LOGINSatria merebahkan tubuh besarnya di atas kasur empuk paviliun. Jas hitam mahal pemberian Vera sudah dia lempar sembarangan ke atas kursi kayu di pojok kamar. Kemeja putihnya dibiarkan sedikit terbuka di bagian kerah supaya tidak gerah.Rasa capek akhirnya mulai terasa merayapi otot ototnya. Tapi ini bukan capek karena habis menghajar puluhan preman atau menghindari peluru, melainkan capek mental menghadapi omelan panjang dari bosnya di ruang tamu tadi.Pemuda itu menarik selimut tebalnya sebatas dada. Baru saja dia mau memejamkan mata dan menikmati kasur yang empuk, tiba tiba terdengar bunyi dari arah luar.Tok tok tok.Satria langsung membuka sebelah matanya. Dia mendengus kesal sampai membuang napas kasar. Jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan lewat dari pukul satu pagi. Siapa lagi yang kurang kerjaan mengganggunya jam segini?"Siapa sih? Orang mau tidur juga," gerutu Satria pelan.Dengan langkah malas dan wajah ditekuk rapat, Satria berjalan gontai ke arah pintu. Dia memutar ke
Jalanan sepi itu ditinggalkan begitu saja oleh Satria. Dia sama sekali tidak peduli dengan nasib empat pembunuh bayaran elit yang sedang pingsan menumpuk di aspal. Biar saja mereka diurus oleh warga besok pagi.Alih-alih mencari taksi atau menelepon bala bantuan, Satria malah memilih berjalan kaki. Jarak dari lokasi kejadian ke rumah mewah Vera di Menteng sebenarnya lumayan jauh. Tapi bagi pendekar gunung yang terbiasa mendaki tebing curam setiap hari, berjalan di atas trotoar aspal ini rasanya hanya seperti jalan-jalan santai di taman.Satria berjalan sambil bersiul pelan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Sesekali dia berhenti sebentar untuk melihat-lihat lampu jalanan kota yang masih menyala terang. Perjalanannya memakan waktu cukup lama, hingga jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan lewat tengah malam.Begitu sampai di depan gerbang rumah keluarga Vera, Satria melihat pemandangan yang tidak biasa. Lampu ruang tamu dan teras depan menyala sangat terang bender
Rasa sakit dan malu bercampur menjadi satu di dalam dada Elang Hitam. Sebagai pembunuh bayaran dengan reputasi tanpa cacat, dikalahkan tanpa perlawanan seperti ini jauh lebih menyakitkan daripada tusukan pisau.Dengan sisa tenaga dan raungan marah, Elang Hitam memaksakan dirinya untuk berdiri. Dia mengabaikan rasa kebas di kakinya dan memaksakan satu serangan terakhir. Pria itu melompat maju, mengumpulkan seluruh sisa tenaganya ke dalam satu pukulan mematikan yang mengarah tepat ke wajah Satria.Satria hanya menghela napas panjang melihat kekerasan kepala pria di depannya ini."Masih ngeyel aja," ucap Satria datar.Bukannya menghindar, Satria menyambut pukulan itu. Dia menangkap kepalan tangan Elang Hitam dengan telapak tangan kirinya. Bunyi benturan keras terdengar, tapi Satria tidak bergeser satu sentimeter pun.Sebelum Elang Hitam menyadari apa yang terjadi, tangan kanan Satria melesat cepat seperti kilat dan menghantam telak ulu hati pria tersebut. Pukulan itu tidak terlihat keras
Satria menoleh ke arah Elang Hitam, masih dengan Kobra yang meronta ronta kehabisan napas di cengkeraman tangan kanannya."Gimana, Bos? Mau lanjut main tembak tembakan, atau mau kita selesaikan pakai cara sehat dan berolahraga tangan kosong?" tawar Satria sambil menyeringai tipis.Melihat temannya tumbang dengan begitu memalukan, wajah Elang Hitam berubah menjadi merah padam. Harga dirinya sebagai pembunuh bayaran nomor satu di dunia bawah tanah Jakarta terasa diinjak injak oleh pemuda yang kini tersenyum mengejek di depannya.Satria melepaskan cengkeramannya. Tubuh Kobra langsung jatuh membentur aspal. Pria bertato itu batuk batuk keras meraup oksigen sebanyak mungkin sambil memegangi lehernya yang memar parah."Sialan kamu, anak muda!" geram Elang Hitam dengan suara yang bergetar menahan amarah.Bukannya mundur atau melarikan diri, Elang Hitam malah melemparkan senapan laras pendeknya ke tanah. Bunyi logam beradu dengan aspal terdengar nyaring. Dia sadar kalau senjata api tidak akan
