แชร์

BAB 22

ผู้เขียน: Inspirasi Kopi
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-17 21:59:01

Ancaman itu begitu nyata. Aura membunuh yang dipancarkan Satria membuat Pak Handoko merasa seperti sedang berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa. Kakinya lemas, dia jatuh terduduk kembali ke kursinya. Keringat dingin mengucur deras membasahi kemeja mahalnya.

Pak Rudianto di sebelahnya bahkan sudah gemetar hebat, tidak berani mengangkat wajah. Tiga komisaris lain pura-pura sibuk membaca dokumen, tidak mau ikut campur karena takut menjadi sasaran berikutnya.

Satria menegakkan tubuhnya kembali,
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Satria Idaman Wanita   BAB 260

    Pesanan mereka akhirnya datang juga. Pelayan rumah makan menyusun piring-piring anyaman bambu di atas meja kayu saung. Aroma harum dari nasi liwet yang masih mengepul, ayam bakar bumbu rujak yang kecokelatan meresap, tahu goreng, tempe goreng, hingga semangkuk penuh lalapan segar langsung menusuk hidung. Tidak ketinggalan, cobek batu berisi sambal terasi ulek dadakan yang masih berminyak ikut disajikan.Aroma makanan itu benar-benar mengundang selera, membuat perut Vera berbunyi lebih nyaring.Satria langsung menuangkan air dari kendi ke mangkuk cuci tangan. Setelah tangannya bersih, tanpa ragu sedikit pun dia langsung mengambil sepiring nasi hangat, menyobek sedikit daging ayam bakar, lalu mencocolnya ke sambal terasi. Dengan gerakan lincah dan terbiasa, Satria menyuap makanan itu ke dalam mulutnya."Hmm, mantap sekali, Non. Ayamnya empuk, sambalnya juga pas pedasnya," ucap Satria sambil mengunyah dengan ekspresi wajah yang sangat menikmati makanan tersebut.Vera memperhatikan Satria

  • Satria Idaman Wanita   BAB 259

    Sang Bos Besar kembali mengembuskan asap cerutunya yang tebal ke udara. Matanya yang tajam beralih dari langit-langit ruangan, lalu tertuju lurus pada Baskoro yang masih menempelkan dahinya di atas lantai marmer yang dingin.Suasana di dalam ruang kerja itu terasa begitu menekan, bahkan detak jarum jam dinding pun terdengar sangat jelas."Satu orang menghancurkan dua puluh petarung Kelas C dengan tangan kosong ... menarik," ucap Sang Bos Besar dengan nada suara yang sangat rendah namun sarat akan rasa penasaran.Dia kemudian bangkit dari kursi kulitnya, berjalan perlahan memutari meja kerja jati miliknya, lalu berhenti tepat di samping tubuh Baskoro yang sedang gemetaran. Tanpa ada peringatan apa pun, Sang Bos Besar mengayunkan ujung sepatu pantofel kulitnya yang keras tepat ke arah rusuk Baskoro.Bugh!"Aaaakh!" Baskoro menjerit kesakitan sambil berguling ke samping, memegangi perutnya yang mendadak terasa sangat mulas akibat tendangan tersebut."Kamu benar-benar tidak berguna, Basko

  • Satria Idaman Wanita   BAB 258

    Sementara Satria dan Vera sedang menikmati suasana sejuk di tengah persawahan, situasi yang sangat kontras terjadi di sebuah kawasan vila mewah tersembunyi di pinggiran kota. Tempat itu dikelilingi oleh tembok beton tinggi dengan kawat berduri, dijaga ketat oleh belasan pria berwajah dingin yang mengenakan pakaian taktis hitam.Orang-orang yang berjaga di sini bukan lagi preman pasar atau pengawal biasa. Di pinggang mereka, terlihat jelas senjata api asli yang terselip di balik rompi. Tempat ini adalah markas rahasia dari jaringan orang-orang kuat yang bergerak di dunia bawah.Ciiiiiit!Mobil SUV hitam yang dikemudikan Baskoro berhenti mendadak di depan lobi vila setelah menerobos gerbang utama dengan ugal-ugalan. Baskoro keluar dari mobil dengan tubuh yang gemetaran hebat. Penampilannya benar-benar mengenaskan. Kedua pipinya bengkak memar berwarna keunguan akibat tamparan Satria, pakaian safarinya kotor penuh debu, dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.Beberapa penjaga bert

