بيت / Romansa / Sangkar Emas Nyonya Arlando / Wisuda dan Awal Petaka

مشاركة

Sangkar Emas Nyonya Arlando
Sangkar Emas Nyonya Arlando
مؤلف: Puti sunshine

Wisuda dan Awal Petaka

مؤلف: Puti sunshine
last update تاريخ النشر: 2026-09-30 16:26:41

Sinar matahari pagi menembus tirai kamar Hazel, jatuh tepat di atas toga hitam yang tergantung rapi di pintu lemari. Hazela Suryo berdiri di depan cermin, memandangi pantulan dirinya sendiri dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan. Hari ini adalah hari yang sudah ia nantikan selama empat tahun terakhir—hari wisuda.

"Akhirnya," gumamnya pelan, sambil merapikan letak selempang berwarna emas di lehernya. "Empat tahun begadang, revisi skripsi lima belas kali, dan sekarang... selesai."

Ponselnya bergetar di atas meja rias. Sebuah pesan masuk dari Melati, sahabatnya sejak SMA.

Melati: "Woy! Udah siap? Gue otw jemput nih, 15 menit lagi sampai!"

Hazel tertawa kecil, mengetik balasan cepat sebelum menyambar tasnya dan bergegas keluar kamar. Pagi yang hangat menyambutnya dengan aroma kopi dan cemilan—rutinitas pagi yang selalu dilakukan ibunya.

"Ma, Pa, aku duluan sama Melati, ya! Nanti ketemu di aula," serunya sambil menyambar sepasang sepatu di rak dekat pintu.

Namun, tidak ada jawaban. Hazel mengernyit. Biasanya ibunya, Bu Ratna, akan langsung menyahut dari dapur dengan banyak pertanyaan—sudah sarapan, bawa payung tidak, jangan lupa foto yang banyak. Tapi pagi ini, beda.

Ia melangkah menuju ruang keluarga, dan menemukan kedua orang tuanya duduk berdampingan di sofa, wajah mereka tegang. Di meja depan mereka, terlihat beberapa lembar kertas.

"Ma? Pa? Kalian nggak apa-apa?" tanya Hazel, suaranya mulai diliputi kekhawatiran.

Bu Ratna buru-buru tersenyum, terlihat dipaksakan. "Eh, nggak apa-apa, Sayang. Kamu duluan aja, nanti kami nyusul ke aula."

Hazel ingin bertanya lebih lanjut, tapi klakson mobil Melati terdengar dari luar. Ia menatap kedua orang tuanya sekali lagi, mencoba membaca ekspresi mereka, sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Oke... tapi jangan telat, ya. Aku nggak mau foto wisuda tanpa Mama Papa."

Aula kampus dipenuhi ratusan wisudawan dan keluarga mereka. Musik mengalun dari sound system, diselingi tepuk tangan meriah setiap kali nama dipanggil naik ke podium. Hazel duduk di barisan tengah, jantungnya berdebar menunggu namanya disebut.

"Tegang banget sih," bisik Melati yang duduk di sebelahnya, sambil menyikut lengan Hazel pelan.

"Ya iyalah! Ini momen penting, tau," balas Hazel, matanya masih menyapu ke arah pintu masuk aula, berharap melihat sosok Bu Ratna dan Pak Suryo di antara kerumunan.

Tapi hingga namanya dipanggil—"Hazela Suryo, Fakultas Ekonomi, predikat cumlaude"—kursi yang seharusnya diisi orang tuanya tetap kosong.

Ia berjalan ke podium dengan senyum yang mulai memudar, menerima ijazah dengan tangan sedikit gemetar. Saat berjabat tangan dengan dekan, matanya sekali lagi menyapu ke arah pintu masuk. Masih kosong.

Ketika acara usai dan Hazel keluar dari aula bersama Melati, ia melihat sosok ibunya berdiri di dekat mobil, sendirian, tanpa sang papa.

"Ma!" Hazel berlari kecil menghampiri, memeluk ibunya erat. "Kok telat? Papa mana?"

