مشاركة

7. Pendeta Agung

مؤلف: Hydragea
last update تاريخ النشر: 2026-06-06 02:04:49

Rosalie mengira skandal ini akan menjadi akhir dari hidup Scarlett, tanpa menyadari bahwa provokasi gila yang akan dilakukan Scarlett, akan memicu sesuatu yang mengerikan.

Di atas altar, Scarlett masih mencumbu Caspian dengan intens. Menikmati setiap detik keputusasaan dan frustasi Caspian. Hingga dia tak mendegar suara engsel pintu altar gereja berbunyi.

Sang Pendeta Agung berjalan tenang, hingga ia melihat di meja persembahan terdapat dua orang yang sedang dalam posisi memalukan.

Mata Pendeta Agung melebar sempurna saat melihat siapa yang berada disana.

"CASPIAN!" Suara Pendeta Agung menggelegar diantara pilar gereja yang tinggi.

Caspian tersentak mendengar namanya di teriakan dengar kasar. Mata abunya menangkap sosok pria berjubah hitam bergaya cappa magna dengan topi kamilavka senada.

'Pendeta Agung?' batin Caspian panik.

"Dasar pendosa, beraninya kau menodai Tuhan di Altar Suci!"

PRANG!

Pendeta Agung menjatuhkan nampan emas berisi persembahan. Lalu dirinya menarik pedang berukuran sedang dari balik jubahnya, menodongkannya ke arah Caspian dan Scarlett.

Scarlett perlahan menjauhkan tubuhnya dari Caspian yang sudah terkulai lemas dengan tatapan kosong menatap langit-langit gereja. Air mata sang pendeta telah mengering, menyisakan jejak kemerahan di pipinya yang pucat.

Scarlett menoleh dengan gerakan pelan, tak ada kepanikan sedikitpun dari raut wajahnya. Ekspresinya masih tenang dan terkendali.

Saat melihat siapa wanita yang sedang bersama Caspian, Pendeta Agung terkejut bukan main, hingga menjatuhkan pedangnya. Kepanikannya terlihat jelas di mata Pendeta Agung.

"N-Nona ... Be-Besar?"

Scarlett tak menjawab, dirinya menoleh kembali ke arah Caspian yang masih terdiam. Entah diamnya kini menandakan apa, namun ada sedikit kepanikan di antara tatapan keputusasaan. Lantas berdiri dengan gerakan anggun.

"Kerja bagus untuk malam ini, Tuan Pendeta," bisik Scarlett sinis seraya merapikan gaunnya yang sedikit berantakan.

Scarlett menoleh kembali ke arah Pendeta Agung, menatap dingin kearahnya.

"Berani sekali kau. Berani menghunus pedang di hadapanku. Dan berani mencoba membunuh milikku?" Scarlett bertanya dengan suara dingin.

"Penjaga!"

Tak lama Scarlett berteriak memanggil penjaga kediamannya, dua pengawal masuk dengan langkah tergesa. Dua penjaga ini adalah penjaga yang mengantar dirinya dan Caspian dari kediaman Penguasa Kota sampai ke sini.

Tak perlu diberitahu apa yang terjadi, melihat sebuah pedang yang tergeletak di depan sang pendeta. Tanpa kata, dua penjaga itu langsung meringkus Pendeta Agung. Kedua tangan sang pendeta dipegangi, memaksanya berlutut dan mereka menekan kepala sang Pendeta Agung ke lantai.

"Ampuni nyawaku, Nona Besar. Mohon berbelas kasihlah! Tolong lepaskan aku!" Teriakan Pendeta Agung menggema.

Scarlett tak menjawab ucapan Pendeta Agung itu, dia hanya melangkah dengan gerakan anggun ke arahnya sambil memainkan helaian rambut yang jatuh di depan dadanya.

'Jika ingatan pemilik tubuh asli ini benar, pendeta Caspian yang malang ini menjadi korban dari anggota Gereja Suci yang sangat korup. Dia disingkirkan dan disiksa hingga hampir mati,' batin Scarlett terucap. Dirinya mengingat kembali alur yang pernah dia baca di buku novel dan tarikan ingatan dari pemilik tubuh asli ini.

Sebetulnya, Scarlett merasa iba pada nasib Caspian, namun dirinya tak ingin merusak citra antagonis yang sedang dia perankan.

