分享

BAB 208

last update publish date: 2026-06-07 22:00:32

Satria melangkah masuk ke dalam showroom dengan perasaan yang masih setengah tidak percaya. Matanya menyapu deretan mobil mewah—Maserati, Porsche, hingga jajaran Mercedes-Benz terbaru—yang dipajang dengan pencahayaan dramatis. Setiap kendaraan di sana harganya cukup untuk membiayai hidup sepuluh orang selama seumur hidup.

Vera berjalan di sampingnya dengan gaya anggun, tangannya sesekali menunjuk ke arah mobil-mobil sport yang berkilau.

"Kalau kamu mau yang cepat, aku bisa ambilkan Porsche itu
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Satria Idaman Wanita   BAB 213

    Mendengar alasan Satria yang benar benar asal asalan itu, Vera langsung berdiri dari duduknya. Wajah bos cantik itu makin memerah, kali ini bukan cuma karena kesal, tapi ada emosi lain yang ikut meledak.Vera refleks berkacak pinggang. Dia menatap asisten pribadinya itu dengan sorot mata yang menyala nyala."Alasan macam apa itu, Satria!" omel Vera tanpa bisa ditahan lagi. "Kan aku yang membelikan dan bayar motor itu pakai uangku! Harusnya aku dong yang pertama kali kamu ajak buat uji coba dibonceng, bukan malah keliling kota sama adikku!"Ruang tamu yang luas itu mendadak hening selama beberapa detik. Begitu kalimat itu lepas dari mulutnya, mata Vera sedikit melebar. Dia baru sadar betapa aneh dan gengsi kalimatnya barusan. Bukannya terdengar seperti bos yang sedang memarahi bawahan, ucapannya malah lebih mirip seperti seorang wanita yang sedang cemburu berat karena tidak diajak jalan jalan sore.Laras yang sedari tadi bersembunyi di balik punggung Satria langsung menahan tawa. Ketak

  • Satria Idaman Wanita   BAB 211

    Suara deru mesin motor semi trail hitam itu perlahan mengecil dan akhirnya mati tepat di pelataran parkir rumah mewah Vera. Satria menurunkan standar motornya, sementara Laras turun dari jok belakang dengan wajah ceria. Di tangannya terdapat dua kantong plastik putih berisi aneka jajanan pasar dan martabak manis yang masih hangat."Beneran asyik banget jalan jalan sore pakai motor begini, Mas," ucap Laras sambil melepas helmnya dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin. "Lain kali kita jalan agak jauhan ya, sekalian cari seblak yang viral di ujung jalan sana."Satria tertawa pelan. Dia ikut melepas helmnya dan mengacak pelan ujung rambut Laras."Boleh saja, Ras. Tapi besok besok kamu yang bayar jajanannya ya. Uang sakuku kan belum turun dari bosmu itu," goda Satria santai.Laras terkikik geli mendengarnya. Keduanya lalu berjalan beriringan menuju pintu utama rumah. Suasana terlihat sangat santai dan penuh tawa. Satria kemudian menekan gagang pintu kayu jati yang bes

  • Satria Idaman Wanita   BAB 211

    Puas mengomel sendirian dan mematikan telepon secara sepihak, Vera menyandarkan tubuhnya ke bantal sofa dengan kasar. Napasnya masih naik turun. Bos cantik itu memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan isi kepalanya yang terasa seperti mau pecah sejak siang tadi.Merasa butuh teman untuk berbagi cerita soal kelakuan asisten pribadinya yang ajaib itu, Vera tiba tiba teringat pada adiknya."Laras ke mana ya jam segini?" gumam Vera pelan.Biasanya, jam segini adiknya itu sedang asyik menonton televisi di ruang keluarga keluarga atau ngemil di dapur. Vera pun berdiri dari sofa dan berjalan menyusuri lorong rumah mewahnya yang luas."Ras? Laras!" panggil Vera dengan suara agak keras.Dia melongok ke ruang keluarga, kosong. Dia berjalan ke arah dapur, juga kosong. Hanya ada Bi Inah, asisten rumah tangga mereka yang sudah bekerja puluhan tahun di sana, sedang sibuk mengelap meja makan.Mendengar suara majikannya memanggil panggil, Bi Inah langsung menghentikan pekerjaannya dan menoleh."N