Bu Ratna membalas pelukan itu, namun Hazel bisa merasakan tubuh ibunya sedikit gemetar. Ketika melepaskan pelukan, Hazel melihat mata Bu Ratna yang memerah, seperti baru saja menangis.

"Ma, kenapa?" Hazel mulai panik, memegang bahu ibunya.

"Nggak apa-apa, Sayang," Bu Ratna berusaha tersenyum, namun kali ini senyumnya benar-benar runtuh. "Papa di rumah sakit. Dia... dia kena serangan jantung tadi pagi."

"APA?!" Hazel nyaris menjatuhkan ijazah yang dipegangnya. "Kenapa Mama nggak telepon aku dari tadi?!"

"Mama nggak mau ganggu hari bahagia kamu," jawab Bu Ratna, suaranya bergetar. "Ayo, kita ke rumah sakit sekarang."

Perjalanan menuju rumah sakit terasa seperti lama. Hazel duduk di kursi belakang mobil Melati—yang dengan sigap menawarkan untuk mengantar—sambil terus menggenggam tangan ibunya yang gemetar.

"Ma, cerita yang sebenarnya, dong," pinta Hazel pelan. "Papa kenapa?"

Bu Ratna terdiam cukup lama, menatap ke luar jendela sebelum akhirnya menghela napas panjang. "Perusahaan Papa... lagi ada masalah besar, Hazel. Utang ke bank sudah menumpuk. Pagi ini, ada surat somasi dari pengadilan soal penyitaan aset kalau utangnya nggak dibayar dalam waktu dekat."

Dunia Hazel serasa runtuh seketika. "Se-berapa besar utangnya, Ma?"

"Lebih dari lima miliar," bisik Bu Ratna, "Papa sudah coba segala cara, pinjam sana-sini, tapi nggak cukup. Tadi pagi, waktu suratnya datang, Papa langsung... jatuh."

Hazel mencoba menahan air mata yang mendesak keluar. Semua kebahagiaan tadi menguap begitu saja, digantikan oleh ketakutan yang mencekam.

"Kenapa nggak pernah cerita, Ma? Aku kan anak kalian!"

"Kami nggak mau kamu khawatir, Sayang. Kamu lagi fokus skripsi, ujian, semuanya," Bu Ratna menjawab, suaranya penuh penyesalan.

Melati yang sedari tadi diam mendengarkan dari kursi kemudi, akhirnya bersuara pelan, "Tante, maaf ikut denger... tapi apa nggak ada jalan keluar lain? Investor, misalnya?"

Bu Ratna menggeleng lemah. "Sudah dicoba, Nak. Nggak ada yang mau ambil risiko sama perusahaan yang sedang begini."

Sesampainya di rumah sakit, Hazel bergegas masuk ke ruangan tempat Pak Suryo dirawat. Ayahnya terbaring lemah di ranjang, wajahnya pucat, namun matanya terbuka begitu mendengar suara pintu terbuka.

"Hazel..." suara Pak Suryo serak, penuh haru sekaligus rasa bersalah. "Maaf, Papa nggak bisa lihat kamu wisuda hari ini."

Hazel segera menghampiri, menggenggam tangan ayahnya erat, air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. "Papa nggak perlu minta maaf. Yang penting Papa sehat dulu."

"Papa udah bikin masalah besar, Nak," gumam Pak Suryo, matanya berkaca-kaca. "Papa nggak tahu harus bagaimana lagi..."

"Kita cari jalan keluar bareng-bareng, Pa," Hazel mencoba menguatkan, meski hatinya sendiri diliputi ketakutan yang sama besarnya. "Aku baru lulus, aku bisa cari kerja, bisa bantu—"

"Nggak akan cukup, Hazel," potong Pak Suryo pelan. "Utangnya... terlalu besar untuk gaji seorang fresh graduate."

Ruangan itu hening sejenak, hanya diisi oleh bunyi mesin pemantau detak jantung yang berdetak teratur. Hazel menatap wajah ayahnya yang tampak jauh lebih tua dari biasanya..

Di sudut ruangan, Bu Ratna berdiri diam, menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasih sayang, penyesalan, dan sesuatu yang lain yang belum berani ia ungkapkan.

