LOGIN"Tuan pendeta, dimana letak kesucianmu itu?" ucap Scarlett sambil melempar guci bekas alkohol ke lantai.
Caspian menatap Scarlett dengan tatapan sayu, tak ada lagi kemarahan, tak ada lagi kebencian, yang ada hanya sesuatu yang tak pernah dia rasakan sebelumnya dan dirinya tak tahu pasti apa itu, dan apa yang terjadi pada dirinya. "A-Aku... Aku tidak... Aku tidak melakukannya." Capian berusaha meyakinkan dirinya, bahwa dirinya belum melanggar sumpah sucinya sebagai pendeta. Ini adalah ulah Scarlett, Scarlett yang melakukannya, jadi Tuhan tak boleh marah padanya karena dirinya tak melakukan apapun. Dirinya belum melanggar sumpah suci pendeta sedikit pun. Scarlett menyeringai sinis melihat kesimpulan Caspian. Dirinya menarik kerah kemeja Caspian, mendekat padanya. Membisikkan kata sensual di telinga Caspian. "Karena sumpah suci telah dilanggar, mengapa tidak tenggelam sepenuhnya?" Caspian ingin menjawab ucapan Scarlett, namun kalah cepat dari tindakan gila Scarlett. Mata abunya melebar terkejut, karena dengan tiba-tiba Scarlett mencium bibirnya. Wangi parfum beraromakan mawar dan nafas Scarlett yang berbau mint menyeruak di indera penciuman Caspian. Tubuhnya menegang, otaknya kosong, tak tahu harus bereaksi bagaimana. Scarlett tak memperdulikan kebinggungan Caspian, dirinya mulai menggerakan bibirnya, tangannya mulai bergerak menyusuri tubuh Caspian, dari rahang turun ke leher, lalu bergerak ke dada bidang Caspian yang masih terbalut pakaian pendeta dan jubahnya. Ciuman itu tak berlangsung lama, Scarlett menarik diri, dan mengusap sensual bibir Caspian yang basah akan saliva miliknya. Caspian menelan ludah kasar, telinganya memerah akibat salah tingkah. "Hentikan... saya mohon..." Caspian memalingkan wajahnya, memejamkan mata erat-erat. Air mata frustrasi mulai menggenang di sudut matanya. Sentuhan Scarlett terasa seperti api yang membakar kulitnya, sementara kata-kata wanita itu meremukkan harga diri dan keyakinan yang selama ini dia agungkan. Dia merasa kotor, ternoda, dan berdosa di hadapan altarnya sendiri. TING! "Poin Penderitaan meningkat pesat! Caspian mengalami guncangan batin dan krisis iman! +1.000 Poin!" Pixie berseru dengan semangat. "Inang, kau memang luar biasa!" Melihat grafik merah di layar transparan Pixie melonjak tajam, Scarlett tersenyum puas di dalam hati. Aktingnya sebagai antagonis tak berhati terbukti sangat sukses memanen penderitaan sang budha malam itu dan berhasil membelokan alur cerita dirinya dan Caspian. Scarlett kembali melakukan pelecehan pada Caspian. Caspian tak memiliki tenaga lagi, fokusnya mulai terkikis efek alkohol yang Scarlett berikan. Jadi, dirinya membiarkan Scarlett melakukan apapun sesuka hatinya, dirinya hanya mampu meneteskan air mata keputusasaan. Tanpa mereka sadari, dari celah pintu gereja sepasang mata sedang mengintip menyaksikan setiap detail dari adegan penuh dosa di atas altar tersebut. Pemilik mata itu tidak lain adalah Rosalie. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat, napasnya memburu menahan amarah yang meledak-ledak di dalam dada. "Scarlett, seleksi pemilihan 'Gadis Murni dari Surga' sudah dekat. Berani-beraninya wanita jalang itu menodai Pendeta Caspian di Altar Gejere Suci," desis Rosalie dengan suara yang sangat lirih, hampir tenggelam oleh kesunyian malam. 