Share

BAB 301

last update publish date: 2026-07-19 21:35:40

Mata Satria terus mengunci pergerakan pelayan pria itu tanpa berkedip. Jarak antara pelayan tersebut dengan kursi Natasha kini hanya tinggal tiga langkah. Tangan kanan pelayan itu perlahan mulai terlepas dari bawah nampan perak yang dia bawa. Ada kilatan logam tajam yang memantulkan cahaya lampu ballroom.

Itu pisau lipat taktis.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Satria melompat dari kursinya. Gerakannya sangat cepat, membuat Vera yang duduk di sebelahnya sampai terkesiap kaget.

Di depan sana, p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAB 320

    Suara dentingan gelas beradu mengiringi tawa renyah Vera. Siang itu, sang bos cantik memutuskan untuk mentraktir Satria, Laras, dan Pak Seno makan siang di sebuah restoran Sunda yang jaraknya tidak jauh dari lokasi proyek."Ayo dimakan ayam bakarnya Pak Seno, mumpung masih panas. Laras juga, nambah lagi nasinya," ucap Vera ramah sambil menuangkan sambal ke piringnya. Bebannya rasanya menguap begitu melihat pengerjaan fondasi akhirnya berjalan mulus."Terima kasih Bu Vera. Rezeki nomplok ini namanya," jawab Pak Seno sambil tersenyum lebar. "Jarang-jarang hari pertama proyek langsung makan enak begini."Satria duduk di seberang Vera, mengunyah makanannya dengan tenang. Matanya sesekali mengawasi keadaan sekitar restoran. Insting pengawalnya tidak pernah mati, apalagi setelah kejadian semalam.Vera menyadari sikap Satria yang masih terlalu waspada. "Santai sedikit Sat. Kita kan lagi merayakan kemenangan kecil. Kamu tidak perlu terus-terusan pasang muka tegang begitu. Natasha pasti sekara

  • Satria Idaman Wanita   BAb 319

    Matahari mulai terasa menyengat di lokasi proyek. Vera duduk di dalam tenda sementara sambil mengipasi wajahnya dengan map berkas. Laras sibuk menelepon beberapa staf kantor untuk mengurus administrasi, sementara Satria berdiri santai di dekat pintu tenda sambil memperhatikan jalan masuk proyek.Tidak sampai satu jam sejak Satria menelepon, suara gemuruh mesin disel terdengar dari arah jalan raya. Tiga truk tronton berukuran besar yang membawa material tiang pancang beton masuk perlahan melewati gerbang seng. Di belakangnya, dua unit alat berat ekskavator dan mesin pemancang tiang ikut masuk dengan gagah.Vera langsung berdiri dari kursi lipatnya. Wajahnya yang tadi terlihat lelah kini berubah cerah. Dia berjalan keluar tenda diikuti Laras yang masih memegang berkas kontrak."Gila, beneran datang secepat ini," gumam Vera takjub melihat deretan kendaraan berat itu parkir di area lahan.Satria menoleh ke arah bosnya lalu tersenyum tipis. "Kan saya sudah bilang Non. Pak Candra itu orangn

  • Satria Idaman Wanita   BAB 318

    Vera menatap Laras dengan pandangan tidak percaya. Suasana pagi yang cerah di lokasi proyek mendadak terasa panas."Dibatalkan sepihak? Kok bisa mendadak begini Ras?" tanya Vera dengan nada sedikit tinggi.Laras mengangguk cepat. Tangannya masih memegang ponsel yang layarnya menyala. "Iya Non. Saya sudah coba telepon balik manajer mereka, tapi katanya ada pihak lain yang berani bayar denda pembatalan kontrak kita. Pihak itu juga memborong semua material dengan harga dua kali lipat."Pak Seno membuang napas kasar. Arsitek tua itu menggelengkan kepalanya. "Wah, kalau begini ceritanya kita tidak bisa mulai kerja hari ini Bu Vera. Alat berat tidak ada, tiang pancang juga tidak ada. Waktu kita terbuang percuma."Vera memijat pelipisnya perlahan. Otaknya langsung tertuju pada satu nama. "Ini pasti ulah Natasha. Dia sengaja memborong semua material di Jakarta supaya proyek kita mandek."Satria yang sejak tadi diam mendengarkan akhirnya maju satu langkah. "Semalam saya sudah peringatkan anak