Malam itu, setibanya di rumah, setelah memastikan Pak Suryo stabil dan bisa dibawa pulang esok hari, Hazel duduk sendirian di kamarnya. Toga wisuda yang tadi pagi ia kenakan dengan bangga kini tergeletak begitu saja di atas kasur, terlupakan.

Ia meraih ponselnya, membuka galeri foto—satu-satunya foto wisuda yang sempat diambil Melati, dirinya tersenyum lebar dengan ijazah di tangan. Senyum yang kini terasa begitu asing, seperti milik orang lain di kehidupan yang berbeda.

Hazel tidak tahu bahwa di balik pintu kamarnya, Bu Ratna berdiri diam, menggenggam sebuah kartu nama yang baru saja diberikan seseorang siang tadi..

Arlando Wijaya, CEO Wijaya Group.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Keputusan yang Menyakitkan

    Dua hari berlalu sejak pertemuan Hazel dengan Arlando di restoran itu, namun jawaban yang ditunggu-tunggu belum juga keluar dari mulut Hazel. Ia mengurung diri di kamar, hanya keluar sesekali untuk makan seadanya, menghindari tatapan penuh harap sekaligus cemas dari kedua orang tuanya. Melati datang berkunjung sore itu, membawa dua cangkir bubble tea kesukaan mereka berdua sejak SMA, berharap bisa sedikit mencairkan suasana hati sahabatnya yang sedang berantakan. "Lo udah mikirin baik-baik?" tanya Melati, duduk bersila di atas kasur Hazel, menyerahkan salah satu cangkir bubble tea itu. Hazel menerima minuman itu tanpa semangat, menyesapnya pelan sebelum menjawab, "Gue udah mikir sampai nggak tidur dua hari ini, Mel. Tapi tetep aja gue nggak nemu jawaban yang bikin gue lega." "Gimana orangnya?" Melati bertanya penasaran, teringat cerita singkat Hazel semalam lewat telepon tentang pertemuan mereka. "Lebih parah," Hazel menghela napas berat, teringat kembali tatapan dingin Arlando

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Tatapan Pertama yang Dingin

    Arlando menjabat tangan itu sekilas, singkat dan formal, sebelum duduk di kursi seberangnya tanpa menunggu Hazel duduk kembali terlebih dahulu. Sikap itu langsung membuat Hazel merasakan ketidaknyamanan yang menusuk—seolah kesopanan dasar pun tidak dianggap penting oleh pria ini. Seorang pelayan datang menawarkan menu, namun Arlando langsung menepisnya. "Saya sudah pesan lewat telepon sebelumnya. Kita langsung ke pembicaraan utama saja." Hazel mengangguk kaku, meletakkan kedua tangannya di pangkuan untuk menyembunyikan getaran yang tak bisa ia kendalikan. "Saya yakin orang tua Anda sudah menjelaskan situasinya," Arlando membuka pembicaraan tanpa basa-basi, matanya menatap lurus tanpa berkedip. "Saya butuh menikah dalam waktu dekat. Anda butuh dana untuk menyelamatkan bisnis keluarga. Sederhana, bukan?" "Sederhana bagi Anda, mungkin," Hazel menjawab, mencoba menjaga suaranya tetap tenang meski dadanya panas oleh emosi yang membuncah. "Tapi ini kehidupan saya yang sedang diperta

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Kabar yang Sama

    Pak Suryo menoleh, mengangguk pelan meski hatinya semakin berat. "Akan saya sampaikan, Pak." Dalam perjalanan pulang, Pak Suryo duduk di kursi belakang taksi, menatap kosong ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu seiring senja yang mulai turun, namun tak satu pun cahaya itu mampu menerangi kegelapan yang bersarang di dalam hatinya. Ia teringat wajah Hazel semasa kecil, tertawa riang berlari mengejar layang-layang di halaman rumah mereka yang dulu masih sederhana. Ia teringat betapa bangganya ia saat Hazel diterima di universitas ternama dengan beasiswa penuh berkat kecerdasannya sendiri. Dan sekarang, ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya sendirilah yang mungkin akan menghancurkan seluruh mimpi dan masa depan yang telah dibangun putrinya dengan susah payah. Apakah aku ayah yang gagal? batinnya perih, tangannya mengepal erat di atas paha. Membiarkan anakku sendiri menanggung dosa dan kesalahanku dalam mengelola bisnis... Namun di sisi lain, ba