  • Satria Idaman Wanita   BAB 257

    Setelah memastikan para teknisi mulai bergerak membenahi saluran limbah, Vera melihat jam tangan miliknya. Jarum jam ternyata sudah menunjukkan pukul satu siang lewat. Pantas saja perutnya sudah berkali-kali memberikan sinyal lapar sejak tadi. Energinya memang cukup terkuras setelah menghadapi drama korupsi Baskoro dan kepungan para preman.Vera membalikkan badan, lalu menatap Satria yang sedang merapikan kaus oblong hitamnya."Satria, ayo kita pergi dari sini," ajak Vera sambil berjalan menuju mobil mereka. "Ini sudah siang sekali. Jujur saja, aku sudah lapar setengah mati karena menahan emosi dari tadi."Satria tersenyum mendengar keluhan jujur dari bos cantiknya itu. Dia segera membukakan pintu mobil untuk Vera dengan sigap."Baik, Non. Perut saya juga rasanya sudah mulai berdemo sejak melihat balok kayu berterbangan tadi," canda Satria sambil berjalan memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi.Mesin mobil SUV mewah itu menyala dengan halus. Satria perlahan melajukan kendaraan merek

  • Satria Idaman Wanita   BAB 256

    Pemimpin pasukan safari yang berbekas luka itu melihat ke sekelilingnya dengan tubuh bergetar. Sembilan belas temannya sudah terkapar tidak berdaya di atas tanah. Begitu melihat Satria melangkah mendekat, nyalinya langsung runtuh total. Pria besar itu menjatuhkan balok kayu di tangannya, lalu berbalik dan ikut berlari menjauh, meninggalkan bosnya sendirian.Kini, tidak ada lagi siapa pun yang berdiri di depan Baskoro.Baskoro benar-benar ketakutan setengah mati. Keringat dingin mengucur deras di seluruh tubuhnya, bercampur dengan debu lapangan yang menempel di wajah bengkaknya. Dia tahu, kalau sampai Satria melayangkan satu pukulan saja ke arahnya, dia bisa langsung masuk rumah sakit atau bahkan lebih parah lagi."Jangan dekat-dekat! Ampun, Satria! Tolong jangan pukul saya!" jerit Baskoro histeris sambil meraba-raba kantong celananya dengan panik.Dengan tangan yang gemetar hebat, dia mengeluarkan dompet kulitnya dan menarik sebuah kartu ATM berwarna emas. Dia melemparkan kartu itu ke

  • Satria Idaman Wanita   BAB 255

    Melihat tiga rekan mereka tumbang dalam sekejap, sisa belasan pria berseragam safari itu tidak lagi memandang remeh Satria. Amarah mereka sudah tersulut sampai ke puncaknya. Mereka langsung berpencar, membentuk lingkaran rapat untuk mengunci seluruh jalur pelarian Satria."Kepung dia! Jangan kasih ruang untuk bergerak!" teriak si pemimpin berbekas luka dengan lantang.Seketika itu juga, kepungan ketat langsung mengarah pada Satria. Dari arah kanan, dua orang pria berbadan kekar maju bersamaan sambil mengayunkan rantai besi tebal mereka secara horizontal. Rantai itu berputar cepat di udara, memotong angin dengan suara mendesing yang sangat tajam, mengincar leher dan kaki Satria secara bersamaan.Satria tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Janji bonus dari Vera benar-benar membuat fokusnya berada di tingkat tertinggi.Saat rantai besi itu hampir menyentuh kulitnya, Satria melompat kecil ke atas. Gerakannya begitu pas, membuat rantai yang mengincar kaki lewat di bawah sepatunya, seme

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status