda Pendeta Caspian dan buat dia jatuh dalam dosa. Jika misi gagal inang akan dimusnahkan loh," ucap Pixie tepat di depan telinga Scarlett. Tubuh Scarlett menegang, mata ungunya melebar dalam tundukkan. Inang mati? Kalau inang mati, jiwanya akan kemana? Akan masuk ke dalam cerita novel mana lagi? Terus bagaimana dirinya bisa pulang? Masuk ke dalam novel para binatang ini saja sudah menyebalkan! Setelah Scarlett menimang kembali kemungkinan yang akan terjadi jika dirinya gagal dalam misi, dia hanya menghela nafas panjang. Keputusan sudah diambil, dirinya akan terus maju menyelesaikan semua misi. 'Baiklah, ayo culik pria polos itu!' batin Scarlett. Saat sudah sampai di ruang tahanan kediaman Penguasa Kota, dirinya mendorong pintu ruang tahanan itu. Ruangan itu bukan seperti ruang tahanan biasa. Di sana tak ada jeruji besi sebagai dinding dan pintunya, yang ada hanya dinding berbatu obsidian dengan pintu batu besar dengan ukiran simbol kuno. Sepanjang sudut ruangan itu ada beberapa tangkai bunga mawar sebagai hiasannya, namun juga mengaburkan bau pengap dan lembab khas ruang tahanan. Pencahayaannya pun hanya dari beberapa obor yang ada di dalam ruangan itu. Di tengah ruangan, seorang pria berambut putih dengan tanduk rusa di atas kepalanya, sedang mencoba bunuh diri dengan pedang. Wajahnya yang putih memerah dan ada beberapa butiran keringat di dahinya, dan tangannya yang sedikit gemetar menandakan pemilik sedang berusaha mengangkat senjata itu dengan benar. Pria itu adalah Caspian, salah satu suami binatangnya yang harus di taklukan. Caspian menoleh ke arah pintu saat mendengar pintu batu itu terbuka. Dirinya terkejut saat Scarlett tiba-tiba berjalan cepat ke arahnya dan menerjang tubuhnya. Pukulan telak dari tubuh Scarlett membuat Caspian kehilangan keseimbangan. Pedang di tangannya terlepas, berdenting keras di atas lantai saat keduanya jatuh berdebam. Scarlett dengan sigap mengunci pergerakan Caspian, duduk tepat di atas perut sang pendeta, menahan kedua pergelangan tangannya ke lantai. "N-Nona Scarlett?! Apa yang Anda lakukan?!" Caspian terengah, wajahnya yang semula memerah karena letih kini kian memanas akibat kedekatan mereka. Tanduk rusanya yang indah berkilau samar di bawah cahaya obor yang temaram. "JANGAN SENTUH AKU!" Caspian berteriak panik, saat iris abunya bertatapan dengan mata ungu milik Scarlett. "Ingin bertemu denganku, tak perlu dengan cara bunuh diri, pendeta Caspian yang suci." Suara Scarlett terdengar sensual diakhir kata. Dan justru itu menambah kepanikan dalam diri Caspian. Caspian berusaha mendorong Scarlett menjauh, namun bukannya menjauh, Scarlett malah makin mendekatkan wajahnya dan tangannya mulai bergerilya kesana kemari di dada Caspian. Tiba-tiba Pixie terbang di antara Scarlett dan Caspian. Scarlett tak menoleh ke arah Pixie, matanya fokus pada Caspian. Namun telinganya sudah siap mendengar pemberitahuan dari mulut mungil dan cerewet milik Pixie. "Toko sistem dibuka, bisa ditukar dengan poin penderitaan. Ramuan ajaib dari toko sudah direkomendasikan untukmu. Satu tetes saja sudah cukup membuat siapapun terangsang hebat." Scarlett menyeringai sinis mendengar itu. Tak perlu pakai obat atau ramuan perangsang apapun, Scarlett juga seorang wanita dewasa di dunia modern, juga bukan gadis yang polos. Dirinya juga pernah melakukan akting percintaan yang sensual, jadi bukan masalah tanpa obat perangsang. "Tak perlu, hanya dengan trikku saja sudah cukup membuatnya terangsang," gumam Scarlett dengan wajah tenang. Caspian melihat Scarlett bergumam, tak tahan untuk bertanya karena penasaran. "A-Apa yang Nona Besar ucapkan?"“Bagaimana jika kau kehilangan takhta?” “Kalau begitu, aku akan menghadapi akibatnya!” “Bagaimana jika kau menyesal?” “Aku bilang aku tidak akan menyesal!” “ELIAN—” Scarlett belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Elian tiba-tiba menunduk dan mencium bibirnya. Gerakannya begitu mendadak hingga Scarlett tidak sempat bereaksi. Kedua matanya membelalak. Tangannya yang semula berada di sisi tubuh terangkat sedikit, tetapi dia tidak mendorong Elian menjauh. Elian menciumnya dengan tergesa, seolah-olah sedang berusaha menghentikan setiap kata tentang perpisahan yang mungkin keluar dari bibir wanita itu. Genggamannya pada tangan Scarlett mengendur, sementara tangannya yang lain bergerak menahan sisi wajahnya. Namun, ciuman itu tidak membuat semua masalah mereka menghilang. Scarlett tidak membalasnya. Dia hanya berdiri diam, membiarkan Elian menempelkan bibirnya pada bibirnya, sementara dadanya terasa begitu sesak hingga sulit bernapas. Dia mencintai pria itu. It