Scarlett berhenti melangkah tak jauh dari tempat Caspian duduk terdiam dengan napas memburu, dan tak jauh dari tempat Pendeta Agung bersujud meminta ampun.

Lantas dirinya menoleh ke arah Caspian dan dirinya membatinkan rencana kejam di dalam hatinya.

'Bagaimana jika aku membuat pendeta suci ini menghancurkan keyakinannya, dan berbalik melawan anggota Gereja Suci, aku pasti akan mendapat banyak poin kejahatan.'

Mata Scarlett menunjukan binar takjub, sangat terpukau dengan rencana yang dia susun. Tanpa pikir panjang lagi, Scarlett berbalik, melangkah dengan tergesa ke arah Caspian.

Caspian yang melihat Scarlett berbalik kembali, mengerenyitkan dahinya halus, dan ada sedikit kepanikan yang sebelumnya sudah sirna, kini muncul kembali.

"A-Apa lagi yang mau kamu lakukan?" ucap Caspian sambil menahan jubahnya agar tak kembali meluncur kebawah. Namun tetap saja dada bidangnya yang penuh dengan luka dan lebam terlihat, karena semua kancing kemeja panjang dibalik jubah itu sudah Scarlett hancurkan.

"Dimatamu apa pejantan hanya mainan yang bisa disiksa sesukamu?"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Sang Villainess Yang Disayang   156. Apa Ini Zayn?

    Pintu ruang kerja Penguasa Kota yang baru telah ditutup rapat. Scarlett duduk bersandar di balik meja mahakarya kayu ek yang kokoh, menopang dagunya dengan satu tangan. Manik mata ungunya yang jernih menatap kosong ke arah deretan dokumen pemerintahan yang menumpuk di hadapannya. Pikirannya benar-benar sedang bercabang hebat, berputar-putar di antara dua masalah besar yang mendadak melanda hatinya. Scarlett mengembuskan napas panjang, memijit pelan pelipisnya yang berdenyut halus. "Caspian... ku mohon jangan gegabah. Dan Killain... ku harap kau bisa membantu Valerian di lembah tengkorak." Scarlett memejamkan matanya rapat-rapat. Dua masalah ini benar-benar sukses membuat kepalanya hampir pecah karena khawatir. TOK! TOK! TOK! Suara ketukan pintu yang mendadak memutus lamunan panjang Scarlett. Daun pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok pelayan pribadinya yang melangkah masuk dengan kepala tertunduk, membawa sepucuk surat yang entah siapa pengirimnya. "Maaf, Nona Besa

  • Sang Villainess Yang Disayang   155. Jenderal Yang Baru

    Suasana ruang kerja yang megah namun sunyi. Lilin-lilin besar menerangi meja kayu jati yang dipenuhi tumpukan dokumen dan peta wilayah. Pintu ruang ganda terbuka. Scarlett melangkah masuk dengan gaun berwarna ungu lilac–ciri khasnya, yang sedikit berdebu, kelelahan setelah melewati hari panjang dengan berdebat bersama Caspian. "Sialan. Caspian benar-benar sudah gila." batinnya menggerutu sepanjang perjalanan. Killain berjalan satu langkah di belakangnya, tangan kanannya secara refleks selalu berada di dekat gagang pedangnya. Scarlett menghela napas panjang. Ia berjalan menuju kursi kebesarannya di balik meja kerja, lalu mendudukkan diri. Baru saja punggung Scarlett menyentuh sandaran kursi, mencoba mencari ketenangan— BRAKK!!! Pintu ruang kerja dibuka paksa dari luar hingga membentur dinding dengan keras. Killain langsung melesat ke depan Scarlett, menghunuskan separuh pedangnya dari sarung dengan bunyi desingan logam yang tajam. Prajurit Garth, utusan setia Valeria

