FAZER LOGINRosalie mengira skandal ini akan menjadi akhir dari hidup Scarlett, tanpa menyadari bahwa provokasi gila yang akan dilakukan Scarlett, akan memicu sesuatu yang mengerikan.
Di atas altar, Scarlett masih mencumbu Caspian dengan intens. Menikmati setiap detik keputusasaan dan frustasi Caspian. Hingga dia tak mendegar suara engsel pintu altar gereja berbunyi. Sang Pendeta Agung berjalan tenang, hingga ia melihat di meja persembahan terdapat dua orang yang sedang dalam posisi memalukan. Mata Pendeta Agung melebar sempurna saat melihat siapa yang berada disana. "CASPIAN!" Suara Pendeta Agung menggelegar diantara pilar gereja yang tinggi. Caspian tersentak mendengar namanya di teriakan dengar kasar. Mata abunya menangkap sosok pria berjubah hitam bergaya cappa magna dengan topi kamilavka senada. 'Pendeta Agung?' batin Caspian panik. "Dasar pendosa, beraninya kau menodai Tuhan di Altar Suci!" PRANG! Pendeta Agung menjatuhkan nampan emas berisi persembahan. Lalu dirinya menarik pedang berukuran sedang dari balik jubahnya, menodongkannya ke arah Caspian dan Scarlett. Scarlett perlahan menjauhkan tubuhnya dari Caspian yang sudah terkulai lemas dengan tatapan kosong menatap langit-langit gereja. Air mata sang pendeta telah mengering, menyisakan jejak kemerahan di pipinya yang pucat. Scarlett menoleh dengan gerakan pelan, tak ada kepanikan sedikitpun dari raut wajahnya. Ekspresinya masih tenang dan terkendali. Saat melihat siapa wanita yang sedang bersama Caspian, Pendeta Agung terkejut bukan main, hingga menjatuhkan pedangnya. Kepanikannya terlihat jelas di mata Pendeta Agung. "N-Nona ... Be-Besar?" Scarlett tak menjawab, dirinya menoleh kembali ke arah Caspian yang masih terdiam. Entah diamnya kini menandakan apa, namun ada sedikit kepanikan di antara tatapan keputusasaan. Lantas berdiri dengan gerakan anggun. "Kerja bagus untuk malam ini, Tuan Pendeta," bisik Scarlett sinis seraya merapikan gaunnya yang sedikit berantakan. Scarlett menoleh kembali ke arah Pendeta Agung, menatap dingin kearahnya. "Berani sekali kau. Berani menghunus pedang di hadapanku. Dan berani mencoba membunuh milikku?" Scarlett bertanya dengan suara dingin. "Penjaga!" Tak lama Scarlett berteriak memanggil penjaga kediamannya, dua pengawal masuk dengan langkah tergesa. Dua penjaga ini adalah penjaga yang mengantar dirinya dan Caspian dari kediaman Penguasa Kota sampai ke sini. Tak perlu diberitahu apa yang terjadi, melihat sebuah pedang yang tergeletak di depan sang pendeta. Tanpa kata, dua penjaga itu langsung meringkus Pendeta Agung. Kedua tangan sang pendeta dipegangi, memaksanya berlutut dan mereka menekan kepala sang Pendeta Agung ke lantai. "Ampuni nyawaku, Nona Besar. Mohon berbelas kasihlah! Tolong lepaskan aku!" Teriakan Pendeta Agung menggema. Scarlett tak menjawab ucapan Pendeta Agung itu, dia hanya melangkah dengan gerakan anggun ke arahnya sambil memainkan helaian rambut yang jatuh di depan dadanya. 'Jika ingatan pemilik tubuh asli ini benar, pendeta Caspian yang malang ini menjadi korban dari anggota Gereja Suci yang sangat korup. Dia disingkirkan dan disiksa hingga hampir mati,' batin Scarlett terucap. Dirinya mengingat kembali alur yang pernah dia baca di buku novel dan tarikan ingatan dari pemilik tubuh asli ini. Sebetulnya, Scarlett merasa iba pada nasib Caspian, namun dirinya tak ingin merusak citra antagonis yang sedang dia perankan. Scarlett berhenti melangkah tak jauh dari tempat Caspian duduk terdiam dengan napas memburu, dan tak jauh dari tempat Pendeta Agung bersujud meminta ampun. Lantas dirinya menoleh ke arah Caspian dan dirinya membatinkan rencana kejam di dalam hatinya. 'Bagaimana jika aku membuat pendeta suci ini menghancurkan keyakinannya, dan berbalik melawan anggota Gereja Suci, aku pasti akan mendapat banyak poin kejahatan.' Mata Scarlett menunjukan binar takjub, sangat terpukau dengan rencana yang dia susun. Tanpa pikir panjang lagi, Scarlett berbalik, melangkah dengan tergesa ke arah Caspian. Caspian yang melihat Scarlett berbalik kembali, mengerenyitkan dahinya halus, dan ada sedikit kepanikan yang sebelumnya sudah sirna, kini muncul kembali. "A-Apa lagi yang mau kamu lakukan?" ucap Caspian sambil menahan jubahnya agar tak kembali meluncur kebawah. Namun tetap saja dada bidangnya yang penuh dengan luka dan lebam terlihat, karena semua kancing kemeja panjang dibalik jubah itu sudah Scarlett hancurkan. "Dimatamu apa pejantan hanya mainan yang bisa disiksa sesukamu?"Scarlett menatap Zayn dari atas tubuhnya dengan pandangan dingin yang menuntut, meskipun rona merah masih samar menghiasi pipinya. Seringai tipis terukir di bibirnya saat mendengar nama pria lain disebut. Scarlett terkekeh rendah, "Killian? Kau ingin seperti dia?" Nada bicaranya yang merendahkan namun terdengar sensual. Jemari Scarlett masih masih berada di dagu Zayn, sedangkan tangannya yang lain berada di dada bidan Zayn yang terbuka. "Ingat posisi, Zayn. Killian adalah anjing kecilku yang setia... Sedangkan kau? Kau itu siapa?" ucapnya seraya mendekatkan wajahnya dan berbicara tepat di telinga Zayn. Pertanyaan tajam yang keluar dari bibir Scarlett terasa begitu menyudutkan. Namun, alih-alih menyakiti hati Zayn atau membuatnya mundur, kata-kata itu justru memicu sesuatu di dalam diri sang duyung. Za
