MasukBegitu pintu mobil SUV hitam itu tertutup rapat, Vera langsung menyandarkan punggungnya ke jok kulit dan menghembuskan napas panjang. Sedetik kemudian, tawa puas pecah dari bibirnya."Gila, kamu lihat tidak wajah Natasha tadi?" kata Vera sambil menggelengkan kepala. "Pucat banget! Aku rasa dia sampai lupa cara bernapas waktu lihat foto-foto preman sewaannya lagi tiduran di aspal."Satria yang baru saja menyalakan mesin mobil ikut terkekeh. Dia memutar kemudi dan membawa mobil keluar dari pelataran parkir hotel mewah tersebut."Lihat dong," jawab Satria santai. "Wajahnya langsung kayak orang habis lihat hantu di siang bolong. Biar saja, biar dia tahu rasanya dikasih kejutan balik."Vera menatap Satria dari samping. Mata cantiknya berbinar penuh rasa terima kasih. Kalau bukan karena Satria yang bergerak cepat mematikan langkah para preman itu paginya, proyek lahan di Jakarta Timur pasti sudah tertunda dan menjadi masalah panjang di media.Belum sempat Vera mengucapkan terima kasih lagi,
Malam harinya, ballroom sebuah hotel bintang lima di Jakarta Pusat tampak sangat mewah. Aryatama Group sedang mengadakan pesta perayaan ulang tahun perusahaan. Lampu kristal besar menggantung di langit-langit, dan alunan musik mengiringi para tamu undangan yang asyik mengobrol.Natasha Aryatama berdiri di tengah ruangan dengan gaun merah menyala yang sangat mencolok. Dia memegang segelas sampanye, tertawa puas saat mengobrol dengan beberapa rekan bisnisnya. Dalam hati, dia merasa sangat menang hari ini. Dia yakin puluhan preman yang dia sewa berhasil membuat proyek Vera berantakan dan tertunda lama."Permisi, Nona Natasha," bisik asisten pribadinya yang tiba-tiba datang dengan wajah panik. "Ada tamu tak diundang masuk ke depan."Natasha menoleh ke arah pintu masuk utama. Senyum di wajahnya langsung kaku.Vera Hadiwinata melangkah masuk dengan sangat elegan. Dia memakai gaun malam berwarna hitam pekat yang pas di badan, membuatnya terlihat anggun tapi juga sangat berwibawa. Di sebelahn
Belasan preman itu menerjang maju bak sekawanan serigala kelaparan. Mereka mengayunkan berbagai macam senjata tumpul dan tajam ke arah Satria secara bersamaan. Jika itu orang biasa, nyawanya pasti sudah melayang dalam hitungan detik.Namun bagi Satria, gerakan mereka semua terlihat lambat dan penuh celah.Seorang preman berbadan gempal yang berada di posisi paling depan mengayunkan balok kayu ke arah kepala Satria. Sambil menghela napas bosan, Satria hanya memiringkan kepalanya sedikit. Balok kayu itu lewat hanya beberapa sentimeter dari telinganya. Tanpa buang waktu, tangan kanan Satria melesat meninju perut pria itu dengan kecepatan kilat.Bugh!Pria gempal itu langsung memuntahkan cairan dari mulutnya dan roboh dengan mata berputar ke atas.Serangan tidak berhenti di situ. Dua orang preman menyabetkan pipa besi dari sisi kiri dan kanan. Satria merunduk cepat, membiarkan kedua pipa besi itu saling berbenturan satu sama lain di udara. Memanfaatkan momen keterkejutan mereka, Satria me
Matahari mulai naik meninggi saat mobil SUV hitam yang dikemudikan Satria berhenti di pinggir jalan raya kawasan Jakarta Timur. Di depannya, hamparan lahan kosong seluas dua hektar yang baru saja dimenangkan Vera tampak dijaga ketat oleh gerombolan pria berwajah sangar.Pintu masuk area lahan itu diblokir menggunakan tiga buah mobil bak terbuka yang diparkir melintang. Di sekitarnya, sekitar tiga puluh preman sedang duduk-duduk santai sambil merokok. Beberapa dari mereka secara terang-terangan memegang balok kayu, pipa besi, dan parang tajam.Satria turun dari mobil dengan tenang. Dia melihat sekelompok pekerja proyek berseragam proyek kuning sedang berkumpul agak jauh dari lokasi, berlindung di balik truk pengangkut material. Raut wajah mereka terlihat cemas dan ketakutan.Satria berjalan menghampiri kelompok pekerja itu. Seorang pria paruh baya yang memakai helm proyek putih buru-buru menyambutnya. Pria itu adalah Pak Hermawan, manajer lapangan proyek Hadiwinata."Mas Satria? Ya amp
"Ampun! Iya, iya, aku ngaku salah! Nyerah!"Satria mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil menyandarkan punggungnya ke ujung sofa. Napasnya terengah-engah. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini sudah berantakan mirip sarang burung akibat serangan bantal bertubi-tubi dari Vera dan Kiki.Melihat pengawal tangguh itu akhirnya mengibarkan bendera putih, Vera menghentikan pukulannya. Bos cantik itu ikut terengah-engah. Wajahnya memerah, bukan cuma karena marah, tapi juga karena kelelahan menahan tawa.Kiki yang berdiri di sebelah kakaknya tampak sangat puas. Dia berkacak pinggang sambil menatap Satria dengan dagu terangkat."Makanya, Kak Satria jangan berani-berani meremehkan pesona Kiki dan Kak Vera. Sekali lagi berani lirik cewek lain di depan kita, bukan bantal lagi yang melayang, tapi panci dari dapur!" ancam Kiki dengan gaya sok galak yang malah terlihat lucu.Satria mengusap wajahnya lalu merapikan rambutnya asal-asalan. "Iya, Ki. Ampun deh. Tenaga kalian berdua kalau di
Pagi itu cuaca Jakarta cukup cerah. Setelah malam yang panjang dan menegangkan di acara lelang, Vera memutuskan untuk bersantai di rumah mewahnya. Hari ini adalah hari libur, jadi tidak ada jadwal ke kantor.Di ruang keluarga yang luas, Satria sedang duduk santai di sofa sambil menonton acara televisi. Di meja ruang tamu, tampak Laras, sekretaris pribadi Vera yang rajin dan polos. Laras datang pagi-pagi sekali untuk merapikan berkas-berkas dokumen tanah yang baru dimenangkan semalam. Laras tampak sangat serius dengan kacamata bacanya, sesekali merapikan rambutnya yang diikat rapi.Tidak lama kemudian, Vera turun dari lantai dua. Bos cantik itu tampak sangat segar dengan pakaian kasual. Dia memakai kaus lengan pendek berwarna putih dan celana pendek selutut yang mengekspos kulit putih mulusnya."Pagi Satria. Pagi Laras," sapa Vera sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil minum."Pagi Non," balas Satria dan Laras hampir bersamaan.Suasana tenang itu tiba-tiba pecah saat pintu depan







