Share

BAB 23

Penulis: Inspirasi Kopi
last update Tanggal publikasi: 2026-02-17 21:59:29

"Siap, Non?" Satria menoleh cepat.

"Kamu tadi bilang mau makan sepuasnya kan?"

"Betul, Non. Wagyu tadi siang udah lari jadi tenaga buat melototin Pak Handoko. Sekarang perut saya udah kosong lagi kayak dompet tanggal tua," canda Satria.

"Pak Maman," perintah Vera. "Cari Drive-Thru restoran cepat saji terdekat. Kita makan di mobil saja."

Satria dan Pak Maman kompak menoleh ke belakang dengan mata melotot.

"Hah? Serius, Non?" tanya Satria tak percaya. "Makan di mobil? Bukannya tadi siang Nona mar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satria Idaman Wanita   BAB 250

    Satria melangkah melewati pemimpin preman yang sudah terkencing-kencing ketakutan tanpa perlu melayangkan pukulan lagi. Orang itu sudah kehilangan seluruh nyalinya setelah melihat semua anak buahnya tumbang dengan tragis. Fokus Satria kini kembali pada target utama, yaitu Baskoro.Pria tambun itu masih terduduk di atas tanah yang berdebu, memegangi rahang kirinya yang bengkak dan berdarah akibat pukulan salah sasaran dari anak buahnya sendiri tadi.Melihat Satria berjalan mendekat dengan langkah yang santai namun penuh intimidasi, Baskoro langsung berusaha mundur dengan cara menyeret pantatnya di tanah. Wajahnya pucat pasi seperti mayat. Di sekelilingnya, belasan preman sewaan yang dia bawa dengan penuh keangkuhan kini hanya bisa mengerang kesakitan. Perlindungan yang dia banggakan sudah hancur total dalam waktu beberapa menit saja.Satria berhenti tepat di depan Baskoro, lalu berjongkok agar wajah mereka sejajar. Tatapan mata Satria yang sangat dingin membuat Baskoro merasa seperti s

  • Satria Idaman Wanita   BAB 249

    Belasan preman itu merangsek maju secara bersamaan dengan teriakan riuh, mencoba mengintimidasi Satria lewat keunggulan jumlah. Namun, di mata Satria yang sudah terlatih menghadapi situasi yang jauh lebih ekstrem, gerakan mereka semua tampak sangat lambat dan penuh dengan celah.Preman berambut cepak yang memegang pisau lipat tadi menjadi yang paling depan. Dengan wajah sangar, dia mengayunkan senjatanya secara membabi buta, mencoba menusuk perut Satria.Satria tidak bergeser dari tempatnya berdiri. Dia hanya sedikit memiringkan pinggulnya untuk menghindari mata pisau yang lewat beberapa sentimeter di depan bajunya. Di saat yang sama, tangan kanan Satria bergerak secepat kilat, menyambar ke depan sebelum pria cepak itu sempat menarik kembali tangannya.Plak!Sebuah tamparan terbuka yang sangat bertenaga mendarat telak di pipi preman cepak tersebut. Saking kerasnya hantaman itu, tubuh pria berbadan tegap itu sempat berputar setengah lingkaran di udara sebelum akhirnya ambruk ke tanah.

  • Satria Idaman Wanita   BAB 248

    Melihat gertakannya sama sekali tidak dihiraukan, preman berbadan besar itu langsung kehilangan kesabaran. Dengan memanfaatkan posisi Satria yang sedang membelakanginya, dia mengambil ancang-ancang dari belakang dan melayangkan sebuah pukulan mentah yang sangat keras ke arah kepala Satria."Mati kamu!" teriak preman itu penuh percaya diri.Namun, mengandalkan serangan mengendap-endap dari belakang kepada seorang Satria adalah sebuah kesalahan besar. Insting bertarung Satria yang sudah terlatih melampaui manusia biasa langsung menangkap pergerakan angin dan deru langkah kaki di punggungnya.Bukannya panik, sudut bibir Satria justru terangkat membentuk senyuman tipis.Tanpa melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Baskoro, Satria memutar tubuhnya dengan sangat cepat dan lincah, membalikkan posisi mereka dalam sekejap mata. Gerakan berputar itu begitu mulus, membuat tubuh tambun Baskoro bergeser dan kini tepat berada di posisi yang sebelumnya ditempati oleh Satria.Bugh!Suara hantaman