  • Satria Idaman Wanita   BAB 317 B

    Pintu depan rumah mewah itu terbuka dengan bunyi klik pelan. Satria masuk sambil menenteng kantong plastik putih berlogo minimarket. Langkahnya santai seperti orang yang baru selesai jalan-jalan malam.Di ruang tengah, Vera sedang duduk di sofa dengan laptop di pangkalannya. Dia langsung mendongak begitu mendengar suara pintu. Raut wajahnya yang tegang perlahan berubah lega melihat pengawalnya pulang tanpa kurang satu apa pun."Lama banget beli rokoknya," tegur Vera sambil menutup layar laptopnya. Matanya diam-diam menyapu seluruh tubuh Satria, memastikan tidak ada noda darah atau baju yang robek.Satria tersenyum lebar. Dia berjalan mendekati meja di depan sofa lalu meletakkan kantong plastik itu. Isinya bukan cuma rokok, tapi ada dua kotak susu cokelat, beberapa bungkus camilan ringan, dan sepotong roti tawar."Tadi antre di kasirnya agak panjang Non," jawab Satria beralasan. Dia duduk di sofa seberang Vera sambil membuka bungkus rokoknya. "Lagian saya sekalian pilihin camilan buat

  • Satria Idaman Wanita   BAB 317

    Malam semakin larut. Jam di dinding ruang kerja Vera sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Bos cantik itu masih sibuk membaca hasil tes laboratorium tanah yang baru saja dikirim oleh tim survei. Secangkir kopi yang dibuatkan Laras tadi sudah dingin.Satria berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke arah jalanan kompleks perumahan elit tersebut. Pandangannya lurus menembus kegelapan malam. Sejak setengah jam yang lalu, insting tajamnya kembali bereaksi. Ada aura membunuh yang sangat kental mengarah ke rumah ini.Satria menoleh ke arah Vera. "Nona, berkasnya masih banyak yang harus dibaca?"Vera memijat pangkal hidungnya yang pegal lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Tinggal sedikit lagi sih. Besok pagi harus langsung aku bahas sama Pak Seno. Kenapa Sat? Kamu udah ngantuk? Kalau mau tidur duluan tidak apa-apa.""Bukan begitu Non," jawab Satria santai sambil berjalan mendekati meja Vera. "Saya mau keluar sebentar. Mau cari angin sambil beli rokok di minimarket depan komp

  • Satria Idaman Wanita   BAB 315

    Mobil sedan hitam yang dikemudikan Satria berhenti di tepi jalan tanah yang sedikit bergelombang. Di depan mereka terhampar lahan kosong seluas dua hektar yang sudah dipagari seng pembatas.Beberapa mobil operasional perusahaan sudah parkir lebih dulu. Beberapa orang memakai helm proyek dan rompi keselamatan tampak sibuk mencatat sesuatu di atas papan ujian. Di tengah mereka, Pak Seno berdiri sambil menunjuk-nunjuk ke arah sebuah lubang galian dangkal.Satria keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Vera dan Laras. Vera langsung merapikan blazernya sebelum berjalan menghampiri rombongan itu. Satria mengikuti dari belakang dengan jarak dua langkah, matanya tetap mengawasi keadaan sekitar meski tempat itu terlihat aman."Maaf kami sedikit terlambat, Pak Seno," sapa Vera saat sudah dekat. "Tadi ada sedikit kendala di jalan tol."Pak Seno menoleh dan mengangguk pelan. Arsitek tua itu tidak terlihat marah. Dia justru menyodorkan segumpal tanah basah ke arah Vera. Laras agak mundur kare

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status