'Jika hal ini tersebar luas, posisi Gadis Murni dari Surga pasti akan menjadi milikku,' batin Rosalie tersenyum licik. Rosalie berjalan menjauh dari sana, dan telah menyusun rencana matang untuk membawa Pendeta Agung ke Altar malam ini. Tujuannya adalah untuk membongkar aib dan menggagalkan kandidat Scarlett sebagai "Gadis Murni Dari Surga". Rosalie bergegas menemui Pendeta Agung, tujuannya jelas namun tetap dia bungkus dengan cara yang paling bersih dan murni. Rosalie memberikan sekantong koin emas kepada sang Pendeta Agung, dan tersenyum manis, menampilkan sifat lugu dan polos yang biasa dia perankan. "Pendeta Agung, akhir-akhir ini banyak warga yang menderita penyakit. Jadi belilah beberapa persembahan dan kirimkan ke Altar Suci malam ini untuk mendoakan kesembuhan mereka." Suara manis Rosalie begitu merdu di telinga siapapun yang mendengarnya. "Sisa uangnya, anggap saja sebagi upah kerja keras kalian." Binar mata sang Pendeta Agung menunjukkan kegembiraan. Bagaimana tidak? Pendeta Agung ini memang gila harta, disegala kondisi apapun dia akan melakukan korupsi, menimbun semua kekayaan untuk dirinya sendiri. "Nona Kedua memang benar-benar baik hati, kami akan segera melakukannya. Kami akan berdoa dengan tulus dan tak akan mengecewakan niat baik Nona Kedua." Pendeta Agung berucap sambil menunduk hormat kepada Rosalie. "Terimakasih atas bantuan Anda, Pendeta Agung." Lantas sang Pendeta Agung bergegas pergi melaksanakan apa yang Rosalie perintahkan. Rosalie tersenyum licik melihat kepergian Pendeta Agung itu. "Scarlett bersiaplah untuk hancur!"Suasana di dalam aula Grand Forum of Trials semakin menegangkan seiring berjalannya waktu. Fokus ribuan pasang mata kini terbagi di antara layar-layar magis yang melayang di udara. Sang MC, yang sejak awal memandu jalannya final dengan cermat, melangkah ke tepi panggung utama. Pandangannya bergantian menatap layar emas milik Rosalie dan layar ungu milik Scarlett. "Nona Muda Kedua dari keluarga Grand Duke sepertinya sudah mulai menemukan celah ilusi!" seru MC dengan suara membahana, memberikan analisis terbarunya. "Melihat fluktuasi energinya, dia mungkin akan segera keluar dan memenangkan seleksi ini!" Jika dilihat langsung dari arah gerbang dimensi emas, gejolak energi yang terpancar dari tubuh Rosalie memang sudah mulai stabil. Isak tangis dan ketakutannya akan kemiskinan perlahan mereda karena log
Scarlett masih berusaha mencerna seluruh ucapan Valerian yang terasa begitu nyata namun membingungkan. Di tengah lamunannya, suara berat dan serak milik Killain mendadak terdengar dari arah belakang kursinya. "Kalau begitu, aku yang bertanggung jawab untuk membereskan dan mempersiapkan kamar," ucap Killian, nadanya datar namun sarat akan pengabdian. "Agar Tuan bisa merayakan hari ulang tahun ini dengan tenang tanpa ada gangguan." Kalimat itu benar-benar mencerminkan ciri khas sang bodyguard. Dia selalu siap siaga, penuh pengertian, dan fokus pada kenyamanan mutlak Scarlett. Tidak mau kalah, Zayn menimpali dari posisinya. Duyung berambut biru itu sengaja memasang nada suara yang dibuat-buat mengalah, terdengar sedikit menyedihkan namun sangat manja di telinga Scarlett. "Selama Tuan merasa senang... bagiku, melakukan apa pun sama sekali tidak menjadi masalah."