  • Satria Idaman Wanita   BAB 247

    Mendengar janji tegas dari Vera, warga sekitar yang tadinya diam mulai bergerak maju. Mereka mengabaikan gertakan para preman berbaju hitam dan langsung mengarahkan tuntutan mereka kepada Baskoro yang masih memegangi pipinya yang memerah."Dengar itu, Baskoro! Bu Vera saja sudah bilang kalau uang kami dikorupsi! Sekarang kembalikan sisa pembayaran kami sesuai kesepakatan awal!" teriak perwakilan warga paruh baya itu dengan penuh emosi."Iya, bayar sekarang! Jangan cuma bisa memperkaya diri sendiri dari tanah kami!" sahut warga lainnya bersahutan.Bukannya panik atau merasa bersalah karena kedoknya sudah terbongkar, Baskoro justru mundur dua langkah ke tengah-tengah barisan preman sewaannya. Pria tambun itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya terdengar sangat nyaring dan penuh dengan nada penghinaan."Hahaha! Bayar? Kalian minta saya bayar sekarang?" ejek Baskoro sambil menatap warga dengan pandangan meremehkan. "Kalian itu cuma orang desa pinggiran sungai, jangan mimpi ket

  • Satria Idaman Wanita   BAB 246

    Tepat tiga puluh menit kemudian, suasana sunyi di sekitar bantaran sungai terusik oleh suara deru langkah kaki yang tergesa-gesa. Dari arah jalan masuk utama proyek, sosok Pak Baskoro akhirnya muncul. Pria paruh baya bertubuh tambun itu berlari kecil dengan napas yang terengah-engah, wajahnya tampak memerah karena kelelahan sekaligus panik.Namun, dia tidak datang sendirian. Di belakang Baskoro, berjalan beriringan sekitar belasan pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam. Tatapan mata orang-orang berbaju hitam itu tampak sangar, dengan gestur tubuh yang sengaja dibuat intimidatif seolah siap menghajar siapa saja yang berani mendekati bos mereka.Melihat kedatangan rombongan tersebut, Satria yang sejak tadi bersandar santai di dekat posko langsung menegakkan tubuhnya. Pandangan matanya menyipit, membaca situasi dengan sangat cepat."Cih, cari perlindungan," gumam Satria pelan dengan nada mencibir.Vera juga langsung menyadari kehadiran gerombolan berbaju hitam itu. Kedua tanganny

  • Satria Idaman Wanita   BAB 245

    Vera langsung memalingkan wajahnya dari kerumunan warga. Matanya menyapu ke sekeliling area posko dengan tatapan yang sangat tajam, mencari seseorang yang seharusnya berdiri di barisan paling depan untuk menjelaskan kekacauan ini.Sejak awal tiba di lokasi, Vera menyadari ada yang aneh. Sosok penanggung jawab utama proyek pengolahan limbah di wilayah ini sama sekali tidak kelihatan hidungnya.Vera kemudian menatap kepala tim lapangan yang wajahnya sudah pucat pasi."Di mana Pak Baskoro? Kenapa dari tadi saya tidak melihat dia di lokasi?" tanya Vera dengan nada suara yang bergetar menahan amarah."Anu, Bu Vera... Pak Baskoro tadi katanya sedang ada urusan penting di luar kota. Beliau bilang saya yang harus menghandle kedatangan Ibu hari ini," jawab kepala tim lapangan itu terbata-bata, keringat dingin makin deras mengucur di pelipisnya."Urusan luar kota? Di saat warga sedang mengepung tempat ini karena ulah kalian?" cetus Vera dengan sinis.Vera tidak mau membuang waktu lagi mendengar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status