  • Satria Idaman Wanita   BAB 210

    Berikut adalah Bab 202, di mana alasan Satria di telepon tadi ternyata menyembunyikan sebuah fakta yang membuat kita geleng-geleng kepala.Bab 202: Taman Sore dan Alasan KlasikSatria perlahan menjauhkan ponsel pintar itu dari telinganya sesaat sebelum sambungan telepon diputus secara sepihak oleh bosnya. Dia menghela napas panjang lalu memasukkan ponsel tersebut kembali ke dalam saku jaketnya.Tepat di sebelah pemuda itu, seorang gadis manis berambut sebahu yang sedari tadi menahan napas untuk diam akhirnya tidak kuat lagi. Gadis itu tertawa lepas sampai harus memegangi perutnya sendiri.Gadis itu adalah Laras, adik kandung Vera."Hahaha! Mas Satria beneran berani ya bohongin Kak Vera begitu," ucap Laras di sela tawanya yang berderai. "Kak Vera itu kalau sudah ngomel cerewetnya bisa sampai besok pagi loh. Kok Mas malah santai banget tanggapannya?"Mereka berdua saat ini sedang duduk di sebuah bangku panjang di taman kota yang rindang, tempat yang cukup sejuk untuk bersantai di sore h

  • Satria Idaman Wanita   BAB 209

    Proses administrasi selesai dengan sangat cepat. Sebagai nasabah prioritas, Vera tidak perlu menunggu lama. Dalam waktu kurang dari satu jam, kunci motor semi-trail itu sudah berada di tangan Satria. Motor yang tadinya masih terparkir rapi di balik kaca pameran, kini sudah berdiri gagah di area pengiriman showroom, sudah terisi bensin penuh dan siap dipacu.Satria tidak bisa menyembunyikan antusiasmenya. Dia memakai helm full-face yang juga baru saja dibelikan Vera sebagai pelengkap."Non Vera, karena motornya sudah jadi dan administrasinya beres, aku izin langsung bawa pulang ya?" ujar Satria dengan nada yang sangat bersemangat.Vera yang sedang memeriksa laporan pembayaran di ponselnya mendongak, lalu menatap Satria yang sudah berdiri di atas jok motornya."Tunggu dulu, Satria! Kita kan tadi ke sini naik mobilku. Kalau kamu bawa motor itu sekarang, mobilku siapa yang bawa balik ke kantor? Masa aku harus nyetir sendiri?" protes Vera dengan nada yang sengaja dibuat kesal.Satria terta

  • Satria Idaman Wanita   BAB 208

    Satria melangkah masuk ke dalam showroom dengan perasaan yang masih setengah tidak percaya. Matanya menyapu deretan mobil mewah—Maserati, Porsche, hingga jajaran Mercedes-Benz terbaru—yang dipajang dengan pencahayaan dramatis. Setiap kendaraan di sana harganya cukup untuk membiayai hidup sepuluh orang selama seumur hidup.Vera berjalan di sampingnya dengan gaya anggun, tangannya sesekali menunjuk ke arah mobil-mobil sport yang berkilau."Kalau kamu mau yang cepat, aku bisa ambilkan Porsche itu untukmu," ucap Vera santai. "Atau kalau kamu lebih suka kenyamanan, seri terbaru Mercedes di sana mungkin lebih cocok. Itu juga jauh lebih aman kalau kamu harus mengawal atau membawa barang."Satria berhenti sejenak. Dia menatap mobil-mobil mewah itu, lalu menoleh ke arah barisan motor sport di sisi ruangan yang lain. Pikirannya melayang pada mobilitasnya sehari-hari. Baginya, sebuah mobil mewah hanyalah kotak besi yang merepotkan di tengah kemacetan kota."Aku pilih motor saja, Non," jawab Satr

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status