Di dalam ruang makan yang hangat dan dipenuhi aroma manis, ibu Scarlett melangkah mendekat dengan langkah kaki yang begitu lembut. Wajahnya memancarkan kasih sayang yang murni, tipe kehangatan keluarga yang sudah sangat lama tidak pernah Scarlett rasakan sejak terjebak dalam permainan penaklukan ini. Wanita paruh baya itu menurunkan tubuhnya sedikit, menyerahkan sebuah kue ulang tahun dengan hiasan buah stroberi segar yang cantik tepat ke hadapan Scarlett. "Scarlett, selamat ulang tahun. Mulai sekarang, ayah dan ibu akan selalu menemanimu di masa depan," ucap sang ibu dengan suara keibuan yang teramat lembut. Scarlett tercengang di kursinya. Tubuhnya kaku, dan sepasang mata ungunya mendadak berkaca-kaca menatap pendaran lilin di atas kue stroberi tersebut. Dadanya terasa begitu sesak, dihantam oleh gelombang emosi yang luar biasa besar. Dia tahu betul ini adalah ujian final dari gerbang dimensi ilusi, namun menyembunyikan kebenaran ini dari hatinya sendiri adalah hal y
Setelah tatapan penuh kebencian dari Rosalie membakar udara, tidak ada lagi waktu yang tersisa untuk saling melempar dendam. Detik berikutnya, sang MC melangkah ke tengah panggung utama dengan wibawa seorang penyihir agung. Kedua telapak tangannya diangkat tinggi-tinggi ke udara, memancarkan pendaran cahaya magis yang sangat menyilaukan mata. "Final seleksi dimulai!" teriak sang MC dengan suara menggelegar. Bersamaan dengan seruan itu, gelombang energi hisap yang luar biasa kuat memancar dari ketiga gerbang dimensi di tengah arena. Tanpa bisa menghindar, tubuh Scarlett, Rosalie, dan kandidat ketiga—Aveline—seketika ditarik paksa masuk ke dalam pusaran pendaran cahaya. Jiwa mereka diseret tanpa ampun, dilemparkan ke dalam labirin ilusi yang akan menguliti ketakutan terdalam di lubuk hati masing-masing. Sedangkan tubuhnya dikurung dalam gerbang dimenasi. Di atas tribun penonton, tiga buah layar magis raksasa berukuran masif mendadak mengambang di udara, berpendar terang untuk
"Terlebih... jangan membuatku menunggu terlalu lama," bisik Elian, suaranya bergetar dengan nada menuntut yang nakal. "Aku juga sangat ingin merasakan... apa yang sudah dirasakan oleh Valerian malam itu." DEG! Kalimat itu bagai sengatan listrik yang langsung membuat tubuh Scarlett menegang sesaat. Matanya membelalak kecil. Bagaimana bisa rubah licik ini mengetahui apa yang terjadi di dalam kamar pribadi Valerian dua malam lalu?! "Kamu... tau?" Elian hanya menyeringai tipis, matanya berkedip genit satu kali ke arah Scarlett. Lalu dia menegakkan punggungnya lagi, wajahnya dibuat setenang mungkin, padahal satu detik sebelumnya baru saja mengucapkan satu rahasia Scarlett. Banyak sekali pertanyaan yang mendadak berputar di dalam kepala Scarlett setelah mendengar bisikan nakal dari Elian. Dia ingin sekali menuntut penjelasan dari mana rubah licik itu bisa mengendus rahasia malam intimnya dengan Valerian. Namun, sebelum kata pertama sempat keluar dari bibirnya, sebuah be
TAK! TAK! TAK! Di tengah riuhnya gemuruh penonton dan kepulan energi sihir dari gerbang ilusi, Scarlett mendengarkan sesuatu yang berbeda. Indera pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah kaki ritmis di lantai batu tepat di belakangnya. Ada sekitar lima pasang kaki yang berjalan mendekat dengan langkah mantap dan penuh wibawa. Tanpa perlu membalikkan badannya, Scarlett sudah tahu persis siapa mereka. Mereka adalah kelima suami binatang miliknya, para pria kuat yang garis takdirnya kini telah saling bertautan dengan jiwanya. Kelimanya langsung berjalan mengelilingi Scarlett, membentuk barisan pelindung yang membuat para penonton di tribun berbisik heboh. Kini posisi Scarlett berdiri di kelilingi pagar betis tinggi dan tegap, membuat hampir semua orang iri saat melihatnya. Orang pertama yang maju mengambil inisiatif untuk berinteraksi adalah Valerian. Sang panglima perang itu mengulurkan tangannya yang besar, lalu menggenggam erat jemari lentik Scarlett. "Apa