  • Sang Villainess Yang Disayang   154. Derita di Balik Tembok Suci

    Mendengar tuduhan polos yang mengarah pada Scarlett, detak jantung Caspian seolah berhenti.Rasa ketakutan yang teramat besar langsung menyerang dadanya—bukan takut akan takdir hukum gereja, melainkan ketakutan jika nama baik Scarlett kembali dicap jelek, kejam, dan jahat oleh seluruh lapisan masyarakat setelah semua usaha pembersihan nama yang mereka lakukan.Caspian mempererat genggaman tangannya pada jemari sang anak, menggelengkan kepalanya dengan terburu-buru dan panik."Tidak, Sayang! Tolong jangan pernah berpikiran seperti itu! Nona Penguasa Kota Scarlett sama sekali bukan orang yang jahat!"Caspian menoleh menatap Scarlett dari samping sesaat, sebelum kembali memusatkan pandangannya pada anak kecil di depannya."Penguasa Kota... dia adalah wanita yang sangat mulia, bahkan jauh lebih suci dari siapa pun di kekaisaran ini!"Anak kecil itu mengerjapkan matanya yang masih basah oleh air mata, menatap bingung."Benarkah, Pendeta Agung? Tapi kata para pendeta senior yang lain, Nona

  • Sang Villainess Yang Disayang   153. Pertanyaan Yang Memaku Jiwa

    PLAK! Suara hantaman telapak tangan Scarlett yang mendarat keras di pipi Caspian menggema nyaring di bawah selasar paviliun yang sunyi . Tamparan itu begitu tiba-tiba, memaksa kepala sang Pendeta Agung menoleh ke samping. Caspian seketika membatu. Gejolak emosi batin dan tekad gilanya yang berapi-api runtuh dalam sekejap, digantikan oleh sorot mata yang kembali berubah menjadi lugu dan polos. Dia menatap nanar ke arah Scarlett, meraba pipinya yang terasa panas dengan ujung jemarinya yang gemetar, benar-benar syok karena baru saja ditampar oleh wanita yang dia agungkan sebagai Tuhannya. "Buka matamu dan sadarlah, Caspian bodoh!" bentak Scarlett dengan napas memburu dan dada naik turun menahan amarah yang membuncah. Scarlett mencengkeram bahu Caspian, mengguncangnya kasar sembari meluapkan seluruh kekesalan dan usaha keras yang telah dia lakukan demi pria itu. "Kamu pikir posisi Pendeta Agung yang kamu duduki sekarang adalah barang murah yang bisa kamu buang begitu saja karena e

  • Sang Villainess Yang Disayang   152. Penangguhan Pelepasan

    Beberapa saat yang lalu... Suasana di bawah selasar batu putih terasa amat dingin dan kaku. Empat pendeta senior berpakaian jubah bersulam benang emas berdiri mengelilingi Caspian yang tampak tegak, tak bergeming dengan keputusan gila yang dibawanya dari Taman Gethsemane. Pendeta Senior 1, memasang wajah prihatin yang dibuat-buat, memegang sebuah perkamen besar berisi sumpah pelepasan. "Pendeta Agung Caspian, kami akan menanyakan ini untuk terakhir kalinya sebelum segalanya terlambat. Pikirkanlah matang-matang. Melepas jabatan Pendeta Agung bukan hal sepele." Pendeta Senior 2, menimpali dengan nada berat, pura-pura panik. "Benar, Caspian! Kamu adalah pilar kejujuran di Gereja Suci ini! Jika kamu pergi, bagaimana kami harus menjelaskan pada seluruh rakyat kekaisaran?!" Namun, di balik topeng keprihatinan itu, hati para pendeta senior bersorak senang bukan main. Mereka diam-diam tersenyum licik

  • Sang Villainess Yang Disayang   151. Mencari Caspian

    Kelopak bunga lili putih mistis bergoyang lambat ditiup angin, saksi bisu dari keputusan paling radikal yang pernah terucap di bawah pohon zaitun kuno. Setelah mendeklarasikan niatnya untuk menanggalkan jubah suci, atmosfer di sekeliling Caspian membeku dengan wibawa yang absolut. Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, pria bertubuh tinggi tegap itu membalikkan badannya secara tegas. Jubah putihnya berkibar menyapu kelopak bunga lili saat dia melangkah lebar meninggalkan Scarlett. Tekadnya sudah bulat seutuhnya. Tujuannya kali ini sangat jelas: menemui jajaran pendeta senior untuk melakukan ritual pelepasan sumpah suci dan menanggalkan jabatan Pendeta Agung demi menjadi pelayan pribadi Scarlett agar bisa melangsungkan pernikahan pengikat kontrak totem binatang. Scarlett berdiri mematung, tubuhnya membeku seketika di tengah taman yang sunyi. Pikirannya melayang jauh, dilingkupi oleh kecemas

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status