DOR! DOR! DOR!Suara letusan pistol otomatis Kobra memecah keheningan malam. Tiga butir peluru tajam melesat dari moncong senjata dengan kecepatan mematikan, mengincar tepat ke arah dada dan kepala Satria dari jarak yang sangat dekat.Bagi manusia biasa, jarak sedekat itu adalah vonis mati yang tidak bisa dihindari. Namun bagi seorang pendekar tingkat tinggi yang terbiasa menangkap nyamuk terbang dengan sumpit di tengah kegelapan hutan, kecepatan peluru pistol hanyalah sebuah lelucon.Di mata Satria, lintasan ketiga peluru itu terlihat melambat drastis.Dengan wajah datar, Satria memiringkan kepalanya sedikit ke kanan. Peluru pertama mendesing lewat hanya beberapa milimeter dari telinganya, membelah angin malam. Tanpa membuang waktu, pemuda itu memutar bahu kirinya ke belakang. Peluru kedua dan ketiga melesat melewati ruang kosong di depan dadanya, sama sekali tidak menyentuh kain jas hitamnya.Kobra melebarkan matanya. Mulut pembunuh bertato kalajengking itu terbuka lebar. Dia tidak
Suasana di dalam Alphard semakin tegang. Satria terus menatap tajam ke arah SUV hitam yang makin agresif mengejar mereka di belakang. Jarak kedua mobil itu perlahan mulai menipis.Satria menyadari satu hal. Kalau mereka sampai masuk ke jalan tol, kecepatan mobil memang bisa bertambah. Tapi di jalan tol yang panjang dan terbuka, ban mobil Alphard ini akan jadi sasaran tembak yang sangat empuk bagi penembak jitu. Kalau ban meledak dalam kecepatan tinggi, mereka semua bisa mati karena kecelakaan, bukan karena peluru."Pak Maman, cari tempat yang agak gelap di depan. Pinggirkan mobilnya sebentar," perintah Satria tiba-tiba.Perintah itu langsung membuat seisi mobil kaget."Kamu gila, Satria?!" protes Vera dengan suara keras. "Kita lagi dikejar pembunuh bawa pistol. Kamu malah minta berhenti?""Saya mau turun di sini, Non," jawab Satria datar, sambil melepaskan sabuk pengamannya. "Pak Maman nanti pelan saja sebentar. Habis saya lompat keluar, Bapak langsung tancap gas lagi bawa Nona Vera d
Udara dingin dari pendingin ruangan di kamar tamu belakang itu seolah kehilangan fungsinya. Hawa panas menguar kuat dari dua tubuh yang saling membelit di atas kasur empuk tersebut. Akal sehat Satria sudah sepenuhnya menguap, terkalahkan oleh ancaman pemecatan dan gairah darah muda yang meledak aki
Satria perlahan memejamkan matanya. Tangan kanannya yang tadinya mengambang di udara kini turun, bertengger ragu-ragu di pinggang ramping Dinda. Merasakan sentuhan itu, Dinda semakin berani. Gadis itu mengalungkan kedua lengannya ke leher Satria, menarik tubuh pemuda itu agar semakin rapat denganny
Hening sejenak. Dinda mencerna kata-kata Satria dengan mata terbelalak."Kamu ... tinggal di sana?" suara Dinda bergetar, nada suaranya berubah menjadi sangat rendah dan berbahaya. "Di rumah gedongan itu? Sama tiga cewek kaya yang cantik-cantik itu setiap hari? Pagi, siang, malam?!""Iya, tapi kan
Tanpa membuang waktu, Kiki meletakkan bantal sofa itu di pangkuanSatria, menutupi tenda yang sedang berdiri tegak itu dengan sempurna daripandangan Vera dan Laras."Nih, pakai bantal biar anget ya, Kak," ucap Kiki manis.Namun, di balik bantal itu, terjadi sesuatu yang membuat Satria nyaristerlo







