เข้าสู่ระบบMeskipun suasana di sekitar tribun luar masih sangat riuh oleh spekulasi penonton, dan dia dikelilingi oleh lima pria tampan dan hebat, Scarlett tetap berdiri tenang di posisinya.
Senyumnya hilang, digantikan oleh sepasang mata ungunya berkilat penuh perhitungan saat dia menyadari satu hal penting.. "Karena hasil akhir seleksi secara resmi belum diumumkan, lebih baik menggunakan jeda waktu ini untuk mengejar progres sistem dan menaikkan sisa poin para pria-pria ini." baDi tengah ruang makan palsu yang sunyi dan mencekam, Scarlett berdiri tegak dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja merebut kembali takhtanya. Sepasang mata ungunya berkilat tajam, tidak lagi menyisakan setitik pun keraguan atau ketakutan. Dia menatap lurus ke arah kegerangan hampa di depannya, lalu melanjutkan ucapannya dengan nada suara yang memancarkan keteguhan absolut. "Jadi... tolong percaya juga bahwa aku bisa bangun dengan kekuatanku sendiri," ucap Scarlett, suaranya menggema penuh otoritas, memotong sisa-sisa melodi ilusi yang menakutkan. "Satu-satunya keinginanku saat ini adalah... bawa aku pergi dari tempat terkutuk ini!" WUSH! Tepat setelah kata terakhir itu selesai diucapkan, semua pendaran cahaya di tempat itu mendadak lenyap total dalam sekejap mata. Suasana menjadi gelap gulita selama satu detik, sebelum akhirnya
Suasana di dalam aula Grand Forum of Trials semakin menegangkan seiring berjalannya waktu. Fokus ribuan pasang mata kini terbagi di antara layar-layar magis yang melayang di udara. Sang MC, yang sejak awal memandu jalannya final dengan cermat, melangkah ke tepi panggung utama. Pandangannya bergantian menatap layar emas milik Rosalie dan layar ungu milik Scarlett. "Nona Muda Kedua dari keluarga Grand Duke sepertinya sudah mulai menemukan celah ilusi!" seru MC dengan suara membahana, memberikan analisis terbarunya. "Melihat fluktuasi energinya, dia mungkin akan segera keluar dan memenangkan seleksi ini!" Jika dilihat langsung dari arah gerbang dimensi emas, gejolak energi yang terpancar dari tubuh Rosalie memang sudah mulai stabil. Isak tangis dan ketakutannya akan kemiskinan perlahan mereda karena log
Scarlett masih berusaha mencerna seluruh ucapan Valerian yang terasa begitu nyata namun membingungkan. Di tengah lamunannya, suara berat dan serak milik Killain mendadak terdengar dari arah belakang kursinya. "Kalau begitu, aku yang bertanggung jawab untuk membereskan dan mempersiapkan kamar," ucap Killian, nadanya datar namun sarat akan pengabdian. "Agar Tuan bisa merayakan hari ulang tahun ini dengan tenang tanpa ada gangguan." Kalimat itu benar-benar mencerminkan ciri khas sang bodyguard. Dia selalu siap siaga, penuh pengertian, dan fokus pada kenyamanan mutlak Scarlett. Tidak mau kalah, Zayn menimpali dari posisinya. Duyung berambut biru itu sengaja memasang nada suara yang dibuat-buat mengalah, terdengar sedikit menyedihkan namun sangat manja di telinga Scarlett. "Selama Tuan merasa senang... bagiku, melakukan apa pun sama sekali tidak menjadi masalah."
Di dalam ruang makan yang hangat dan dipenuhi aroma manis, ibu Scarlett melangkah mendekat dengan langkah kaki yang begitu lembut. Wajahnya memancarkan kasih sayang yang murni, tipe kehangatan keluarga yang sudah sangat lama tidak pernah Scarlett rasakan sejak terjebak dalam permainan penaklukan ini. Wanita paruh baya itu menurunkan tubuhnya sedikit, menyerahkan sebuah kue ulang tahun dengan hiasan buah stroberi segar yang cantik tepat ke hadapan Scarlett. "Scarlett, selamat ulang tahun. Mulai sekarang, ayah dan ibu akan selalu menemanimu di masa depan," ucap sang ibu dengan suara keibuan yang teramat lembut. Scarlett tercengang di kursinya. Tubuhnya kaku, dan sepasang mata ungunya mendadak berkaca-kaca menatap pendaran lilin di atas kue stroberi tersebut. Dadanya terasa begitu sesak, dihantam oleh gelombang emosi yang luar biasa besar. Dia tahu betul ini adalah ujian final dari gerbang dimensi ilusi, namun menyembunyikan kebenaran ini dari hatinya sendiri adalah hal y
Setelah tatapan penuh kebencian dari Rosalie membakar udara, tidak ada lagi waktu yang tersisa untuk saling melempar dendam. Detik berikutnya, sang MC melangkah ke tengah panggung utama dengan wibawa seorang penyihir agung. Kedua telapak tangannya diangkat tinggi-tinggi ke udara, memancarkan pendaran cahaya magis yang sangat menyilaukan mata. "Final seleksi dimulai!" teriak sang MC dengan suara menggelegar. Bersamaan dengan seruan itu, gelombang energi hisap yang luar biasa kuat memancar dari ketiga gerbang dimensi di tengah arena. Tanpa bisa menghindar, tubuh Scarlett, Rosalie, dan kandidat ketiga—Aveline—seketika ditarik paksa masuk ke dalam pusaran pendaran cahaya. Jiwa mereka diseret tanpa ampun, dilemparkan ke dalam labirin ilusi yang akan menguliti ketakutan terdalam di lubuk hati masing-masing. Sedangkan tubuhnya dikurung dalam gerbang dimenasi. Di atas tribun penonton, tiga buah layar magis raksasa berukuran masif mendadak mengambang di udara, berpendar terang untuk
"Terlebih... jangan membuatku menunggu terlalu lama," bisik Elian, suaranya bergetar dengan nada menuntut yang nakal. "Aku juga sangat ingin merasakan... apa yang sudah dirasakan oleh Valerian malam itu." DEG! Kalimat itu bagai sengatan listrik yang langsung membuat tubuh Scarlett menegang sesaat. Matanya membelalak kecil. Bagaimana bisa rubah licik ini mengetahui apa yang terjadi di dalam kamar pribadi Valerian dua malam lalu?! "Kamu... tau?" Elian hanya menyeringai tipis, matanya berkedip genit satu kali ke arah Scarlett. Lalu dia menegakkan punggungnya lagi, wajahnya dibuat setenang mungkin, padahal satu detik sebelumnya baru saja mengucapkan satu rahasia Scarlett. Banyak sekali pertanyaan yang mendadak berputar di dalam kepala Scarlett setelah mendengar bisikan nakal dari Elian. Dia ingin sekali menuntut penjelasan dari mana rubah licik itu bisa mengendus rahasia malam intimnya dengan Valerian. Namun, sebelum kata pertama sempat keluar dari bibirnya, sebuah be