Elian masih terdiam. Pengakuan Kaisar mengenai keberadaan putra lainnya telah mengguncang pikirannya. Namun, yang paling membuatnya sulit bernapas adalah pilihan yang kini diletakkan di hadapannya. Kedudukan sebagai Putra Mahkota atau Scarlett. Dia belum mampu memberikan jawaban. Bukan karena perasaannya terhadap Scarlett berubah, melainkan karena dia membutuhkan waktu untuk memahami apa yang sebenarnya sedang direncanakan ayahnya. Elian mengembuskan napas perlahan, lalu mengangkat wajahnya. “Untuk saat ini, aku belum bisa memberikan jawaban, Ayah.” Kaisar mengangkat sebelah alisnya. “Jadi, kau membutuhkan waktu untuk berpikir?” “Aku akan menemui Ayah lagi setelah mengantar Scarlett pulang.” Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, Elian menggenggam tangan Scarlett dan mengarahkannya menuju pintu. Scarlett sempat menoleh ke belakang. Dia menundukkan kepala dengan hormat kepada Kaisar, berusaha mempertahankan sikap tenangnya meskipun pikirannya masih dipenuhi kekhawatir
“Aku akan tetap melaksanakan pernikahan pengikat kontrak totem itu,” lanjut Elian. “Dengan atau tanpa restu Ayah.” “Pikirkan baik-baik apa yang baru saja kau katakan.” “Aku sudah memikirkannya.” “Kalau begitu, kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu!” “Mungkin menurut Ayah aku bodoh karena memilih Scarlett. Namun, aku lebih memilih menjadi pria bodoh yang hidup bersama wanita yang kucintai daripada menghabiskan seluruh hidupku menyesali keputusan yang tidak pernah berani kuambil.” Wajah Kaisar semakin gelap. Untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang berbicara. Scarlett menatap Elian dengan dada sesak. Dia tidak pernah meragukan perasaan pria itu, tetapi melihatnya secara langsung seperti ini membuatnya menyadari betapa besar hal yang bersedia Elian pertaruhkan demi dirinya. Kedudukan.
Elian tidak menunggu jawaban ayahnya. Begitu melihat Scarlett berdiri di dekat meja kerja Kaisar, dia langsung melangkah tergesa ke arah wanita itu. Napasnya masih memburu setelah berlari menyusuri koridor istana, tetapi dia sama sekali tidak memedulikannya. Tatapannya menyapu wajah Scarlett, turun ke kedua tangannya, lalu kembali menelusuri sosok wanita itu, seolah-olah sedang memastikan tidak ada luka yang tersembunyi. “Scarlett, apa kau baik-baik saja?” tanyanya cepat. “Apa dia melakukan sesuatu kepadamu? Apa yang dikatakannya? Apa dia mengancammu?” Scarlett masih terkejut dengan kedatangan Elian yang begitu tiba-tiba. Dia bahkan belum sempat menjawab ketika pria itu sudah menggenggam tangannya, menatapnya dengan sepasang mata merah yang dipenuhi kecemasan. “Elian ….” Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibirnya. Elian terdiam sesaat. Mendengar namanya di
"Apakah Scarlett datang untuk menemui Kaisar?" Pelayan itu tersentak. Meski hanya berlangsung sesaat, reaksi tersebut sudah cukup untuk memberikan jawaban kepada Elian. Wanita itu menelan ludah, kemudian mengangguk kecil. "Y-ya, Yang Mulia." Dunia seolah berhenti berputar. Elian membeku. Matanya membelalak, dan untuk beberapa saat, dia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas dengan normal. Scarlett datang untuk menemui ayahnya? Malam ini? Secara pribadi? Tanpa memberitahunya sedikit pun? "Sejak kapan?" tanyanya cepat. "Sejak beberapa waktu lalu, Yang Mulia. Saya hanya ditugaskan untuk mengantar Nona Scarlett sampai ke gerbang istana. Setelah itu, seorang pengawal pribadi Kaisar membawanya masuk." Elian mengepalkan tangan. "Pengawal pribadi Kaisar?"
Malam semakin larut ketika Elian akhirnya menyelesaikan sesi latihan bersama para prajuritnya. Keringat membasahi pelipis dan lehernya. Seragam militernya sedikit kusut setelah berulang kali memperagakan gerakan pedang, sementara rambut merah kecokelatannya tampak berantakan akibat angin malam. "Latihan hari ini selesai! Kalian boleh beristirahat. Besok pagi, aku ingin melihat peningkatan yang lebih baik dari kalian!" Kemudian menyerahkan pedangnya kepada salah seorang pengawal sebelum melangkah meninggalkan lapangan latihan. Sebenarnya, dia ingin segera kembali ke kediaman Penguasa Kota. Namun, setelah mengingat kembali percakapannya dengan Scarlett sore tadi, langkahnya justru mengarah ke kamar pribadinya di istana. 'Besok pagi aku harus menemuinya,' batinnya. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Wanita itu memang selalu memiliki alasan untuk menolak permintaannya. Akan tetapi, Elian tidak pernah benar-benar bisa marah kepadanya. Bagaimanapun, Scarlett adalah Scarl







