Share

BAB 276

last update publish date: 2026-07-08 15:42:34

Mendengar penjelasan jujur yang keluar dari mulut Satria, perasaan gundah di dalam dada Vera perlahan-lahan mulai mereda. Dia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sempat tidak beraturan. Meskipun sisa-sisa rasa canggung itu masih ada, setidaknya Vera tahu bahwa Satria tidak berniat meremehkan apa yang telah terjadi di antara mereka semalam.

Vera berjalan kembali ke balik meja kerjanya, mengambil tas t

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAB 317 B

    Pintu depan rumah mewah itu terbuka dengan bunyi klik pelan. Satria masuk sambil menenteng kantong plastik putih berlogo minimarket. Langkahnya santai seperti orang yang baru selesai jalan-jalan malam.Di ruang tengah, Vera sedang duduk di sofa dengan laptop di pangkalannya. Dia langsung mendongak begitu mendengar suara pintu. Raut wajahnya yang tegang perlahan berubah lega melihat pengawalnya pulang tanpa kurang satu apa pun."Lama banget beli rokoknya," tegur Vera sambil menutup layar laptopnya. Matanya diam-diam menyapu seluruh tubuh Satria, memastikan tidak ada noda darah atau baju yang robek.Satria tersenyum lebar. Dia berjalan mendekati meja di depan sofa lalu meletakkan kantong plastik itu. Isinya bukan cuma rokok, tapi ada dua kotak susu cokelat, beberapa bungkus camilan ringan, dan sepotong roti tawar."Tadi antre di kasirnya agak panjang Non," jawab Satria beralasan. Dia duduk di sofa seberang Vera sambil membuka bungkus rokoknya. "Lagian saya sekalian pilihin camilan buat

  • Satria Idaman Wanita   BAB 317

    Malam semakin larut. Jam di dinding ruang kerja Vera sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Bos cantik itu masih sibuk membaca hasil tes laboratorium tanah yang baru saja dikirim oleh tim survei. Secangkir kopi yang dibuatkan Laras tadi sudah dingin.Satria berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke arah jalanan kompleks perumahan elit tersebut. Pandangannya lurus menembus kegelapan malam. Sejak setengah jam yang lalu, insting tajamnya kembali bereaksi. Ada aura membunuh yang sangat kental mengarah ke rumah ini.Satria menoleh ke arah Vera. "Nona, berkasnya masih banyak yang harus dibaca?"Vera memijat pangkal hidungnya yang pegal lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Tinggal sedikit lagi sih. Besok pagi harus langsung aku bahas sama Pak Seno. Kenapa Sat? Kamu udah ngantuk? Kalau mau tidur duluan tidak apa-apa.""Bukan begitu Non," jawab Satria santai sambil berjalan mendekati meja Vera. "Saya mau keluar sebentar. Mau cari angin sambil beli rokok di minimarket depan komp

  • Satria Idaman Wanita   BAB 315

    Mobil sedan hitam yang dikemudikan Satria berhenti di tepi jalan tanah yang sedikit bergelombang. Di depan mereka terhampar lahan kosong seluas dua hektar yang sudah dipagari seng pembatas.Beberapa mobil operasional perusahaan sudah parkir lebih dulu. Beberapa orang memakai helm proyek dan rompi keselamatan tampak sibuk mencatat sesuatu di atas papan ujian. Di tengah mereka, Pak Seno berdiri sambil menunjuk-nunjuk ke arah sebuah lubang galian dangkal.Satria keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Vera dan Laras. Vera langsung merapikan blazernya sebelum berjalan menghampiri rombongan itu. Satria mengikuti dari belakang dengan jarak dua langkah, matanya tetap mengawasi keadaan sekitar meski tempat itu terlihat aman."Maaf kami sedikit terlambat, Pak Seno," sapa Vera saat sudah dekat. "Tadi ada sedikit kendala di jalan tol."Pak Seno menoleh dan mengangguk pelan. Arsitek tua itu tidak terlihat marah. Dia justru menyodorkan segumpal tanah basah ke arah Vera. Laras agak mundur kare

  • Satria Idaman Wanita   BAB 315

    Pemimpin kelompok bertato naga itu menelan ludah kasar. Keringat dingin mulai merembes di keningnya. Dia tidak menyangka dua anak buah terbaiknya bisa tumbang dalam hitungan detik di tangan pemuda yang kelihatan biasa saja ini."Tunggu apa lagi bodoh! Serang dia bareng-bareng!" teriak si pemimpin dengan suara sedikit bergetar.Empat orang anak buahnya yang tersisa langsung maju bersamaan. Mereka sadar satu lawan satu bukan pilihan yang bagus. Dua orang menyerang dari depan menggunakan tongkat besi, sementara dua lainnya mencoba menusuk dari samping dengan pisau.Satria tersenyum tipis. Dia memegang tongkat besi hasil rampasannya dengan satu tangan. Saat serangan dari depan datang, Satria merunduk rendah, membiarkan dua tongkat itu beradu di udara kosong. Di posisi merunduk, kaki kanannya menyapu keras ke arah pergelangan kaki kedua penyerang di depannya.Brak!Dua orang itu jatuh telentang menghantam aspal dengan keras. Belum sempat mereka bernapas, Satria sudah berdiri tegak dan meng

  • Satria Idaman Wanita   BAB 314

    Pagi itu langit Jakarta terlihat agak mendung. Satria sudah memanaskan mesin mobil sedan hitam milik Vera sejak jam tujuh. Hari ini jadwal mereka cukup padat karena harus menemani tim survei tanah dari perusahaan untuk bertemu dengan Pak Seno di lokasi proyek.Vera keluar dari pintu utama memakai setelan blazer kerja yang elegan. Laras mengekor di belakangnya sambil membawa tas berisi tumpukan dokumen penting."Sudah siap semua?" tanya Satria sambil membukakan pintu belakang untuk mereka berdua."Sudah," jawab Vera singkat. "Kita langsung ke lokasi proyek saja Sat. Tim survei sudah jalan duluan ke sana."Satria mengangguk dan mulai mengemudikan mobil keluar dari halaman rumah. Firasat buruk yang dia rasakan semalam belum hilang, malah terasa semakin kuat. Matanya berkali-kali melirik ke kaca spion tengah dan samping, memastikan keadaan jalan di sekitar mereka.Sekitar setengah jam perjalanan, mereka memasuki kawasan jalan lingkar luar yang mengarah ke lokasi lahan baru. Jalanan di san

  • Satria Idaman Wanita   BAB 313

    Ruang VIP di kelab malam eksklusif itu remang-remang dan penuh asap cerutu. Suara dentuman musik dari lantai bawah hanya terdengar samar. Natasha duduk menyilangkan kaki di sofa kulit berwarna merah marun. Di depannya duduk seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja hitam ketat yang memperlihatkan tato naga melingkar di leher kirinya.Pria itu adalah Victor. Tangan kanannya memegang segelas minuman beralkohol, sementara tangan kirinya membolak-balik beberapa lembar foto di atas meja kaca. Foto-foto itu menampilkan wajah Satria dari berbagai sudut."Jadi ini targetnya?" tanya Victor dengan suara berat dan serak. Pandangannya tidak lepas dari foto Satria saat melumpuhkan Japra dan anak buahnya tempo hari."Namanya Satria," jawab Natasha dingin. "Dia pengawal pribadi Vera Hadiwinata. Jangan tertipu sama wajahnya yang sok polos. Dia sendirian menghabisi belasan preman sewaan saya tanpa luka sedikit pun."Victor mendengus geli. Dia melempar foto-foto itu kembali ke meja."Preman pasar dan p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status