Suara langkah kaki Caspian perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu kayu ek yang tebal. Suasana di dalam ruang pemandian kembali sunyi, menyisakan keheningan yang menenangkan. Scarlett menghela napas panjang. Dia menggeser tubuhnya, menyandarkan bagian belakang kepalanya di tepian marmer kolam yang hangat. Tubuhnya terendam sepenuhnya di dalam air yang nyaman, menyisakan leher dan sebagian bahunya yang terekspos. Dia memejamkan mata perlahan, menikmati sensasi hangat yang menyelimuti kulitnya. Sangat menyegarkan, membuat seluruh ototnya yang tegang kembali rileks. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang damai. Tanpa disadari oleh Scarlett, pintu air rahasia di dasar kolam bergerak tanpa suara. Sesosok tubuh bergerak mengendap-endap, membelah air dengan kea
Suara gemericik air yang dimainkan terdengar memenuhi ruang mandi Scarlett. Di Tepian kolam berendam, Caspian yang berdiri di atas lutut dengan kaku. Kedua matanya terpejam rapat, menyisakan gurat kecemasan dan rona merah di kedua pipinya. Jubah putih keemasannya yang agung tampak kontras dengan atmosfer ruangan yang intim. Scarlett terkekeh manja, menyandarkan tubuhnya di tepian kolam. Lihat pendeta tampan yang polos dan lugu ini! Menggemaskan! "Buka matamu, Caspian. Bagaimana bisa kau membantuku mandi dan berganti pakaian jika matamu terus terpejam seperti itu? Apakah tubuhku ini terlihat seperti monster yang menakutkan bagimu?" Caspian menjawab dengan suaranya bergetar, jakunnya naik turun karena gugup. "Ma-maafkan aku Nona Scarlett... Perbuatan ini... melanggar sumpah kesucian yang hamba pegang. Hamba tidak pantas melihat..." Scarlett memercikkan air ke arah Caspian sambil tersenyum menggoda. "Aku adalah tuanmu saat ini, Pendeta Suci. Perintahku adalah sumpah barumu. Ay
"Apa isi ujian yang akan di lakukan besok?" Caspian menarik napas pelan sebelum menjawab. Wajahnya berubah serius. "Ujian kali ini jauh lebih berat..." Caspian menggantung ucapannya. Scarlett mengangkat alisnya. "Para peserta harus melewati tiga wilayah berbahaya." Ia mengangkat satu jari. "Pertama... peserta harus melewati 'Hutan Tersembunyi Kabut Ilusi'" Jari kedua terangkat. "Kedua... melewati 'Gurun Pasir Hisap Api'" Jari ketiga menyusul. "Terakhir... bertahan hidup di 'Gunung Salju Es Beku'" Caspian menatap Scarlett. "Setiap peserta diwajibkan mencapai puncak gunung dan menancapkan bendera sebagai bukti telah menyelesaikan ujian. Barulah peserta dinyatakan lulus." Scarlet
Lorong kediaman keluarga Grand Duke begitu sunyi. Scarlett berhenti tepat di depan sebuah pintu besar berwarna putih gading. Pintu kamar Rosalie. Caspian berdiri satu langkah di belakangnya. "Nona Besar..." Scarlett tidak menjawab. Tatapannya hanya tertuju pada pintu di hadapannya. Perlahan, ia mengangkat tangan. KREK! Pintu itu terdorong terbuka. Ruangan di dalam tampak rapi. Terlalu rapi. Tak ada satu benda pun yang tampak berantakan. Di dekat jendela, seorang wanita duduk dengan tenang. Rosalie. Ia duduk menghadap ke luar, memandangi taman seperti yang selalu diceritakan para pelayan. Tidak bergerak. Tidak menoleh. Seolah kedatangan Scarlett dan Caspian sama sekali tidak mengganggunya. Caspian mengembuskan napas pelan. "Jadi benar..." Namun Scarlett justru menyipitkan mata.
Valerian menangkap perubahan sekecil apa pun pada ekspresi Caspian. Sebagai siluman elang, instingnya langsung memberi peringatan. Ia merasakan aura milik Caspian mulai berubah. Aura rusa yang biasanya lembut kini memancarkan tekanan yang jauh lebih kuat. Valerian tidak melepaskan genggaman tangannya. Sebaliknya... Aura elang hitamnya perlahan menyebar. Tak menyerang. Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak akan mundur. Dalam sekejap, udara di antara kedua pria itu terasa jauh lebih berat. Scarlett yang berada tepat di tengah langsung merasakan perubahan tersebut. Bulu kuduknya meremang. Tatapannya bergantian antara Valerian dan Caspian. Meski keduanya masih berdiri tenang, tekanan spiritual yang saling berhadapan mulai memengaruhi udara di sekitar mereka. Scarlett mengembuskan napas pelan.