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Pertemuan di Tower Wijaya

    Gedung Wijaya Tower menjulang tinggi di tengah jantung kota, kaca-kaca hitamnya memantulkan cahaya matahari sore dengan begitu angkuh, seolah menegaskan kekuasaan pemiliknya atas segala yang ada di bawahnya. Pak Suryo berdiri di depan lobi megah itu, tangannya menggenggam map berisi dokumen perusahaan yang sudah lecek karena keringat dingin yang terus mengalir sejak tadi. "Bapak sudah ditunggu di lantai 42," ujar resepsionis dengan senyum profesional, mengarahkan Pak Suryo menuju lift khusus eksekutif. Selama perjalanan naik, Pak Suryo menatap pantulan dirinya di dinding lift berbahan kaca. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari usianya yang sebenarnya, garis-garis lelah membekas jelas di sana. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Ini demi keluarga. Demi Hazel juga, batinnya berulang kali, meski hatinya sendiri dipenuhi keraguan besar tentang apa yang akan ia bicarakan sebentar lagi. Pintu lift terbuka, menampilkan ruang tunggu eksek

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Bimbang

    Malam harinya, Hazel menghubungi Melati, satu-satunya orang yang bisa ia percaya untuk berbagi kekacauan pikirannya. "Lo serius, Hazel?" suara Melati di seberang telepon terdengar tak percaya. "Dijodohin buat nutup utang? Ini bukan sinetron, kan?" "Gue juga berharap ini cuma mimpi buruk," jawab Hazel lemas, suaranya juga sedikit serak karena kebanyakan menangis, matanya masih sembab. "Tapi ini nyata, Mel. Papa bisa masuk penjara kalau utangnya nggak lunas." "Terus lo mau terima?" Nada suara Melati naik satu oktaf. Hazel terdiam lama sebelum menjawab, "Gue nggak tahu. Di satu sisi, gue nggak rela hidup gue diatur kayak gini. Tapi di sisi lain... gue nggak bisa bayangin Papa dipenjara, atau Mama harus nanggung malu karena rumah kita disita." "Lo tau apa-apa soal orang ini? Arlando itu?" tanya Melati hati-hati. "Cuma tau dia CEO perusahaan besar, duda, nggak punya anak. Itu doang," Hazel menghela napas berat. "Bahkan gue nggak tau gimana wajahnya." Melati terdiam sejenak di

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Retak yang Tersembunyi

    Tiga hari setelah kepulangan Pak Suryo dari rumah sakit, rumah terasa berbeda. Hazel duduk di meja makan, menatap semangkuk sup ayam yang baru saja ia buatkan untuk ayahnya. Sejak pulang dari rumah sakit, Pak Suryo lebih banyak diam, menghabiskan waktu di kamar dengan tirai tertutup rapat, seolah cahaya matahari pun terlalu menyilaukan untuk masalah yang sedang ia hadapi. "Pa, makan dulu, ya," ujar Hazel lembut, meletakkan nampan di atas meja kecil dekat ranjang. Pak Suryo membuka matanya, tersenyum tipis meski tampak dipaksakan. "Makasih, Nak. Kamu... nggak usah repot-repot urus Papa. Harusnya kamu lagi sibuk kirim lamaran kerja, cari pengalaman baru." "Papa lebih penting dulu," jawab Hazel tegas, duduk di tepi ranjang. "Lagian, aku udah kirim beberapa lamaran kok. Tinggal nunggu panggilan interview." Sebenarnya, itu tidak sepenuhnya benar. Sejak hari itu di rumah sakit, pikiran Hazel terlalu dipenuhi kekhawatiran untuk benar-benar fokus mencari pekerjaan. Bagaimana bisa ia

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status